CHAPTER XIV: Mereka, yang Saling Mencintai pada Mulanya, Tidak Bersatu pada Akhirnya

Sekarang kau sudah kembali, tapi kau bukanlah orang yang kunantikan.

XMOaS

Setelah Yawang menyelesaikan ceritanya, waktu sudah menunjukkan pukul tiga pagi. Lampu ruangan bersinar terang dengan Shu Yawang yang terduduk di atas sofa, ia terlalu lelah untuk bahkan sekedar mengangkat kepalanya, kedua matanya terlihat kosong dan bingung. Teman Yawang, Yuan Zhu, menangis sepanjang cerita Yawang. Yuan Zhu memeluk Yawang dengan erat, tidak tahu harus mengatakan apa untuk menghibur Yawang. Keduanya merasakan kehangatan dari lampu ruangan ketika mereka duduk diam untuk sejenak.

“Apa yang terjadi selanjutnya?” Yuan Zhu tidak dapat menahan keingintahuannya.

“Setelahnya?” Shu Yawang menunduk dan tersenyum pahit.

“Setelahnya, aku bertemu denganmu.”

| Passion Heaven |

Lima tahun yang lalu, Yawang membeli sebuah tiket kereta yang berangkat dari utara menuju ke selatan, ia diam-diam meninggalkan rumah. Detik ketika mesin mulai menyala, Yawang merasa tidak mempunyai apa-apa lagi. Di dalam kereta itulah ia bertemu dengan Yuan Zhu. Pada saat itu, Shu Yawang sedang memandang ke luar jendela dengan air mata yang membasahi pipinya ketika ia merasa seseorang menepuk bahunya. Yawang mengabaikan orang tersebut, tetapi orang tersebut terus-menerus menepuk bahu Yawang.

“Nona Xia?”

“Marga saya Shu!” Yawang membentak sambil menoleh untuk melihat siapa orang tersebut. Ternyata adalah wali kelas Xia Mu yang masih muda itu!

“Oh.” Guru yang masih belia itu menggigit jarinya dengan gugup ketika Yawang memelototinya dengan mata yang berair. Setelah beberapa saat, ia memutuskan untuk bertanya dengan hati-hati.

“Apakah… Anda menangis?”

“Tidak.” Yawang menyanggah sambil memalingkan wajahnya.

“Oh.” Guru muda itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan tersenyum canggung.

“Um… Nona Xia…”

“Aku sudah bilang margaku Shu! Kau sangat menyebalkan!” Yawang sangat marah sehingga ia memukul meja di depannya. Yawang sudah sedang berada dalam kondisi yang sangat tertekan, lagi ia harus bertemu dengan guru sebodoh ini, Yawang akhirnya menangis. Mantan wali kelas Xia Mu menggigit jarinya, ia terkejut melihat Yawang menangis di depannya. Tadinya ia hanya ingin bertanya pada Yawang ke mana Yawang akan pergi…

| Passion Heaven |

Ketika memikirkan tentang pertemuan mereka waktu itu, Shu Yawang hanya bisa tertawa, ia kemudian melirik Yuan Zhu.

“Kau benar-benar sangat bodoh waktu itu.” Yuan Zhu tersenyum malu.

“Kau menangis sangat keras sampai-sampai aku tidak tahu harus berbuat apa.” Saat itu, Yuan Zhu berada di Kota S untuk menjadi seorang guru magang. Ketika masa pelatihannya berakhir, ia memutuskan untuk pulang dengan kereta. Di sanalah ia bertemu dengan Yawang, yang kelihatan seperti anak hilang, terlihat menyedihkan dan kebingungan sehingga Yuan Zhu tidak sampai hati untuk mengabaikannya, jadi Yuan Zhu berinisiatif menyapa Yawang terlebih dahulu. Setelah mengetahui bahwa Yawang tidak punya tujuan yang pasti, Yuan Zhu menyarankan Yawang untuk pergi ke Kota W bersama dengannya. Yuan Zhu mengerucutkan bibirnya dan menghembuskan nafas panjang mengingat semua itu.

| Passion Heaven |

“Waktu berjalan sangat cepat. Sudah enam tahun…” Shu Yawang menunduk.

“Ya, sudah enam tahun…” Yawang kembali mengangkat kepalanya dan memandang ke luar jendela di mana langit subuh menampakkan dirinya. Yawang meraih liontin ikan di lehernya dan menyipitkan matanya sambil berkata,

“Xia Mu akan segera dibebaskan…” Ketika Yawang menyebut nama Xia Mu, hatinya berdenyut nyeri. Beberapa tahun terakhir, Yawang terus-menerus bermimpi, ia memimpikan anak laki-laki yang dingin itu dengan kedua matanya yang kosong. Yawang akan bermimpi tentang Xia Mu yang memegang sebuah senjata dengan darah yang mengalir di sekitar tempatnya berdiri, dan Xia Mu yang menatapnya dengan pandangan kosong.

“Yawang, tidak seorang pun dapat mengganggumu lagi.” Yawang menggenggam kalung di lehernya dengan erat, ia tiba-tiba merasa cemas.

“Lalu bagaimana dengan Tang Xiao Tian? Apakah kau pernah bertemu dengannya selama enam tahun ini?” Yuan Zhu bertanya dengan hati-hati. Yawang menundukkan kepalanya dan terdiam. Melihat Yawang yang diam, Yuan Zhu menghembuskan nafas panjang, ia sudah tahu jawabannya tanpa harus diberitahu Yawang. Cahaya di langit luar semakin terang, menandakan pagi mulai datang, alarm di ponsel Yawang tiba-tiba berbunyi. Yawang mematikan alarm tersebut dan berdiri.

“Sudah terlambat. Aku harus berangkat kerja sekarang.”

“Baiklah, hati-hati. Jangan lupa sarapan.”

“Ya.”

| Passion Heaven |

Yawang berjalan menuju halte bis dengan kepala tertunduk; sebenarnya masih terlalu pagi untuk berangkat kerja, terlihat dari hanya beberapa orang yang berdiri di halte bis ini. Yawang tidak perlu menunggu terlalu lama untuk bis Nomor 23. Ketika bis sampai, Yawang naik ke bis tersebut dan menggesek kartu penumpang bisnya sebelum duduk di bagian belakang bis. Ketika bis mulai berjalan, Yawang menatap ke depan dengan tatapan kosong. Setengah jam kemudian, bis yang dinaiki Yawang sampai di perhentian bis dekat tempat kerja Yawang. Yawang turun dari bis dan berjalan ke café terdekat untuk memesan semangkok wonton sebagai sarapan. Yawang menunggu di tempat duduknya sambil memandang ke luar jendela, ia dapat memerhatikan orang-orang yang berlalu-lalang dengan jelas. Yawang memandang jauh ke depan, tampak jelas bahwa hanya tubuhnya saja yang berada di café tersebut, jiwanya entah sudah melayang ke bagian dunia mana.

Empat tahun yang lalu, di sinilah Yawang melihat Tang Xiao Tian di seberang jalan. Pada saat itu, Yawang sudah tidak pulang ke rumah selama dua tahun, ia tidak memberitahu siapapun tentang kepergiannya. Di tengah-tengah kepergiannya, Yawang sangat merindukan ibunya sehingga ia memutuskan untuk menelepon beliau. Ibu Yawang menangis di telepon, memberitahu Yawang untuk menjaga dirinya sendiri baik-baik dan bahwa Yawang bisa pulang kapanpun ia siap. Shu Yawang hanya mengangguk mendengar kata-kata ibunya.

“Setelah kau pergi, Xiao Tian masih tetap menuliskan surat untukmu setiap hari. Dia akan selalu berkunjung ke sini setiap kali liburan, Xiao Tian bilang ia tidak akan merendahkanmu dan akan selalu menunggumu.” Shu Yawang mencengkeram ponselnya erat-erat dan menggigit bibirnya.

“Katakan padanya untuk tidak menungguku, jangan menungguku.”

“Yawang-ah, Xiao Tian menuliskan banyak surat untukmu, bagaimana jika Ibu mengirimkannya padamu?”

“Jangan Bu, jangan kirimkan.” Yawang dengan cepat menolak saran ibunya. Ia takut untuk membaca surat-surat Xiao Tian, takut kalau-kalau ia tidak akan bisa menahan perasaan rindunya pada Xiao Tian, takut kalau-kalau ia tidak akan bisa bertahan, takut kalau-kalau ia akan mengkhianati Xia Mu yang sedang berada di penjara.

Walaupun Yawang menolak, ibunya bersikeras mengirimkan surat-surat Xiao Tian pada Yawang. Yawang tidak berani membuka surat-surat itu, tidak satu pun! Yawang menumpuk semua surat-surat itu dan menyembunyikannya di bawah tempat tidurnya. Berapa banyak kali Yawang ingin membuka dan membaca surat-surat tersebut, ia tidak ingat, tidak terhitung lagi…

Lalu suatu hari, ketika Yawang berangkat kerja seperti biasanya, ia melihat seseorang yang tidak ia pikir akan ditemuinya lagi. Yawang melihat laki-laki itu berlari ke arahnya di antara mobil-mobil yang berlalu-lalang sehingga Yawang dengan panik berlari untuk bersembunyi. Yawang melihat pria itu mati-matian mengejarnya di antara kerumunan orang-orang. Yawang melihat pria tersebut berjalan perlahan, berpikir bahwa mungkin saja ia dapat menemukan Yawang jika ia berjalan pelan-pelan. Tetapi tidak, pria itu hanya melelahkan dirinya sendiri. Pria itu bersandar di dinding di mana Yawang bersembunyi di sisi lain dinding tersebut, Yawang membekap mulutnya dan terisak pelan. Pria itu bersandar di sana dengan mata yang memerah, ia menatap kerumunan orang-orang di depannya dengan raut wajah sedih. Shu Yawang berpikir bahwa kali itu hanyalah suatu kebetulan, dan bahwa pria itu akan segera meninggalkan Kota W setelahnya. Tetapi, setiap hari setelah kejadian itu, Yawang akan melihat pria yang sama berdiri di tempat yang sama, mencoba menemukan Yawang, ia menunggu Yawang.

| Passion Heaven |

Selama tiga bulan berturut-turut, Xiao Tian menunggu Yawang setiap pagi di tempat yang sama. Walaupun Paman Tang datang dan memaksanya pulang, tidak ada gunanya, ia tetap melakukan hal yang sama. Shu Yawang melihat Paman Tang yang memukuli Xiao Tian dan merasa bersalah, sama seperti ketika mereka masih kecil. Tetapi kali ini, Xiao Tian tidak mendengar perkataan ayahnya dan terus berdiri di sana untuk menunggu Yawang. Yawang dapat melihat Paman Tang yang menghembuskan nafas panjang dan meninggalkan Xiao Tian setelahnya.

Yawang menatap Xiao Tian dari kejauhan, dan seakan Tang Xiao Tian dapat merasakannya tatapan Yawang, ia menoleh dan mendapati Yawang di antara kerumunan orang-orang. Yawang berjalan menuju ke arah Xiao Tian selangkah demi selangkah dan Xiao Tian menatap Yawang tidak percaya. Ketika Yawang berdiri di depan Xiao Tian, Xiao Tian langsung memeluk Yawang dengan erat, ia merasa tidak ingin melepas pelukan ini selamanya. Yawang diam di tempatnya, membiarkan Xiao Tian memeluknya erat. Yawang tidak dapat menahan air matanya, ia merindukan pelukan Xiao Tian, ia sangat merindukan semuanya. Tang Xiao Tian juga menangis; mereka tidak mengatakan sepatah kata pun untuk waktu yang lama karena mereka tahu bahwa mereka bukanlah Shu Yawang atau Tang Xiao Tian yang dulu lagi. Mereka tahu bahwa mereka tidak akan bisa bersama lagi, karena mereka tahu, waktu mereka sudah habis.

“Xiao Tian, kembalilah.” Yawang berkata lembut.

“Yawang, Yawang, Yawang.” Xiao Tian terus menangis dan memanggil nama Yawang. Laki-laki yang tangguh ini menangis, membasahi bahu Yawang dengan air matanya. Yawang menggigit bibirnya dan sekali lagi memberitahu Xiao Tian untuk kembali.

“Kembalilah, pulanglah, kumohon.”

“Yawang, pulanglah denganku. Aku akan selalu berada di sisimu dan tidak akan pergi. Aku akan selalu berada di sisimu dan tidak akan membiarkanmu untuk menungguku. Aku tidak akan membiarkan seseorang mengganggumu, biarkan aku berada di sisimu…” Yawang menggeleng dan mulai menangis dengan keras.

“Terlambat, sudah terlambat. Xiao Tian, semuanya sudah benar-benar terlambat. Aku tidak bisa bersamamu. Aku sudah menunggu, menunggumu kembali, menunggu sangat lama, tetapi pada akhirnya aku tidak bisa menunggumu sampai akhir.”

“Sekarang kau sudah kembali, tetapi kau bukanlah orang yang kunantikan.”

“Tidak, tidak benar.” Tang Xiao Tian mengeratkan pelukannya pada Yawang, tidak berniat untuk menjauh sedikit pun.

“Xiao Tian, kau bilang sebelumnya bahwa kau tidak takut jika aku pergi suatu tempat yang jauh, melihat pemandangan yang lebih indah, atau bertemu dengan pria yang lebih baik. Aku sekarang berada di tempat yang jauh, sangat jauh. Dan aku tidak akan kembali, tidak akan kembali ke sisimu.” Yawang memalingkan wajahnya dan berjalan menjauh dengan air mata yang masih mengalir di pipinya. Tang Xiao Tian menatap punggung Yawang dan perlahan berjongkok, ia meratap dalam kesedihan yang mendalam…

| Passion Heaven |

Café tempat Yawang berada penuh sesak dengan orang-orang yang menikmati sarapan mereka masing-masing, suara mereka meninggi ketika memanggil pelayan untuk memesan. Sudut mata Yawang masih terlihat sembap ketika sebuah tubuh besar menghalangi pandangannya, pelayan itu meletakkan semangkok wonton pesanan Yawang di depannya.

“Nona, ini pesanan Anda.” Shu Yawang tersadar dari kenangan lamanya dan menghirup nafas dalam-dalam, ia menoleh untuk menatap pelayan tersebut.

“Terima kasih.” Yawang berkata dengan sopan. Yawang menghabiskan sarapannya sedikit demi sedikit, setetes air mata jatuh tanpa sadar ke dalam mangkoknya. Mereka, yang saling mencintai pada mulanya, tidak bersatu pada akhirnya. Mereka, yang saling mencintai pada mulanya, berjalan di dua jalur yang berbeda pada akhirnya. Mereka, yang saling mencintai pada mulanya, tidak dapat memeluk satu sama lain dengan erat ketika mereka bertemu lagi. Mereka, yang saling mencintai pada mulanya, tidak dapat saling mencium mesra ketika mereka bertemu kembali. Mereka, yang saling mencintai pada mulanya…