CHAPTER XVII: Dalam Hidup Ini, Jika Kau Tidak Datang, Aku Tidak Akan Menua

XMOaS

Terkadang, ketika merindukan sesuatu, hal itu akan berlaku untuk selamanya. Apa kau akan mengalaminya di kehidupan selanjutnya?

Malam itu lampu-lampu jalan bersinar terang menerangi jalan, hawa udara cukup dingin. Xia Mu berdiri di atas jembatan penyeberangan, sambil meneguk bir kalengnya, ia melihat ke bawah di mana mobil-mobil berlalu-lalang. Xia Mu menyukai hal ini; berdiri sendiri di bawah lampu jalan dan memerhatikan jalanan yang sibuk, Xia Mu merasa tenang; ketenangan seperti seolah-olah waktu dihentikan saat itu. Xia Mu mengangkat tangan yang memegang kaleng bir dan kembali meneguk birnya, merasakan pahit yang mengaliri indera pengecapnya. Sudah satu jam sejak ia pergi. Xia Mu kembali berpikir, jika saja Yawang bangun saat ia pergi tadi, ia pasti mengubur niatnya dalam-dalam untuk meninggalkan Yawang. Tetapi ketika ia memutar badannya dan menatap Yawang, Xia Mu hanya bisa berharap bahwa mata Yawang yang tertutup akan terbuka dan Yawang akan memanggilnya, memintanya untuk tetap tinggal. Rupanya seorang Xia Mu bukanlah seorang yang jelas keinginan hatinya. Xia Mu tertawa pahit dan sekali lagi meneguk birnya dengan alis tertaut. Tidak, ia terlalu rakus; Xia Mu ingat saat ia masih kecil, ia merasa puas hanya dengan dapat melihat Yawang setiap harinya. Tetapi sekarang? Xia Mu terus mengharapkan sesuatu yang lebih; senyum Yawang yang hangat, ciuman yang manis, semua itu tidak memuaskannya. Xia Mu menginginkan hati Yawang, jiwa Yawang, Xia Mu ingin Yawang menjadi miliknya seutuhnya. Xia Mu tahu bahwa hal ini tidak mungkin didapatkannya, tetapi ia tetap menginginkannya. Xia Mu mengalihkan tatapannya dan meneguk habis bir di kalengnya, kemudian membuang kaleng kosong itu ke tempat sampah. Xia Mu kemudian berjalan menuruni jembatan tersebut, tangannya dimasukkan ke dalam saku jaket, ia berjalan sambil menundukkan kepala.

Angin malam yang berhembus kencang mengusir rasa mabuknya, Xia Mu sepenuhnya masih sadar, tetapi ia berharap tidak. Tidak jauh dari Xia Mu adalah sebuah bar kelas atas dengan lampu warna-warni yang menarik perhatiannya. Xia Mu tidak berpikir dua kali ketika ia melangkahkan kakinya ke dalam tempat tersebut. Cahaya lampu yang berkedap-kedip menciptakan suasana lovey-dovey di dalam bar; laki-laki dan perempuan duduk berdua atau bertiga di satu meja. Xia Mu mendudukkan dirinya di sudut ruangan dan memesan beberapa kaleng bir. Tidak jauh dari tempat duduknya adalah dua pria dan tiga wanita, ketika Xia Mu memasuki bar, ia menarik perhatian semua wanita yang berada di tempat tersebut. Pria di samping salah satu dari tiga wanita tersebut terlihat tidak begitu senang.

“Apa yang kau lihat?”

“Laki-laki itu tampan.”

“Yang mana?” Pria itu melihat ke arah yang sedang diperhatikan si wanita.

“Huh, biasa saja.” Wanita itu terus memerhatikan Xia Mu ketika ia berkata,

“Kalau dia hanya laki-laki biasa, aku rela mengorbankan apapun untuk mendapatkannya!” Pria lain di samping wanita tersebut menoleh sambil tertawa pelan, ia penasaran dengan laki-laki yang dapat membuat seorang wanita mau melakukan apapun untuk mendapatkannya hanya setelah tatapan pertama. Tetapi ketika pria lain itu dapat melihat dengan jelas, senyumnya menghilang dan ia perlahan menunduk, lensa kacamata tidak berbingkainya memantulkan cahaya putih, membuat ekspresi wajahnya tidak terlihat. Ia mengepalkan kedua tinjunya kemudian bangkit berdiri, aura dingin dan mematikan terpancar dari tubuhnya. Ia memasukkan satu tangannya ke dalam saku celana dan mengeluarkan ponselnya, menyempatkan diri untuk melihat Xia Mu sekali lagi sebelum menghilang di antara kegelapan. Setelah Xia Mu menghabiskan beberapa kaleng birnya, ia terduduk diam di tempatnya sejenak. Ketika bar tersebut mulai memutarkan musik rock, Xia Mu mengernyitkan dahinya dan berjalan keluar.

| Passion Heaven |

Sudah tengah malam ketika Xia Mu berjalan keluar dari bar, tidak terlihat seorang pejalan kaki pun di kota yang biasanya padat ini. Setelah beberapa langkah, Xia Mu merasakan sekelabat angin dingin yang menyerangnya dari belakang. Xia Mu mengulurkan tangannya untuk menghalau serangan tersebut, tetapi ia mendengar bunyi retakan. Suara sepotong batangan besi yang mengenai tulangnya, Xia Mu dapat merasakan sakit yang luar biasa akibat pukulan tersebut. Xia Mu belum sempat bereaksi ketika cahaya putih menyilaukan melewatinya. Xia Mu memegang lengannya dan dengan sigap dapat menghindari serangan tersebut, membuat kakinya terhuyung mundur dua langkah. Xia Mu memerhatikan adegan di depannya, empat orang pria dengan sepotong batangan besi di masing-masing tangan mengelilinginya. Di sudut jalan tidak jauh dari tempat kejadian, seorang pria lain yang memakai jas dengan sebatang rokok di tangannya berjalan mendekati mereka, bibirnya membentuk sebuah senyum licik.

“Xia Mu, mari selesaikan persoalan lama kita hari ini.” Xia Mu, yang berdiri di tengah-tengah kerumunan empat pria kekar, menatap dingin pria yang berjalan mendekatinya itu.

“Qu Wei Ran, kau tidak mati ternyata.” Qu Wei Ran menggoyangkan telunjuknya.

“Bagaimana aku bisa mati kalau kau belum mati?” Wei Ran akan selamanya mengingat rasa sakit yang diberikan Xia Mu untuknya! Ia ingin sekali membalaskan dendamnya, bagaimana Xia Mu membuatnya tak berdaya dulu, ia akan melakukan hal yang sama pada Xia Mu. Qu Wei Ran tertawa dingin, ia kemudian menjatuhkan puntung rokoknya dan menginjaknya.

“Pukul dia.” Keempat pria tersebut mengangkat besi di tangan masing-masing ketika mendengar perintah Wei Ran dan langsung menerjang Xia Mu. Dalam sekejap, batangan besi yang dingin mengenai tubuh Xia Mu berkali-kali, darah segar mengalir dari mulut Xia Mu dan ia menjerit tertahan ketika rasa sakit itu perlahan menyerang seluruh tubuhnya. Sebuah pukulan mengenai dadanya, dan Xia Mu kembali memuntahkan darah segar dari mulutnya. Serangan lain datang mengenai kepala Xia Mu, pandangannya mengabur ketika ia membungkuk untuk menahan serangan tersebut. Darah mengalir keluar dari matanya, membuat dunia yang dilihatnya menjadi sebuah dunia yang dipenuhi darah. Xia Mu membuka matanya dan melihat Qu Wei Ran yang berdiri jauh dari tempatnya. Qu Wei Ran sedang menatap Xia Mu dengan senyum dinginnya, dari pancaran matanya terlihat bahwa ia sangat menikmati adegan ini.

“Nikmatilah, Xia Mu. Mulai sekarang, kau juga akan merasakan bagaimana menjadi orang lumpuh.”

Potongan besi lain menyerang Xia Mu, ia terbatuk dengan darah yang mengalir keluar dari mulutnya setelah itu. Tiba-tiba, Xia Mu mengulurkan tangannya dan merebut sepotong batangan besi! Ia menerobos keempat pria kekar itu dan berlari menyerang Qu Wei Ran. Ketiga pria lain yang masih memiliki potongan besi di tangan mereka mengejar Xia Mu dan memukul punggung ringkih Xia Mu. Salah satu dari pria tersebut melihat bahwa Xia Mu tidak bisa lagi menyerang balik, jadi ia memberikan serangan terakhir, ia melempar batangan besi di tangannya ke arah Xia Mu. Besi itu mengenai kepala Xia Mu dan membuat Xia Mu terhuyung, darah mengalir keluar dari pelipis Xia Mu. Tetapi Xia Mu tidak menyerah, ia terlihat seperti seekor binatang buas yang tersudut sehingga harus menampakkan cakarnya dan menerjang Qu Wei Ran dengan buas. Qu Wei Ran mulai panik, topeng seorang gentleman yang dipakainya sedari tadi dilepaskannya begitu saja. Xia Mu mengayunkan potongan besinya ke arah Wei Ran, tetapi Qu Wei Ran lebih dulu memutar tubuhnya dan segera berlari pergi. Namun setelah beberapa langkah, cahaya yang menyilaukan menyerang, diikuti dengan suara decitan ban mobil dan sebuah dentuman keras. Qu Wei Ran merasa tubuhnya melayang, Xia Mu berhenti mengejar Qu Wei Ran dan menatapnya dingin. Ketika keempat pria tersebut menatap kejadian di depan mereka, secepat kilat mereka menjatuhkan batangan besi di tangan mereka dan berlari kabur dengan panik.

| Passion Heaven |

Darah terus mengalir tanpa henti dari dahi Xia Mu ketika ia menggenggam potongan besi di tangannya dan menatap pria yang terbaring di tanah berusaha mengambil nafas. Ini yang kedua kali; kedua kalinya Xia Mu menyaksikan kematian Wei Ran. Tetapi seperti kali pertama, Xia Mu tidak menyesali apapun, tidak sedikit pun. Qu Wei Ran balas menatap Xia Mu, ia kesulitan bernafas. Ini adalah kedua kalinya ia mati di tangan Xia Mu.

Wei Ran ingat pertama kali, ketika ia sedang mengadakan sebuah rapat, tetapi ia tidak ingat bahasan rapat kali itu. Wei Ran tersenyum pada orang-orang yang berusaha membuatnya senang sekaligus menghinanya dalam hati, ya, orang-orang itu memandang rendah Wei Ran. Jika saja anak pertama ayahnya tidak meninggal, apakah orang-orang ini akan memerhatikannya? Ketika orang-orang ini memihak anak laki-laki istri pertama ayahnya untuk menggertak dan mengejek Wei Ran, pernahkah mereka berpikir bahwa suatu hari seorang Qu Wei Ran akan menjadi penerus perusahaan ini? Wei Ran mengangkat kedua sudut bibirnya membentuk sebuah senyum, ia tersenyum bahagia. Semua orang di dalam ruang rapat itu menundukkan kepalanya dan tidak berani membuat suara sekecil apapun. Ketika Qu Wei Ran sedang berdebat dengan seorang petinggi perusahaan lain, seorang pemuda dengan tatapan mematikan membuka ruang rapat tersebut. Wei Ran dapat mengenali pemuda tersebut hanya dengan sekali tatap, pemuda itu mempunyai kekhasan tampang yang membuatnya mudah diingat.

Sepasang mata pemuda itu tampak ganas, seolah-olah kapan saja ia siap untuk menerkam dan mengoyak kulit Wei Ran. Tetapi Wei Ran tidak pernah takut, ia malah berpikir bahwa hal ini menarik. Wei Ran menyukai ini, ia suka ketika orang-orang membencinya sampai ke titik didih. Ketika pemuda itu menyerangnya, Wei Ran bersiap untuk mencemoohnya, bertanya apakah ia benar-benar ingin membunuh seorang Qu Wei Ran. Wei Ran bahkan berpikir untuk menyerang balik, ia hanya perlu memukulnya dua kali, tidak akan sakit, bahkan tidak menggelitik sedikit pun. Tetapi Wei Ran tidak pernah berpikir bahwa pemuda itu bahkan tidak memberikannya kesempatan untuk berbicara ketika pemuda itu mengangkat pistol di tangannya, lubang hitam pistol itu memandang tepat di manik mata Wei Ran. Ekspresi yang terpancar dari sepasang mata pemuda tersebut waktu itu sama saja seperti sekarang, ekspresi seekor binatang buas; dingin, kejam, dan menginginkan kematian.

Ketika peluru itu menembus tubuh Wei Ran, ia tidak merasakan sakit, hanya saja ia tidak pernah terpikir bahwa pemuda itu akan menembaknya tanpa berpikir dua kali. Kali itu, Wei Ran tidak mati di tangan pemuda tersebut, tetapi ia juga tidak menyangka bahwa hari ini… Dan tiba-tiba, Wei Ran tertawa, tawa yang pahit.

“Sepertinya… aku memang… ditakdirkan… untuk mati… di tanganmu… hehehe…” Qu Wei Ran tertawa sembari perlahan menutup kedua matanya. Sebenarnya, Wei Ran tidak takut mati, ia hanya takut bahwa setelah ia mati nanti, tidak akan ada yang menangis untuknya. Wei Ran pernah mendengar bahwa ketika manusia meninggal, kenangan terindah mereka akan berputar di depan mereka. Tetapi kenapa ketika Wei Ran menutup matanya, ia tidak melihat apapun? Kenapa? Kenapa tidak ada kenangan indah yang berputar di depan matanya?

| Passion Heaven |

Xia Mu, yang masih berdiri di tempatnya, menatap Qu Wei Ran dengan dingin, ia memerhatikan Wei Ran sampai pria itu menutup kedua matanya dan berhenti bernafas, sebelum pada akhirnya ia berbalik dan mulai melangkah pergi. Xia Mu melepaskan genggamannya pada potongan besi di tangannya, membuat besi itu terjatuh begitu saja ke tanah. Darah masih terus mengalir dari dahinya ketika Xia Mu terus berusaha berjalan tanpa sempoyongan. Tiba-tiba Xia Mu ingin menemuinya, menemui Yawang, kembali ke sisi Yawang, ia harus kembali ke sisinya, sisi Yawang, ia harus pulang; Xia Mu tidak dapat berpisah dengan Yawang.

Xia Mu terhuyung sesaat sebelum akhirnya jatuh ke tanah, ia beberapa kali memuntahkan darah, wajah tampannya dipenuhi darah. Lengan dan kakinya mulai mengejang dan Xia Mu berusaha untuk kembali bangkit, tetapi ia langsung terjatuh sebelum sempat berdiri. Sepasang matanya yang dingin dan kosong melebar, ia kesusahan bernafas. Perlahan, ia berhenti bergerak, tatapannya kosong dan pupil matanya melebar. Ia seperti seekor ikan yang terlempar ke darat dan berusaha untuk berjuang, mulut Xia Mu tergagap dengan darah yang bercampur air liur ketika ia menggumam,

“Yawang, Yawang, Yawang…” Suara Xia Mu perlahan melemah dan ia menutup kedua matanya dengan lembut. Tepat di depannya tampak sebuah film hitam dan putih dengan adegan yang terus berganti satu per satu. Kamp militer yang familiar, perjalanan dua puluh menit ke sekolah, hari yang bersinar cerah, vila tiga tingkat, pertemuan pertama, dan orang yang sangat dicintainya. Ia seperti kembali pada musim panas tahun itu, pertemuan pertamanya dengan Yawang. Xia Mu kecil berpegangan pada susuran tangga sambil menuruni anak tangga satu per satu. Yawang mendengar langkah kakinya dan mengangkat kepalanya, Yawang menatap Xia Mu kecil dengan senyum di wajahnya. Yawang tersenyum lembut, tampak anggun dan jelita. Xia Mu kecil membalas senyum Yawang.

Yawang berkata: “Halo, namaku Shu Yawang. Kau bisa memanggilku Yawang jiejie.” Itu adalah kalimat pertama yang diucapkan Yawang padanya, tetapi ia tidak pernah memanggilnya jiejie, tidak pernah…

| Passion Heaven |

Waktu menunjukkan sudah lewat tengah malam, di sebuah kota sunyi yang hanya dihiasi lampu-lampu yang remang-remang itu dapat terlihat genangan darah, membuat tempat tersebut tampak mengejutkan. Tidak jauh dari tempat tersebut, di sebuah hotel berbintang lima, seorang wanita dengan tekad kuat yang tercetak jelas di wajahnya berdiri tegak di lobi hotel, menunggu seseorang untuk kembali berdiri di hadapannya. Wanita itu akan memeluk orang yang ditungguinya itu erat-erat dan berkata,

“Xia Mu, aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Aku tidak berpura-pura, tidak memaksakan diriku untuk semua ini, aku hanya mencintaimu.” Yawang berpikir bahwa ketika ia mengatakan hal tersebut, Xia Mu akan tersenyum. Senyum Xia Mu yang berharga dan menghangatkan itu, Yawang pasti akan melihatnya lagi. Pintu lobi terbuka dan menutup, terbuka dan menutup, begitu seterusnya, dengan wajah-wajah yang tidak dikenal Yawang berlalu-lalang satu per satu. Yawang mulai merasa gelisah, ia berjalan ke luar hotel untuk melihat sekeliling. Dua buah mobil ambulans melewatinya, suara sirene yang terdengar subuh itu membuat hati Yawang terasa tidak enak. Yawang mengernyitkan dahinya dan mulai khawatir. Adegan ketika ia berumur dua puluh dua tahun, yang disembunyikan di bagian terdalam memorinya, kembali muncul menghantuinya. Tubuh Yawang mulai bergetar tanpa ia sadari, Yawang menarik nafas dalam-dalam berkali-kali, memaksa otaknya untuk tidak berpikir terlalu jauh, tidak apa-apa, tidak ada yang terjadi. Yawang berjalan bolak-balik di depan hotel, melihat ke kejauhan di depannya dengan seksama. Yawang terus menunggu, menunggu sampai fajar mulai menampakkan warnanya ketika tiba-tiba ia mendapatkan jawaban. Sebuah panggilan telepon, dari nomor tidak dikenal. Yawang menatap ponselnya yang bergetar, ia tidak tahu kenapa, tetapi ia takut untuk menerima panggilan tersebut. Namun pada akhirnya, Yawang menjawab telepon tersebut. Suara di ujung telepon terdengar dingin, dan kata-kata yang didengar Yawang benar-benar mengerikan.

“Halo, ini Rumah Sakit Negeri Kota W. Teman Anda, Xia Mu, dibawa ke rumah sakit ini sekitar pukul satu subuh tadi untuk penanganan medis, tetapi karena kepalanya dipukul dengan benda keras berulang kali, kami tidak berhasil menyelematkannya. Kami menyatakan waktu kematiannya pukul 4:16 pagi tadi.” Shu Yawang menggenggam ponselnya erat-erat sambil mendengarkan suara di ujung telepon dengan tatapan kosong. Yawang tidak bereaksi apapun, hanya terdiam di tempatnya tanpa bergerak sedikit pun. Tidak, Yawang tidak menangis, tidak berteriak. Ia tidak mendengarnya, tidak mendengar apapun. Yawang berpikir bahwa ia pasti kelelahan karena menunggu terlalu lama sehingga ia bermimpi seperti ini, mimpi di mana seorang sakit jiwa meneleponnya dan memberitahu bahwa Xia Mu meninggal. Bagaimana bisa Xia Mu mati? Yawang punya banyak hal yang ingin dikatakannya pada Xia Mu, sangat banyak. Yawang ingin memberikan Xia Mu kebahagiaan terbesar pertamanya, kebahagiaan terbesar keduanya, Yawang ingin memberikan Xia Mu segalanya. Yawang akan mencintai Xia Mu seperti Xia Mu mencintainya.

“Nona Shu, tolong datang ke rumah sakit, masih ada beberapa dokumen…” Yawang memutuskan panggilan tersebut dan mencabut baterai ponselnya dengan marah. Tidak, ia tidak mau mendengar apapun, tidak mau memercayai apapun! Yawang berlari pulang dan menutup pintu kamarnya, ia menolak segala macam panggilan telepon. Yawang mengabaikan ketukan di pintu kamarnya, ia tidak ingin siapapun membicarakan tentang Xia Mu! Yuan Zhu mengguncang bahu Yawang, memberitahu Yawang untuk menenangkan diri, untuk menghadapi kenyataaan, memberitahu Yawang bahwa jika ia ingin menangis, menangislah. Shu Yawang meneriaki Yuan Zhu dan menyuruhnya keluar. Yawang tidak ingin mendengar apa-apa, tidak ingin menenangkan diri, tidak ingin menguatkan diri, tidak ingin menangis! Xia Mu belum meninggal! Tidak, pasti tidak, bukan! Tetapi walaupun Yawang tidak ingin mendengar, tidak ingin memercayai segala hal yang didengarnya, kenyataan tetaplah kenyataan. Xia Mu sudah meninggal, ia sudah pergi. Xia Mu sudah terbaring di dalam peti dengan tubuh dipenuhi luka.

| Passion Heaven |

Dua hari kemudian, ayah Shu Yawang menarik Yawang keluar dari apartemennya di Kota W untuk melihat Xia Mu yang terakhir kalinya. Yawang berteriak dan menolak; ia tidak ingin pergi, ia tidak akan pergi, Yawang akan tetap tinggal di tempatnya. Ia akan menunggu di sini, tempat di mana ia dan Xia Mu melewati kenangan terindah mereka bersama-sama. Jika Yawang tetap di sini, Xia Mu pasti akan kembali. Yawang tidak percaya bahwa Xia Mu telah meninggal, tidak akan percaya! Xia Mu hanya marah padanya, jadi ia pergi ke Amerika. Xia Mu pasti pulang, karena Yawang berada di sini, jadi Xia Mu pasti akan pulang. Xia Mu mencintai Yawang, ia tidak dapat dipisahkan dari Yawang, sama seperti Yawang yang tidak bisa terpisah dari Xia Mu. Ayah Yawang menampar Yawang, air mata mengaliri pipinya ketika ia membentak Yawang.

“Bagaimana bisa kau tidak pergi untuk melihat anak itu? Bagaimana anak itu bisa beristirahat dengan tenang?!” Yawang mengusap pipinya yang ditampar, perlahan ia jatuh berlutut dan duduk terdiam di lantai. Wajahnya tidak berekspresi; ia menggigit bibir bawahnya dengan tubuh yang bergetar perlahan. Air matanya seperti air terjun yang menuruni pipinya. Tidak, ia tidak tahan lagi! Yawang menangis tersedu-sedu di lantai.

Shu Yawang bersandar pada ayahnya ketika ayahnya membawa Yawang ke kamar mayat di rumah sakit di mana Yawang dapat melihat Xia Mu. Yawang terus menangis ketika ia perlahan mendekati Xia Mu, ia membungkuk untuk menatap Xia Mu lebih dekat. Anak yang jarang tersenyum selama hidupnya ini, tersenyum indah ketika ia meninggal. Ia tidak seperti orang meninggal, ia seperti tertidur dengan mimpi indah yang berputar di depannya, mimpi di mana ia merasakan saat-saat terbahagia di dalam hidupnya. Di dalam mimpinya terdapat orang yang dicintainya, ia berada di sana, dan tidak berniat untuk terbangun. Yawang mengangkat tangannya dan mengusap lembut bekas luka di wajah Xia Mu, ia kemudian mengusap senyum di bibir Xia Mu. Yawang menatap Xia Mu tanpa berkata-kata, air mata terus mengaliri pipinya. Yawang melihat kalung berliontin ikan yang masih melingkar di leher Xia Mu dan mulai menangis tersedu lagi. Yawang mengulurkan tangannya dan melepaskan kalung tersebut dari leher Xia Mu, ia mengeluarkan liontin ikan dari kalung tersebut dan menaruhnya di atas telapak tangannya. Kemudian Yawang kembali memakaikan untaian kalung tersebut ke leher Xia Mu, air matanya terjun bebas dari pelupuk matanya. Yawang menatap liontin kalung di tangannya dan berkata,

“Xia Mu, aku akan memakainya baik-baik. Aku pasti akan terus memakainya, memakainya sampai aku tua, sampai aku tidur dengan tenang di dalam peti, sampai di kehidupanku selanjutnya.”

“Kau juga harus memakainya, jangan lepaskan, pakai itu di kehidupanmu selanjutnya. Kita pasti akan bertemu lagi di kehidupan selanjutnya. Saat itu, aku akan menunggumu. Saat itu, jika kau tidak datang, aku tidak akan menua. Saat itu, kau tidak boleh melepaskanku lagi.” Yawang menggenggam tangan Xia Mu dan melingkarkan kelingkingnya pada kelingking Xia Mu. Yawang menatap Xia Mu dan menangis,

“Ini adalah sebuah janji, janji yang harus ditepati, ya?” Di dalam kamar mayat yang dingin, seorang wanita sedang melingkarkan kelingkingnya pada sebuah kelingking yang sudah kehilangan kehangatannya. Yawang menangis lembut, seakan-akan ia dilingkari oleh kesedihan yang tak berujung.

| Passion Heaven |

Dua hari kemudian, pemakaman Xia Mu diadakan di Kota S. Hari itu, cuaca sangat cerah dengan langit biru dan beberapa awan, cuaca yang bagus. Hari itu, tidak banyak orang yang datang karena Xia Mu tidak memunyai banyak teman dekat. Hari itu, semua orang menundukkan kepalanya dan menangis dalam diam. Hari itu, Shu Yawang berdiri di depan nisan untuk waktu yang sangat lama, bahkan setelah semua orang pergi, setelah langit membuka matanya dan membiarkan hujan turun. Yawang berdiri di antara rintik-rintik hujan, ia menatap foto seorang pemuda di atas nisan dengan tatapan kosong. Setelah beberapa saat, Yawang baru menyadari seseorang memayunginya dari belakang. Yawang menoleh dan melihat Tang Xiao Tian berdiri dalam diam di sampingnya. Yawang kembali menatap foto Xia Mu dan bertanya pada Xiao Tian,

“Kau juga datang?” Tang Xiao Tian memerhatikan nisan di depannya, kedua sudut matanya tampak merah.

“Aku datang untuk mengantarnya pergi.” Yawang mengangguk pelan.

“Xia Mu akan bahagia. Ia tidak menyukaimu sebelumnya karena aku menyukaimu, sekarang ia adalah satu-satunya yang kucintai, jadi ia tidak akan membencimu lagi.” Xiao Tian tersenyum pahit, ia kemudian membungkuk dan menaruh sebuket bunga segar di depan foto Xia Mu. Air hujan jatuh mengenai plastik bunga tersebut, menimbulkan suara percikan yang tajam.

“Kau akhirnya berhasil merebut Yawang dariku, apa kau bahagia?” Xiao Tian menatap pigura foto di depannya, seorang pemuda tampan dengan sepasang mata yang masih sama dinginnya. Tang Xiao Tian memerhatikan foto Xia Mu sejenak lebih lama sebelum akhirnya menunduk.

“Maafkan aku, Xia Mu.”

“Aku selalu ingin meminta maaf padamu.” Semua memang salahnya, jika saja Xiao Tian tidak bertemu dengan Qu Wei Ran, Xia Mu tidak akan meninggal dan Yawang tidak perlu merasakan sakit seperti ini. Bahkan Qu Wei Ran sendiri, ia pasti tidak akan meninggal juga. Shu Yawang menatap punggung Xiao Tian, ia meletakkan tangannya di atas bahu Xiao Tian dan menepuknya pelan. Yawang ingin mengatakan sesuatu, tetapi pada akhirnya ia memilih untuk diam. Setelah beberapa saat, ketika langit mulai gelap, Xiao Tian berdiri dan bertanya pada Yawang,

“Apa rencanamu ke depan?”

“Aku akan pergi ke Amerika dan menjaga Kakek.” Yawang tertunduk.

“Untuk berapa lama?”

“Aku tidak tahu.” Yawang menggeleng, kemudian ia mengangkat kepalanya untuk tersenyum pada Xiao Tian. “Kau tidak akan menungguku, bukan?”

“Aku tidak akan menunggumu, karena aku tahu kau tidak akan kembali.” Xiao Tian terlalu mengenal Yawang, hati Yawang sudah berada jauh darinya, Yawang tidak akan kembali ke sisinya.

“Baiklah.” Tang Xiao Tian mengusap puncak kepala Yawang.

“Yawang, yang tabah.”

“Jangan khawatir.” Yawang mengangguk.

“Kalau begitu…” Xiao Tian berhenti sejenak. “Aku pergi dulu.”

“Baiklah.” Tang Xiao Tian menyerahkan payungnya untuk Yawang. Yawang menerimanya, Xiao Tian membalikkan badannya dan segera meninggalkan tempat tersebut. Kali ini, Xiao Tian tidak menoleh, tidak juga Yawang.

| Passion Heaven |

Waktu berlalu dengan sangat cepat, tanpa terasa lima tahun sudah terlewati. Shu Yawang berjalan keluar dari bandara internasional, Paman Zheng dengan ramah membantu Yawang membuka pintu mobil dan mempersilakan Yawang duduk di dalam mobil dengan nyaman.

“Yawang, apa Komandan sehat?”

“Uh-huh, Kakek sangat, sangat sehat.”

“Oh, baguslah kalau begitu.” Paman Zheng tersenyum yakin. Beliau terus menanyakan beberapa pertanyaan dan Yawang menjawab semua pertanyaan tersebut satu per satu. Paman Zheng juga akan menceritakan hal-hal yang terjadi di kamp militer selama Yawang tidak ada, satu per satu diceritakannya secara beruntut. Sinar matahari tepat menyinari liontin ikan yang bergantung di leher Yawang, liontin itu berkilau indah. Yawang, yang terdiam setelah menjawab pertanyaan-pertanyaan Paman Zheng, tiba-tiba membuka suara.

“Paman Zheng, bisakah mengantarku ke taman almond blossom di Kota W?” Yawang tiba-tiba ingin melihat taman yang dirancangnya sendiri. Waktu itu, Xia Mu berjanji pada Yawang bahwa mereka akan melihat taman itu bersama-sama, tetapi sayangnya, kesempatan itu hilang begitu saja. Yawang sendiri juga tidak pernah melihat hasil jadi taman tersebut.

Sekarang bulan Mei, tepat ketika peach blossom bermekaran. Shu Yawang keluar dari mobil dan berjalan memasuki taman tersebut, ia menatap bunga-bunga peach blossom yang tengah bermekaran. Yawang tersenyum mengingat percakapannya dengan Xia Mu beberapa tahun lalu.

Yawang bertanya: “Bunga apa yang kau suka?”

Xia Mu menjawab: “Peach blossom.”

“Hah, tapi ini taman almond blossom…” Yawang ingat waktu itu, ia benar-benar tertekan dengan jawaban Xia Mu, bagaimana caranya supaya taman almond blossom bisa memiliki bunga peach blossom di dalamnya? Setelahnya, sebagai kejutan yang disiapkannya untuk Xia Mu supaya Xia Mu senang, Yawang menemukan jalan keluar. Yawang berjalan mengelilingi taman tersebut; benar-benar taman yang indah seperti surga. Bunga peach blossom dan almond blossom saling bersisian satu sama lain, dan jika angin datang bertiup, kelopak-kelopak bunga-bunga tersebut akan jatuh ke tanah.

Yawang berjalan mendekati air mancur taman tersebut, ia memerhatikan anak-anak kecil yang mengejar burung-burung merpati dengan senyum dan tawa bahagia di wajah mereka. Seorang gadis sedang menggandeng tangan seorang anak laki-laki kecil berusia sekitar tujuh sampai delapan tahun. Yawang tidak tahan untuk tidak menoleh dan memerhatikan mereka. Merpati-merpati itu terbang ke atas langit, bulu-bulu mereka yang layaknya malaikat jatuh beterbangan dari atas. Ujung rok gadis tersebut terangkat dan ia tersenyum cerah. Gadis itu berhenti berlari dan mengangkat telapak tangannya untuk menangkap bulu-bulu yang jatuh, kemudian menggelitik leher anak laki-laki tersebut dengannya. Anak laki-laki tersebut menutupi lehernya dan memelototi gadis di depannya. Gadis itu tertawa dan terus menggelitiki anak laki-laki tersebut, anak laki-laki itu mengangkat tangannya untuk melawan. Gadis itu memutar tubuhnya dan berlari pergi, keduanya saling mengejar satu sama lain di alun-alun tersebut, suara tawa bahagia mereka terdengar di seluruh taman.

Shu Yawang terus memerhatikan mereka, ia tiba-tiba teringat ketika pertama kali bertemu dengan Xia Mu, mereka juga seperti itu. Yawang akan mengganggu Xia Mu dan Xia Mu akan membalas dengan memukul atau menggigit Yawang. Dulu, Xia Mu benar-benar manis. Yawang menoleh ke arah lain dan tertawa pahit. Jika saja seseorang dapat menjaga kenangan masa kecilnya dan hidup dari kenangan tersebut, betapa indahnya hidup ini?

Taman itu dipenuhi bunga peach blossom, yang menampakkan nuansa indah warna-warnanya. Yawang berjalan perlahan di samping danau, menatap paviliun bersegi-delapan di kejauhan. Yawang mendekati paviliun tersebut dan menengadah. Tentu saja, plang nama paviliun tersebut berbunyi: 夏有乔木,雅望天堂 [Xià yǒu qiáomù, yǎwàng tiāntáng] (Pohon-pohon di musim panas, pemandangan anggun dari surga). Yawang menatap plang nama tersebut dalam diam untuk waktu yang cukup lama, ia merasa hatinya tercekat. Kenapa? Kenapa Xia Mu tidak bisa datang dan melihat rancangan surga yang dibuat khusus untuknya? Kenapa ia tidak bisa menemani Yawang dan datang untuk sekedar melihat… Hanya sekali saja, dan Xia Mu pasti akan mengerti seberapa dalam Yawang mencintainya. Seperti yang dikatakan Yawang sebelumnya, ia benar-benar ingin bersama dengan Xia Mu. Kenapa Xia Mu tidak melihat? Surga yang indah ini, tanpa Xia Mu, bagaimana bisa disebut surga?

“Yawang.” Di antara bunga-bunga peach blossom yang indah, sepertinya suara Xia Mu yang tegas dan dingin memanggil Yawang. Yawang menoleh dan menatap sekelilingnya, ia berpikir bahwa ia melihat Xia Mu berdiri di antara bunga-bunga tersebut dan menatap Yawang dengan senyum di wajahnya, seperti yang dilakukan Xia Mu sebelumnya. Hidung Yawang mulai terasa gatal dan ia mulai menangis.

“Yawang, ada apa?” Paman Zheng mendekati Yawang dan bertanya dengan gugup. Yawang menggigit bibir bawahnya dan menjawab,

“Aku tidak tahu kenapa, tetapi tiba-tiba aku merindukannya.” Jika saja tahun itu Yawang bisa menyatakan semuanya dengan jelas, jika saja Xia Mu mau memercayainya, jika saja Xia Mu tidak pergi… Tetapi pada akhirnya, tidak akan ada ‘jika saja’ di dalam hidup ini… Terkadang, ketika merindukan sesuatu, hal itu akan berlaku untuk seumur hidup. Apa kau akan mengalaminya di kehidupan selanjutnya?

~End~