CHAPTER XV: Air Mata Seorang Pria

XMOaS

Yang satu menunggu, tetapi menunggu terlalu awal; yang satu lagi kembali, tetapi kembali terlalu lambat. Yang dapat disalahkan hanyalah takdir mereka yang terlalu cepat, tidak mencapai seribu tahun.

Shu Yawang sedang online di kamarnya ketika ibunya membuka pintu dan masuk membawa segelas susu. Yawang mengambil susu yang disodorkannya ibunya dan tersenyum.

“Terima kasih, Bu.” Ibu Yawang duduk di sudut tempat tidur Yawang dan menatap putrinya. Yawang menyesap susunya dan menoleh pada ibunya.

“Kenapa menatapku seperti itu?”

“Tidak boleh menatap putri sendiri?” Yawang tersenyum.

“Lihatlah, lihat. Cantik?” Ibu Yawang tertawa, beliau mengangkat tangannya untuk membelai rambut Yawang.

“Tentu saja cantik, bagaimana mungkin putriku tidak cantik?” Yawang tertawa sambil menggelengkan kepalanya, mungkin hanya di mata ibunya saja dia terlihat cantik.

“Apa kau benar-benar akan menikahi Xia Mu? Pergi ke Amerika dengannya?” Ibu Yawang bertanya.

“Ya.” Ibu Yawang terdiam sejenak.

“Kau benar-benar ingin pergi dengannya?”

“Tentu.” Ibu Yawang menghela nafas panjang.

“Ibu tahu kau sama saja seperti ketika masih kecil, sekali membuat keputusan, tidak akan ada yang bisa mengubahnya. Hanya saja masalah seperti pernikahan ini perlu dipertimbangkan baik-baik, anak ini si Xia Mu mungkin memang menyukaimu sekarang, tetapi umurnya lebih muda enam tahun darimu. Ketika nanti ia seumuran dengan umurmu sekarang, kau sudah tua, bagaimana jika hatinya berubah…”

“Ibu.” Yawang memotong. “Ibu tidak perlu mengkhawatirkan semua ini. Xia Mu bukanlah orang yang seperti itu.”

“Baiklah, kalau begitu jangan bicarakan tentang yang itu, tetapi dia juga tidak melanjutkan pendidikan ke universitas, dia tidak punya apa-apa. Berapa lama kau akan menunggunya sampai ia bisa menunjang kehidupanmu? Dan lagi, ketika kalian di Amerika nanti, kalian berdua tidak punya pekerjaan, kalian hanya akan bergantung pada keluarga Xia, kau bisa bertahan dengan keadaan seperti itu, Yawang?”

“Bu, ada apa? Kenapa Ibu mengatakan semua hal ini?” Yawang mengerutkan dahinya. “Ibu tidak suka Xia Mu?” Ibu Yawang mengomel.

“Bagaimana bisa Ibu tidak menyukai Xia Mu? Sejak ia kembali, kalau Ibu berani berkata sesuatu yang buruk tentang Xia Mu sedikit saja, kau dan ayahmu akan memakanku hidup-hidup.”

“Ibu!” Yawang memotong lagi.

“Karena ayahmu berhutang nyawa pada mereka dan kau juga berhutang budi pada Xia Mu, Ibu tidak akan menghentikanmu untuk membalas kebaikan mereka. Ibu hanya merindukan anak itu, Xiao Tian. Dia baik dan setia padamu, Ibu benar-benar menginginkannya sebagai menantu Ibu, dan Ibu tahu kau masih merindukannya.”

“Bu, jangan bicarakan Tang Xiao Tian.” Yawang memalingkan wajahnya, ia tidak ingin lagi mendengar apapun tentang Tang Xiao Tian. Ibu Yawang menghela nafas.

“Lihat, Ibu baru saja berkata dua kalimat tentang Xiao Tian dan kau sudah menghentikan Ibu. Bagaimana jika kau bertemu dengannya di jalan, apa yang akan kau lakukan? Berbalik dan kabur?”

“Aku tidak akan bertemu dengannya, dia di Yunnan sekarang, dia tidak akan kembali secepat itu. Ketika dia kembali nanti, aku sudah berada di Amerika.” Yawang menundukkan kepalanya dan menggenggam tangannya sendiri erat-erat.

“Takdir kami sudah berakhir.” Yawang menggumam pelan.

“Yawang, kau yakin dengan hal ini?” Ibu Yawang meletakkan tangannya di atas tangan Yawang. Ibunya masih belum menyetujui keputusan Yawang. Baginya, hanya Tang Xiao Tian-lah yang bisa memberikan kebahagiaan untuk putrinya, ia hanya ingin putrinya menikahi seseorang yang bisa menjaga putrinya dengan baik, memberikan perhatian penuh pada putrinya, dan seseorang yang dapat diandalkan putrinya. Di mata ibunya, Xia Mu hanyalah seorang anak yang harus dijaga oleh putrinya. Yawang menghela nafas panjang, ia mengangkat kepalanya untuk tersenyum pada ibunya.

“Bu, aku sudah memikirkan hal ini baik-baik. Aku sudah memikirkan hal ini selama enam tahun, keputusan ini tidak akan salah. Xia Mu memang terlihat dingin dari luar, tetapi sebenarnya dia baik. Dia sangat baik dan dia sangat mencintaiku, aku akan bahagia.”

“Ibu tidak dapat melawanmu dalam hal ini, kalau kau memang berpikir bahwa ini baik, maka baiklah.” Ibu Yawang menggelengkan kepalanya dan kemudian keluar dari kamar Yawang.

“Jangan tidur malam-malam.”

“Aku tahu.” Yawang mengangguk. Yawang meraih gelas di atas mejanya dan menghabiskan susu yang sudah mendingin, cahaya dari layar komputer mengenai wajahnya. Sudut bibirnya samar-samar terangkat, menampakkan sebuah senyum ringan yang terlihat kaku dan keras kepala.

| Passion Heaven |

Ada beberapa hal yang memang tidak akan berjalan sesuai rencana; Shu Yawang berkata bahwa ia tidak akan bertemu dengan Tang Xiao Tian, tetapi kemudian, mereka bertemu di perempatan di sekitar kamp militer keesokan harinya. Yawang terdiam di tempatnya, tidak dapat bereaksi apa-apa, dan hanya menatap Xiao Tian. Xiao Tian berseragam militer ala-07, membuatnya terlihat ramping dan tampan, ia dengan mudah dapat menarik perhatian orang-orang yang melewatinya. Tang Xiao Tian juga tidak mengira akan bertemu dengan Yawang. Xiao Tian menatap Yawang, kedua matanya dipenuhi keserakahan untuk memeluk Yawang. Sudah berapa lama sejak ia terakhir melihat Yawang? Lama, sudah terlalu lama hingga Xiao Tian tidak mau menghitungnya lagi. Tanpa sadar Xiao Tian maju mendekati Yawang dan mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan Yawang. Yawang tersadar dari lamunan sesaatnya dan menepis lembut tangan Xiao Tian, kemudian melangkah mundur. Xiao Tian dengan canggung menarik kembali tangannya, Yawang menggigit bibirnya dan memasukkan tangannya ke dalam saku jaketnya. Yawang kemudian mengangkat kepalanya dan tersenyum kaku.

“Kenapa kau kembali?”

“Ada beberapa hal berkaitan dengan militer yang perlu kuurus di sini.”

“Oh.” Yawang mengangguk.

“Kau sendiri? Kenapa kau kembali?”

“Aku kembali dengan Xia Mu.”

“Oh, begitu.” Yawang kembali menatap tanah tanpa membalas lagi. Xiao Tian sendiri tidak tahu harus berkata apa lagi, kedua orang itu berdiri di tempatnya masing-masing tanpa suara. Kedua orang yang sangat ingin bertemu kembali, kini bahkan tidak bisa menatap wajah satu sama lain ketika bertemu.

“Oh betul, aku akan bertemu dengan Zhang Jing Yu besok, mau pergi bersama?” Xiao Tian menatap Yawang dengan penuh harap. “Jing Yu bilang… dia merindukanmu.” Yawang mengepalkan tinjunya di dalam saku jaketnya.

“Tidak, aku harus kembali ke Kota W besok. Ada banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan.”

“Kita bisa bertemu hari ini juga kalau begitu, biar kutelepon Jing Yu dulu.” Ketika Xiao Tian hendak menelepon Zhang Jing Yu, Yawang menghentikan Xiao Tian, Yawang mengangkat kepalanya dan menatap Xiao Tian sedih.

“Xiao Tian, lupakan semuanya.”

“Kenapa?” Xiao Tian menatap Yawang dengan ekspresi yang tidak kalah sedih. “Kenapa kau memintaku untuk melupakan semuanya?” Yawang menunduk sambil menjawab dengan tergesa.

“Aku akan pergi ke Amerika dengan Xia Mu dan menikahinya.” Yawang memberitahu semua itu dengan kepala tertunduk. Tidak peduli berapa lama telah terlewati, Yawang masih tidak bisa menghadapi Xiao Tian, ia tidak bisa melihat Xiao Tian terluka. Yang lucu di sini adalah orang yang melukai Xiao Tian yaitu Yawang sendiri! Tang Xiao Tian terdiam sejenak dan hanya menatap Yawang dalam diamnya.

“Kau sudah membulatkan tekadmu?”

“Ya.” Yawang terus menatap tanah.

“Lumayan baik, keputusan yang baik bagi Xia Mu untuk pergi ke Amerika.” Kedua mata Xiao Tian mulai memerah ketika ia memaksakan sebuah senyum.

“Aku masih punya hal lain untuk diselesaikan, aku pergi dulu.”

“Baiklah.” Xiao Tian menunduk dan berjalan melewati Yawang, ketika itu Yawang dapat mendengar gumaman Xiao Tian,

“Selamat tinggal, Yawang.” Shu Yawang menatap lurus ke depan, air matanya jatuh ke tanah.

“Selamat tinggal, Xiao Tian.” Ketika Xiao Tian berjalan melewati Yawang, mereka berdua kelihatan seperti sedang mengingat kembali tentang musim panas ketika mereka berumur delapan belas tahun. Pada perempatan jalan ini, bunga merah yang terbang, janji yang mereka buat…

“Aku akan menunggumu kembali.” Kata perempuan itu.

“Aku pasti akan kembali.” Laki-laki itu berkata. Tetapi pada akhirnya… yang satu menunggu, tetapi menunggu terlalu awal; yang satu lagi kembali, tetapi kembali terlalu lambat. Yang dapat disalahkan hanyalah takdir mereka yang terlalu cepat, tidak mencapai seribu tahun.

| Passion Heaven |

Shu Yawang menggigit bibirnya dan terus berjalan dengan kepala tertunduk. Tiba-tiba, sepasang sepatu kets muncul di depannya. Yawang mengangkat kepalanya, ia tidak dapat melihat dengan jelas siapa yang berdiri di depannya karena air mata yang menghalangi pandangannya. Yawang berkedip sekali, membuat air mata di pelupuk matanya jatuh, dan di sanalah ia akhirnya dapat melihat dengan jelas siapa yang berada di depannya.

“Xia Mu…” Xia Mu menatap Yawang, bibirnya seakan ingin mengucapkan sesuatu, tetapi akhirnya tidak jadi. Xia Mu melangkah mendekati Yawang, ia menggenggam tangan Yawang lalu menghapus air mata Yawang dengan lengan jaketnya.

“Ayo kembali ke Kota W.” Yawang mengerutkan dahinya dan diam-diam menelusuri ekspresi wajah Xia Mu. Yawang ingin meminta maaf, tetapi tidak tahu harus memulai dari mana, jadi ia hanya membiarkan Xia Mu menariknya pergi. Xia Mu menarik Yawang dengan wajah dinginnya, dan ketika mereka berbelok, Xia Mu tidak tahan lagi untuk tidak menoleh, ia melihat Tang Xiao Tian berdiri di seberang sana dengan tatapan sedih. Tatapan mereka bertemu, Xiao Tian memberi tatapan memohon pada Xia Mu, berharap bahwa Xia Mu akan memperlakukan Yawang dengan baik. Xia Mu menghindari tatapan Xiao Tian; ia membenci Xiao Tian, tidak peduli dulu atau sekarang, ia membenci Xiao Tian, sangat membencinya! Karena orang yang dicintai Xia Mu malah mencintai Xiao Tian, walaupun Xia Mu menggenggam erat tangan orang yang dicintainya, Xia Mu masih merasa tidak nyaman. Xia Mu takut kalau-kalau Yawang akan menepis tangannya dan kembali ke sisi Xiao Tian. Jadi Xia Mu hanya bisa segera menarik Yawang pergi secepatnya. Tang Xiao Tian melihat Xia Mu dan Yawang yang perlahan menghilang dari jarak pandangnya. Xiao Tian tersenyum pahit lalu menunduk, perlahan ia memutar tubuhnya untuk berjalan pergi. Xiao Tian meraih ponsel di dalam sakunya dan menelepon seseorang.

“Jing Yu, ayo pergi minum.”

“Baiklah, ketemu di tempat biasa.” Xiao Tian berjalan ke tempat parkir untuk mengambil mobilnya; ia masih menggunakan jeep tua yang diberikan ayahnya ketika Paman Tang pensiun. Xiao Tian membuka pintu mobil dan duduk di kursi pengemudi, ia menyalakan mesin jeepnya. Xiao Tian menatap ke depan dengan tatapan kosong, ia menatap jalanan yang terlihat berjalan mundur ketika mobilnya melaju. Xiao Tian terus melajukan mobilnya ketika tiba-tiba ia berhenti. Ia bersandar di atas setir mobil dan mulai menangis keras. Xiao Tian tahu ia adalah seorang pria, ia tidak boleh menangis seperti ini, Xiao Tian tahu ia adalah seorang tentara, seorang tentara tidak menangis seperti ini. Tetapi, dia pergi, benar-benar pergi. Yawang akan pergi meninggalkan rumah, meninggalkan kamp militer, meninggalkan Kota S, meninggalkan Cina. Yawang akan pergi jauh ke suatu tempat, sangat jauh hingga Xiao Tian tidak dapat bertemu dengannya lagi, tidak dapat melihatnya lagi…

| Passion Heaven |

Malam yang sama ketika mereka bertemu dengan Tang Xiao Tian, Xia Mu membawa Yawang pergi ke Kota W. Selama perjalanan, Xia Mu diam dan cemberut. Shu Yawang menjadi gugup, tidak tahu apa yang harus dikatakannya. Sampai akhirnya mereka sampai di tempat tujuan, barulah ekspresi Xia Mu berubah menjadi lebih tenang. Ketika mereka sampai di Kota W, waktu sudah menunjukkan lewat tengah malam. Yawang menjadi lebih bersemangat dan segera membawa Xia Mu ke tempat tinggalnya. Ketika Yawang membuka pintu, ia terkejut. Apartemen itu benar-benar berantakan; sofa yang dipenuhi pakaian wanita, lantai yang dipenuhi bungkus-bungkus makanan ringan yang dibeli dari supermarket, dan meja yang dipenuhi makanan sisa dan piring kotor. Yawang menghela nafas panjang dan menggeleng.

“Dasar Yuan Zhu, aku tidak di sini, dia langsung mengubah apartemen menjadi seperti ini.” Xia Mu tidak berkata apa-apa dan melangkahkan kakinya memasuki apartemen tersebut. Yawang dengan cepat menarik Xia Mu, bagaimana bisa Yawang membiarkan Xia Mu tinggal di apartemen sekotor ini? Yawang dengan cepat pergi ke dapur untuk mengambil sebuah kursi, ia mengelap kursi tersebut dengan sehelai handuk untuk menghilangkan debu yang menempel sebelum mendudukkan Xia Mu di sana.

“Duduk di sini dulu, aku akan membersihkan ruangan ini.” Xia Mu menarik Yawang dan menundukkan kepalanya, ia kembali menatap Yawang beberapa saat setelah berpikir dalam diam.

“Apa kau harus menjagaku sebaik ini?”

“Hah?”

“Yawang, aku sudah dewasa.” Xia Mu menggenggam tangan Yawang erat dan menatap Yawang tepat di manik matanya. “Aku tidak mau lagi menjadi anak laki-laki yang terus-menerus kau lindungi.” Shu Yawang terdiam di tempatnya; ia hanya ingin Xia Mu berada di lingkungan yang bersih dan nyaman, ia tidak ingin Xia Mu merasa tidak nyaman. Apa dia merasa tidak senang dengan perlakuanku? Yawang tidak tahu harus menjawab apa, jadi ia hanya menatap Xia Mu tidak berdaya. Xia Mu bangkit berdiri dan mendudukkan Yawang di kursi tempat ia duduk tadi, kemudian ia mulai membersihkan apartemen itu. Xia Mu mengambil mangkuk dan sumpit yang berlumuran minyak ke tempat cuci piring dan membuang semua kotak sterofom yang bertebaran di atas meja kemudian membuang semua itu ke dalam tempat sampah. Ada beberapa kali di mana Yawang ingin membantu Xia Mu, tetapi Xia Mu akan memelototinya setiap saat itu juga. Yawang menatap Xia Mu yang sedang membersihkan apartemen dengan kekhawatiran sekaligus kegelian. Ketika Xia Mu hendak membersihkan tumpukan baju kotor Yuan Zhu, Yawang tidak tahan lagi dan langsung berdiri untuk menghentikan Xia Mu.

“Xia Mu.” Xia Mu menoleh.

“Jangan bersihkan lagi. Kau memberitahuku untuk tidak menjagamu seperti anak kecil, tetapi kau juga sama saja. Bersih-bersih adalah tugas perempuan.” Xia Mu menggeleng dan membalas dengan tenang.

“Bukan begitu, sekarang kau sudah di sisiku, jadi kau tidak perlu melakukan apa-apa lagi.” Yawang menunduk dan tersenyum, ia tidak tahu harus membalas apa, tetapi perasaan manis yang dirasakannya dalam hati seperti akan meledak kapan saja. Yawang tahu bahwa kata-kata tersebut tidak manis karena Xia Mu pada kenyataannya bukanlah pribadi yang bisa berkata manis. Tetapi justru karena itulah Yawang merasa tersentuh. Yawang tidak tahu harus melakukan apa lagi selain mendekati Xia Mu dan memeluknya erat-erat. Yawang ingin membagi perasaan bahagianya dengan Xia Mu, ia ingin memberitahu Xia Mu bahwa ia juga tidak ingin Xia Mu melakukan apa-apa untuknya, ia tidak ingin Xia Mu merasa tidak senang walau sedikit pun. Xia Mu mengangkat tangannya dan balas memeluk Yawang erat, ia menyembunyikan wajah tampannya di balik bahu Yawang, mencoba mengingat kembali aroma tubuh Yawang.

Mereka berpelukan dalam waktu yang lama, dan ketika mereka lelah berdiri, Xia Mu membawa Yawang untuk duduk di atas sofa hitam di ruangan tersebut. Keduanya kembali berpelukan di atas sofa, jari-jari panjang Xia Mu dengan lembut menyisir rambut Yawang, Yawang bersandar pada Xia Mu, mendengarkan detak jantungnya yang terasa menenangkan. Xia Mu menyukai aroma tubuh Yawang, kehangatan Yawang, ia tidak ingin melepaskan Yawang. Yawang menyukai pelukan Xia Mu, kehangatan Xia Mu, ia tidak ingin pergi dari Xia Mu. Mereka akan mengobrol sekali-kali, dengan Yawang yang bertanya lembut,

“Xia Mu, apa kau masih ingat pohon-pohon almond blossom di belakang sekolah?”

“Aku ingat.”

“Apa kau tahu kau terlihat paling tampan ketika kau berdiri tepat di tengah-tengah pepohonan tersebut?”

“Apa kau suka?”

“Aku suka.” Ketika Shu Yawang berkata bahwa ia menyukainya, sudut bibir Xia Mu terangkat membentuk senyum, mata indahnya bersinar; ini berbeda dari Xia Mu yang biasanya. Kedua orang itu menatap keluar jendela dan melihat langit cerah yang dipenuhi bintang malam itu, serta sinar bulan yang indah dan menawan.

| Passion Heaven |

Keesokan paginya, Yuan Zhu berdiri tepat di depan Shu Yawang ketika Yawang membuka matanya. Kedua mata Yuan Zhu memancarkan ekspresi mengejek di balik lensa kacamatanya; ia bahkan tersenyum mengejek pada Yawang. Yawang mengulurkan tangannya untuk menyingkirkan wajah Yuan Zhu.

“Kenapa kau tersenyum seperti itu?” Yuan Zhu menaikkan salah satu alisnya, menunjuk ke salah satu arah yang kemudian diikuti tatapan Yawang. Yawang mendapati Xia Mu, yang kakinya digunakan Yawang sebagai bantal, terbangun. Xia Mu menyandar pada sofa; matanya menunjukkan bahwa ia sudah sepenuhnya terbangun untuk beberapa saat. Yawang bangkit duduk dan tersenyum pada Xia Mu.

“Kau sudah bangun?”

“Mhm.” Yawang terlihat sedikit tersipu untuk bangun, dan dia sendiri tidak tahu mengapa, tetapi setelah tadi malam, ia merasa bahwa ada sesuatu yang berbeda; bahwa ia, Shu Yawang, dan Xia Mu terasa jauh lebih dekat sekarang.

“Xia Mu, apa kau masih mengingatku?” Yuan Zhu bertanya sambil tersenyum. Xia Mu mengangguk.

“Ibu Yuan.” Yuan Zhu menyipitkan matanya sambil kembali tersenyum, seakan-akan Xia Mu mengingatnya adalah sebuah hal besar yang patut dibanggakan.

“Haha, ingatan yang baik seperti ini, memang benar-benar muridku.”

“Jangan bangga.” Yawang menggerutu sambil menunjuk ke seluruh ruangan apartemen. “Lihat bagaimana kau mengacaukan satu apartemen ini, cepat bersihkan sana.”

“Aku sebenarnya mau membersihkan tadinya, tetapi sekarang tidak lagi.” Yuan Zhu tersenyum. “Supaya kalian berdua bisa melewati momen manis kalian bersama, aku memutuskan untuk pindah.” Yuan Zhu bertepuk tangan sendiri,

“Tentu saja, kalau kau mau berterimakasih, kau bisa membantuku membersihkan apartemen ini.” Yawang menggeleng tidak setuju.

“Seenakmu saja. Kau boleh pergi kalau kau mau, tapi kau tetap harus membersihkan semua ini.”

“Kalau begitu aku tidak jadi pergi.”

“Baik, aku tidak keberatan.” Ketika kedua wanita itu melanjutkan perdebatan mereka, Xia Mu bangkit berdiri dan mulai membersihkan apartemen tersebut.

“Wah, Xia Mu benar-benar ingin aku pergi.” Yuan Zhu terbahak-bahak. Xia Mu menoleh sejenak, raut wajahnya tetap tenang, tetapi juga terlihat sedikit kaku. Ia sedang berpikir dalam diam, berusaha menemukan kata-kata yang tepat untuk menjelaskan, tetapi setelah beberapa saat, Xia Mu tidak berkata apa-apa. Yuan Zhu menunjuk ke arah Xia Mu dan tertawa.

“Lihat? Dia setuju.” Shu Yawang menepis telunjuk Yuan Zhu.

“Jangan mengejek Xia Mu hanya karena dia tidak suka berbicara.”

“Lihat betapa marahnya kau sekarang, hahaha.”

“Baiklah, aku yang akan membersihkan apartemen ini, keluar kau sana.”

“Oh, Yawang juga mengusirku.” Shu Yawang mengangkat sebelah tinjunya.

“Kesabaranku ada batasnya!” Yuan Zhu terbahak-bahak sambil berjalan menuju kamarnya untuk mengambil barang-barangnya, ia terus tertawa ketika ia berjalan keluar dan tersenyum licik pada Yawang. Tidak lama kemudian, Yuan Zhu pergi dan apartemen kembali sunyi. Yawang merapikan rambutnya dan baru saja akan mengambil alih sapu yang sedang dipegang Xia Mu ketika Xia Mu menghindar dari Yawang.

“Biar aku yang menyapu.” Yawang melihat betapa keras kepalanya Xia Mu, jadi ia tidak berusaha untuk mengelaknya.

“Baiklah, kau menyapu dan aku akan membuat sarapan, oke?” Xia Mu menatap Yawang lalu mengangguk.

| Passion Heaven |

Yawang mengusap matanya dan berjalan ke arah dapur, ia membuka pintu kulkas dan menatap makanan di dalam kulkas. Ada mi, beras, telur, sayur-sayuran, kornet sapi, dan ham. Yawang sejenak ragu dengan apa yang harus dimasaknya untuk sarapan mereka, ia kemudian mengeluarkan bahan-bahan tersebut dari kulkas. Yawang mulai mencuci beras, menguras airnya, kemudian menaruh beras tersebut ke dalam rice cooker. Yawang kemudian mengambil beberapa butir terlur dan menggoreng telur mata sapi. Xia Mu, yang berada di ruang tengah, berhenti melakukan pekerjaannya dan menatap Yawang, pupil matanya menampakkan wajah Yawang; ketika Yawang menunduk, ketika Yawang terbatuk karena asap yang mengepul, ketika Yawang membalikkan spatulanya.

Cahaya matahari pagi bersinar hangat memasuki apartemen, dan ketika Shu Yawang sibuk memasak di dapur, Xia Mu berjalan mendekati area dapur, ia bersandar pada dinding. Xia Mu menatap Yawang dalam diam, kedua sudut bibirnya terangkat, samar-samar terlihat pancaran kebahagiaan dari wajahnya. Shu Yawang berbalik dan menatap Xia Mu dengan kedua alis terangkat.

“Kenapa berdiri di sana dan menatapku seperti itu?” Xia Mu tidak menjawab, jadi Yawang mengulurkan tangannya dan mendorong Xia Mu pelan.

“Jangan dekat-dekat, nanti kau bau asap.” Xia Mu tidak mengalah dan terus menatap Yawang. Yawang hanya bisa tersenyum melihat kekeraskepalaan Xia Mu.

“Lapar? Sebentar lagi selesai.” Yawang baru saja akan berbalik untuk melanjutkan kegiatan memasaknya, tetapi Xia Mu menarik Yawang dan menutup kedua matanya, ia mencium sudut bibir Yawang lembut. Yawang terdiam kaku di tempatnya dengan kedua pipi yang bersemu merah, seperti tidak akan tersadar kalau-kalau ia tidak mencium bau gosong di belakangnya. Yawang dengan cepat berbalik dan membalikkan spatulanya, ia meletakkan telur mata sapi yang sedikit gosong di atas piring. Yawang berpura-pura mengabaikan tatapan Xia Mu, tetapi ketika Yawang menangkap senyum kecil di bibir Xia Mu, ia tidak bisa berbuat apa-apa kecuali tersenyum lembut pada Xia Mu.

| Passion Heaven |

Prosedur pendaftaran Xia Mu ke sebuah sekolah Amerika masih belum selesai, jadi Shu Yawang memutuskan untuk menyelesaikan proyeknya sebelum pergi. Karena Xia Mu tidak punya tempat tinggal dan Yawang tidak tahan untuk meminta Xia Mu pergi, mereka memutuskan untuk tinggal bersama.

Xia Mu akan mengantar dan menjemput Yawang setiap hari, dan ketika mereka berpisah, kedua pasang mata yang saling menatap memancarkan keengganan untuk berpisah. Terkadang, salah satu dari mereka akan menoleh kembali dan tersenyum. Ketika mereka berada di rumah, saat itulah bagi mereka untuk menikmati waktu bersama. Xia Mu dan Yawang akan berbaring di sofa, mengobrol ringan sambil menonton TV dengan segelas minuman hangat di tangan masing-masing. Shu Yawang lebih sering memasak, dan dia akan memenuhi meja makan dengan berbagai macam masakan, ia merasa senang dan puas melihat Xia Mu menghabiskan semua masakannya. Setiap malam, Yawang akan memberikan ciuman selamat malam pada Xia Mu, pagi harinya Xia Mu akan membangunkan Yawang dengan lembut, begitu seterusnya.

Yawang sering duduk di kursi ruang kerjanya, memberitahu Xia Mu tentang rancangannya dengan senyum lebar di wajahnya. Akan ada sebaris pohon willow di samping danau dan sebuah paviliun segi delapan. Di tengah-tengah taman akan ada taman rumput yang luas dan taman bermain akan dibangun di sebelah selatan taman. Di sebelah utara, akan ada sebuah air mancur yang elegan dan sebuah sangkar burung di dekatnya. Akan ada banyak merpati putih di dalam sangkar tersebut, dan ketika orang-orang berjalan melewati daerah tersebut, merpati-merpati tersebut akan beterbangan, membuat taman itu layaknya surga yang dipenuhi malaikat-malaikat bersayap putih. Setiap kali Yawang membicarakan tentang rancangannya, matanya akan bersinar-sinar semangat, membuatnya terlihat seperti seorang gadis manis layaknya ia dulu.

Suatu kali, Yawang sedang duduk di belakang meja kerjanya ketika ia menanyakan Xia Mu sebuah pertanyaan dengan senyum lebar di wajahnya.

“Xia Mu, bunga apa yang kau suka?” Xia Mu meletakkan buku yang sedang dibacanya dan berpikir sejenak.

“Peach blossom.”

“Peach blossom?” Yawang mengerutkan dahinya. “Tetapi ini taman almond blossom!” Yawang berkata dengan nada yang kedengarannya cukup terganggu. Xia Mu tidak suka melihat Yawang seperti itu, jadi ia tersenyum pada Yawang.

“Tidak apa-apa, aku juga suka almond blossom.” Yawang menatap layar komputer di depannya dan sejenak merasa ragu, kemudian matanya bersinar cerah, seperti suatu ide melintas di otaknya. Yawang mengecup pipi Xia Mu dan tersenyum misterius.

“Tunggu sampai tamannya selesai dibangun, kau harus pergi!”

“Tidak masalah.”

“Kau pasti akan terkejut!” Xia Mu menatap kedua mata Yawang yang bersinar dan senyumnya yang lebar, rasa cintanya pada Yawang seakan membuncah keluar dari hatinya. Ia membungkuk dan mencium bibir lembut Yawang, membuat Yawang terkejut dan terpaku karenanya. Yawang menutup kedua matanya ketika ia mulai merasa panas, wajahnya memerah. Mata Xia Mu tersenyum, ia menutup kedua matanya dan memperdalam ciuman mereka. Mereka memisahkan diri setelah beberapa saat. Yawang menunduk menatap lantai, terlalu malu untuk menatap Xia Mu. Kedua sudut matanya memancarkan perasaan tersipu, dan hal itu membuat Xia Mu mengangkat kedua sudut bibirnya. Xia Mu memeluk Yawang erat dan berbicara pada Yawang dengan lembut.

“Sampai saat itu tiba, ayo pergi bersama.” Shu Yawang merasa wajahnya memanas dan ia menganggukkan kepalanya. Xia Mu tersenyum kecil, kemudian beralih memeluk Yawang lagi. Mereka berdua saling berpelukan tanpa sepatah kata pun, tanpa niat untuk berpisah sedikit pun. Yawang membuka matanya dan bersandar pada Xia Mu dengan tenang, ia balas memeluk Xia Mu.

“Xia Mu…” Yawang tanpa sadar memanggil.

“Hmm?” Yawang membuka mulutnya, hendak menanyakan sesuatu. Xia Mu, apakah kau bahagia? Bersama denganku, apa kau bahagia? Tetapi pada akhirnya Yawang mengurungkan niatnya, dan kata-kata tersebut tertahan begitu saja di ujung lidahnya.

“Aku hanya ingin memanggilmu.” Yawang tertawa lembut.

“Hmm.” Yawang tertawa, Xia Mu masih saja seperti ini, tidak berubah sedikit pun. Masih saja menjawab iya, baik, tidak lebih dari satu kata. Tetapi karena kepribadiannya yang dingin dan acuh inilah, Yawang ingin membuat Xia Mu bahagia. Menghabiskan sisa hidup mereka dengan tenang, kehidupan yang damai, sederhana dan tenang, mungkin bagi Xia Mu untuk menghabiskan sisa waktu mereka seperti itu adalah kebahagiaan.

| Passion Heaven |

Tetapi suatu hari ketika Xia Mu membantu Shu Yawang mencari data lokasi yang lupa dibawa Yawang, Xia Mu menemukan sebuah kotak kardus di dalam laci meja kerja Yawang. Kotak kardus itu tampak tua dan lusuh, dan Xia Mu bahkan tidak berpikir dua kali sebelum memutuskan untuk membukanya. Kotak itu dipenuhi surat, dan tidak satu pun dari amplop-amplop tersebut yang pernah dibuka. Xia Mu menatap satu per satu surat tersebut; amplop yang sama, tulisan tangan yang sama, orang yang sama. Xia Mu menutup kembali kotak tersebut dan memalingkan wajahnya dengan marah, ia merasa hatinya sirna. Xia Mu ingin menyimpan kembali kotak tersebut, tetapi ia tidak bisa menahan dirinya untuk mengambil sebuah surat. Xia Mu menatap tulisan tangan tersebut, tulisan tangan yang tidak asing.

Xia Mu ingat bahwa dulu Shu Yawang akan turun ke kotak pos setiap pagi, dan selalu akan ada surat untuknya setiap hari. Yawang akan mengambil surat tersebut dengan senang hati, ia akan menggenggam surat tersebut sambil melompat ke sana kemari. Yawang akan membaca surat tersebut berulang kali sebelum meletakkannya di dalam sebuah kotak. Waktu itu, Yawang juga memunyai sebuah kotak, kotak berwarna merah muda yang sangat cantik. Yawang akan menandai surat-surat tersebut dengan angka kemudian dengan hati-hati meletakkan surat tersebut ke dalam kotak. Jika Yawang sedang luang, ia akan mengeluarkan semua surat dan menghitungnya satu per satu. Xia Mu akan berdiri di luar pintu kamar Yawang dan memerhatikan Yawang yang sibuk menghitung. Saat itu, Yawang masih terasa sangat jauh dari Xia Mu. Senyum Yawang, sepasang mata indahnya, hatinya, semua diberikan pada seorang pria nun jauh di sana bernama Tang Xiao Tian.

Xia Mu duduk dan mengeluarkan semua surat dari dalam kotak tersebut, ia menghitungnya satu per satu. Surat-surat itu kemudian jatuh begitu saja dari tangan Xia Mu, sama seperti perasaannya sekarang. Tepat ketika itu, Yuan Zhu memasuki apartemen dan melihat bahwa pintu ruang kerja terbuka, jadi ia memutuskan untuk masuk dan mendapati Xia Mu di sana, ia menyapa Xia Mu dengan sebuah senyum hangat.

“Xia Mu, kau sudah pulang?” Yuan Zhu berjalan mendekati Xia Mu dan memerhatikan kotak yang sedang dipegang Xia Mu.

“Oh! Surat-surat itu…” Xia Mu menghentikan kegiatannya dan beralih menatap Yuan Zhu.

“Ada apa dengan surat-surat ini?” Yuan Zhu mengerucutkan bibirnya sejenak dan menatap surat-surat tersebut dalam kebingungan.

“Sebelum kau datang, Yawang menyuruhku untuk membuangnya. Aneh, aku yakin aku sudah membuangnya di tempat sampah. Kenapa masih ada di sini?” Badan Xia Mu tiba-tiba bergetar dipenuhi amarah, pelupuk matanya mulai berair dan ia menatap Yuan Zhu dengan tatapan kosong.

“Apa kau sedang menghitungnya tadi? Tidak perlu, semuanya ada 1089 surat, Yawang menghitungnya hampir setiap hari. Dia hanya menghitungnya, tetapi tidak membacanya, benar-benar orang aneh…”

“Xia Mu, kau baik-baik saja?” Yuan Zhu bertanya hati-hati. Xia Mu tidak menjawab dan Yuan Zhu menatapnya dengan rasa bersalah, seakan-akan ia sudah mengatakan hal yang tidak seharusnya dikatakan…

“Kalau tidak ada apa-apa, aku pergi dulu.” Yuan Zhu bergegas menuju kamarnya dan mengambil barang-barangnya, kemudian keluar dari apartemen dengan panik.

| Passion Heaven |

Shu Yawang sudah menunggu Xia Mu seharian di kantornya, tetapi Xia Mu tidak kunjung datang. Yawang merasa khawatir dan memutuskan untuk menelepon Xia Mu, tetapi tidak dijawab. Yawang khawatir sesuatu terjadi pada Xia Mu, jadi ia dengan segera meminta izin untuk pulang lebih awal. Sesampainya di rumah, Yawang merasa lega melihat Xia Mu sedang duduk di ruang kerjanya.

“Apa yang terjadi? Kau tidak datang dan tidak menjawab telepon, membuatku khawatir saja.” Yawang mengerutkan dahinya. Xia Mu menunduk dan tidak menjawab sepatah kata pun. Yawang merasa tidak nyaman dengan hal itu dan mendekati Xia Mu.

“Xia Mu?” Detik selanjutnya, Yawang yang baru menyadari tumpukan surat-surat di atas meja, sibuk menaruh kembali surat-surat tersebut ke dalam kotak.

“Itu, ini… ini… Aku berencana untuk membuangnya.” Yawang berusaha menjelaskan dengan panik.

“Kau membuangnya lalu diam-diam mengambilnya kembali?” Yawang menghentikan pekerjaannya dan menggigit bibir bawahnya, ia kemudian memaksakan sebuah senyum konyol pada Xia Mu.

“Apa yang sedang kau bicarakan?”

“Kau masih mencintai Tang Xiao Tian. Shu Yawang masih mencintai Tang Xiao Tian.” Suara Xia Mu terdengar sedih.

“Tidak… tidak. Aku, aku… menyukaimu.” Yawang berusaha meyakinkan Xia Mu.

“Bohong!” Sepasang mata dingin Xia Mu menghujam manik mata Yawang, setiap kata-katanya mengandung rasa sakit. “Kau mencintai Tang Xiao Tian, kau akan mencintainya selamanya, kau hanya akan mencintainya! Aku tahu, Shu Yawang yang tidak mencintai Tang Xiao Tian, tidak mungkin adalah Shu Yawang.”

“Xia Mu!” Yawang berteriak, air mata sudah membasahi pipinya. Yawang maju beberapa langkah lalu menggenggam kedua tangan Xia Mu erat.

“Xia Mu, aku menyukaimu, sangat menyukaimu. Aku ingin bersama denganmu, aku ingin memberikanmu kebahagiaan.”

“Lalu Yawang, bagaimana dengan kebahagiaanmu?” Tatapan Xia Mu melembut seiring dengan nada bicaranya. “Bisakah aku memberimu kebahagiaan?”

“Bisa!” Yawang menatap Xia Mu dengan keras kepala. “Kau bisa memberiku kebahagiaan.” Xia Mu tidak menjawab, ia mengerutkan dahinya, raut wajahnya tampak sedih.

“Xia Mu…” Yawang memanggil cemas, ia mencengkeram kedua lengan Xia Mu. “Cukup, sudah cukup. Kita sudah melewati banyak hal untuk bisa bersama, bukan? Bukankah beberapa hari ini kita baik-baik saja? Bukankah kita bahagia? Kenapa kau seperti ini? Kau tidak percaya padaku? Aku benar-benar ingin bersama denganmu!” Yawang mulai menangis lagi, Xia Mu kemudian memeluknya.

“Jangan menangis, Yawang, jangan menangis. Aku tahu, kita bersama, selamanya bersama.” Yawang balas memeluk Xia Mu erat, ia menangis dalam pelukan Xia Mu.

“Maaf, maafkan aku, jangan marah padaku. Aku akan membuang semua surat itu, kali ini, aku tidak akan mengambilnya kembali.” Xia Mu kembali terdiam. Xia Mu tahu bahwa sekalipun Yawang bisa membuang semua surat-surat dari Xiao Tian, bisakah Yawang membuang orang yang selama ini menetap di hatinya? Bisakah Yawang? Dengan hati yang tidak sepenuhnya pada Xia Mu, benarkah Yawang benar-benar bahagia?

| Passion Heaven |

Keesokan harinya, ketika Shu Yawang masih tertidur lelap, Xia Mu pergi, dan kalung berliontin ikan yang selalu dipakai Yawang juga lenyap. Ketika Yawang bangun dan menyadari hal tersebut, ia kalang-kabut mencari Xia Mu, sebelum pada akhirnya menemukan sebuah surat di atas meja.

Biarkan cinta bebas. –Xia Mu

“Kenapa kau pergi? Kenapa kau tidak percaya padaku? Kenapa?” Yawang mengulang kalimat tersebut berulang kali sambil menggenggam erat surat di tangannya, perlahan ia terduduk di lantai. Kali ini, Yawang tidak menangis, ia tidak akan menangis, tidak akan, karena seseorang yang memberitahu Yawang bahwa ia merasa ingin membunuh orang lain ketika Yawang menangis, pergi. Ketika Yuan Zhu pulang, Yawang terduduk diam di sudut ruangan ruang tengah. Walaupun Yuan Zhu berjalan melewati Yawang, ia tidak menyadari keberadaan Yawang. Tidak, sampai ketika Yuan Zhu keluar dari kamarnya setelah mengambil barang-barangnya. Yuan Zhu menepuk dadanya terkejut.

“Sedang apa kau? Duduk di sana seperti hantu, kau ingin menakut-nakuti orang sampai mati?” Yuan Zhu melirik sekeliling apartemen dengan curiga.

“Di mana Xia Mu?” Shu Yawang awalnya tidak menjawab, namun kemudian ia membuka suara.

“Dia pergi.”

“Pergi? Kenapa?”

“Xia Mu bilang ingin membebaskanku.” Yawang memejamkan matanya, ia mencengkeram rambutnya dengan frustasi. “Bebas? Apa itu bebas? Aku tidak perlu dibebaskan olehnya.” Yuan Zhu menghembuskan nafas panjang kemudian berjongkok di samping Yawang.

“Yawang, apa karena kau merasa bersalah maka kau ingin bersama dengan Xia Mu untuk menebusnya?”

“Aku…”

“Jangan menyanggah secepat itu, pikirkan baik-baik. Apa kau benar-benar mencintai Xia Mu? Mencintainya lebih dari kau mencintai Tang Xiao Tian?” Yawang memejamkan kedua matanya dan mengernyit.

“Yawang, kalau kau tidak cukup mencintainya, kau harus melepaskannya. Kau harus membebaskan Xia Mu.” Yawang menatap Yuan Zhu dengan tatapan kosong, rambut panjang dan kusutnya jatuh menutupi wajahnya.

“Tidakkah kau berpikir bahwa Xia Mu pantas mendapatkan cinta yang utuh dan tulus?”

“Ya, dia pantas.” Yawang menjawab, setetes air mata jatuh di pipinya. “Xia Mu seharusnya punya masa depan yang cerah, cinta yang indah, keluarga yang hangat, hidup yang sempurna…”

“Yawang…”

“Aku tahu aku seharusnya melepaskan Xia Mu, tapi…” Yawang menunduk. “Tapi, tapi aku mencintainya. Kenapa kalian tidak ada yang memercayaiku?”

“Aku benar-benar mencintainya. Aku benar-benar ingin bersama dengannya. Dia adalah hal pertama yang ingin kulihat di pagi hari ketika aku bangun, aku ingin mengucapkan selamat malam padanya setiap malam. Aku ingin membangun sebuah keluarga yang penuh kehangatan dengannya, aku ingin memberinya kebahagiaan… Aku mencintai Xia Mu! Aku benar-benar mencintainya…”

Bagaimana mungkin Yawang tidak mencintai Xia Mu? Sejak detik Yawang melihat Xia Mu berdiri dengan pistol di tangannya, sejak Xia Mu menyelamatkan Yawang dari ambulans, sejak hari ketika Xia Mu menyuruh Yawang untuk menggugurkan bayinya, perhatian dan perasaan yang dirasakan Xia Mu pada Yawang mulai menyusup dalam hati Yawang.

Yawang tidak bisa melupakan Tang Xiao Tian, itu betul, Xiao Tian adalah seseorang yang berarti bagi Yawang. Tetapi rasa cinta Yawang terhadap Xiao Tian perlahan berkurang, mungkin setelah beberapa saat, Yawang akan bisa melupakan Xiao Tian dan menemui Xiao Tian sebagai teman lagi. Memang semua salah Yawang, ia tidak mengekspresikan hati dan pikirannya dengan cukup jelas, ia sudah melakukan sesuatu yang menyebabkan kesalahpahaman, Yawang pantas mendapatkan semua ini.

“Kalau begitu cari dia! Katakan semuanya dengan jelas!”

“Dia tidak akan percaya, Xia Mu tidak percaya padaku.”

“Kalau begitu beritahu sampai dia percaya! Yawang, bukankah kau bilang kau ingin memberi Xia Mu kebahagiaan? Pergilah!” Shu Yawang mengangkat kepalanya.

“Kau benar! Aku harus mencarinya, menjelaskan semuanya, dan tidak membiarkannya diam-diam pergi lagi. Tidak peduli ke mana Xia Mu akan pergi, aku akan ikut dengannya.”

“Semoga berhasil! Aku mendukungmu!” Yuan Zhu mengangkat kepalan tangannya, memberi semangat pada Yawang. Yawang menelepon Paman Zheng dan memohon pada beliau untuk memberitahu tentang keberadaan Xia Mu. Awalnya, Paman Zheng tidak mau, tetapi karena Yawang terus memohon, beliau akhirnya menyerah. Xia Mu sekarang berada di sebuah hotel bintang lima di Kota W, dan akan berangkat ke Amerika besok dengan penerbangan pukul 10 pagi. Yawang menutup telepon dan menyambar jaketnya sebelum bergegas keluar dari apartemen. Yawang yakin, kali ini, dia tidak akan ragu. Yawang akan menggenggam tangan Xia Mu erat dan memberitahu Xia Mu bahwa ia mencintainya sampai Xia Mu percaya padanya.