CHAPTER X: Cinta yang Manis

Ketika kita masih kecil, aku benar-benar mengagumimu. Karena kau adalah seseorang yang mempunyai tujuan yang jelas, kau tahu apa yang kau sukai, kau tahu apa yang ingin kau lakukan, kau bahkan punya gambaran tentang masa depanmu. Aku benar-benar menyukai dirimu yang seperti ini, aku berharap aku bisa menjadi sepertimu.

XMOaS

*PERINGATAN: Bab ini mengandung kekerasan tidak cocok untuk pembaca yang sensitif dan di bawah usia 18 tahun.

Shu Yawang sedang menyanyikan lagu “Honey Honey” dari Stefanie Sun.

“Kau akan terbang kalau terus berputar seperti itu.” Ibu Yawang tertawa memerhatikan putrinya yang sedang bernyanyi di dalam kamarnya sembari memilih pakaian yang akan dipakainya. Yawang memilih jaket bergaya Korea dan berputar dua kali sebelum menghampiri ibunya, kemudian melanjutkan beberapa baris lagu cinta yang manis tersebut.

“Gila, anak ini sudah gila. Pacarmu sudah menunggu di bawah, pergilah.” Ibu Yawang menggelengkan kepalanya melihat tingkah putrinya. Yawang memakai jaketnya dan terus bernyanyi sepanjang menuruni tangga sambil memegang erat tas kecil di tangannya. Ibu Yawang memerhatikan Yawang dari belakang dan kembali menggelengkan kepalanya.

“Dia tidak akan tinggal di sini untuk dua tahun ke depan, kita harus segera mulai mempersiapkan pernikahan.” Ayah Yawang duduk di atas sofa sambil menikmati cerutunya.

“Dia tidak akan tinggal jauh-jauh.” Ibu Yawang memerhatikan Yawang yang langsung memeluk Xiao Tian ketika ia sampai di bawah; wajah Yawang terlihat sangat bahagia. Ibu Yawang tersenyum dan mengangguk-angguk setuju menatap Xiao Tian.

“Xiao Tian semakin hari semakin tampan, kurasa tidak ada lagi laki-laki yang setampan Xiao Tian di sekitar sini.” Ayah Yawang menghembuskan asap dari cerutunya.

“Apa yang sedang kau bicarakan? Xia Mu juga tampan.”

“Yang kau bicarakan hanya Xia Mu dan Xia Mu, apa dia anakmu?” Ibu Yawang bertanya kecewa. Ayah Yawang hanya tertawa kecil.

“Baiklah, baik, baik. Tampan, sangat tampan, Xiao Tian sangat tampan! Lihat, seorang mertua memuji dan membela menantunya seperti itu.”

“Terserah padaku, apa kau mau melarangku?” Ibu Yawang memelototi ayah Yawang. Ayah Yawang bangkit berdiri dan kemudian memakai topi militernya. Beliau kembali menatap ibu Yawang ketika ia membuka pintu.

“Perhatikan saja Xiao Tian, aku berangkat.”

“Sana, pergi.” Ibu Yawang dengan cepat melambaikan kedua tangannya. Setelahnya, ia berjalan ke arah dapur sambil menggumam sendiri.

“Aku harus ke pasar untuk menyiapkan makan malam yang enak untuk Xiao Tian.” Ayah Yawang menggelengkan kepalanya.

“Dua wanita tergila-gila padanya, apa memang Tang Xiao Tian lebih tampan dariku?” Ayah Yawang memikirkan sejenak pertanyaannya sendiri dan kemudian memilih untuk mengabaikannya.

| Passion Heaven |

Shu Yawang dan Tang Xiao Tian berjalan melewati lapangan militer dengan tangan yang saling menggenggam. Angin musim dingin masih terasa sedikit menusuk tulang, tetapi karena Yawang ingin terlihat cantik, ia memakai miniskirt dengan sepasang sepatu boots coklat dan hanya menutupi dirinya dengan sebuah jaket putih yang kebesaran. Yawang juga memakai sepasang sarung tangan merah dan syal merah, membuatnya terlihat muda dan cantik. Xiao Tian memakai jaket militer hijaunya dan sepasang celana jins tua. Xiao Tian menggenggam tangan Yawang dengan tangan kanannya, tangan kirinya membawakan tas kecil Yawang.

“Apa kau akan mengantarku sampai ke tempat kerjaku?” Yawang bertanya sembari mengayun-ayunkan tangan mereka yang bergandengan.

“Ya, aku sedang mengantarmu sampai ke tempat kerjamu.” Xiao Tian menjawab dengan senyum yang manis.

“Gendong aku di punggungmu.” Yawang melepaskan genggaman tangan Xiao Tian dan melompat ke atas punggungnya. Ia melingkarkan kedua lengannya pada leher Xiao Tian.

“Kau sudah lama tidak menggendongku seperti ini.” Xiao Tian mengusap hidungnya dan menunduk sembari tersipu malu.

“Ada banyak orang di pagi hari.”

“Lalu kenapa? Kau tidak bisa menggendongku seperti ini kalau ada banyak orang?” Xiao Tian akhirnya mengalah. Ia memapah Yawang tanpa kesulitan sedikit pun. Yawang kemudian bertanya ketika mereka mulai berjalan.

“Apa aku bertambah berat?”

“Tidak, kau seringan sehelai bulu angsa.” Xiao Tian tertawa. Yawang hanya tertawa senang. Xiao Tian menggeleng sambil tertawa dan melanjutkan perjalanan mereka. Ketika sebuah mobil melewati mereka, mobil itu berjalan perlahan dan orang-orang di dalam mobil memerhatikan mereka. Kemudian mereka akan melanjutkan perjalanan mereka dengan hati yang tenteram setelah melihat wajah bahagia kedua insan yang terlihat semanis madu itu.

| Passion Heaven |

Sebuah sepeda melaju melewati mereka; anak laki-laki yang bersepeda itu memakai jaket putih dan ia melirik ke arah mereka, matanya terkunci menatap Xiao Tian. Kedua mata anak laki-laki itu dingin dan seperti tak bernyawa, sama seperti ketika kedua mata itu beralih menatap Yawang, dingin dan tak bernyawa. Anak laki-laki itu memalingkan wajahnya dan dengan cepat mengayuh sepedanya menjauh.

“Apakah itu Xia Mu tadi?”

“Mmm.” Yawang menatap punggung Xia Mu dengan khawatir. Di musim dingin pun dia tetap memakai sepeda?

“Dia bahkan tidak berbicara denganmu sekarang.” Yawang tidak menanggapi Xiao Tian, sebaliknya, ia meraih kalung yang tergantung di lehernya. Kalung itu terasa dingin, sangat dingin, sama seperti kedua mata Xia Mu yang menatapnya tadi. Xiao Tian memerhatikan raut wajah Yawang yang tampak murung.

“Dia hanya sedang dalam masa pubertas, menjadi pemberontak, labil, dan segalanya.” Yawang tersenyum kecil mendengar kata-kata Xiao Tian yang sedikit melegakan hatinya.

“Mungkin.” Xiao Tian kemudian menurunkan Yawang dari punggungnya.

“Tunggu di sini, aku akan menyiapkan mobilnya.”

“Mmm.” Yawang mengangguk dan memerhatikan Xiao Tian yang berjalan ke arah garasi. Sebuah mobil jeep yang terlihat familiar muncul dan berhenti tepat di depan Yawang. Xiao Tian membukakan pintu mobil untuk Yawang. Yawang lalu masuk ke dalam mobil dan menyentuh mobil tersebut dengan kagum.

“Xiao Tian, aku tidak percaya Paman Tang mengizinkanmu mengendarai mobil sekarang.” Xiao Tian tertawa.

“Ayah membeli yang baru, jadi aku mendapat yang ini.”

“Aku tidak mempermasalahkan mobil ini lama atau baru. Masalahnya adalah Paman Tang bahkan tidak pernah membiarkanmu bersepeda ke sekolah dulunya, selalu menyuruhmu berjalan kaki. Sekarang kau bahkan sudah boleh mengendarai mobil.” Yawang berhenti sejenak untuk menatap Xiao Tian.

“Ini membuktikan sesuatu.”

“Membuktikan apa?” Yawang mengulurkan tangannya dan mengusap rambut pendek Xiao Tian. Yawang menatap Xiao Tian dengan ekspresi serius yang melekat di wajahnya.

“Kau sudah dewasa.”

“Berhenti bercanda.” Xiao Tian menggelengkan kepalanya. Yawang suka bermain dengan rambut Xiao Tian; ia suka rambut-rambut pendek Xiao Tian yang menusuk pelan jari-jarinya.

| Passion Heaven |

“Yawang, kepala seorang pria tidak boleh disentuh sembarangan.” Yawang tidak mengalah,

“Pinggang seorang wanita juga tidak boleh dipeluk sembarangan, apa kau bisa memastikan kalau kau tidak akan memeluk pinggangku nanti?” Xiao Tian tersenyum, menampakkan sepasang lesung pipinya yang dalam.

“Bagaimana bisa kedua hal itu dikaitkan begitu?”

“Kenapa tidak? Mulai sekarang, hanya kau yang boleh memeluk pinggangku dan hanya aku yang boleh menyentuh rambutmu. Kita impas.” Xiao Tian mengusap hidungnya dan terkekeh sembari menunduk. Kemudian ia beralih menatap Yawang, Xiao Tian meraih tangan Yawang yang masih sibuk memainkan rambutnya dan menggenggam tangan Yawang erat-erat.

“Baiklah, hanya kau yang boleh menyentuhnya. Hanya kau.” Yawang menutupi mulutnya dengan satu tangan sembari menertawakan Xiao Tian. Xiao Tian memikirkan kata-kata Yawang tadi dan pada akhirnya ikut tertawa, menampakkan sepasang lesung pipinya yang dalam sekali lagi. Yawang menyandarkan punggungnya ke tempat duduknya.

“Xiao Tian, Xiao Tian, senyummu sangat indah.” Xiao Tian memalingkan wajahnya untuk menatap Yawang.

“Kalau kau seperti ini, aku tidak akan mengantarmu ke tempat kerjamu.” Xiao Tian menjawab.

“Lalu apa yang akan kau lakukan?”

“Membawamu pulang.” Xiao Tian melirik Yawang. “Dan kemudian…” Jantung Yawang mulai berdetak cepat dan wajahnya mulai memanas.

“Kemudian apa?”

“Tidak membiarkanmu pergi.” Yawang menutup mulutnya dengan satu tangan.

“Aku tidak percaya kau semesum ini!” Wajah Xiao Tian berubah kemerahan dan ia tersenyum canggung.

“Uh…” Yawang meletakkan kepalanya di dashboard mobil, ia menyembunyikan wajahnya dengan tangannya.

“Dan aku menyukai idemu.” Yawang memerhatikan reaksi Xiao Tian sejenak dari balik tangannya setelah ia menyelesaikan kalimatnya. Wajah keduanya memerah dan suhu di dalam mobil terasa panas. Tang Xiao Tian membanting stirnya dan menekan rem dalam-dalam, ia memarkirkan mobilnya di tepi jalan.

“Yawang, jangan pergi ke kantor hari ini.”

“Tidak bisa.” Yawang menjawab, ia mengusap hidungnya dengan canggung. Wajah Xiao Tian memang masih kemerahan, tetapi ekspresi kecewa dapat terlihat di wajahnya.

“Aku punya banyak pekerjaan.” Yawang memberitahu.

“Oh.” Xiao Tian mengerucutkan bibirnya dan melanjutkan perjalanan mereka. Yawang menyalakan radio dan menyanyikan lagu yang sedang diputar. Xiao Tian tersenyum memerhatikan Yawang, kakinya akan menghentak pelan seiring dengan irama lagu, sesekali ia juga akan ikut bernyanyi kecil. Suasana hati Xiao Tian menjadi lebih baik karena lagu tersebut, ia melihat keluar jendela dan berpikir, langit yang biru, udara yang segar, Yawang yang manis.

Melodi lagu yang ceria itu terus berputar sampai ketika Yawang tiba di tempat kerjanya. Yawang menurunkan jendela mobil dan memerhatikan bangunan tinggi di depannya.

| Passion Heaven |

“Aku benar-benar tidak ingin bekerja hari ini.”

“Kalau begitu tidak usah.” Yawang tertawa dan menjawab Xiao Tian sambil terus menatap pemandangan tepi jalan yang dilewatinya.

“Bekerja itu melelahkan dan bahkan menyebalkan kadang-kadang, tapi seiring berjalannya waktu, aku menemukan bahwa pekerjaanku ini sangat berarti. Xiao Tian, apa kau tahu nama pohon itu?” Yawang menunjuk salah satu pohon di tepi jalan, Xiao Tian menggeleng.

“Itu adalah pohon dragon juniper.” Yawang kemudian terus menyebutkan nama-nama pohon yang dilihatnya di sepanjang jalan.

“Holi, sutera murad, pohon mapel, di sana ada juniper Tiongkok dan photinia.” Yawang menundukkan kepalanya dan terkekeh. “Aku tidak pernah tahu hal-hal seperti ini sebelumnya, sejak aku bekerja di perusahaan ini, aku mulai mempelajari bagaimana menempatkan pohon-pohon ini di titik-titik kota untuk melestarikan lingkungan. Bukankah sangat rapi?” Yawang meraih tangan Xiao Tian dan meletakkannya di atas tangannya.

“Ketika kita masih kecil, aku benar-benar mengagumimu. Karena kau adalah seseorang yang mempunyai tujuan yang jelas, kau tahu apa yang kau sukai, kau tahu apa yang ingin kau lakukan, kau bahkan punya gambaran tentang masa depanmu. Aku benar-benar menyukai dirimu yang seperti ini, aku berharap aku bisa menjadi sepertimu.” Xiao Tian menatap Yawang sejenak kemudian menggenggam tangan Yawang erat.

“Aku benar-benar menyukai pekerjaan ini. Aku berharap suatu hari nanti, aku bisa memakai rancanganku untuk menciptakan suatu tempat yang seindah surga.” Yawang menunduk malu.

“Apakah itu terdengar tidak realistis?”

“Tidak.” Xiao Tian menarik Yawang mendekat, ia meletakkan dagunya di atas kepala Yawang, jari-jarinya menyusuri rambut panjang Yawang.

“Itu mimpi yang sangat bagus, bekerja keraslah, pasti akan tercapai.”

“Mmm, kita harus melihatnya bersama-sama ketika hal itu tercapai.” Yawang menundukkan kepalanya lagi dan tersenyum malu.

“Karena jika kau berada di sana, di manapun itu, maka tempat itu adalah surga.”

| Passion Heaven |

“Karena jika kau berada di sana, di manapun itu, maka tempat itu adalah surga.” Xiao Tian mengulangi kata-kata Yawang. Xiao Tian terus memikirkan kata-kata Yawang dan tidak dapat melakukan hal lain selain tersenyum setelahnya. Melodi indah terus berputar menemani perjalanan mereka ketika Xiao Tian tiba-tiba merasa sedikit kepanasan. Ia menurunkan kaca jendela mobil dan angin sejuk langsung menerpa wajahnya. Xiao Tian tidak merasa dingin sedikit pun ketika angin berhembus meniup kerah kemejanya. Xiao Tian tersenyum dan memutar balik mobilnya untuk mengantar Yawang ke tempat kerjanya. Xiao Tian memerhatikan bangunan tinggi tempat Yawang bekerja melalui kaca jendela mobilnya, Xiao Tian tahu Yawang tidak memperhatikannya, tetapi Xiao Tian tidak ingin pergi, ia ingin terus tinggal bersama Yawang.

Xiao Tian dapat membayangkan Yawang yang sedang berkonsentrasi pada rancangannya, membayangkan Yawang yang menyeberangi jalan dengan setumpuk kertas di tangannya, membayangkan Yawang memegang secangkir kopi ketika ia duduk di kursinya, membayangkan Yawang mengobrol dengan rekan-rekan kerjanya. Xiao Tian tidak merasa bahwa hal ini adalah hal yang bodoh dan menghabiskan waktu. Bisa duduk tenang dan menunggu Yawang selesai bekerja adalah hal yang membahagiakan bagi Xiao Tian.

Pada saat itu, Xiao Tian melihat Yawang berlari ke luar dan berusaha menghentikan taksi.

“Yawang!” Xiao Tian memanggil, ia melambai kepada Yawang. Yawang menatap Xiao Tian dengan terkejut, namun ia segera berlari menghampiri Xiao Tian.

“Kenapa kau masih di sini?”

“Aku… Kurasa aku menjatuhkan sesuatu, jadi aku kemari untuk mencarinya.”

“Apa yang bisa kau jatuhkan ketika mengendarai mobil?” Xiao Tian mengangguk canggung.

“Apa yang terjadi?”

“Oh, betul!” Yawang membuka pintu mobil dan duduk di kursi pengemudi. “Bawa aku ke sekolah kita.”

“Ada apa?” Xiao Tian bertanya sambil menyalakan mesin mobilnya. Yawang terlihat marah ketika menjawab.

“Guru Xia Mu menelepon, Xia Mu berkelahi di sekolah.”

| Passion Heaven |

Xiao Tian melihat raut kemarahan di wajah Yawang dan mencoba menenangkannya.

“Tidak semua orang akan merasa bahwa Xia Mu adalah seseorang yang menyenangkan. Mungkin saja dia dikucilkan.”

“Tidak menyenangkan? Bagaimana bisa Xia Mu tidak disukai orang-orang?” Yawang mengepalkan tinjunya.

“Tidak, bagiku Xia Mu adalah anak yang manis.” Mereka sampai di sekolah tidak lama kemudian, Yawang langsung turun dari mobil. Ia melihat bangunan dan taman sekolah yang sangat dikenalnya, tidak terlihat ada perubahan sedikit pun walaupun sudah beberapa tahun terlewati. Yawang menghembuskan nafas panjang menatap gerbang utama sekolah.

“Sepertinya baru saja kemarin kita bersepeda ke sekolah.”

“Betul.” Xiao Tian mengangguk setuju, ia berdiri di samping Yawang dan memandang ke arah yang sama dengan Yawang. Xiao Tian teringat akan langit yang berwarna abu-abu ketika mereka bersepeda ke sekolah, angin dingin yang menyambut mereka ketika Xiao Tian berusaha tetap menjaga kehangatan sekotak susu keledai di dalam tasnya.

“Entahkah Guru Gao masih mengajar di sini atau tidak.”

“Masih. Zhang Jing Yu mengunjunginya terakhir kali ia datang ke sini.”

“Oh, begitu.” Yawang memerhatikan wajah Xiao Tian yang terlihat semangat ketika mendengar wali kelasnya masih mengajar di sekolah ini.

“Kau temuilah beliau, aku harus mengurus Xia Mu dulu, setelah itu baru aku akan menyusulmu.” Xiao Tian merenung sejenak kemudian menggangguk.

“Baiklah.” Mereka melambai pada satu sama lain kemudian berjalan menuju dua arah yang berbeda.

| Passion Heaven |

Yawang berlari kecil untuk mencari ruang guru di bangunan sekolah tersebut. Ia membuka pintu setelah mengetuk sejenak. Yawang melihat tiga wanita yang diperkirakannya adalah orang tua murid, seorang wanita muda yang merupakan seorang guru duduk di tengah, serta Xia Mu dan tiga murid laki-laki lainnya di sebelah kanan. Yawang memerhatikan Xia Mu dengan seksama; bibirnya robek, ada lebam keunguan di sudut matanya, dan kemeja putihnya terlihat kotor. Yawang menjadi lebih marah dari sebelumnya setelah melihat keadaan Xia Mu, tidak bisa dipercaya! Xia Mu adalah anak bawang di rumah keluarga Shu, jika Yawang berani menaikkan nada suaranya bahkan sedikit saja, ayah Yawang akan langsung mengancam dan memberi peringatan pada Yawang. Tetapi di sekolah, seseorang berani memukul wajah tampannya dan menimbulkan lebam di sana-sini?

“Anda adalah…” Wanita muda itu bertanya sembari menghampiri Yawang. Yawang mengambil selembar sapu tangan dari dalam sakunya dan membersihkan kotoran dari wajah Xia Mu sambil menjawab,

“Saya adalah kakak perempuannya.” Setelah Yawang berkata demikian, Xia Mu memalingkan wajahnya, tidak membiarkan Yawang mengusap wajahnya. Yawang dengan paksa memutar wajah Xia Mu untuk menghadapnya.

“Jangan bergerak!” Ketika Yawang melihat lebam di sudut bibir Xia Mu, kemarahannya memuncak. Yawang memelototi tiga murid lainnya, guru muda itu melambaikan tangannya dengan penuh keraguan.

“Um… Nona Xia…”

“Saya bermarga Shu.” Yawang melirik guru itu dengan tajam.

“Umm… Nona Shu, saya rasa Anda salah paham. Bukan ketiga murid ini yang memukul Xia Mu, tetapi Xia Mu yang memukul mereka.” Ketiga orang tua murid itu dengan segera berdiri dan melepaskan jaket anak-anak mereka.

“Lihat bagaimana adikmu memukuli anakku!”

“Lihat lebam di kepala anakku!”

“Adik kecilmu mempermainkan anak saya!” Yawang menarik Xia Mu mendekat dan menjawab balik,

“Lihat bagaimana anak-anak kalian balas memukul adik saya.” Keempat murid laki-laki itu menatap Yawang dengan rasa bersalah, sampai akhirnya salah satu dari mereka membuka suara.

“Adalah dia yang memukul kami. Lihat luka-luka kami, ini lebih parah dari lebam-lebam kecil di wajahnya.”

“Maaf, mungkin saya telah membuat Anda salah paham.” Guru muda itu mencoba menenangkan suasana dengan sebuah tawa ringan yang terdengar canggung.

“Kalian terluka?” Yawang bertanya, kemudian menatap ketiga murid lainnya dari ujung kepala sampai dengan ujung kaki. Bagi Yawang, mereka terlihat baik-baik saja.

“Lihat saja sendiri!” Salah satu murid itu berkata sembari melepaskan jaketnya. Kedua murid lainnya melepaskan kemeja mereka, salah satunya bahkan melepaskan celana mereka. Guru muda itu tergagap dengan wajah memerah dan berkata,

“Mereka memang terluka lebih parah.”

“Benarkah?” Yawang menyilangkan kedua lengannya dan memerhatikan ketiga murid laki-laki di depannya. Tiba-tiba, pandangannya menjadi gelap ketika sebuah tangan menutupi matanya.

“Aku yang memukul mereka.” Xia Mu menggumam.

“Lihat, dia mengakuinya. Guru, Anda terlalu memihak pada Xia Mu! Ketika Anda melihatnya terluka, Anda bilang bahwa kami yang memukulnya.”

“Itu karena luka-lukanya terlihat di seluruh wajahnya.” Guru muda itu membalas dengan raut wajah bersalah.

“Xia Mu benar-benar cerdik, memukul di tempat yang lukanya tidak akan terlihat!” Yawang menatap lengan Xia Mu dan tertawa di dalam hati. Ia tidak tahu apakah memang ketiga murid itu yang bodoh atau memang Xia Mu yang pintar, bagaimana bisa mereka tidak mengerti maksud seseorang yang tidak memukulmu di wajah ketika berkelahi?

| Passion Heaven |

“Um, Nona Xia…”

“Marga saya Shu.” Ck, guru ini juga bodoh.

“Oh, maafkan saya, Nona Shu.” Guru muda itu terkekeh lembut. “Karena Xia Mu sudah mengaku bahwa ia yang memukul mereka, sesuai dengan peraturan sekolah…” Yawang mengangkat tangannya.

“Ada tiga murid yang membalas Xia Mu, Xia Mu hanya seorang diri, dilihat bagaimanapun, Xia Mu-lah yang dirugikan. Saya bisa memaafkan mereka walaupun mereka sudah beramai-ramai memukuli Xia Mu seperti ini, tetapi Anda masih ingin memberi hukuman pada Xia Mu? Kalau memang ada hukuman, semuanya harus dihukum, tidak hanya Xia Mu.”

“Oh betul, um, mereka semua harus dihukum.”

“Guru!” Ketiga murid lainnya mulai mengajukan protes mereka. “Kenapa kami juga dihukum?”

“Karena kalian berkelahi.” Guru muda itu bergumam pelan.

“Guru, apa Anda seorang sarjana yang baru saja lulus?”

“Betul.” Yawang menghela nafas dan menarik guru tersebut ke sudut ruangan untuk berbicara empat mata. Raut wajah wanita muda itu berubah dari terkejut hingga tersentuh, sudut matanya mulai memerah seperti ingin menangis.

“Saya harap Anda bisa mengerti.” Wanita muda itu mengangguk dan menatap Xia Mu dengan penuh rasa empati.

“Xia Mu, silahkan meninggalkan ruangan ini, dengarkanlah kakakmu dengan baik.” Xia Mu menatap Yawang dengan sebelah alis yang terangkat; Yawang hanya mengedip padanya sebagai balasan.

“Guru!” Ketiga murid lainnya berteriak.

“Baiklah, saya akan mentraktir kalian makan siang, bagaimana?”

“Tidak mau!” Yawang menarik Xia Mu keluar dari ruangan tersebut ketika ketiga murid lainnya terus mengajukan ketidak puasan mereka.

| Passion Heaven |

Yawang mengalihkan pandangannya dan tertawa ketika teringat dengan guru muda yang baru saja ditemuinya itu.

“Gurumu cukup manis.”

“Dia sangat naif.” Yawang tertawa dan mengangguk setuju.

“Memang.” Xia Mu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya dan berjalan di belakang Yawang dengan kepala tertunduk. Setelah mereka sampai di lantai dasar, Xia Mu tiba-tiba berhenti di tempat.

“Apa yang kau katakan padanya?” Yawang berhenti dan berbalik menatap ke arah Xia Mu.

“Aku hanya mengarang sebuah cerita tentang seorang anak yang hidupnya tragis, selalu diganggu, tetapi tidak akan pernah diintimidasi oleh orang lain. Aku tidak menyangka kalau dia akan memercayainya!”

“Kau selalu mengerjai orang-orang jujur.” Yawang kemudian menatap Xia Mu tanpa berkata apa-apa.

“Apa yang kau lihat?”

“Akhirnya kau berbicara padaku lagi.” Xia Mu mendengus dan kemudian menundukkan kepalanya.

“Kau yang terus-terusan mengabaikanku.”

“Kapan aku mengabaikanmu?” Yawang bertanya, merasa disalahkan.

“Kau tidak punya waktu untuk berbicara denganku.”

“Ha, jadi kau cemburu.” Yawang tertawa. Xia Mu memelototinya dan dengan cepat berjalan ke luar bangunan sekolah. Yawang mengejarnya.

“Maaf, aku sudah punya seseorang, aku tidak bisa menjanjikanmu apa-apa lagi. Kalau memang kau menyukai seseorang yang lebih tua, kurasa gurumu cocok, dia manis dan naif, dia juga cantik…” Xia Mu berhenti berjalan dan menatap Yawang dengan dingin. Yawang menyadari tatapan dingin Xia Mu dan langsung berhenti berbicara. Xia Mu mengepalkan tinjunya erat-erat di balik saku celananya dan memelototi Yawang dengan marah.

“Shu Yawang, kau benar-benar lebih bodoh dari guruku.” Seolah-olah seperti bola yang ditusuk dengan jarum, harga diri Yawang langsung mengempis. Xia Mu baru saja akan melanjutkan kalimatnya ketika ia melihat bayangan familiar seseorang yang berjalan mendekati mereka.

| Passion Heaven |

“Xia Mu, apa kau baik-baik saja?” Xiao Tian bertanya dengan senyum yang hangat.

“Aku baik.” Xia Mu menjawab dingin sambil menggelengkan kepalanya. Xiao Tian memerhatikan sejenak lebam-lebam di wajah Xia Mu.

“Aku pandai berkelahi, mau kuajari beberapa teknik?”

“Apa kau rasa aku perlu diajari?” Xia Mu bertanya sambil menatap Xiao Tian.

“Um…” Xiao Tian tidak tahu harus menjawab apa mendengar pertanyaan Xia Mu. Xia Mu memang tidak perlu diajari, para pengawal pribadi kakeknya sendiri adalah orang-orang terbaik dalam hal berkelahi.

“Xia Mu.” Yawang memperingati Xia Mu dengan kedua alis yang menyatu. Xia Mu tidak takut untuk menatap Yawang dengan acuh, ia kemudian berbalik badan dan berjalan menjauh. Yawang menatap punggung Xia Mu sambil menghela nafas, Xiao Tian tersenyum kecil.

“Dia masih membenciku.”

“Dia memang tidak menyukaimu.” Yawang mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Tetapi ayahmu sangat menyukainya.” Xiao Tian tertawa.

“Ya, Ayah benar-benar menyukainya. Ayah menyukai Xia Mu lebih dari aku.” Xiao Tian memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana dan tersenyum mengejek.

“Kau juga menyukainya.” Yawang tercengang dengan kata-kata Xiao Tian. Xiao Tian kemudian menunduk dan tersenyum malu.

“Karena kau menyukainya, aku juga menyukainya.” Yawang terpaku sejenak di tempatnya, ia kemudian mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan Xiao Tian dan menyandar padanya.

“Ah, benar-benar ipar yang pengertian.” Yawang dan Xiao Tian saling menatap satu sama lain kemudian tersenyum.

| Passion Heaven |

Hari-hari bersama Xiao Tian dipenuhi dengan tawa dan kebahagiaan. Entahkah ketika Yawang pergi ke kantornya, atau ketika Yawang bersiap untuk pulang, atau ketika Yawang keluar bersama teman-temannya, Xiao Tian akan selalu terlihat di sampingnya, membuat semua orang merasa sedikit iri sekaligus bahagia melihatnya. Di antara orang-orang tersebut, yang merasa paling iri dengan keadaan ini adalah Xiao Xue dan Zhang Jing Yu. Xiao Xue akan memelototi Yawang kapanpun Xiao Tian menjemput atau mengantar Yawang. Yawang kemudian memperkenalkan Xiao Xue pada Xiao Tian dan Zhang Jing Yu untuk menghilangkan rasa canggung sebagai orang ketiga ketika mereka bersama. Yawang tidak pernah berpikir bahwa Jing Yu dan Xiao Xue akan tertarik satu sama lain pada akhirnya.

“Ketika aku melihatnya pertama kali, aku sudah tahu bahwa itu adalah cinta pada pandangan pertama.” Xiao Xue memberitahu Yawang.

“Akhirnya!” Zhang Jing Yu memberitahu Yawang. Bagi Yawang, Jing Yu dan Xiao Xue adalah sepasang kekasih gombal yang biasanya akan muncul dalam film-film romantis picisan. Zhang Jing Yu akan menunggu Xiao Xue di luar gedung kantor sambil memegang setangkai mawar di tangannya setiap harinya. Ketika melihat Xiao Tian yang juga sedang menunggui Yawang, Jing Yu akan tersenyum menggoda.

“Kau awal juga hari ini.”

“Kau sendiri juga.” Xiao Tian menjawab dengan berusaha menahan tawa, tidak membiarkan ejekan Jing Yu mempengaruhinya. Kedua pria ini akan mengobrol sambil menunggu jam pulang Yawang dan Xiao Xue. Setiap kali Yawang melihat mereka, ia akan langsung tertawa terbahak-bahak.

| Passion Heaven |

“Apa yang lucu?” Jing Yu bertanya, ia menjitak pelan kepala Yawang.

“Caramu memegang mawar di tanganmu itu menggelikan.” Yawang menjawab, kemudian terus menertawai Jing Yu. Jing Yu mengabaikannya dan langsung mendekati Xiao Xue, ia mengulurkan mawar di tangannya pada Xiao Xue. Xiao Xue menggoyang-goyangkan badannya ke kiri dan ke kanan lalu menerima bunga mawar itu dengan cemberut.

“Jangan bawa bunga mawar lain kali, memalukan.” Xiao Xue bergumam pelan.

“Tidak!” Jing Yu menolak. “Aku akan terus membawakannya, satu tangkai setiap hari sampai berjumlah 99999 mawar!”

“Jing Yu.” Xiao Xue menatap Jing Yu.

“Xiao Xue.” Mereka saling berpelukan erat setelahnya. Yawang mengusap lengannya, ia merasa bulu kuduknya berdiri memerhatikan pemandangan di depannya, ia kemudian menggandeng lengan Xiao Tian sambil menggeleng-geleng.

“Ayo pergi, biarkan mereka mendramatisir pertemuan mereka.”

“Lumayan, tidak buruk.” Xiao Tian berkata sambil memerhatikan Jing Yu dan Xiao Xue. Yawang beralih memerhatikan Xiao Tian ketika Xiao Tian tertawa, Zhang Jing Yu menatap mereka dan memberi sebuah V-sign dengan senyum mengejeknya.

| Passion Heaven |

“Lihat dia, seharusnya aku meminta imbalan atas jasaku mempertemukan mereka berdua.” Yawang mengomel. Xiao Tian hanya tersenyum dan mengangguk, kemudian menggandeng Yawang untuk masuk ke dalam mobil. Xiao Tian tidak langsung menjalankan mobilnya setelahnya, sebaliknya, tangan kanannya terus mengeluarkan keringat dingin di dalam saku jaketnya dan Xiao Tian terus menggigit bibir bawahnya dengan gugup.

“Imlek kali ini, aku ingin keluarga kita untuk makan malam bersama. Aku ingin mereka bertemu satu sama lain.”

“Bukankah mereka sudah sering bertemu?” Yawang bertanya kebingungan. Keluarga Tang dan keluarga Shu tinggal berdekatan; ibu mereka akan pergi berbelanja bersama-sama setiap harinya dan ayah Yawang serta Paman Tang akan bertemu setiap harinya di tempat kerja.

“Memang, tetapi aku ingin menyampaikan suatu hal yang penting pada mereka, apa kau mengerti?” Kedua mata Yawang berkilat sejenak dan ia tersenyum licik.

“Tidak, aku tidak mengerti.”

“Berpura-puralah mengerti kalau begitu.”

“Aku benar-benar tidak mengerti.” Yawang memelototi Xiao Tian, membuktikan bahwa dirinya memang tidak mengerti maksud Xiao Tian. Xiao Tian melotot balik pada Yawang, kemudian ia menarik tangan kiri Yawang dan menyematkan sebuah cincin di jari manisnya. Cincin perak itu menyentuh kulit Yawang, rasa dingin dari cincin itu membuat jantung Yawang berdetak lebih cepat. Xiao Tian bergerak mendekati Yawang dan menciumnya lembut. Yawang menutup matanya dan balas mencium Xiao Tian, tangan mereka saling menggenggam satu sama lain. Yawang dapat merasakan hembusan nafas Xiao Tian, juga bibir Xiao Tian yang bergerak lembut di atas bibirnya. Sebuah ciuman indah sebagai tanda perjanjian; sebuah ciuman yang hangat dan mesra.

Shu Yawang meletakkan tangannya pada jendela mobil, ia memerhatikan kristal kecil pada cincinnya yang bersinar ketika sinar matahari mengenainya. Kedua sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah senyum, sampai ia merasa otot pipinya nyeri karena tersenyum sangat lebar, ia akan langsung menyembunyikan senyumnya. Namun kemudian, tanpa ia sadari, kedua sudut bibirnya akan terangkat lagi…

Di hari pertama Imlek, keluarga Tang dan keluarga Shu memesan sebuah ruangan privat di sebuah restoran ternama di Kota S untuk makan malam bersama. Kedua belah pihak menyetujui pernikahan mereka dan langsung memilih tanggal pernikahan. Mereka memutuskan bahwa Xiao Tian dan Yawang akan menikah ketika Xiao Tian berusia dua puluh lima tahun. Ibu Xiao Tian telah memilih sebuah tanggal di mana tepat pada hari itu, Yawang akan berulang tahun yang kedua puluh lima. Ibu Xiao Tian berkata bahwa tanggal tersebut adalah tanggal baik, hari yang baik untuk melangsungkan sebuah pernikahan. Shu Yawang diam-diam menggenggam tangan Xiao Tian di bawah meja. Xiao Tian balas menggenggam tangan Yawang dan Yawang menunduk setelahnya, wajahnya menghangat karena ia tersipu bahagia.

| Passion Heaven |

Tidak lama setelahnya, Tang Xiao Tian kembali ke sekolahnya sebelum hari Valentine. Xiao Tian menitipkan sebuket besar bunga mawar dan sekotak cokelat pada Zhang Jing Yu untuk diberikan pada Yawang. Jing Yu menelepon Xiao Tian malam itu.

“Kau seharusnya melihatku, di sebelah kiriku berdiri seorang wanita cantik memegang sebuket mawar, di sebelah kananku terdapat seorang lagi wanita cantik yang juga memegang sebuket mawar. Orang-orang yang lewat menatapku dengan iri.” Xiao Tian terkekeh.

“Terima kasih.”

“Tidak perlu.” Jing Yu membalas dengan nada serius. Beberapa saat kemudian, Jing Yu berbicara lagi.

“Xiao Tian, aku benar-benar senang melihatmu bersama Yawang. Hanya dengan melihat kalian aku sudah merasa bahagia.”

“Tidakkah kau bahagia sekarang?”

“Tentu saja, Xiao Xue-ku lebih manis dan lebih lembut daripada Yawang.” Xiao Tian menengadahkan kepalanya untuk memandang langit malam sambil terus mendengarkan Jing Yu.

Hari-hari berlalu dengan tenang seperti air mengalir. Xiao Tian akan menerima satu surat per hari dari Yawang. Yawang akan menuliskan surat untuk Xiao Tian pada jam istirahatnya, kadang-kadang juga menelepon Xiao Tian. Mereka menunggu hari bahagia itu tiba, hari di mana mereka akan mengucapkan janji suci mereka.

| Passion Heaven |

Setahun kemudian, proyek taman kota selesai. Bos Cheng dan kepala bagian lainnya memesan sebuah ruangan di sebuah restoran mewah di Kota S untuk merayakan keberhasilan dan kerja keras mereka.

“Setiap orang bisa membawa satu orang tambahan, kalian sudah berusaha.” Bos Cheng dengan bangga memberitahu kepada para karyawan di kantor hari itu. Xiao Xue menelepon Jing Yu dan Jing Yu langsung menyetujui.

“Yawang, kau harus mengajak seseorang untuk datang bersamamu. Kita sudah bekerja keras selama ini, dan ini benar-benar sebuah kesempatan yang akan sangat jarang kita dapatkan untuk para bos menraktir kita makan malam.”

“Benar, aku tidak boleh pergi sendiri, tidak akan menyenangkan.” Yawang mengangguk setuju dan memainkan pen di tangannya. Tapi siapa yang harus kuajak? Yawang membuka buku kontak di ponselnya dan menyadari bahwa ia tidak mempunyai terlalu banyak teman. Yawang tidak bisa menemukan seseorang pun untuk diajak. Yawang meletakkan kembali ponselnya ke dalam laci dan mengomel sambil membaringkan kepalanya di atas meja. Setelah beberapa saat, ia mengangkat kepalanya dan kembali mengambil ponselnya. Yawang berhenti pada kontak Xia Mu dan menghembuskan nafas panjang, tangan kanannya beralih mengusap kalung di lehernya. Yawang menggigit bibir bawahnya sebelum menekan tombol dial pada ponselnya.

Panggilan itu tersambung, tetapi tidak diangkat. Apa Xia Mu tidak membawa ponselnya? Atau dia tidak mau menjawab? Yawang menunggu beberapa saat lagi sebelum kemudian menutup ponselnya. Baik, aku pergi sendiri saja. Aku bisa menghabiskan porsi untuk dua orang, dan aku akan memesan makanan yang paling mahal, lihat saja!

| Passion Heaven |

Makan malam dimulai pukul 7 malam sehingga Yawang dan Xiao Xue menunggu Zhang Jing Yu di kantor sampai pukul 6 malam. Jing Yu muncul dengan memakai setelan kemeja, cocok untuk acara makan malam ini. Seorang pria yang memakai jas sama seperti seorang wanita yang memakai rok pendek; menarik perhatian lawan jenis. Zhang Jing Yu terlihat baik dan dengan tinggi badan 180 cm, Jing Yu memancarkan aura yang dewasa dan tenang.

“Kenapa kau berpakaian seperti seorang pengantin pria hari ini?” Yawang menggodanya.

“Tampan, iya kan?” Jing Yu membalas.

“Tampan!” Xiao Xue berteriak sambil menganggukkan kepalanya.

“Baiklah.” Yawang tertawa. Jing Yu mengulurkan tangannya untuk memukul Yawang, tetapi Yawang dapat menghindar. Ketiga orang itu memasuki restoran sambil bercanda satu sama lain. Ruangan yang dipesan berada di lantai dua dan acara makan malam mereka akan bergaya buffet. Di satu sisi diletakkan berbagai macam makanan yang akan mereka cicipi nantinya, di sisi lain terdapat ruang makan di mana terdapat meja-meja panjang yang disusun rapi di dalamnya. Lagu terbaru dimainkan sebagai pengiring, ketiga orang yang baru saja datang itu bergegas mengambil piring untuk meletakkan makanan mereka.

“Cepatlah, atau kita tidak akan mendapat jatah makanan yang enak.” Xiao Xue berkata, ia meletakkan tas kecilnya di sebuah kursi kosong dan menarik lengan Jing Yu setelahnya. Xiao Xue kemudian beralih menatap Yawang.

“Tunggu di sana dan jaga barang-barang kami. Kami yang akan mengambilkan makanan untukmu.” Yawang mengangguk dan duduk di kursi terdekat. Jing Yu dan Xiao Xue kembali tidak lama setelahnya dengan dua piring besar makanan di masing-masing tangan. Xiao Xue duduk di samping Yawang dan meminta Jing Yu untuk memesankan minum. Jing Yu menurut dan berlalu. Pada saat itu, puluhan orang di meja seberang berdiri dan mereka semua berpaling untuk menatap satu arah yang sama. Mereka terlihat menyapa CEO Grup Hyde Industrial dan Qu Wei Ran di sampingnya. Ketika sang CEO mendekati mereka, ia akan berbicara kepada para karyawannya.

“Duduklah, duduk, lanjutkan makan malam kalian.” Xiao Xue mengambil ubur-ubur beku dari piringnya sambil berbicara pada Yawang.

“Wah, anak haram itu, Qu Wei Ran, akan menjadi seorang anak yang resmi secara hukum sekarang.”

“Anak haram?” Yawang bertanya. Xiao Xue bersandar mendekati Yawang untuk berbisik.

“Aku mendengar dari para karyawan Hyde bahwa istri pertama CEO Hyde memang punya seorang putra, tetapi putranya itu pergi ke gunung untuk melakukan suatu ekspedisi. Pada akhirnya, ia meninggal, dan Qu Wei Ran datang, sehingga CEO Hyde mempromosikannya untuk bertanggung jawab atas proyek ini.”

“Oh.” Yawang mengangguk mengerti. Pantas saja dia sudah mendapat jabatan setinggi itu setelah lulus. “Dia cukup beruntung.”

“Mmm.” Xiao Xue mengangguk. “Grup Hyde Industrial bernilai milyaran dolar, jadi, memang bagus untuknya.” Yawang mengangkat kepalanya untuk menatap Qu Wei Ran. Wei Ran memakai setelan jas hitam dengan dasi berwarna emas, kacamata tidak berbingkainya tergantung indah di hidungnya yang mancung. Tatapan matanya yang dalam dan senyum hangatnya membuat orang-orang mempunyai kesan pertama yang baik padanya, beruntung para wanita itu tidak tahu sifat aslinya.

| Passion Heaven |

Qu Wei Ran dapat menemukan Yawang di antara orang-orang yang mengunjungi restoran ini malam itu. Wei Ran menatap Yawang dan tersenyum padanya, layaknya seorang bangsawan terhormat.

“Sampah.” Yawang memakinya dan langsung memalingkan wajah. Jing Yu kembali dengan tiga gelas minuman di tangannya, ia menatap Yawang dengan rasa tidak bersalah.

“Apa yang kulakukan?”

“Aku sedang mengutukmu.” Yawang membalas dengan kesal. Xiao Xue menggigit bibirnya untuk menahan tawa.

“Dia memang sampah. Aku tidak tahu siapa yang disinggungnya, tetapi laki-laki itu pernah dipukul sampai masuk rumah sakit. Kudengar beberapa tulangnya patah.” Xiao Xue menimpal.

“Wah, benarkah?” Yawang bertanya dengan semangat.

“Ya.”

“Siapa yang sedang kalian bicarakan?” Jing Yu memotong, mencoba untuk menyambung pembicaraan.

“Dia.” Xiao Xue menunjuk Qu Wei Ran. Jing Yu memutar kepalanya untuk memerhatikan Wei Ran.

“Oh, dia!”

“Kau mengenalnya?” Yawang bertanya. Jing Yu tersenyum misterius.

“Aku melihatnya sekali.”

“Kapan?”

“Rahasia.” Jing Yu menjawab, ia menggoyangkan telunjuknya ke kiri dan ke kanan.

“Katakan.” Xiao Xue memukul pelan meja di depannya.

“Baiklah, jadi begini.” Jing Yu melepaskan jasnya dan menggulung lengan kemejanya.

“Suatu malam, aku dan teman-temanku baru saja keluar dari karaoke ketika kami melihat laki-laki itu menganggu Yawang. Ketika aku baru saja akan mendekati mereka, Xia Mu muncul. Setelah kau dan Xia Mu pergi, aku melihat laki-laki itu masih keras kepala dan ingin mengejarmu, aku lumayan mabuk saat itu, jadi aku meminta temanku untuk memberinya pelajaran. Tetapi kemudian, teman-temankulah yang dipukul habis-habisan.”

“Berapa orang yang bersamamu waktu itu?” Xiao Xue bertanya.

“Tiga pria dan dua wanita. Kedua wanita itu melihat kami yang dipukul habis-habisan dan langsung tertarik dengan tampang laki-laki itu. Teman-temanku langsung memutuskan mereka malam itu juga.” Yawang menatap Jing Yu dengan tatapan meremehkan.

“Tidak berguna.”

“Hei, dia mengikuti wajib militer. Para warga biasa tidak akan bisa melawannya. Kalau saja tahu begini, dulu seharusnya aku ikut Xiao Tian saja. Laki-laki memang seharusnya mengikuti wajib militer.”

“Lalu?” Xiao Xue bertanya.

“Kemudian aku menelepon Xiao Tian dan memberitahunya.” Jing Yu menatap Yawang dan Xiao Xue bergantian, ketiganya kemudian mengangguk, mengetahui bagaimana akhirnya Qu Wei Ran bisa dipukul habis-habisan. Yawang kemudian kembali memerhatikan Qu Wei Ran. Pantas saja ketika Xiao Tian di sini, dia akan menghilang. Jing Yu, Yawang dan Xiao Xue, ketiga orang ini terus melanjutkan obrolan ringan mereka hingga ketika Xiao Xue tiba-tiba menunjuk seorang wanita yang duduk di meja seberang.

| Passion Heaven |

“Apa yang sedang dia minum?” Jing Yu memperhatikan sejenak wanita yang ditunjuk Xiao Xue.

“Champagne.”

“Aku juga mau.”

“Apa kau mau, Yawang?”

“Boleh.” Jing Yu berdiri dan beranjak menuju meja buffet. Qu Wei Ran berdiri di samping deretan gelas-gelas champagne, hanya tersisa lima gelas champagne di atas meja. Qu Wei Ran mendekati Jing Yu dan tersenyum padanya.

“Silahkan, Anda lebih dulu.” Jing Yu memelototi Wei Ran sebelum mengambil dua gelas champagne dari atas meja. Ketika Jing Yu berbalik, ia tidak menyadari bahwa Qu Wei Ran menundukkan kepalanya dan tersenyum licik di belakangnya.

Zhang Jing Yu kembali ke meja tempat Yawang dan Xiao Xue berada dan menyerahkan dua gelas champagne di tangannya kepada kedua wanita di depannya. Xiao Xue langsung menghabiskan champagne di gelasnya dalam sekali teguk.

“Ah! Lebih enak dari jus!”

“Kau tidak boleh meminumnya seperti itu! Kau mabuk nanti!” Jing Yu berteriak sambil menarik tangan Xiao Xue untuk menghentikannya.

“Aku tidak keberatan kalau mabuk.” Xiao Xue menatap Jing Yu dengan tatapan penuh arti. Wajah Jing Yu langsung tersipu malu.

“Xiao Xue!”

“Jing Yu!” Keduanya lalu saling berpelukan erat. Gombal. Yawang menggelengkan kepalanya lalu memutuskan untuk meninggalkan kedua insan itu.

“Kalian berdua lanjutkan saja drama kalian, aku akan mengambil sesuatu untuk dimakan.” Yawang mengambil sebuah piring bersih dan berjalan dengan santai ke meja buffet. Yawang memerhatikan deretan hidangan yang tersaji di depan matanya, sejenak ragu dengan apa yang akan dipilihnya. Ketika Yawang melihat ke arah meja panjang di seberangnya, matanya langsung terpaku pada sepiring egg custard. Terlihat menggoda dengan warna keemasannya, membuat Yawang merasa lapar tiba-tiba. Yawang berjalan mendekati meja tersebut, ia mengulurkan tangannya untuk mengambil penjepit, tetapi tangan lain mendahuluinya. Yawang menoleh dan mendapati Qu Wei Ran-lah yang mengambil penjepitnya. Qu Wei Ran menundukkan kepalanya dan tersenyum pada Yawang, kemudian mengambil sebuah egg custard dan menaruhnya di atas piring Yawang.

“Ini.” Seluruh badan Yawang terasa kaku ketika ia menganggukkan kepalanya.

“Terima kasih.” Yawang menggigit bibirnya setelah mengucapkan terima kasih, merasa kesal dengan kebiasaannya mengucapkan terima kasih sejak ia masih kecil. Wei Ran terlihat seperti sedang berada dalam suasana hati yang baik ketika ia membuka pembicaraan layaknya seorang teman lama.

“Jadi bagaimana kabarmu?”

“Tanpamu, hari-hariku menjadi lebih baik.”

“Apakah kau sedang mengingatkanku untuk mencarimu?”

“Kau!” Yawang memelototi Wei Ran dengan kesal.

“Tapi bagaimana ini? Aku tidak tertarik lagi denganmu.” Wei Ran berkata sambil menyilangkan kedua tangannya dan tersenyum pada Yawang.

“Aku sangat senang mendengarnya, bahkan lebih senang daripada ketika aku memenangkan sebuah undian bernilai lima juta.” Wei Ran menunduk ketika ia tersenyum, dan pada saat itulah ia melihat cincin di jari manis Yawang. Kedua matanya berubah gelap untuk sepersekian detik sebelum ia kembali menatap Yawang.

“Cincin yang indah, pemberian Xiao Tian?” Yawang mengangguk.

“Ya, kami sudah bertunangan.”

“Selamat.”

“Terima kasih.” Yawang membungkuk sekilas kemudian berbalik badan untuk kembali ke mejanya, tetapi sekilas ia mendengar sesuatu yang diucapkan Qu Wei Ran ketika ia hendak melangkah pergi.

| Passion Heaven |

Sebelum Yawang sampai ke mejanya, ia melihat Jing Yu yang sedang memapah Xiao Xue.

“Apa yang terjadi?” Yawang bertanya sambil menghampiri mereka.

“Dia benar-benar mabuk.” Jing Yu menjawab sambil tersipu malu.

“Oh…” Yawang mengangkat-angkat kedua alisnya dan tersenyum menggoda pada Jing Yu. Jing Yu mengabaikannya.

“Aku akan membawanya pulang terlebih dahulu, perlu kujemput kau nanti?”

“Tidak, tidak usah, jaga saja Xiao Xue.” Yawang tertawa sambil menggelengkan kepalanya.

“Kalau begitu aku pergi dulu, jangan pulang larut malam. Benar-benar, berapa banyak alkhohol yang bisa diminumnya, sudah mabuk bahkan hanya dengan satu gelas. Dasar…”

“Cepat bawa dia pulang dan sembunyikan ekor serigalamu itu.” Jing Yu tertawa lalu pergi dengan memapah Xiao Xue di punggungnya. Yawang duduk sendirian di meja itu, ia menatap makanan di piringnya yang tidak tersentuh sedikit pun. Yawang pun mengangkat garpunya dan mulai menikmati makanannya. Sesekali, rekan-rekan kerjanya akan menghampirinya dan menyapanya. Yawang akan tersenyum dan mengangguk sambil mengobrol ringan dengan mereka, mereka saling bersulang dengan gelas champagne di tangan masing-masing. Yawang berpikir bahwa champagne tidak akan membuat seseorang mabuk karena champagne hanyalah seperti segelas jus, baginya, Xiao Xue adalah seseorang yang memang sudah mabuk tanpa harus meminum segelas champagne.

| Passion Heaven |

Tepat pukul 8 malam, ponsel Yawang berbunyi. Xia Mu menelepon, Yawang dengan cepat mengangkatnya.

“Halo?”

“Kau mencariku tadi?”

“Mmm, aku ingin mengajakmu makan malam, tapi…” Yawang menatap sisa makanan di piringnya.

“Aku sudah selesai makan.” Yawang tertawa.

“Oh.” Xia Mu menjawab acuh tak acuh. “Perlu kuminta Paman Zheng menjemputmu?”

“Tidak, tidak apa-apa, masih awal. Aku akan pulang sendiri.”

“Oh.” Xia Mu tidak menjawab lagi setelahnya. Yawang menunggu sejenak, lalu berkata,

“Kalau begitu, aku tutup dulu.” Xia Mu tetap bergeming. Yawang menunggu jawaban Xia Mu beberapa saat, dan ketika ia baru saja akan menutup telepon, Xia Mu mengatakan sesuatu.

“Yawang, aku merindukanmu.” Yawang merasa jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Ia menggenggam ponselnya erat-erat sebelum membalas pernyataan Xia Mu.

“Bukankah kita sering bertemu?”

“Rasanya berbeda, tidak sama.”

“Xia Mu?”

“Aku merasa kau berada sangat jauh dariku, jauh sekali.” Xia Mu berkata dengan suara yang bahkan hampir tidak kedengaran, tetapi dari suaranya, Yawang dapat membayangkan Xia Mu di kamarnya yang gelap dan kecil. Xia Mu yang duduk di atas tempat tidurnya, memegang kedua lututnya yang ditekuk dengan satu lengannya dan punggungnya yang bersandar pada dinding yang dingin. Kepala Xia Mu yang tertunduk, poni panjangnya menutupi matanya yang menatap kosong ke depan, cahaya dari ponselnya yang memberikan sedikit penerangan di ruangan yang gelap itu. Yawang menundukkan kepalanya dan menghembuskan nafas panjang, ia tiba-tiba merasa hidungnya gatal dan matanya memanas.

“Ya, kita memang sangat jauh.” Hening di ujung telepon.

“Xia Mu, jangan merindukanku. Kita tidak mungkin bersama.” Yawang langsung menutup teleponnya dan meneguk sisa champagne di gelasnya, rasa sakit itu perlahan terasa menusuk jantungnya.

Ada beberapa hal yang sengaja tidak ingin diingat Yawang, ada juga beberapa hal yang memang sengaja dilupakan Yawang. Seperti malam itu, pelukan erat Xia Mu yang sepertinya tidak akan dilepas jika Yawang tidak meminta, pernyataan cinta Xia Mu, hal-hal yang tidak seharusnya terjadi. Yawang berusaha melupakan semua itu, rasanya seperti jika Yawang melupakannya, semua hal akan kembali seperti dulu lagi.

Dulu ketika ayahnya menceritakan tentang masa lalu Xia Mu, Yawang memutuskan untuk menjaga Xia Mu. Dulu ketika Xia Mu memberitahu Yawang dengan suara seraknya,

“Ayahku sering berkata bahwa aku adalah kebanggaannya, ibuku akan sering menangis karena aku.” Yawang memutuskan untuk menjadi seorang keluarga bagi Xia Mu, memberikan seluruh kasih sayang yang pantas diterimanya. Tetapi… semuanya menjadi seperti ini pada akhirnya. Kenapa Yawang harus menyakitinya?

| Passion Heaven |

Yawang terduduk diam di tempatnya, merasa berat dengan percakapan yang baru saja diakhirinya. Rasa pahit muncul dari tenggorokannya dan Yawang merasa pusing. Penglihatannya mulai kabur, Yawang menggelengkan kepalanya, telapak tangannya menekan dahinya kuat-kuat, menahan rasa pusing di kepalanya yang semakin menjadi. Aneh, aku hanya meminum segelas champagne, dengan toleransi alkhoholku, kurasa tidak mungkin aku sudah mabuk dengan hanya segelas. Shu Yawang tiba-tiba punya firasat buruk, jadi ia cepat-cepat berdiri dan terhuyung. Tiba-tiba, seseorang menarik lengannya dan ia jatuh ke dalam pelukan seseorang itu.

Yawang mencium parfum laki-laki sehingga ia menengadahkan kepalanya. Lampu plafon yang mengenai kalung laki-laki tersebut membuat Yawang menyipitkan matanya. Yawang dapat melihat perawakan laki-laki tersebut, raut wajah yang licik namun tampan sedang menatapnya intens. Kedua sudut bibir yang terangkat membentuk sebuah senyum prihatin terhadap Yawang, lengannya menahan Yawang dalam pelukannya ketika ia berbisik lembut di telinga Yawang.

“Yawang, apa kau mabuk?” Suara laki-laki itu terdengar berat, senyumnya seakan menunjukkan bahwa ia baru saja menyelesaikan sesuatu yang luar biasa. Pada saat itulah Yawang menyadari apa yang terjadi.

“Apa yang kau lakukan padaku?” Qu Wei Ran membungkuk dan memeluk Yawang erat.

“Tidak banyak, hanya memberikan sedikit tambahan ke dalam minumanmu sebelum laki-laki itu mengambilnya.” Wei Ran berbisik di telinga Yawang.

“Menjauh dariku!” Yawang berteriak, ia berusaha lepas dari pelukan Wei Ran. Pantas saja Xiao Xue mabuk secepat itu, pantas saja aku juga…

“Kau menyuruhku pergi?” Wei Ran menatap Yawang dalam pelukannya. “Yawang, aku sudah memberitahumu sebelumnya. Kau dan Xiao Tian tidak akan menikah, aku tidak membiarkan hal itu terjadi.” Wei Ran kemudian menyerahkan kartu kreditnya pada seorang pelayan.

“Kekasihku minum terlalu banyak, bisa tolong carikan sebuah kamar untuk kami?” Jantung Shu Yawang berdetak dengan sangat cepat, ia ingin mengatakan sesuatu, tetapi ia merasa mual dan hampir muntah ketika ia baru saja membuka mulutnya. Pelayan itu mengambil kartu Qu Wei Ran dan menatapnya, tidak terlihat curiga sedikit pun karena tampilan elegan Wei Ran.

“Baik Tuan, silahkan menunggu.”

“Lepaskan aku.” Yawang mencoba untuk mendorong Wei Ran. Ia tidak tahu apa yang sudah dimasukkan Wei Ran ke dalam minumannya, yang jelas rasa mualnya semakin parah dan pada akhirnya Yawang muntah. Qu Wei Ran mengerutkan dahinya dan mendorong Yawang menjauh. Yawang terus memuntahkan isi perutnya sampai salah satu pelayan melihat semuanya itu. Pelayan itu dengan segera menyerahkan kunci kamar pada Wei Ran dan meminta Wei Ran menandatangani kwitansi pembayaran sebelum ia meminta seseorang untuk membersihkan lantai tersebut.

| Passion Heaven |

Qu Wei Ran membawa Yawang ke lift. Ketika berada di lift, pusing yang dirasakan Yawang membuatnya muntah lagi. Kerutan di dahi Wei Ran semakin mendalam dan ia menahan nafas sepanjang memapah Yawang sampai ke kamar. Ketika sampai, Wei Ran langsung membuka pintu kamar mandi dan mendorong Yawang ke dalam bak mandi. Yawang merasa pusing akibat dorongan tersebut. Wei Ran kemudian menyalakan shower di mana air dingin langsung mengenai Yawang. Yawang berteriak karena dingin yang tiba-tiba menyerang tubuhnya, ia berusaha keluar dari bak mandi tersebut, tetapi Qu Wei Ran mendorongnya untuk tetap berada di tempat.

“Apa yang kau lakukan?!” Yawang bergetar karena kedinginan, ia menatap Wei Ran dengan ketakutan. Wei Ran melepas kacamata yang bertengger di hidung mancungnya dan menatap Yawang dengan penuh rasa dendam.

“Aku akan membersihkanmu, lalu memakanmu.”

| Passion Heaven |

WARNING: PLEASE SKIP THIS SCENE AND THE SCENE AFTER IF YOU ARE UNCOMFORTABLE. THESE SCENES CONTAIN INAPPROPRIATE CONTENTS FOR THOSE UNDERAGE.

Shu Yawang berusaha untuk merangkak keluar dari bak mandi, dan Qu Wei Ran terlihat menikmati perjuangan Yawang. Wei Ran tertawa sambil membuka kancing kemejanya. Ia menahan Yawang untuk keluar dari bak mandi dengan satu tangan sambil melepas ikatan dasinya dengan tangan lain, Wei Ran kemudian mengikat tangan Yawang dengan water sprayer.

“Jangan!” Yawang memberontak, tangannya membentur keran berwarna emas sehingga menimbulkan suara decitan yang tajam ketika tangannya memukul dinding. Pada saat itu, air di dalam bak mulai memanas dan uap air mulai memenuhi sekeliling Yawang. Wei Ran membungkuk dan membuka jaket Yawang dengan paksa, ia kemudian menarik kemeja yang dipakai Yawang, menampakkan korset yang membalut pas di tubuh Yawang. Wei Ran tidak dapat mengalihkan pandangan matanya dari Yawang, tangannya mulai terulur ke arah Yawang. Kedua mata Shu Yawang membesar dan ia mulai berteriak,

“Tidak! Berhenti!” Wei Ran tertawa dan membungkuk, kemudian berbisik di telinga Yawang.

“Kita bahkan belum memulai apa-apa dan kau sudah menangis. Jangan bilang kalau… Xiao Tian belum pernah menyentuhmu sejak ia pulang kemarin?” Yawang terus menangis sambil berusaha untuk terlepas dari semua ini.

“Lepaskan aku! Lepaskan!” Wei Ran tersenyum lebar.

“Kelihatannya, memang Xiao Tian tidak pernah melakukan apa-apa terhadapmu.” Yawang memelototi Wei Ran dengan tajam.

“Qu Wei Ran! Kalau kau berani menyentuhku, aku tidak akan membiarkanmu! Tidak akan pernah!”

“Kau tidak akan membiarkanku, bagaimana caranya? Menyuruh Xiao Tian untuk memukulku lagi? Atau menyuruh ayahmu untuk menembakku? Terus saja bertindak keras kepala seperti ini, jangan pernah minta tolong padaku setelah ini!” Wei Ran berdiri setelahnya, dan yang Yawang dengar selanjutnya hanyalah suara ikat pinggang yang dibuka dan suara resleting yang diturunkan. Yawang bergetar dalam ketakutan dan keputusasaannya ketika Wei Ran melepaskan celana Yawang. Yawang berusaha mundur, tetapi ia terjebak dalam posisinya.

“Tolong, tolong!” Yawang berteriak sekeras-kerasnya.

“Tidak ada yang dapat membantumu sekarang!” Wei Ran mencium Yawang dengan brutal, seakan menyatakan pernyataan kemenangannya atas Yawang.

“Jika aku menginginkan seorang wanita, aku akan mendapatkannya, termasuk kau.” Wei Ran membuka paksa kaki Yawang dan ia merangkak ke atas tubuh Yawang.

“Yawang, malam ini hanyalah sebuah permulaan…” Air hangat membanjiri lantai kamar mandi, setiap tetesan air terdengar seperti pecahan kaca bagi Yawang. Malam itu, yang terdengar hanyalah suara tangisan seorang wanita yang melemah seiring dengan desahan penuh gairah seorang laki-laki. Setelah beberapa saat, suara itu perlahan berhenti.

| Passion Heaven |

Larut malam, Yawang berbaring dengan menekuk kedua lututnya di atas ranjang hotel, ia memeluk kedua kakinya sambil menatap dinding di depannya dengan tatapan kosong. Yawang kedinginan, sakit, dan ketakutan. Laki-laki di sampingnya memeluk pinggangnya longgar, dengan wajah yang tertutupi rambut Yawang, ia tidur dengan nyenyaknya di atas ranjang. Mata Yawang beralih pada tasnya, perlahan ia menyingkirkan lengan Wei Ran dan bangkit berdiri. Ketika kakinya menyentuh lantai, Yawang terhuyung sedikit, tetapi ia berusaha untuk tetap berjalan dan mengambil tasnya. Yawang membungkuk dan membuka tasnya, mengambil sebilah pisau lipat berwarna merah dari dalamnya. Pisau itu adalah salah satu peralatannya dalam bekerja, dan Yawang suka menaruhnya di dalam tas karena ia merasa aman dengannya.

Yawang menoleh dan menatap Wei Ran dengan dingin. Ibu jarinya perlahan mendorong pisau lipatnya ketika Yawang berjalan mendekati ranjang. Tidak ada satu pun penerangan di dalam kamar tersebut, seperti mata Yawang yang hanya dipenuhi kebencian dan rasa dendam. Yawang akan membunuh laki-laki yang telah melukai dan menodai harga dirinya!

Yawang perlahan mendekatkan pisau itu pada leher Wei Ran, ia memegang erat pisau itu dengan kedua tangannya. Badannya sedikit gemetar karena takut, tetapi Yawang tidak bergerak sedikit pun dari posisinya. Yawang akan membunuhnya, tidak peduli jika nanti ia harus membayar harga yang lebih besar dari semuanya ini. Yawang mengangkat lengannya, bersiap untuk menikam Wei Ran dengan pisau di tangannya, cahaya perak menyilaukan dari pisau itu membuat Wei Ran membuka matanya. Cepat tanggap, ia menahan kedua lengan Yawang dengan satu tangannya, tetapi mata pisau itu sudah melukai kulit Wei Ran, membuka darah mengalir segar dari luka kecil di lehernya.

Kedua alis Wei Ran bertaut menahan rasa sakit dari robekan kecil itu, kemudian ia menarik Yawang ke arahnya, membalikkan posisi mereka dan menggenggam erat pergelangan tangan Yawang, membuat pisau kecil itu jatuh begitu saja dari tangan Yawang. Wei Ran mengambil pisau itu dan memerhatikan mata pisau yang tajam, kemudian beralih menatap Yawang. Darah terus mengalir dari luka di leher Wei Ran, beberapa tetes jatuh mengenai wajah Yawang, membuatnya seperti air mata darah ketika turun mengaliri pipi Yawang. Wei Ran mengusap tetesan darah di wajah Yawang dengan lembut, sentuhan Wei Ran membuat Yawang gemetar ketakutan.

“Aku pikir kau tidak akan bisa melakukan hal seperti ini.”

“Kau bercanda? Aku ingin memotongmu menjadi jutaan bagian.” Wei Ran membuang pisau di tangannya dan menyentuh luka di lehernya; bukan luka yang dalam, sehingga Wei Ran tidak merasakan apapun dari luka kecil tersebut. Wei Ran tiba-tiba tertawa dan menggenggam Yawang.

“Lihat, kau membuatku berdarah juga.” Wei Ran mengecup lembut pipi Yawang. “Sekarang kita impas.”

“Lepaskan aku.” Dalam posisi seperti ini, Yawang benar-benar ketakutan dengan apa yang akan terjadi.

“Yawang-ah…” Wei Ran mengecup kedua ujung alis Yawang dan turun ke sudut bibirnya.

“Aku akan bertanggungjawab, percayalah. Aku akan menikahimu.” Yawang memukul-mukul Wei Ran dengan kedua tangannya.

“Mati saja kau! Mati!” Pemberontakan Yawang membuat amarah Qu Wei Ran memuncak sehingga ia memelototi Yawang dengan tajam.

“Karena kau masih punya kekuatan untuk memukulku, kurasa kau juga masih punya cukup tenaga untuk bermain denganku.” Wei Ran menunduk sambil mencengkeram erat kedua lengan Yawang, ia merobek mantel yang dikenakan Yawang dengan mulutnya, lidahnya menelusuri seluruh badan Yawang. Air mata Yawang menumpuk di pelupuk kedua mata indahnya, bersiap untuk turun kapan saja.

“Aku pasti akan menggugatmu, tunggu saja kau!”

“Coba saja, aku tidak takut.” Qu Wei Ran menikmati semuanya, ia tidak bisa menyangkal bahwa tubuh Yawang benar-benar mempesona. Tenggorokan Yawang sakit karena terus-terusan menangis dan berteriak, bibirnya sakit karena ia terus menggigit bibirnya, dan tangannya menjadi mati rasa seiring dengan sinar matanya yang meredup.

Hidupnya, kebahagiaannya, semuanya sirna begitu saja. Seperti gelembung-gelembung warna-warni yang terbang di udara sebelum pada akhirnya pecah dan menghilang bersama udara.