CHAPTER IX: Tang Xiao Tian dalam Kenangan Qu Wei Ran

XMOaS

Pertama kali Qu Wei Ran bertemu Tang Xiao Tian, senyum Xiao Tian sangatlah menawan, sangat memukau sehingga sulit bagi orang-orang bahkan untuk sekedar membuka mata.

 

“Apakah ia pantas dicintai olehmu atau tidak.” Wei Ran tertawa dan menggelengkan kepalanya di atas tempat tidur rumah sakit; ia tidak percaya bahwa ia mengatakan kebohongan ini dengan mulutnya sendiri. Setelah bangkit duduk di atas tempat tidurnya, Wei Ran berusaha meraih sepuntung rokok di meja kecil di samping tempat tidurnya. Ia menyalakan rokok tersebut dan meniupkan sebuah lingkaran asap. Sepasang mata dinginnya beralih ke arah jendela, pikirannya kemudian mulai melayang…

Wei Ran adalah seorang anak hasil hubungan gelap, dan dari ingatannya, laki-laki yang dipanggilnya ayah hanya mengunjunginya dua atau tiga kali dalam sebulan. Setiap kali ayahnya berkunjung, ibunya akan sangat senang dan selalu berpura-pura menyayangi Wei Ran dengan sepenuh hati. Kemudian ibunya akan melakukan berbagai cara supaya ayahnya memberinya uang saku yang setelahnya akan diambil ibunya. Setelah ayahnya pergi, laki-laki lain akan datang dan bercumbu dengan ibunya, laki-laki itu akan menghitung uang yang diberikan ayah Wei Ran, dan kemudian menyiksa Wei Ran.

Awalnya ia membenci ayahnya, tetapi kemudian ia merasa beruntung. Wei Ran tidak bisa membayangkan bagaimana jika ayahnya tahu bahwa ibunya berselingkuh. Ketika ayahnya tahu, bagaimana ayahnya akan menyiksa mereka? Atau mungkin, ayahnya sudah tahu, tetapi hanya membiarkannya begitu saja. Jika ia menjadi ayahnya, bagaimana ia akan menanggapi hal ini?

Wei Ran tersenyum kecut dan menghirup nikotin dari rokok di bibirnya. Pada akhirnya, ialah yang menyiksa kedua orang tuanya. Ia masih mengingat sensasi pembalasan dendam yang dirasakannya hari itu, sungguh menyenangkan. Seperti berhasil menghembuskan kesunyian yang sudah ditahannya bertahun-tahun.

Tetapi, Wei Ran bosan. Ia memang mempunyai banyak kekasih sebelumnya, beberapa dari mereka menyukai wajah tampannya, beberapa menyukai uang dalam dompetnya, dan yang lainnya menyukai pakaian bermerek yang dikenakannya. Wei Ran tidak pernah mencintai mereka, ia bahkan tidak menyukai mereka. Setiap kali seseorang menyatakan cinta padanya, Wei Ran selalu merasa semua itu bohong, semua itu hanyalah palsu.

Tetapi ketika mereka bertanya apakah Wei Ran mencintai mereka, Wei Ran akan selalu menjawab: “Ya, aku mencintaimu, sangat mencintaimu.” Wei Ran suka bercinta dengan mereka; saat itulah setidaknya Wei Ran akan merasakan sedikit cinta. Apa yang disukainya bukanlah desahan mereka, melainkan sensasi yang dirasakannya ketika ia berhasil melampiaskan hasrat dari keinginan dagingnya.

Cinta menurut Qu Wei Ran hanyalah sebuah candaan, adakah hal yang bernama cinta sejati? Di dunia yang penuh ketamakan dan hawa nafsu ini, cinta sudah punah. Cinta sejati hanya ada di dalam imajinasi para gadis-gadis belia yang lugu. Itulah yang berada di pikiran Wei Ran sebelum ia mengikuti wajib militer, sampai kemudian ia bertemu dengan Tang Xiao Tian.

| Passion Heaven |

Ketika Wei Ran memasuki asrama mereka di hari pertama, hanya ada satu orang di sana. Orang itu duduk di balik meja dan sedang menuliskan sesuatu. Ketika ia mendengar suara pintu dibuka, ia langsung berdiri dan berbalik. Matahari bersinar dengan cerah di belakang pemuda itu dan pemuda itu tersenyum ceria. Ketika ia tersenyum, kedua lesung pipinya akan tampak, membuatnya semakin tampan. Pemuda itu terlihat ceria, berbanding terbalik dengan dirinya yang suram. Wei Ran melihat pemuda itu berjalan ke arahnya dan mengulurkan tangannya.

“Halo, aku Tang Xiao Tian.” Wei Ran tersenyum dan bersalaman dengan pemuda tersebut.

“Halo, aku Qu Wei Ran.” Itulah hari pertama pertemuannya dengan Xiao Tian. Wei Ran ingat betapa menawannya senyum seorang Xiao Tian, sangat memukau sehingga sulit bagi orang-orang bahkan untuk sekedar membuka mata. Setelahnya, mereka berbagi tempat tidur. Mereka berdua akan pergi bersama-sama dan makan bersama-sama, membuatnya keduanya menjadi semakin dekat.

Sebagai tentara, para tentara baru akan menulis surat untuk berkomunikasi dengan dunia luar. Setiap hari, setiap malam, para tentara baru ini akan menulis di balik meja kepada teman-teman, orang tua, guru, siapapun yang dapat mereka kirimi surat.

Seorang tentara senior berkata: “Tentara baru memang begitu, setelah tiga bulan, mereka pasti tidak akan menerima surat balasan lagi.” Dan memang benar, pengecualian bagi para tentara baru yang mempunyai kekasih, sisanya tidak ada yang menerima surat balasan dari teman-teman atau keluarga mereka.

Tentara senior itu kemudian berkata lagi: “Tentara baru memang sepert itu, tunggu enam bulan, para kekasih mereka akan kabur dan mencari yang baru.” Memang betul, setelah setengah tahun, akan ada dari para tentara baru itu yang tidak mendapat kabar lagi dari kekasihnya, mereka akan bersembunyi di bawah selimut untuk menangis.

Tetapi, Tang Xiao Tian masih tetap menulis surat; pagi, siang, dan malam. Ia akan menulis surat tiga kali sehari dan mengirimkan ketiga surat itu keesokan harinya. Wei Ran selalu mengejeknya,

“Bagaimana bisa seorang laki-laki punya cerita sebanyak ini? Kau tidak seharusnya dinamai Tang Xiao Tian, tetapi Tang San Fung (Tiga Surat Tang).” Tang Xiao Tian hanya mengusap hidungnya dan tersenyum malu sebagai balasan. Xiao Tian menerima surat-surat balasannya dengan teratur, sekitar empat sampai lima surat setiap minggunya. Xiao Tian menyimpan semua surat dari kekasihnya di dalam laci dengan teratur, diurutkan berdasarkan tanggal.

Suatu kali, ketua tingkat memberi Qu Wei Ran sebuah bingkisan untuk dititipkan pada Tang Xiao Tian. Wei Ran menerima bingkisan tersebut dan menimbang-nimbang beratnya, ia menebak bahwa itu adalah sebuah buku di dalamnya. Wei Ran memerhatikan alamat yang tertera di bingkisan, tulisan tangan dengan tinta hitam yang sangat rapi. Di bagian bawah bingkisan tersebut, terdapat sebuah nama: Shu Yawang. Yawang? Harapan yang indah? Benar-benar nama yang indah.

| Passion Heaven |

“Xiao Tian, untukmu.” Wei Ran memberikan bingkisan tersebut pada Xiao Tian yang sedang duduk di samping jendela. Xiao Tian menerimanya dan langsung membuka bungkus bingkisan tersebut. Qu Wei Ran duduk dan memerhatikan Tang Xiao Tian. Ia melihat sebuah buku gambar di tangan Xiao Tian, dan ketika Xiao Tian membuka halaman pertama, wajahnya dipenuhi dengan keterkejutan, yang kemudian diikuti dengan sebuah senyum sumringah.

Sejak saat itu, Wei Ran merasa iri dengan Xiao Tian. Wei Ran iri dengan Xiao Tian yang mempunyai seseorang yang bisa berbagi waktu dengannya, seseorang yang membuat Xiao Tian rindu padanya setiap hari. Wei Ran iri dengan kenyataan bahwa ada seseorang yang akan menunggu untuk Xiao Tian. Wei Ran iri dengan senyum sumringah Xiao Tian. Kenapa ia tidak pernah bertemu dengan cinta seperti itu? Kenapa walaupun ia berkencan dengan banyak wanita sebelumnya, tetapi tidak satu pun dari mereka yang membuat Wei Ran ingin menulis surat? Mulai saat itu, Wei Ran merasa bahwa senyum Xiao Tian menjengkelkan, sangat menjengkelkan sehingga Wei Ran merasa tidak nyaman. Hal bernama cinta sejati itu memang ada di dunia ini; hanya saja, cinta seperti itu tidak pernah ada untuk Qu Wei Ran.

| Passion Heaven |

Tiga tahun kemudian, ketika Wei Ran melihat nama yang tidak asing baginya, ia langsung mengangkat kepalanya untuk melihat seorang perempuan yang berdiri di depannya. Perempuan itu memang tidak secantik dewi, tetapi ia terlihat lugu.

“Yawang-ah, senang bertemu denganmu.” Wei Ran sendiri tidak tahu mengapa ia sangat bersemangat. Saat Wei Ran melihat Yawang untuk pertama kalinya, ia langsung menginginkannya, Wei Ran tidak tahu mengapa, tetapi ia hanya menginginkannya. Wei Ran memberitahu Xiao Tian bahwa ia hanya menguji apakah Yawang benar-benar pantas untuk dicintai atau tidak. Wei Ran berkata bahwa ia hanya bercanda, tetapi ia berbohong. Wei Ran menginginkannya, ia menginginkan Shu Yawang, Shu Yawang milik Tang Xiao Tian.

Wei Ran tidak membenci Xiao Tian, benar-benar tidak, Wei Ran sangat menyukainya. Wei Ran menyukai kepribadian dan senyum Xiao Tian. Tetapi Wei Ran membenci cinta, ia tidak suka melihat orang yang jatuh cinta. Cinta itu memperburuk semuanya, membuatnya ingin menghancurkan segalanya. Wei Ran membuang puntung rokok di tangannya ke dalam asbak, ia tersenyum dingin.

Tunggu saja, permainan baru dimulai.