CHAPTER XIII: Apa yang Dapat Kulakukan untuk Menebusmu?

XMOaS

Tetapi sekarang ia seorang buronan!

Apa yang menunggunya di masa depan, mungkin hanyalah penjara…

 

Setelah Tang Xiao Tian pergi, Qu Wei Ran berbaring di atas kasurnya dengan tenang, membuat kamar itu menjadi hening. Lu Pei Gang menghampiri Wei Ran dan berkata,

“Tuan Qu, waktunya Anda untuk terapi.” Qu Wei Ran membuka salah satu matanya dan membalas dengan malas-malasan. Lu Pei Gang membungkuk dan memulai kegiatan terapinya pada lengan kanan Wei Ran; terapi pijat seperti ini menekankan titik-titik akupuntur. Ketika Pei Gang menggunakan kekuatannya, Qu Wei Ran akan merasa nyeri dan gatal, tetapi ketika Pei Gang tidak menggunakan kekuatannya sama sekali, terapi pijat untuk Wei Ran tidak akan berguna. Sambil memijat, Lu Pei Gang akan diam-diam memerhatikan wajah Qu Wei Ran yang memucat dengan kedua alis yang saling bertaut, seakan-akan Wei Ran sedang menekan rasa sakit dari pijatan tersebut. Kadang Pei Gang tidak mengerti dengan laki-laki di depannya ini, membuat dirinya seperti ini hanya untuk kenikmatan sesaat, apa untungnya? Memasukkan rekan lamanya ke dalam lubang neraka, tidakkah ia punya rasa sedih atau bersalah terhadap rekannya?

“Tuan Qu, apakah hari ini terasa lebih baik?” Pei Gang bertanya sambil terus memberi pijatan pada Wei Ran layaknya sebuah robot. Qu Wei Ran perlahan membuka matanya dan tersenyum lembut pada Pei Gang.

“Terasa sangat sakit.”

“Sakit?” Pei Gang bertanya heran.

“Semua tulang sendiku terasa sakit.” Wei Ran menoleh ke arah jendela dan memandang langit di luar.

“Sebentar lagi akan turun hujan.” Lu Pei Gang mengikuti arah tatapan Wei Ran dan memerhatikan langit di luar sana yang terlihat cerah, matahari bahkan sedang bersinar terik, darimana dia bisa tahu akan turun hujan? Pei Gang kembali menatap Qu Wei Ran yang tatapannya tidak beralih dari jendela kamarnya, seakan-akan menunggu ramalannya terjadi.

Malam itu, ketika Qu Wei Ran tertidur lelap, hujan gerimis mulai turun di luar sana. Lu Pei Gang membuka jendela dan memerhatikan para pejalan kaki yang sibuk mencari tempat berteduh di bawah sana.

“Benar-benar turun hujan?”

Hujan turun semakin lebat, dan di jalur kendaraan dekat vila keluarga Qu, terparkir sebuah jeep. Tidak ada orang yang terlihat di dalam jeep tersebut, tapi jika diperhatikan baik-baik, akan terlihat seorang pria di sisi mobil tersebut. Pria itu duduk di atas tanah yang kotor dan dingin dengan kepala tertunduk, butir-butir hujan membasahi jaketnya. Rintik-rintik hujan menetes dari rambut pendeknya menuju matanya, kemudian turun ke hidung mancungnya. Terdapat beberapa lebam di wajah pria tersebut, bibirnya samar-samar bergetar, jaketnya lusuh karena perkelahian tadi, tetapi ia tetap duduk di sana. Pria itu duduk diam di tempatnya, tidak berpindah, seakan ia sudah duduk di sana selama seribu tahun, sepuluh ribu tahun, dan tidak dapat berpindah barang sedikit pun.

| Passion Heaven |

Hujan lebat cenderung menghiasi bulan Juni; gerimis yang pada akhirnya berubah menjadi hujan lebat dengan tetesan air hujan yang menghantam jendela kaca. Wanita yang berdiri di dekat jendela itu memandang jauh ke luar jendela, ia mengulurkan tangannya ke luar jendela, merasakan dinginnya rintik-rintik hujan yang mengenai kulitnya. Video store di seberang jalan sedang memainkan sebuah lagu barat tak dikenal, melodinya terdengar di antara suara hujan, membuat suasana terasa sendu. Tiba-tiba, wanita itu ditarik mundur. Ia mundur dua langkah dan menoleh, melihat seorang pemuda yang sedang mengerutkan dahi di depannya.

“Kau tidak boleh terkena air dingin.” Wanita itu perlahan menundukkan kepalanya dan pemuda di depannya menggunakan sebuah handuk untuk mengeringkan tangan wanita tersebut. Tangan pemuda tersebut sangat cantik, kulitnya yang seputih susu, jari-jarinya yang panjang dan kurus, telapak tangannya yang memberikan hangat. Wanita itu berkedip dan membalikkan tangan pemuda tersebut, ia kemudian menggenggam tangan pemuda itu. Pemuda itu menghentikan kegiatannya dan menatap wanita di depannya. Mereka saling menatap dalam diam, hembusan nafas pemuda itu bertiup lembut mengenai helaian rambut wanita itu. Wanita itu tidak mengatakan apa-apa dan hanya terus menggenggam tangan pemuda tersebut.

Hujan masih turun, langit yang mendung berubah gelap. Hembusan angin bertiup masuk melalui celah kecil jendela kamar tersebut. Wanita itu menggigil karenanya, jadi pemuda itu mengulurkan tangannya dan membalikkan badannya untuk menutup jendela, menutup suara angin, hujan, dan suara-suara lainnya di luar sana. Setelah menutup jendela, pemuda itu berbalik.

“Yawang, tidurlah.” Xia Mu berkata tegas. Shu Yawang tersipu sambil memelototi Xia Mu. Ia naik ke atas tempat tidurnya dan berselimut, kemudian beralih menatap Xia Mu. Xia Mu baru saja kembali dari luar, ia bahkan tidak menghiraukan untuk sekedar melepas jaketnya. Xia Mu membuka kantong plastik yang dibawanya tadi dan mengeluarkan sebuah rantang yang dibelinya di supermarket. Xia Mu membuka tutup rantang tersebut dan aroma sup ayam langsung menyebar di seluruh ruangan kecil itu. Ia mengulurkan rantang tersebut pada Yawang, Yawang menerima dengan kedua tangannya. Xia Mu, pemuda itu, mengeluarkan sebuah sendok dari dalam kantong plastik dan memberikannya pada Yawang.

“Habiskan.” Yawang menatap rantang di tangannya dengan dahi berkerut. Sejak hari di mana ia mengonsumsi pil aborsi, ia juga sudah menghabiskan sup ayam selama empat hari berturut-turut, sampai-sampai rasanya Yawang ingin muntah. Yawang mengaduk sup ayam tersebut dengan sendok di tangannya, ia bahkan tidak bisa melihat dasar dari rantang tersebut.

“Terlalu banyak.” Xia Mu hanya menatap Yawang dalam diam dengan wajah cemberut.

“Kau harus menghabiskannya.” Yawang mengerucutkan bibirnya dan mengangkat sendok di tangannya, ia menghabiskan satu sendok penuh sup ayam itu dengan Xia Mu yang terus menatapnya. Yawang memperhatikan Xia Mu yang terus-menerus menatapnya, merasa tidak nyaman, Yawang menyodorkan sendok itu ke mulut Xia Mu.

“Mau?” Xia Mu sejenak ragu, tetapi kemudian ia mendekat untuk meminum sup ayam tersebut. Yawang menawarkan sesendok lagi pada Xia Mu.

“Lagi.” Xia Mu memelototi Yawang, ia tidak ingin mencicipi sup ayam itu lagi, tetapi melihat senyum Yawang, Xia Mu tidak bisa menolak, jadi ia meminum sesendok lagi. Shu Yawang baru saja akan menyuapi Xia Mu lagi ketika Xia Mu menahan tangan Yawang.

“Habiskan sendiri!” Yawang mengerucutkan bibirnya, ia menghabiskan sup ayam tersebut dengan paksa, dan Xia Mu menatap Yawang dengan senyum kecil tercetak di bibirnya.

| Passion Heaven |

TV menyala di ruangan kecil itu, menayangkan berita lokal dari Kota S. Pembawa berita wanita di TV sedang membacakan berita-berita yang akan ditayangkan selanjutnya.

“Hari ini adalah tepat satu hari sebelum pelaksanaan Ujian Masuk Perguruan Tinggi Nasional yang diadakan setiap tahun. Mari kita lihat bagaimana murid-murid mempersiapkan diri untuk ujian esok, ini adalah siswa-siswi dari SMA Kota S.” Beberapa murid terlihat sedang serius membaca buku pelajaran; sekolah yang tidak asing, kelas yang tidak asing, seragam yang tidak asing. Shu Yawang berhenti mengaduk-aduk sup ayamnya dan terdiam menatap layar televisi, hatinya terasa tidak nyaman.

“Sudah waktunya ujian…” Xia Mu menoleh untuk menatap layar televisi, kedua matanya menunjukkan ekspresi murung. Ia hanya balas mengangguk dan berkata, “Ya.” Yawang menggigit bibirnya, perasaan bersalah dan menyalahkan diri sendiri menyelimutinya, membuatnya terasa sesak. Yawang merasa gila setiap kali ia memikirkan masa depan Xia Mu. Ya, Xia Mu adalah seorang siswa SMA. Xia Mu harusnya mengikuti ujian masuk. Tetapi sekarang, ia malah bersembunyi di sebuah motel! Kalau bukan karena aku, Xia Mu pasti sedang belajar di kelas, mengikuti ujian, menerima surat undangan dari beasiswa ternama, masa depannya terlihat cerah. Tetapi sekarang ia seorang buronan! Apa yang menunggunya di masa depan, mungkin hanyalah penjara… Yawang menutup kedua matanya, tidak berani bertanya, tidak berani bertanya pada Xia Mu tentang masa depannya, apakah Xia Mu akan menyesali semua ini, apakah Xia Mu akan membenci Yawang. Yawang tidak berani bertanya, bahkan jika Xia Mu tidak membenci Yawang sekarang, tidak menyesali perbuatannya sekarang, bagaimana jika nanti? Bagaimana Yawang harus menebus Xia Mu, menebus masa depan, hidup, dan masa mudanya?

“Yawang?” Xia Mu memanggil lembut. “Kenapa kau menangis lagi?” Yawang menundukkan kepalanya dan menggeleng kuat-kuat.

“Tidak, aku tidak menangis.” Xia Mu mengulurkan tangannya dan menghapus air mata Yawang dengan lembut, ia menatap Yawang dalam diam. Yawang ingin mengangkat kepalanya dan tersenyum pada Xia Mu, tetapi ia tidak bisa.

“Yawang, jangan menangis. Aku tidak bisa melihatmu menangis. Kalau kau menangis, rasanya aku ingin membunuh.” Yawang dengan cepat mengangkat kepalnya dan menatap Xia Mu dengan terkejut. Xia Mu balik menatap Yawang, kedua matanya memancarkan ketulusan, dan perasaan Xia Mu untuk Yawang terasa sangat murni, sangat dalam, membawa perasaan layaknya seorang pemuda. Yawang terdiam sejenak sebelum kemudian bertanya pada Xia Mu,

“Apa kau benar-benar sangat menyukaiku?”

“Ya, sangat menyukaimu.”

“Walaupun aku… walaupun aku menikah dengan orang lain, kau masih menyukaiku?”

“Ya, masih.” Yawang menggenggam tangan Xia Mu erat-erat dan terdiam. Tiba-tiba, Yawang seperti sudah membulatkan tekadnya ketika ia berkata,

“Baiklah.”

“Baiklah apa?” Xia Mu bertanya dengan curiga. Yawang menggelengkan kepalanya, tidak menjawab. Ia melepaskan kalung pemberian Xia Mu yang melingkar di lehernya dan mematahkan salah satu ikan dari liontin tersebut, Yawang mengambil seutas benang merah di atas tempat tidur dan menjadikan benang itu sebagai kalung, ia kemudian mengalungkan benda tersebut ke leher Xia Mu.

“Untukmu.” Xia Mu meraih liontin ikan di lehernya dan menatap Yawang dengan bingung.

“Untukku? Kenapa?” Bukankah Xia Mu yang memberikan ini untuk Yawang? Waktu itu, Xia Mu meminta Yawang untuk memakainya dan tidak melepasnya. Sekarang kenapa Yawang malah memberikan ini untuknya? Yawang kembali memakai kalungnya dan mengangkat kepalanya untuk menatap Xia Mu.

“Hadiah ulang tahun.”

“Hadiah ulang tahun?”

“Untuk ulang tahun kedelapanbelasmu. Aku memberikanmu hadiah enam hari lebih awal, kau suka?” Xia Mu tersenyum kecut.

“Pelit sekali.” Bagaimana bisa dia memberikanku setengah dari apa yang sudah kuberikan padanya?

“Aku pelit? Kalau begitu kembalikan!” Yawang mengangkat tangannya seolah-olah ia akan merebut kembali kalung tersebut. Xia Mu memutar tubuhnya untuk menghindari Yawang dan terus mengerucutkan bibirnya. Yawang menurunkan tangannya dan kembali meraih rantang supnya. Hati Yawang seperti sebuah danau yang tenang saat ini, tidak ada ombak besar ataupun gelombang. Cahaya kilat dapat terlihat dari jendela, diikuti oleh suara guntur yang cukup memekakkan telinga. Shu Yawang kembali menatap sup ayam di dalam rantangnya, Xia Mu, akhirnya aku menemukan sesuatu untuk menebusmu. Jika… jikalau kau dipenjara, tidak peduli seberapa lama, aku akan menunggumu. Nanti ketika kau dibebaskan, jika saat itu kau masih menyukaiku, aku akan menebusmu dengan diriku sendiri.

| Passion Heaven |

Hujan di bulan Juni tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti, setiap hari terus saja turun dan turun. Dari kejauhan, di bawah lampu jalan yang remang-remang, pria yang duduk di samping jeepnya akhirnya berdiri. Ia membuka pintu mobilnya dan duduk, wajahnya basah karena hujan, matanya yang memerah menunjukkan keteguhan yang kuat. Tetapi bukan ia seorang yang sedang bersikukuh. Detik ketika ia berdiri, detik ketika ia membuat keputusan, seorang lain nun jauh darinya juga membuat sebuah keputusan. Kedua orang yang dulunya saling mencintai, mereka membuat dua keputusan yang berbeda, yang satu bersikukuh memperjuangkan cintanya, yang satu lagi memutuskan untuk menyerah.

Esok paginya, hujan akhirnya berhenti. Bau tanah segar tercium pagi itu, kota yang tenang akhirnya perlahan kembali sesak. Shu Yawang membuka matanya perlahan ketika ia mendengar suara klakson mobil dari luar jendela, pandangannya masih kabur karena mengantuk. Yawang menoleh untuk melihat tempat tidur di sebelahnya seperti biasa, tetapi ia hanya mendapati sebuah ranjang kosong di sana. Yawang mulai curiga, ia bangkit duduk di atas tempat tidur menghadap kamar mandi.

“Xia Mu?” Hening, tanpa jawaban. Yawang bersandar pada tempat tidur dan berpikir tentang kemungkinan di mana Xia Mu berada. Apa dia keluar untuk membeli sup ayam lagi? Yawang menyibakkan selimutnya dan baru saja akan turun dari tempat tidurnya ketika sebuah surat yang terselip di bawah bantal menyita perhatiannya. Yawang mengambil surat tersebut dengan terheran, matanya beralih cepat untuk membaca isi surat tersebut. Ekspresi curiga di wajah Yawang langsung tergantikan dengan ekspresi terkejut, surat di tangannya meluncur begitu saja ke lantai. Yawang dengan segera turun dari tempat tidur, ia berlari keluar dengan sandal jepit dan piyamanya, rambutnya acak-acakan, kedua matanya memerah.

| Passion Heaven |

Yawang, ada banyak hal yang ingin kukatakan padamu, tetapi aku takut aku tidak bisa pergi setelah melihatmu menangis, jadi aku menulis surat ini. Yawang, aku tahu ada beberapa hal yang tidak ingin kau dengar… tetapi aku masih akan tetap mengatakannya. Dengarkan aku satu kali terakhir ini, ya? Ini yang terakhir. Setelah ini, kurasa aku tidak punya kesempatan lagi untuk mengatakannya. Yawang, aku menyukaimu. Aku tidak tahu sejak kapan. Mungkin sejak pertama kali kau memukulku, atau mungkin ketika kau mengajariku menggambar. Sebenarnya, kalau kupikir baik-baik, kau tidak terlalu cantik, tidak terlalu perhatian, tidak terlalu pintar, dan kau tidak terlalu menyukaiku. Tetapi Yawang, aku menyukaimu. Aku menyukaimu sudah sangat, sangat lama. Yawang, aku tahu kau menyukai Tang Xiao Tian. Walaupun aku tidak pernah menyukainya, kau sudah menyukainya selama ini, lebih dari aku menyukainya, kau sangat menyukainya. Jadi… kalau kau terus menyukainya seperti ini, setidaknya, aku tidak boleh membencinya. Yawang, Tang Xiao Tian sudah kembali, kau harus pergi menemuinya. Yawang, kita dulu pernah mendengar bahwa ayah Tang Xiao Tian menginginkan putranya untuk menjadi lelaki sejati dan menjadi kebanggaan ayahnya. Aku ingat saat kau mendengarnya waktu itu, matamu bersinar, sangat indah. Waktu itu, kau juga pernah berkata, bahwa kau ingin aku menjadi kebanggaanmu, aku selalu mengingatnya. Lalu Yawang, aku yang sekarang ini, sudahkah menjadi kebanggaanmu? Yawang, beberapa hari terakhir, walaupun kau menyembunyikannya dariku, bagaimana mungkin aku tidak tahu bahwa kasus ini merugikan kita berdua? Aku harus pergi dan mengakui semua kesalahanku. Tidak ada pengecut dalam keluarga Xia. Tidak pernah ada sebelumnya, dan tidak akan pernah ada selanjutnya. Yawang, aku tahu kau merasa bahwa kau sudah menghancurkanku, tetapi aku tidak pernah menyesali hal ini. Walaupun nanti aku menerima hukuman penjara seumur hidup atau hukuman mati, aku tidak akan menyesalinya. Aku hanya akan menyesali bahwa aku tidak bisa membinasakan si brengsek itu untukmu! Yawang, kau pasti sedang menangis sekarang, jangan menangis, ya? Aku pergi tanpa penyesalan apapun, jadi jangan merasa sedih, ya? Yawang, aku pernah mendengar ini sebelumnya: kebahagiaan terbesar dalam dunia ini adalah dua orang yang saling mencintai satu sama lain dan kebahagiaan terbesar kedua adalah melihat seseorang yang dicintai berbahagia. Aku tidak bisa mendapatkan kebahagiaan yang pertama, tetapi Yawang, bisakah kau membantuku mewujudkan yang kedua? Yawang, aku menyukaimu. Jadi Yawang, kau harus berbahagia.
—Xia Mu

| Passion Heaven |

Shu Yawang berlari di sepanjang jalan tanpa tujuan, ia tidak tahu kemana harus pergi, tidak tahu kemana ia harus mencari Xia Mu, tidak tahu bagaimana harus menghentikan Xia Mu!

“Xia Mu, Xia Mu!” Shu Yawang meneriakkan nama Xia Mu sambil menangis, kakinya berlari tanpa tujuan yang pasti, suaranya bergetar. Seluruh tubuh Yawang gemetar ketakutan, Yawang merasa dirinya tidak berguna, ia tidak dapat menemukan Xia Mu! Ketika Yawang berhenti di depan sebuah kotak telepon, tatapan kosongnya terpaku pada gagang telepon di depannya. Ia berjalan perlahan ke dalam kotak telepon tersebut dan menekan beberapa angka yang tidak asing. Yawang harus menunggu sepersekian menit sebelum akhirnya seseorang menjawab panggilan tersebut.

“Halo?”

“Ayah.” Yawang menangis.

“Yawang?” Suara ayah Yawang terdengar khawatir. “Di mana kau?! Apa Xia Mu bersama denganmu?”

“Ayah…” Yawang menggigit bibirnya kuat-kuat. “Xia Mu pergi ke kantor polisi dan menyerahkan dirinya.” Ayah Yawang terkejut, beliau kemudian membentak di telepon.

“Bagaimana bisa kau membiarkan Xia Mu melakukannya?! Kalau dia mengaku sekarang, hidupnya berakhir! Komandan Xia tidak akan bisa menolongnya lagi! Bagaimana bisa kau membiarkannya?!”

“Ayah…” Setetes air mata jatuh dari pelupuk mata Yawang. “Ayah, aku akan menggugat Qu Wei Ran dengan tuduhan pemerkosaan.” Ayah Yawang terdiam sejenak, kemudian bertanya dengan serius,

“Kau yakin dengan hal ini?”

“Ya.”

Sebenarnya, di hari ketika Xia Mu menembak Qu Wei Ran, Yawang sempat pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan dirinya sebagai bukti. Karena serangkaian peristiwa yang terjadilah yang membuat Yawang tidak ingin menggugat Wei Ran. Tetapi sekarang, Yawang yakin dengan hal ini, ia ingin semua orang tahu pribadi yang bagaimanakah seorang Qu Wei Ran itu! Yawang ingin semua orang tahu bahwa Xia Mu bukanlah seorang pemuda sembrono dan tidak tahu konsekuensi! Semua salahnya, salah Yawang. Yawang seharusnya tidak terlalu lemah, Yawang seharusnya tidak menghindar. Tidak masalah apa yang akan terjadi setelah Yawang menggugat Wei Ran, Yawang tidak takut, Yawang tidak akan menyesalinya!

“Yawang, pulanglah dulu, Ayah akan membantumu.”

“Baik.” Yawang menutup telepon, ia berdiri terpaku di tempatnya sebelum akhirnya beranjak pergi. Berita tentang Xia Mu yang menyerahkan dirinya dan Yawang yang menggugat Qu Wei Ran dengan cepat menyebar sampai ke keluarga Qu. Pertama kali mendengar berita tersebut, Qu Wei Ran kaget, tetapi kemudian ia mulai tertawa, menanti apa yang akan terjadi selanjutnya. Setelah tertawa, Wei Ran tiba-tiba kelihatan linglung, tidak ada seorang pun yang mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh Wei Ran.

| Passion Heaven |

Tiga hari sebelum pengadilan, Shu Yawang duduk di atas tempat tidurnya, jendela di kamarnya ditutup rapat-rapat. Ibunya menghela nafas panjang di luar kamar Yawang, ayah Yawang menghembuskan asap dari rokok cerutunya. Ketika Ibu Yawang membuka pintu depan, Tang Xiao Tian berjalan masuk. Ibu Yawang terkejut kemudian menggelengkan kepalanya.

“Xiao Tian, pulanglah. Pulanglah, Nak.” Tang Xiao Tian melirik ke arah kamar Yawang.

“Bibi, aku akan menunggu di sini. Kalau Yawang tidak keluar seharian, aku akan menunggu sehari. Kalau Yawang tidak keluar selama setahun, aku juga akan menunggu selama itu.”

“Kenapa harus begitu?” Ibu Yawang bertanya sambil menggelengkan kepalanya sedih. Xiao Tian terdiam dan berdiri terpaku, ia menunggu dalam diam. Bagaimana bisa Xiao Tian pergi ketika Yawang-nya berada di sini, di dalam kamarnya? Xiao Tian sangat dekat dengan Yawang… tetapi kenapa Xiao Tian malah merasa bahwa ia tidak akan bisa menemukan Yawang lagi? Kenapa Xiao Tian merasa bahwa Yawang sudah pergi? Yawang-nya sudah pergi.

| Passion Heaven |

Dua hari sebelum pengadilan, Komandan Xia pergi mengunjungi Xia Mu. Xia Mu masih sama pendiamnya, tetapi ketika melihat wajah lesu kakeknya, ia tersenyum lembut pada beliau. Komandan Xia terhenyak melihat senyum Xia Mu, kedua matanya terasa panas ketika ia menganggukkan kepalanya.

“Kau dan ayahmu sangat mirip, terutama ketika kalian tersenyum.”

Satu hari sebelum pengadilan, Lu Pei Gang membersihkan kamar Qu Wei Ran dan menemukan selembar foto dari seorang gadis. Gadis di dalam foto berumur sekitar delapan belas atau sembilan belas tahun. Gadis itu memakai sebuah jaket berwarna oranye dan berdiri di perbatasan Kota Lijiang, salah satu tangannya menahan rambutnya yang tertiup angin, dan gadis tersebut tersenyum manis ke kamera.

| Passion Heaven |

23 Juni 2004. Ulang tahun kedelapanbelas Xia Mu.

Kasus pembunuhan yang sudah ditunda selama tiga bulan akhirnya menjalankan sidang pertamanya! Di dalam salah satu ruangan Pengadilan Tinggi Kota S, orang-orang banyak berdatangan untuk menyaksikan persidangan tersebut. Pengacara keluarga Qu berdiri di tengah-tengah ruangan dan menampilkan seluruh bukti tuduhan atas Xia Mu. Shu Yawang menatap Xia Mu yang berdiri sebagai terdakwa. Xia Mu terlihat lelah, wajah tampannya tidak berekspresi, ia mendengar pengacara keluarga Qu membacakan seluruh tindak kriminalnya seakan-akan sang terdakwa bukanlah dirinya. Qu Wei Ran, yang memakai setelan jas rapi dan duduk sebagai penggugat, terlihat semangat. Pengacara keluarga Qu memutar tubuhnya untuk menghadap sang saksi mata.

“Nona Shu Yawang, Anda berkata bahwa karena klien saya memerkosa Anda sehingga membuat tersangka menggunakan senjata tajam untuk melukai Tuan Qu, apakah benar?”

“Ya.”

“Dari pernyataan dan hasil tes darah Anda, apakah benar Anda mengonsumsi alkhohol hari itu?”

“Ya.”

“Berapa banyak?”

“Saya tidak ingat.”

“Nona Shu, apakah Anda terlibat aksi seksual dengan klien saya secara bersedia karena Anda sedang mabuk saat itu? Anda ingin membantu terdakwa untuk mengurangi hukumannya sehingga Anda sengaja menggugat klien saya sebagai tersangka?” Pengacara keluarga Qu bertanya dengan menuduh. Shu Yawang mengangkat tatapannya dan memelototi pengacara tersebut, ia hampir saja mengeluarkan kata makian yang pada akhirnya hanya tertahan di ujung lidahnya.

“Tidak! Saya mengingat dengan sangat jelas!” Yawang beralih menatap Qu Wei Ran yang terduduk di atas kursi roda.

“Kalau Anda tidak percaya, silakan tanyakan kepada klien Anda, saya yakin klien Anda akan bersedia memberitahu!” Qu Wei Ran memiringkan kepalanya dan tersenyum.

“Ya, aku memaksanya, aku ingat wangi tubuhnya, aku ingat tangisan kesakitannya.” Wajah Yawang memucat, bibirnya berdarah karena terus digigit. Ruangan itu terasa kaku, dan Tang Xiao Tian yang tadinya terduduk bangkit berdiri dengan marah lalu berteriak,

“Aku akan membunuhmu!” Wajah tampan Xiao Tian dipenuhi amarah dan rasa dendam. Ayah Tang Xiao Tian dan Zhang Jing Yu menarik Xiao Tian untuk kembali duduk, Xiao Tian terlihat seperti kehilangan akal sehat ketika ia berusaha lepas dari cengkeraman ayahnya dan Jing Yu.

“Tertib! Tertib!” Sang hakim berteriak sambil memukulkan palu kecilnya. Tetapi Xiao Tian tidak peduli, ia sudah gila! Di matanya, ia hanya melihat senyum menjijikkan Qu Wei Ran, Xiao Tian ingin mendekati dan mencabik-cabik wajah Wei Ran! Itu dia, si jahat! Si jahat yang menghancurkan Yawang, menghancurkan Xia Mu, dan menghancurkan Xiao Tian! Qu Wei Ran, dasar kau setan!

| Passion Heaven |

Supaya proses pengadilan berjalan tertib, hakim memerintahkan petugas keamanan untuk membawa Tang Xiao Tian keluar dari ruang pengadilan dan melarangnya masuk. Ketika Xiao Tian digiring keluar, Shu Yawang tidak berani menoleh sedikit pun untuk melihat Xiao Tian. Yawang tidak berani menatap Xiao Tian, ia takut melihat wajah sedih Xiao Tian. Yawang menunduk dan menahan air matanya, ia kembali menggigit bibirnya dan memutuskan untuk bertahan sampai akhir. Yawang tidak boleh menangis, tidak boleh pergi, tidak boleh mempermalukan siapapun. Ini adalah satu-satunya harapan supaya Xia Mu dapat mengurangi hukumannya! Yawang menarik nafas dalam-dalam sebelum kembali mengangkat kepalanya.

Ketika Tang Xiao Tian sudah berada di luar ruang pengadilan, ia ingin kembali masuk, Xiao Tian ingin membunuh si jahat yang sudah menghancurkan segalanya! Tetapi kemudian, sebuah tinju tepat mengenai wajah Xiao Tian dan ia terjatuh. Xiao Tian terlihat terkejut, bibirnya berdarah. Paman Tang berdiri di depannya dan membentak,

“Tenang! Kau bukan Xia Mu, kalau kau membunuh seseorang, kau pasti akan menerima hukuman mati. Rasa sakit sebanyak apa lagi yang akan kau bebankan pada putri keluarga Shu?” Tang Xiao Tian perlahan bangkit berdiri dan menunduk, ia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Paman Tang menghela nafas.

“Pikirkan apa yang harus kau lakukan sekarang.” Selesai berkata demikian, Paman Tang beranjak pergi. Tang Xiao Tian kelihatan seperti sudah menggunakan seluruh tenaganya, jadi ia duduk di luar gedung pengadilan tersebut untuk beristirahat sejenak. Matahari yang bersinar sangat terik mengenai tubuhnya, membuat bayangan tubuhnya terlihat memanjang di permukaan tanah. Xiao Tian perlahan mengepalkan kedua tangannya, apa yang harus kulakukan? Apa yang harus Xiao Tian lakukan?

| Passion Heaven |

Setelah kurang lebih dua jam, pintu ruang pengadilan akhirnya terbuka dengan orang-orang yang berjalan keluar dari ruangan tersebut. Tang Xiao Tian berdiri, ia mengusap wajahnya sebelum menghampiri seorang pemuda.

“Bagaimana hasilnya?”

“Anak itu mendapat hukuman enam tahun penjara dan laki-laki itu mendapat empat tahun penjara.”

“Enam tahun?”

“Ya, terlalu sedikit, kan? Kupikir setidaknya ia akan mendapat sepuluh tahun penjara.” Setelah memberitahu Xiao Tian, pemuda itu beranjak pergi dengan temannya. Xiao Tian menghembuskan nafas lega, enam tahun, setengah dari yang diperkirakan. Xiao Tian memisahkan dirinya dari kerumunan orang-orang, ia berjalan kembali ke dalam ruang pengadilan. Xiao Tian melihat Yawang yang berjalan dengan kedua orang tuanya di sisi. Yawang melihat Xiao Tian dan dengan cepat mengalihkan tatapannya. Hati Xiao Tian berdenyut nyeri, ia berjalan maju selangkah, tidak berani berdiri terlalu dekat dengan Yawang. Yawang mengangkat tangannya untuk merapikan poninya, kemudian memberanikan diri untuk menatap Xiao Tian. Xiao Tian berjalan selangkah lagi mendekati Yawang dan Yawang dengan terpaksa tersenyum pada Xiao Tian.

“Xiao Tian.”

“Aku di sini.” Xiao Tian merasa hatinya bergetar, ia merasa mau menangis saja.

“Kalau ada yang mau kau bicarakan, bisakah besok saja?” Mata Yawang terlihat sembap.

“Baiklah.” Xiao Tian menjawab lembut, takut kalau-kalau ia akan membuat Yawang takut dan menjauh. Shu Yawang tersenyum lembut pada Xiao Tian, senyum yang sama seperti sebelum-sebelumnya, senyum yang sangat indah. Xiao Tian percaya pada Yawang, seperti ia selalu percaya pada Yawang sebelumnya.

Tetapi di hari kedua ketika Xiao Tian melihat sebuah surat dan sebuah cincin di depan pintunya, cincin itu membuatnya tersadar, senyum Yawang mengkhianatinya sejak awal. Yawang mengembalikan cincin tunangannya pada Xiao Tian dan menuliskan selembar surat untuk Xiao Tian dengan tulisan tangannya yang rapi.

Xiao Tian, orang berkata bahwa usaha selama seratus tahun untuk memperbaiki sebuah kapal menghasilkan seribu tahun kebahagiaan. Kurasa, takdir kita belum mencapai seratus tahun.

Yawang meninggalkannya, Yawang sudah pergi, Yawang menghilang, tidak dapat ditemukan. Xiao Tian akhirnya melepaskan Yawang.

Advertisements