CHAPTER VIII: Pengakuan Xiamu

XMOaS

Xia Mu menggigit bibirnya dan berbisik di telinga Yawang,

“Aku menyukaimu.”

 

“Xia… Mu…” Kedua mata Shu Yawang memerah ketika ia memanggil nama Xia Mu dengan suaranya yang kecil dan bergetar. Yawang ingin memeluk Xia Mu, tetapi ia tidak berani menyentuhnya. Yawang terdiam di tempatnya, ia berlutut dan menggigiti jari-jarinya gugup. Hatinya dipenuhi kecemasan tak berujung, terasa berat hingga Yawang hampir tidak bisa bernafas.

“Xia Mu…” Yawang mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan Xia Mu yang sedingin es. Suara Yawang terdengar rapuh dan penuh ketakutan. Yawang takut kalau-kalau Xia Mu akan meninggalkannya, kalau-kalau ketika ia menoleh, Xia Mu sudah tidak ada di sana menatapnya lagi. Yawang… Ia mulai menangis.

“Xia Mu, Xia Mu.” Xia Mu, yang terbaring di tanah, tiba-tiba menggerakkan tangannya, perlahan Xia Mu bangkit berdiri sambil menunduk. Yawang dengan segera membantunya, kedua matanya masih dipenuhi air mata.

“Jangan bergerak, jangan berdiri dulu. Apa kau terluka?” Xia Mu sudah berdiri di tempatnya, perawakannya yang tinggi dan kurus membungkuk perlahan. Xia Mu menundukkan kepalanya, poni rambutnya menutupi sebelah matanya, ia mengusap pandangannya yang kabur dengan punggung tangannya.

“Aku tidak apa-apa, aku tidak tertabrak.” Yawang membelalakkan matanya, dengan air mata yang masih mengaliri wajahnya, ia menutupi dahi Xia Mu dengan satu tangannya.

“Bodoh, kau berdarah!” Xia Mu terdiam di tempatnya, berusaha mencerna apa yang dikatakan Yawang. Xia Mu melihat noda darah di punggung tangannya. Xia Mu akhirnya menyadari bahwa ia mengalami gegar otak, dan hal yang membuat pandangannya buram adalah karena benturan keras yang dialaminya. Xia Mu mengalihkan pandangannya dan menutupi lukanya dengan satu tangannya.

“Tidak apa-apa, tidak sakit.”

“Anda tidak apa-apa?” Qu Wei Ran bertanya sambil berjalan ke arah Shu Yawang. “Apa ada bagian lain yang terluka? Perlu kuantar ke rumah sakit?” Wei Ran bertanya dengan penuh perhatian. Xia Mu mengangkat tangannya dan mendorong Qu Wei Ran.

“Pergi, jangan dekati Yawang lagi.” Qu Wei Ran terkejut dengan kata-kata Xia Mu, tetapi ia dengan cepat mengatasi keterkejutannya dan bertanya,

“Kalau aku mau?” Xia Mu menatap Wei Ran dengan tatapan menusuknya.

“Aku akan membunuhmu.” Ketika Xia Mu selesai berbicara, ia menarik Yawang pergi tanpa memedulikan Qu Wei Ran lagi. Xia Mu membenci Wei Ran, sangat membencinya, laki-laki itu hampir saja membuat Yawang terluka.

| Passion Heaven |

Yawang membiarkan Xia Mu menariknya pergi, sepasang mata Yawang terus-menerus menatap wajah Xia Mu yang berdarah dengan penuh kekhawatiran.

“Xia Mu, pergilah ke rumah sakit. Kau berdarah.” Tangan Xia Mu tetap berada pada lukanya, ia menjawab Yawang dengan acuh tak acuh.

“Aku tidak apa-apa.” Xia Mu menggenggam tangan Yawang erat-erat dan berjalan sampai ke tempat di mana sebuah Audi A8L diparkirkan di tepi jalan. Xia Mu menyuruh Yawang masuk ke dalam mobil, kemudian ia beranjak duduk di kursi belakang, ia berkata pada Paman Zheng dengan nada dingin,

“Pulang.”

“Tidak, Paman Zheng, ke rumah sakit dulu.” Yawang dengan cepat menyela.

“Apa yang terjadi?” Ekspresi Paman Zheng terlihat sangat khawatir.

“Tidak ada apa-apa, jangan beritahu Kakek soal ini.” Paman Zheng mengalihkan tatapannya pada Yawang, yang kedua matanya masih memerah dan dipenuhi air mata.

“Ke rumah sakit, rumah sakit dulu.” Paman Zheng menganggukkan kepalanya dan segera pergi ke rumah sakit. Di sana, Xia Mu mendapat enam jahitan di atas pelipis kanannya, mereka tidak pulang ke rumah sampai tengah malam. Yawang masih mengkhawatirkan Xia Mu, jadi ia memapah Xia Mu sampai ke kamarnya. Yawang menatap kepala Xia Mu yang diperban dengan rasa bersalah, masih dengan matanya yang memerah karena menangis.

“Aku benar-benar tidak apa-apa.” Xia Mu berkata sambil duduk di tempat tidurnya, ia mengangkat tangannya untuk menghapus air mata dari wajah Yawang.

“Aku benar-benar ketakutan. Bagaimana kalau sesuatu benar-benar terjadi, apa yang harus kulakukan? Lebih baik kau jangan seperti itu lagi lain kali, biar aku saja yang tertabrak, aku tidak mau kau terluka.” Xia Mu ingin mengatakan sesuatu, tapi memutuskan untuk tidak, jadi ia hanya mengerucutkan bibirnya. Yawang beranjak duduk di samping Xia Mu, bahu mereka bersentuhan. Yawang menatap sekelilingnya, ia menghela nafas melihat kamar yang tidak asing baginya ini.

| Passion Heaven |

“Aku sudah lama sekali tidak berkunjung kemari.” Xia Mu menunduk dan bergumam setuju, matanya yang bersinar dengan bulu mata yang lentik dan bayangannya yang terpantulkan karena cahaya, memancarkan aura muda yang hanya dimiliki para remaja. Yawang menatap lemari kaca yang dipenuhi berbagai model macam-macam peralatan militer. Yawang turun dari tempat tidur Xia Mu dan berjalan ke arah lemari kaca tersebut, ia mengambil salah satu model pesawat tempur.

“Kau masih suka bermain dengan model-model ini, hah?” Xia Mu mengangkat sudut bibirnya.

“Aku sudah lama tidak memainkannya.”

“Benarkah? Kau benar-benar menyukai bermain dengan semua ini ketika kau masih kecil. Selalu menatap mainan-mainan ini sepanjang hari dan mengabaikanku.” Yawang menatap Xia Mu dan tersenyum.

“Kalau aku tidak membiarkanmu bermain, kau akan menggigitku.” Yawang melambaikan tangan kanannya, ia menunjuk bekas gigitan Xia Mu yang sekarang sudah pudar.

“Lihat, ini salah satu hadiah yang kau berikan untukku.” Xia Mu mengalihkan tatapannya, ia seperti teringat akan sesuatu ketika kedua sudut bibirnya perlahan-lahan terangkat membentuk sebuah senyum. Yawang terus menatap mainan-mainan model itu dengan terpesona saat sebuah sinar perak mengalihkan perhatiannya. Kalung perak yang dikalungkan di sebuah tank militer berliontinkan dua ikan yang saling berciuman. Yawang mengambil kalung itu dengan penuh rasa ingin tahu.

“Wah, kalung ini cantik.” Entah mengapa, tetapi kalung itu terasa tidak asing bagi Yawang. Xia Mu melihat kalung di tangan Yawang dan mencoba untuk mengambilnya, ia terlihat sangat gugup. Yawang menyembunyikan kalung tersebut di belakang punggungnya dan mulai mengejek Xia Mu seperti ketika mereka masih kecil.

“Wah, kenapa tiba-tiba kau gelisah? Oh aku tahu.” Yawang tertawa sembari menghindari Xia Mu yang mencoba mengambil kembali kalung tersebut.

“Jangan bilang padaku kalau kau sudah punya pacar.”

| Passion Heaven |

“Tidak ada.” Xia Mu mengulurkan tangannya untuk merebut kembali kalung tersebut. Yawang membalikkan tubuhnya dan menghindar, ia terus-menerus mengusik Xia Mu.

“Hehe, beritahu Jiejie, aku orang yang sangat terbuka. Aku bukan orang yang akan melarang seseorang berpacaran di waktu muda.” Ketika Xia Mu tidak berhasil mengambil kembali kalungnya, ia berkata dengan nada yang terdengar agak frustasi.

“Bukan begitu, kembalikan padaku.”

“Kalau begitu kau membelikan kalung ini untuk seseorang yang kau suka.” Yawang berhenti di ujung tempat tidur Xia Mu dan menatap Xia Mu dengan percaya diri.

“Pasti begitu.” Wajah Xia Mu memerah karena kata-kata Yawang, ia bergegas berlari ke arah Yawang dan meraih pergelangan tangan Yawang. Yawang tidak sedang berdiri seimbang, sehingga ia terjatuh ke belakang ketika Xia Mu berlari ke arahnya. Keduanya terjatuh ke atas kasur yang lembut dan lentur, satu menimpa yang lainnya. Shu Yawang tidak merasakan sakit sedikit pun walaupun ia terlempar. Tetapi, ketika ia menoleh dan melihat Xia Mu yang terbaring di atas tubuhnya, wajahnya langsung memerah. Wajah keduanya sangat dekat, kedua ujung hidung mereka saling bersentuhan, mereka dapat merasakan nafas satu sama lain, semua kedekatan ini menyebabkan suasana menjadi canggung.

| Passion Heaven |

Ekspresi di kedua mata Xia Mu tidak terbaca, ia terus menatap Yawang dengan wajahnya yang tersipu. Jantungnya berdetak sangat cepat, dan seperti dirasuki oleh sesuatu, Xia Mu menundukkan kepalanya. Yawang menatap Xia Mu dengan terkejut ketika ia merasakan sesuatu yang lembut menyentuh bibirnya. Yawang membelalakkan mata tidak percaya. Xia Mu benar-benar gugup, tetapi ia tidak berhenti. Ia mencium Yawang dengan lembut sekali lagi, Xia Mu tidak tahu bagaimana caranya mencium yang benar, tetapi ia hanya mengecup lembut bibir Yawang. Kedua tangan Xia Mu menggenggam erat tangan Yawang, bukan untuk membatasinya, tetapi Xia Mu hanya melakukannya sesuai insting. Tangan Xia Mu dipenuhi keringat dingin, tidak tahu apakah memang Xia Mu atau Yawang.

Yawang akhirnya tersadar dari keterkejutannya, ia menghindari ciuman Xia Mu dan mendorong Xia Mu dengan bahunya. Xia Mu tidak bergerak dari posisinya.

“Xia Mu!” Yawang berteriak kecil. Xia Mu tidak memedulikannya dan malah menyembunyikan wajahnya di leher Yawang.

“Apakah kau akan mengabaikanku?” Xia Mu bertanya lembut. Jantung Yawang berdetak sangat cepat dan wajahnya masih memerah.

“Tidak akan.” Xia Mu menggigit bibirnya dan berbisik di telinga Yawang,

“Aku menyukaimu.” Shu Yawang tidak menyangka Xia Mu akan mengatakannya dengan seterus-terang itu; mungkin karena Xia Mu tidak bisa menyembunyikannya lagi.

“Itu karena kau bergantung padaku selama ini.” Xia Mu meraih wajah Yawang untuk menghadapnya.

“Tidak, aku benar-benar menyukaimu.” Xia Mu berkata dengan keras kepala. Jika Yawang bisa, ia pasti akan membalas perasaan Xia Mu. Yawang benar-benar berharap bahwa ia bisa memberikan Xia Mu kebahagiaan jika ia bisa membalas perasaannya. Shu Yawang memang menyukai Xia Mu; ia menyukai Xia Mu yang pendiam, Xia Mu yang dingin, Xia Mu yang tidak pernah bahagia semasa kecilnya. Yawang berharap Xia Mu benar-benar dapat tersenyum dari dalam hatinya, walaupun hanya senyum kecil atau sekedar mengangkat sudut bibirnya, Yawang hanya ingin melihat Xia Mu tersenyum. Tetapi bagaimanapun juga, ada hal yang tidak bisa ia kendalikan…

“Xia Mu, aku hanya menganggapmu sebagai seorang adik kecil.” Yawang membalas sambil menurunkan tatapannya. Xia Mu tidak berkata apa-apa setelahnya, ia beralih mengambil kalung dari tangan Yawang dan langsung memakaikannya pada Yawang. Xia Mu menyentuh liontin kalung tersebut dan mengusapnya.

“Pakai saja, ya? Terus pakai.” Itu adalah kalung yang dibeli Xia Mu tiga tahun yang lalu. Ia masih berumur empat belas tahun saat itu dan tidak tahu apa itu cinta. Xia Mu hanya tahu bahwa ia menyukai Yawang sehingga ia membelikan kalung ini untuk Yawang dengan buku tabungannya. Buku tabungan itu adalah peninggalan ibunya yang tidak pernah ia pakai sebelumnya. Tetapi hari itu, ia memakainya untuk membeli kalung ini. Xia Mu ingin memberikannya langsung pada Yawang saat itu, ia ingin melihat senyum Yawang saat menerimanya, ia ingin memeluk Yawang. Tetapi Xia Mu merasa takut. Tidak tahu apa alasannya, tetapi ia merasa bahwa jika saat itu ia memberikan kalung ini pada Yawang, semua rahasianya akan diketahui.

Tetapi hari ini, pada akhirnya, Xia Mu melakukanya, pada akhirnya ia memberitahukan rahasianya tersebut pada Yawang. Mungkin mulai hari ini, Yawang tidak akan lagi tersenyum ramah padanya, tetapi Xia Mu tidak menyesal. Ia hanya berharap bahwa Yawang tahu akan perasaannya, Yawang tahu bahwa Xia Mu menyukainya, dan akan tetap menyukainya sampai kapanpun.

“Kalau memang kau yang menginginkan begitu, aku akan terus memakainya.” Yawang memberitahu Xia Mu sembari mengusap rambut Xia Mu dengan lembut. Pancaran mata Xia Mu berubah gelap dan ia menjadi diam. Xia Mu tahu bahwa ia tidak akan pernah bisa memiliki Yawang, ia sangat mengerti hal itu dari awal. Tetapi ia tidak akan pernah melepas Yawang, jadi ia memutuskan untuk memeluk Yawang, Xia Mu menyembunyikan wajahnya di leher Yawang, matanya memancarkan kesedihan, hatinya terasa berat. Xia Mu tidak ingin melepas Yawang, tidak mau…

| Passion Heaven |

Keesokan paginya, Shu Yawang membuka mata dalam keadaan masih mengantuk. Ia menoleh dan mendapati Xia Mu yang masih tertidur lelap. Alis Xia Mu bergerak perlahan karena posisi tidurnya yang tidak nyaman, kantung matanya masih sama gelapnya. Yawang menghela nafas pelan, Xia Mu memeluknya semalaman seperti Yawang adalah seorang anak buangan. Melihat betapa erat Xia Mu memeluknya dan tidak mau melepaskannya, Yawang membiarkan Xia Mu memeluknya seperti itu.

Yawang mendorong pelan tangan Xia Mu di pinggangnya. Mungkin karena Xia Mu masih terlelap, ia tidak bergerak sedikit pun. Yawang turun dari tempat tidur Xia Mu dan berjalan ke arah pintu tanpa menimbulkan suara apapun. Yawang membuka pintu dengan perlahan dan berbalik untuk melihat Xia Mu. Xia Mu masih tertidur dengan posisi yang sama.

Selamat tinggal, Xia Mu. Yawang keluar dari kamar Xia Mu, ia tidak menyadari pergerakan tangan Xia Mu. Ketika Yawang sampai di luar vila, ia mengangkat kepalanya untuk melihat ke arah kamar Xia Mu. Yawang melihat sekilas bayangan di jendela, tetapi ia berpura-pura tidak melihatnya dan berjalan pulang.

Ketika Yawang sampai di rumah, ibunya memarahinya karena tidak pulang semalaman dan ketika Yawang menjelaskan bahwa ia hanya merawat Xia Mu yang terluka, ayahnya langsung menghujaninya dengan berbagai pertanyaan. Ketika ayah Yawang tahu bahwa Xia Mu terluka karena menyelamatkan Yawang, ia menunjuk Yawang dan berteriak,

“Kalau kau menempatkan Xia Mu dalam bahaya lagi lain kali, aku tidak akan menganggapmu sebagai anak lagi, mengerti?”

“Ya, tidak akan ada lain kali lagi.” Yawang menjawab dengan nada yang kentara sekali lelah. Yawang bertanya-tanya dalam hati, bagaimana jika ayahnya tahu kalau Xia Mu menyukainya, akankah ia mati-matian melarangnya atau dengan cepat menyetujuinya? Yawang berpikir mungkin pilihan kedua lebih tepat, ayahnya adalah seorang yang menjunjung tinggi rasa terima kasih, sehingga apapun yang Xia Mu inginkan, pasti akan segera dikabulkan ayahnya.

Yawang masuk ke kamarnya dan duduk di atas tempat tidurnya, ia menyentuh kalung di lehernya. Yawang melepaskan kalung tersebut dan meletakkannya pada tangannya, kedua ikan itu terlihat bahagia. Kalung ini cocok dengannya yang merupakan seorang Pisces. Ah. Yawang akhirnya mengingat di mana ia melihat kalung ini. Ketika dia masih muda, ia berdiri di depan sebuah toko perhiasan di tempat perbelanjaan. Yawang sangat menginginkan kalung ini waktu itu. Dia sudah menyukaiku sejak saat itu? Yawang kembali memakai kalung tersebut dan menyentuh liontinnya; terasa dingin, sama seperti tangan Xia Mu. Oh bagus, aku berurusan dengan Qu Wei Ran, dan sekarang Xia Mu? Yawang berguling di atas tempat tidurnya dan menutup wajahnya dengan bantal. Xiao Tian, pulanglah. Cepatlah kembali.

| Passion Heaven |

Beberapa hari kemudian berjalan seperti biasanya, seakan-akan tidak ada hal yang terjadi sebelumnya. Yawang masih bangun dan bekerja lalu pulang ke rumah seperti biasanya. Tetapi, hubungan antara Yawang dan Xia Mu berubah drastis; Xia Mu tidak lagi menempel dengan Yawang, dan Yawang tidak lagi melihat Xia Mu belajar di ruang tengah rumahnya. Setiap kali Yawang ingin berjalan-jalan, jarinya akan langsung menuju kontak Xia Mu di ponselnya, tetapi Yawang seperti tidak bisa menekan tombol panggilan untuk menelepon Xia Mu. Walaupun mereka tinggal di area yang sama, mereka tidak lagi sering bertemu satu sama lain. Ketika Yawang dan Xia Mu kebetulan berpapasan, wajah Yawang akan otomatis bersemu dan ia akan langsung menunduk dengan canggung, dan sebelum Yawang sempat berkata apa-apa, Xia Mu sudah berjalan menjauhinya.

Yawang menatap punggung Xia Mu sambil menghela nafas; ia harus menerima kenyataan bahwa keadaan telah berubah. Untuk beberapa orang, jika takdir tidak bisa menyatukan dua insan sebagai kekasih, maka pertemanan pun tidak bisa terwujud. Yawang menepati janjinya dan memakai kalung pemberian Xia Mu setiap hari. Terkadang, ketika mobil keluarga Xia melewati Yawang, Yawang akan menatap jendela mobil tersebut. Walaupun tidak ada yang terlihat dari kaca jendela yang gelap itu, Yawang dapat merasakan seorang pemuda yang sedang melihat ke arahnya, ke arah kalung di sekitar lehernya, tepatnya.

| Passion Heaven |

Musim panas yang lembap akan segera berakhir, dan Yawang sibuk menghindari Qu Wei Ran di area pembangunan sepanjang hari. Yawang takut ia akan bertemu dengannya lagi, sehingga ketika ia melihat seseorang yang berpostur sama dengan Wei Ran atau memiliki suara yang mirip dengan Wei Ran, Yawang akan cepat-cepat berjalan pergi dan bersembunyi.

“Lihat, kau punya fobia terhadap Qu Wei Ran sekarang, apa memang sebegitu menakutkannya?” Xiao Xue menyeringai. Yawang merangkak keluar dari bawah meja tempat ia bersembunyi.

“Aku tidak takut padanya. Aku hanya tidak ingin bertemu dengannya lagi.” Xiao Xue kemudian menunjuk jendela dengan ekspresi terkejut di wajahnya.

“Oh, Qu Wei Ran datang!” Yawang dengan cepat bersembunyi di bawah meja lagi.

“Jangan biarkan dia masuk.” Yawang memohon dengan panik. Xiao Xue menertawai Yawang.

“Dan kau bilang padaku kau tidak takut padanya?” Ketika Yawang menyadari bahwa ia telah dibohongi, ia mengusap hidungnya dan merangkak keluar, Yawang benar-benar merasa kesal.

“Tunggu pembalasanku nanti!” Xiao Xue menjulurkan lidahnya dan menghindari pukulan Yawang. Ia mengambilkan tas Yawang untuk membuatnya tenang.

“Ayo pulang sekarang. Jangan habiskan waktumu hanya untuk mencoba memukulku.” Yawang mengambil tasnya dari tangan Xiao Xue dan melihat jam; memang sudah waktunya pulang. Yawang memutuskan untuk mengalah hari ini; ia akan membalas Xiao Xue besok.

“Baiklah, ayo pulang.” Yawang dan Xiao Xue berjalan keluar kantor. Tiba-tiba, Xiao Xue menggoyang-goyangkan lengan Yawang dengan semangat.

| Passion Heaven |

“Lihat, lihat, pemuda tampan lagi!”

“Hah? Di mana?”

“Di sana!” Xiao Xue mengarahkan pandangannya ke sebelah kanan. “Sepertinya dia sedang melihat ke arahku! Wah, dia benar-benar tampan!” Yawang melihat ke arah pandangan Xiao Xue dan melihat seorang pemuda tampan dengan senyum yang hangat berdiri di seberang jalan. Yawang membelalakkan matanya dan berteriak sebelum berlari ke arah pemuda tersebut dan memeluknya erat. Pemuda itu menyambutnya hangat dan menggenggam tangan Yawang dengan erat.

“Aku pulang, Yawang.” Yawang mendorong punggung tegap pemuda itu mendekat untuk memeluknya lebih erat.

“Aku merindukanmu.” Tang Xiao Tian mencium puncak kepala Yawang dan menatapnya dalam.

“Aku juga merindukanmu.” Xiao Xue mengangkat bahunya dan menggeleng sambil berjalan pergi. Jadi itu pacar Yawang, benar-benar beruntung! Pada saat itu, sebuah mobil melewati Yawang dan Xiao Tian dan berhenti tepat di samping mereka. Pengemudi mobil itu membunyikan klakson beberapa kali sebelum menurunkan kaca jendela. Qu Wei Ran muncul dari dalam mobil.

“Hei Xiao Tian, lama tidak bertemu denganmu!” Tepat ketika Yawang mendengar suara Wei Ran, tubuhnya menegang dan ia menoleh untuk memelototi Wei Ran. Qu Wei Ran tidak memedulikan tatapan Yawang dan mengedipkan sebelah matanya pada Yawang. Yawang benar-benar ingin menamparnya. Tang Xiao Tian meraih tangan Yawang dan berjalan mendekati mobil Wei Ran.

“Da Ge, lama tidak bertemu.” Keduanya tersenyum, tampak seperti dua sahabat lama. Qu Wei Ran kemudian menunjuk kursi belakang mobilnya.

“Masuklah, aku traktir makan siang.” Yawang menahan lengan Xiao Tian, ia menatap Xiao Tian dengan gelisah, seakan memberitahu Xiao Tian kalau ia tidak mau pergi. Xiao Tian menggenggam tangan Yawang dan berbisik di telinganya,

“Tidak apa-apa.” Yawang menatap mata Xiao Tian; Xiao Tian kelihatannya sudah lebih dewasa sekarang, kata-katanya memberikan sebuah keyakinan bagi Yawang. Yawang kemudian mengangguk dan keduanya duduk di kursi belakang. Qu Wei Ran menatap mereka melalui kaca depan sewaktu-waktu, tangan Xiao Tian tidak pernah melepas tangan Yawang dari genggamannya; mereka berdua seperti tidak mau terpisah walau sedetik pun. Shu Yawang menyadari tatapan Qu Wei Ran dan memelototinya dari pantulan kaca depan. Wei Ran hanya terkekeh.

| Passion Heaven |

Qu Wei Ran membawa mereka ke sebuah restoran kelas atas. Setelah mereka bertiga duduk, Wei Ran mulai membuka pembicaraan.

“Xiao Tian menyukai makanan pedas. Masakan pedas di restoran ini yang terbaik, kalau kau mencobanya, kau pasti akan langsung menyukainya.” Xiao Tian berterima kasih, sedangkan Yawang malah berpikir sebaliknya. Sesaat kemudian pesanan mereka sampai.

Ketiganya menikmati makan siang mereka sambil mengobrol.

“Berapa lama lagi sampai kau lulus, Xiao Tian?”

“Satu tahun lagi.” Xiao Tian menjawab sambil menyingkirkan wortel yang tidak disukai Yawang dari piring Yawang.

“Sebentar lagi kalau begitu.” Qu Wei Ran melirik ke arah Yawang, Yawang tersenyum manis ke arah Xiao Tian sepanjang makan siang mereka. Wei Ran menyipitkan matanya dan mengangkat sudut bibirnya membentuk sebuah seringaian, ia menyenggol pelan betis Yawang dengan kakinya. Senyum Yawang langsung menghilang, ia segera menarik kakinya dan memelototi Wei Ran. Wei Ran balas menatapnya sambil tersenyum, kemudian menatap Xiao Tian lagi.

“Berapa lama kau akan tinggal untuk liburan kali ini?”

“Libur musim dingin sekitar satu bulan.” Xiao Tian menoleh ke arah Yawang yang sudah berhenti makan. “Sudah kenyang?”

“Ya.” Yawang mengangguk. Sebenarnya Yawang tidak merasa kenyang, ia hanya kehilangan selera makannya karena satu orang!

“Pulanglah lebih dulu kalau begitu, aku sudah lama tidak bertemu dengan Da Ge, ada banyak hal yang ingin aku tanyakan padanya.” Yawang menatap Xiao Tian dengan tidak senang.

“Pulanglah, jangan merajuk.” Xiao Tian membujuk Yawang dengan suara yang lembut. Melihat betapa gigihnya Xiao Tian, walaupun Yawang tidak ingin berpisah dengan Xiao Tian, akhirnya Yawang mengangguk.

“Baiklah.” Ketika Yawang bangkit berdiri untuk memakai mantelnya, Xiao Tian menarik lengan Yawang dan menciumnya di bibir, ia kemudian mengacak rambut Yawang sambil tersenyum.

“Jangan marah, aku akan mengunjungimu nanti, oke?” Yawang tersipu dengan tindakan Xiao Tian yang tiba-tiba, ia tidak pernah berpikir bahwa Xiao Tian akan bersikap seperti ini, dulu selalu Yawang yang akan menunjukkan perasaannya terang-terangan. Sekarang Xiao Tian yang melakukannya, menyebalkan, menyebalkan, hehe! Yawang menyembunyikan senyumnya dan berpura-pura menatap Xiao Tian marah.

“Pulanglah cepat.” Tang Xiao Tian tersenyum sambil melihat punggung Yawang yang semakin menjauh.

“Dia cukup manis.” Qu Wei Ran berkomentar sambil mengangkat gelas anggurnya.

“Memang.” Xiao Tian berkata setuju sambil menundukkan kepala dan tersenyum. Setelah beberapa saat, Xiao Tian kembali menatap Qu Wei Ran dan tersenyum.

“Da Ge, sudah lama kita tidak bertarung, mau latihan?” Qu Wei Ran tersenyum penuh arti dan mengangguk.

“Baiklah, ayo!”

| Passion Heaven |

Qu Wei Ran membawa Tang Xiao Tian ke sebuah lapangan basket tua. Karena musim dingin, tidak ada yang bermain di lapangan tersebut. Keduanya melepaskan mantel mereka masing-masing.

“Da Ge, haruskah aku mengalah padamu?”

“Sialan, sudah banyak berlatih untuk mengatakan kalimat itu padaku.” Wei Ran tertawa. Senyum Xiao Tian menghilang.

“Kalau begitu aku tidak akan mengalah.” Xiao Tian langsung meninju Wei Ran setelahnya, Qu Wei Ran tidak berusaha melindungi dirinya. Xiao Tian mulai menendang Wei Ran bahkan ketika Wei Ran belum sempat membalasnya. Wei Ran mencoba untuk menahan tendangan Xiao Tian dengan tangannya, tetapi ia terhuyung ke belakang karena serangan Xiao Tian.

“Kau sudah makin pandai.” Wei Ran berkata sembari menggerakkan tangannya yang mati rasa.

“Kau yang makin buruk.” Xiao Tian menggelengkan kepalanya. Qu Wei Ran tersenyum dan balas meninju Xiao Tian. Xiao Tian memang pandai berkelahi, tetapi Qu Wei Ran juga tidak boleh diremehkan, hanya saja memang Wei Ran tidak pernah bisa menang dari Xiao Tian. Walaupun Wei Ran selalu dipukul habis-habisan, ia suka berkelahi dengan Xiao Tian. Ia menyukainya karena seluruh tubuhnya akan berkeringat dan mati rasa, dan Wei Ran menyukai sensasi tersebut.

Qu Wei Ran menghela nafas berat sambil berbaring di atas tanah yang dingin dan membeku. Ia menatap ke langit yang dipenuhi bintang malam itu dan tertawa.

“Xiao Tian-ah, kau masih saja sama, tidak bisa menyembunyikan perasaanmu.” Tang Xiao Tian berjalan mendekati Wei Ran dan menarik Wei Ran dengan satu tangan, kemudian menatapnya serius.

“Da Ge, ada banyak wanita di dunia ini, jangan sentuh Yawang-ku atau aku benar-benar akan memukulmu habis-habisan.”

“Kau benar-benar tidak mengalah padaku kali ini.” Rasa sakit yang menusuk mengenai dadanya dan Wei Ran langsung mengusapnya dengan tangannya.

“Empat bulan, baru empat bulan sejak aku pertama melihatnya.” Wei Ran benar-benar ingin berdiri, tetapi rasa sakit di dadanya menghalanginya, sehingga ia menyerah dan hanya bangkit untuk duduk.

“Kalau aku benar-benar ingin mengejarnya, aku sudah melakukannya sejak lama.” Tang Xiao Tian mengangkat tinjunya, tetapi Qu Wei Ran dengan cepat menghindar.

“Aku hanya bercanda.” Xiao Tian menurunkan kepalan tangannya dan menarik kerah Wei Ran sebaliknya.

“Bercanda? Apa kau tahu betapa banyak kesulitan yang Yawang rasakan karenamu?” Qu Wei Ran menepis tangan Xiao Tian.

“Kalian berdua terlalu serius, tidak bisa bercanda.” Wei Ran berusaha berdiri, kemudian memakai mantelnya.

“Hidup hanyalah sebuah permainan.”

“Qu Wei Ran!” Wei Ran mengalungkan satu lengannya pada bahu Xiao Tian dan satunya lagi menutupi dadanya.

“Xiao Tian, kau mematahkan tulang rusukku, ini benar-benar sakit.” Tang Xiao Tian memapah Wei Ran.

“Hanya tiga tendangan kali ini, bukan apa-apa.”

“Dan lagi hanya karena seorang wanita seperti itu.” Xiao Tian menatap Wei Ran dengan tidak senang.

“Bagiku, Yawang bukan ‘wanita seperti itu’.”

“Baiklah, jangan marah.” Wei Ran menepuk pundak Xiao Tian. “Da Ge hanya ingin melihat apakah perempuan itu pantas atau tidak.”

“Pantas untuk apa?”

“Pantas dicintai olehmu atau tidak.” Qu Wei Ran menundukkan kepalanya dan tersenyum.

Advertisements