CHAPTER III: Kebanggaan Sang Ayah

XMOaS

Tang Xiao Tian, kalau kau benar seorang lelaki sejati, kau tidak akan membiarkan seorang wanita menderita karenamu!

Semua orang yang berada di sana terdiam di tempatnya, menatap seorang anak laki-laki yang memegang senjata dengan perawakan yang misterius sampai Shu Yawang sendiri pun tidak tahu apakah senjata yang dipegang Xia Mu benar-benar asli atau tidak. Yawang ingat ketika pertama kali ia memegang senjata itu; terasa sama seperti yang dimilikinya ayahnya dulu, dingin dan berat.

“Aku… Aku tidak percaya senjata ini asli.” Cheng Wei terbata, setetes keringat menetes dari dahinya.

“Itu berarti, kau ingin mencobanya sendiri, benar kan?” Xia Mu bertanya dengan tenang. Sudut bibirnya terangkat dan Yawang meneguk ludahnya dengan gugup. Itu asli.

“Senjata ini hanya terlihat seperti asli, aku tidak percaya kalau—“

“Apakah kau tidak tahu siapa kakeknya?! Jika dia membawa senjata seperti ini, besar kemungkinan senjata yang dibawanya adalah senjata asli!” Yawang berteriak.

“Tapi kalaupun ini asli, dia tidak akan berani menembak.” Cheng Wei membalas dengan suara bergetar, tubuhnya menjadi kaku seketika.

“Benarkah?” Xia Mu bertanya, jarinya beralih pada pelatuk senjata.

“Hei. Hei, Xia Mu!” Yawang memanggil nama Xia Mu dengan panik. Anak ini, selalu diam dan bersikap misterius. Ketika ia menatapmu tanpa berkata apapun, kau benar-benar akan ketakutan. Xia Mu menjentikkan jarinya dan memiringkan kepalanya.

“Bang.” Ia bergumam pelan.

“Ah!” Cheng Wei berteriak keras, jatuh ke tanah dan mundur ketakutan. Ia bersusah payah menarik nafas dan menatap Xia Mu dengan penuh amarah.

“Pengecut.” Xia Mu terkekeh. Cheng Wei mengarahkan jarinya pada Xia Mu, dan tepat ketika itu, sinar mobil yang menyilaukan mengenai mereka. Sebuah kendaraan militer sedang menuju ke arah mereka. Seorang pria dalam balutan seragam tentara beranjak keluar dari kendaraan tersebut ketika mobil itu berhenti tepat di depan mereka. Xia Mu menoleh dan melihat siapa pria tersebut, ia kemudian menurunkan senjatanya setelah mengetahui siapa yang datang. Pria itu berjalan ke arah Yawang dan Xia Mu.

“Masuk ke dalam mobil.” Perintahnya. Yawang mengangguk dan menarik Xia Mu ke dalam mobil. Ketika mereka berjalan melewati mobil itu, kepala Zhang Jing Yu menyembul keluar dari jendela mobil.

| Passion Heaven |

“Apa kalian baik-baik saja?” Rupanya, ketika Zhang Jing Yu sedang berjalan kembali menuju warnet, ia melihat Yawang dan Tang Xiao Tian dibawa keluar oleh preman-preman tersebut. Ia ingin menelepon polisi, tetapi dihentikan oleh si pemilik warnet karena takut orang-orang suruhan Cheng Wei akan menghancurkan warnet tersebut. Jing Yu tidak punya pilihan lain selain menelepon ayah Xiao Tian. Jing Yu berpikir bahwa karena ayah Xiao Tian adalah seorang komandan daerah, ia akan membawa banyak orang. Tetapi ketika ia menunggu kendaraan militernya sampai, ia hanya melihat satu orang yang datang!

“Apakah Paman Tang bisa mengalahkan mereka semua?” Zhang Jing Yu bertanya cemas.

“Jangan khawatir, Paman Tang dilatih di tim pasukan khusus. Orang-orang ini bukanlah tandingannya.”

“Tidak mengherankan Xiao Tian juga pandai berkelahi.”

“Apanya! Dia membuatku dipukuli Cheng Wei! Ada baiknya ia mengganti rugi terhadapku setelah ini.” Yawang mengomel, sembari ia mengusap-usap lengannya. Ia menoleh untuk melihat Xia Mu yang sedari tadi tak bersuara.

“Terima kasih, Xia Mu.” Xia Mu menatap Yawang balik, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Yawang kemudian mendekati Xia Mu dan berbisik,

“Darimana kau mendapatkan senjatanya? Itu berbahaya, jangan dibawa setiap saat.”

“Senjatanya palsu.”

“Hah? Bagaimana bisa? Kau bilang tadi—“

“Aku berbohong.” Yawang terdiam sejenak, lalu memeluk Xia Mu erat-erat.

“Xia Mu, kau keren sekali! Bagaimana bisa kau sekeren itu tadi? Sangat tampan dan manis!” Xia Mu berusaha melepaskan pelukan Yawang, tapi Yawang dengan keras kepala tetap memeluknya erat. Detik itu, Yawang merasa bahwa Xia Mu benar-benar mengagumkan.

“Lepaskan aku!” Xia Mu memprotes, mencoba untuk terlepas dari Yawang sambil menatap ke arah lain, menyembunyikan pipinya yang bersemu merah. Tangan Yawang beralih ke wajah Xia Mu dan ia langsung mencubit pipinya.

“Aw, kau tersipu.” Yawang mengejek.

“Tidak.” Xia Mu membalas dengan wajah serius. Yawang terkekeh.

“Oh, benarkah? Ayo coba lagi kalau begitu.” Yawang memeluknya lagi, dagunya diletakkan di atas kepala Xia Mu. Yawang dapat melihat wajah Xia Mu yang memerah karenanya, ini menyenangkan! Xia Mu melepas pelukan Yawang dengan paksa dan meneriakinya,

“Lepaskan aku!” Perempuan ini benar-benar menyebalkan! Aku seharusnya tidak menolongnya tadi! Ketika Yawang dan Xia Mu sibuk berdebat, Paman Tang datang dengan memapah Tang Xiao Tang. Mata Xiao Tian bengkak dan terdapat lebam keunguan di sekitar wajahnya, ia juga tertatih saat berjalan. Ketika Yawang melihatnya, ia cepat-cepat beranjak keluar dari mobil.

| Passion Heaven |

“Xiao Tian…” Xiao Tian menengadah untuk melihat Yawang yang sedang menatapnya khawatir.

“Tidak apa-apa, ini tidak sakit. Bagaimana denganmu? Apakah sakit?” Xiao Tian mengusap lembut lengan Yawang yang dipukul Cheng Wei tadi.

“Maafkan aku, Yawang.” Xiao Tian merasa bersalah. Rasa sakit di lengan Yawang langsung berkurang ketika Xiao Tian mengusapnya. Yawang dengan canggung menarik kembali lengannya dan tersenyum.

“Tidak apa-apa, ini tidak sakit.”

“Yawang, masuk ke mobil.” Paman Tang memerintah dingin. Yawang mengangguk dan membantu Xiao Tian untuk masuk ke dalam mobil juga. Ketika mereka berdua baru saja duduk, Paman Tang memberi perintah lain.

“Keluar.”

“Hah?” Keduanya bertanya, saling memandang satu sama lain.

“Tang Xiao Tian, aku bilang keluar! Jalan kaki sana!”

“Tapi Paman, Xiao Tian terluka.” Yawang memohon. Dia terlalu keras pada anaknya sendiri!

“Keluar sekarang!” Paman Tang memerintah lagi. Mata Xiao Tian memerah dan ia menggigit bibirnya sebelum bangkit dari tempat duduknya. Xiao Tian membuka pintu mobil dan beranjak keluar. Yawang, yang terus memerhatikannya, juga bangkit dari tempat duduknya.

“Aku juga akan berjalan pulang.” Yawang beranjak keluar dan berdiri di samping Xiao Tian. Paman Tang menatap mereka tak percaya.

“Tang Xiao Tian, kalau kau benar seorang lelaki sejati, kau tidak akan membiarkan seorang wanita menderita karenamu! Kalau saja Yawang tidak terlibat tadi, aku tidak akan datang untuk menyelamatkanmu!” Xiao Tian menundukkan kepalanya dan mendorong Yawang pelan.

“Masuklah kembali ke mobil.”

“Tidak mau.”

“Masuklah.” Xiao Tian berbisik lembut. Ia mengangkat kepalanya untuk menatap Yawang, air mata memupuk di kedua matanya. Yawang berbalik dengan setengah hati dan kembali masuk ke dalam mobil. Paman Tang menyalakan mesin dan langsung pergi. Wajah Xiao Tian terlihat semakin mengecil seiring dengan kendaraan yang melaju semakin jauh.

“Paman Tang, kau terlalu keras pada Xiao Tian. Kau bahkan membuatnya menangis! Kau jahat.” Yawang berteriak seiring dengan air mata yang mengaliri pipinya. Paman Tang melihatnya dari kaca depan.

“Dasar, sudah berapa tahun berlalu, dan kau masih saja menangis setiap kali Xiao Tian dihukum!”

“Siapa yang menyuruhmu menghukumnya begitu keras! Tidakkah kau merasa bersalah?” Aku merasa bersalah. Yawang berkata dalam hati, tanpa berniat untuk menyuarakannya.

“Yawang-ah, ada begitu banyak laki-laki lembut di luar sana. Aku ingin anak laki-lakiku menjadi seorang pria sejati, seorang yang kuat dan berani dengan integritas! Aku berharap ia dapat menjadi kebanggaanku. Kecuali, kau tidak menginginkannya begitu.” Paman Tang tertawa kecil. Yawang mengangguk pelan.

“Aku menginginkannya menjadi seperti itu.” Mereka sampai di rumah Yawang tak lama kemudian, dan baik Yawang maupun Xia Mu turun dari mobil tersebut. Paman Tang melanjutkan perjalanannya, mengantar Zhang Jing Yu pulang ke rumahnya. Yawang tidak ingin cepat-cepat pulang ke rumah, ia ingin menunggu Xiao Tian sampai, dan rumah Xia Mu tidak jauh, dia bisa pulang sendiri. Yawang menoleh ke arah Xia Mu dan kedua matanya melebar.

“Xia Mu, kau… apakah kau—“ Kedua tangan Xia Mu terkepal erat.

“Ayahku sering berkata, ia ingin aku menjadi kebanggaannya.”

| Passion Heaven |

“Ketika aku salah, Ayah akan menghukumku dengan keras. Ia akan menghukumku dan Ibu akan merasa bersalah karenanya. Ibu akan melihat luka-lukaku dan mengusapnya lembut.” Xia Mu menatap Yawang, menggigit bibirnya untuk menahan tangisnya. Yawang merasa sedih; ia benar-benar berharap anak seperti Xia Mu akan menemukan kebahagiaannya nanti.

“Xia Mu. Mulai sekarang kau akan jadi kebanggaanku, oke? Ketika kau terluka, aku yang akan mengusapnya dengan lembut, bagaimana?” Xia Mu menggigit bibir bawahnya, tidak menggeleng, tidak juga mengangguk. Yawang mengulurkan tangannya perlahan dan menggenggam tangan kanan Xia Mu.

“Aku akan mengantarmu pulang.” Yawang berjalan beberapa langkah di depan Xia Mu dan menoleh ke belakang. Xia Mu masih terdiam di tempatnya, kemudian mulai mengikuti Yawang beberapa saat setelahnya. Bayangan mereka beriringan satu sama lain di bawah cahaya bulan. Setelah malam itu, Xia Mu mulai menerima Yawang. Ketika Yawang masuk ke kamarnya, ia tidak lagi menghindar dan bahkan akan membiarkan Yawang memainkan semua mainan model militernya, kecuali senjata. Walaupun ia masih tidak suka berbicara dengan Yawang, ia akan memerhatikan Yawang sekilas ketika Yawang berbicara.

| Passion Heaven |

Di hari terakhir liburan musim panas, Yawang pergi ke rumah Xia Mu dan menyapa kedua pengasuh Xia Mu ketika mereka membukakan pintu untuknya. Ia beranjak ke lantai atas menuju kamar Xia Mu dan masuk tanpa mengetuk pintu. Xia Mu sedang duduk di kursi, kepalanya tertunduk, ia sedang menggambar. Yawang berjinjit di belakang Xia Mu dan melihat apa yang sedang digambarnya. Xia Mu meletakkan selembar kertas kosong di atas sebuah majalah militer dengan gambar tank militer di halaman depannya. Yawang mendekat dan berteriak di telinga Xia Mu.

“Wah!” Xia Mu, yang terkejut karena teriakan Yawang, tanpa sengaja menyoretkan sebuah garis panjang di atas gambarnya yang sudah jadi.

“Oh, maaf.” Xia Mu melihat gambarnya yang rusak, kemudian menoleh ke arah Yawang yang terlihat tidak merasa bersalah sama sekali.

“Apakah itu sebuah tatapan menyalahkan?” Yawang bertanya sambil tertawa. Xia Mu kembali melihat gambarnya. Ia meronyokkan kertas gambar itu dan membuangnya ke tempat sampah.

“Wah, kau marah.” Yawang menjawil kepala Xia Mu dengan jarinya.

“Kau marah? Kalau kau marah, gigit aku, sudah lama kau tidak menggigitku.” Xia Mu menyipitkan matanya dan kemudian menggigit jari Yawang. Yawang dengan cepat menarik kembali jarinya dan menatap Xia Mu.

“Kau benar-benar melakukannya?” Xia Mu menatap Yawang dengan menantang.

“Bukankah kau yang menyuruhku?”

“Haha, ketika aku menyuruhmu menggigitku, kau melakukannya. Benar-benar anak baik.” Yawang mengusap kepala Xia Mu, menatapnya seolah-olah ia adalah anak termanis yang pernah dilihatnya. Xia Mu menghindar dari tangan Yawang dan kembali berfokus pada gambarnya. Ia mengambil secarik kertas putih lainnya dan mulai menggambar lagi. Yawang memerhatikannya dan menggelengkan kepalanya. Sekali anak-anak, tetap anak-anak, walaupun hanya mencorat-coret, tetap saja jelek.

“Mulai besok, aku tidak akan datang lagi.” Yawang berkata sambil duduk di atas kasur Xia Mu dengan kedua kaki tersilang. Xia Mu berhenti menggambar, matanya menatap tak fokus. Yawang mengeluarkan buku gambar dan sebuah pensil dari dalam tasnya.

“Aku sudah menjadi gurumu selama dua bulan, tapi aku tidak pernah mengajarimu satu hal pun.” Yawang berdiri dan mengambil salah satu model tank dari laci di samping tempat tidur Xia Mu, kemudian meletakkannya di atas meja sebelum menatap Xia Mu.

“Di hari terakhir ini, setidaknya biarkan aku mengajarimu cara menggambar sebuah tank.” Yawang menepuk tempat kosong di sampingnya, memanggil Xia Mu untuk duduk di sana. Yawang memanggilnya dua kali, namun tidak disahut oleh Xia Mu sekalipun. Dahi Yawang berkerut, apa yang dia lakukan? Membuat suasana jadi canggung saja. Yawang tidak punya pilihan lain selain menarik Xia Mu ke atas tempat tidur. Keduanya menyandarkan punggung mereka ke dinding dan dengan kaki tersilang sehingga mereka bisa menggambar dengan lebih bebas. Saat Yawang mengajari Xia Mu menggambar, ia akan melihat gambar Xia Mu sesekali sambil memperbaiki kesalahannya.

Yawang sudah menggambar selama tujuh tahun, namun ia tidak tahu bagaimana caranya mengajari seseorang menggambar. Yawang hanya akan menggambar beberapa bagian kemudian melihat apakah Xia Mu mengikutinya. Xia Mu tidak bisa berkonsentrasi selama Yawang mengajarinya. Setiap kali Yawang mendekatkan tubuhnya, Xia Mu dapat mencium wangi yang manis dan ringan dari Yawang. Xia Mu menyukai ketika rambut lembut Yawang mengenai tangannya, ia menyukai kedekatan mereka.

| Passion Heaven |

Yawang dan Xia Mu melihat kedua gambar yang sudah mereka selesaikan bersama, baiklah, Yawang yang menggambar kedua gambar tersebut sebenarnya. Yawang melihatnya dengan gembira, mengusap hidungnya sebelum berkata,

“Tidak buruk.” Xia Mu menganggukkan kepalanya menyetujui; sama sekali tidak buruk.

“Haha, aku harus menggunakan keahlianku ini untuk menghasilkan uang kalau begitu!” Yawang sangat senang ketika Xia Mu menganggukkan kepalanya, lebih senang daripada ketika ia dipuji oleh guru-gurunya. Yawang menandatangani gambarnya; tulisannya yang acak-acaknya terlihat seperti sedang menari di atas kertas. Yawang kemudian memberikannya pada Xia Mu.

“Untukmu. Simpan baik-baik, ketika aku terkenal nanti, ini akan menjadi sangat mahal.” Xia Mu mengambil kertas yang disodorkan Yawang dan menunduk. Yawang melihat jam di pergelangan tangannya, sekarang jam makan siang. Ia bergegas membereskan pensil dan buku gambarnya.

“Aku pulang dulu.” Xia tidak membalas. Yawang meletakkan tangannya di pundak Xia Mu.

“Xia Mu-ah, kau sangat pendiam, kau pasti akan diganggu di sekolah.” Xia Mu hanya terus menatap kedua lembar gambar di tangannya. Yawang mengangkat tangannya, hendak mengacak rambut Xia Mu, tapi Xia Mu berhasil menghindar. Yawang mengerutkan dahinya dan memaksa untuk mengacak rambut Xia Mu, membuat rambutnya berantakan. Xia Mu memelototinya, tapi Yawang sudah terbiasa, sehingga Yawang hanya membiarkannya.

“Oh benar, besok kau mau pergi ke sekolah naik bus atau bersepeda denganku?”

“Sekolah?” Xia Mu bertanya sambil menengadah ke arah Yawang dengan raut wajah bingung.

“Ya, kau tak tahu? Besok sudah masuk sekolah!” Yawang menatapnya kaget, kemudian menyadari sesuatu.

“Oh, Kakek pasti lupa memberitahumu. Ia mendaftarkanmu di sebuah SMP di Kota L, sekolah yang sama denganku. Biar kuberitahu, sekolah ini sangat indah, tapi makanan di kantinnya tidak enak. Kau akan melihatnya sendiri besok—“

“Denganmu.” Xia Mu berkata, sudut bibirnya terangkat.

“Hah? Apa? Oh baiklah, bersepeda bersama. Aku akan menjemputmu besok, oke?”

“Mmm.” Xia Mu mengangguk, kedua mata indahnya berkedip.

“Aku pergi sekarang, dah.” Yawang melambaikan tangannya sebelum pergi. Xia Mu menatap pintu kamarnya tertutup, kemudian kembali menatap kedua gambar di tangannya. Ia bangkit dan menempelkan kedua gambar tersebut di dinding, namun kemudian melepasnya lagi, takut kedua gambar tersebut akan robek nantinya dan kemudian menyimpannya di lemari kaca. Setelah beberapa saat, ia mengeluarkan kedua gambar tersebut dari lemari kaca dan menggulungnya sebelum menyimpannya ke dalam laci di dekat tempat tidurnya. Laci di mana ia menyimpan senjata QSZ-92 miliknya.

Advertisements