SPESIAL EPISODE I: Tang Xiao Tian – Sampai Akhir Hidup

XMOaS

Aku menghabiskan sepuluh tahun hidupku untuk berusaha melupakan seseorang, tetapi pada akhirnya, seseorang itu malah tampak semakin jelas dalam benakku.

Aku ingat tahun itu, Zhang Jing Yu meneleponku dengan kalut dan memberitahu bahwa Xia Mu meninggal. Aku menggenggam erat ponsel di tanganku dan terdiam cukup lama; kesedihan tiba-tiba menyerangku, hidungku mulai terasa gatal, dan air mata sudah tertahan di pelupuk mataku. Tiba-tiba, adegan ketika pertama kali aku bertemu dengan Xia Mu muncul di benakku. Anak itu, ia punya sepasang mata yang dingin dan terlihat murung, juga garis wajah yang sempurna layaknya boneka. Anak itu, anak yang sepertinya tidak diberkati langit. Hidupnya begitu singkat dan tragis, tetapi juga sangat indah. Seperti kembang api di langit malam yang bersinar indah. Orang-orang baru saja akan mengagumi keindahannya ketika, dalam sekejap, sesuatu yang menakjubkan itu hilang. Xia Mu pergi, dan dia membawa serta Yawang bersamanya. Ketika itu aku melihat Yawang berlutut di depan nisan, jari-jarinya yang ramping mengusap foto Xia Mu dengan lembut, tiap-tiap inci, tidak sedikit pun terlewatkan. Air matanya terus mengalir turun ke pipinya ketika ia berkata,

“Xia Mu, di kehidupan selanjutnya, kita harus bersama.” Aku berdiri di belakangnya dalam diam, kedua telapak tanganku saling terkatup erat. Aku tidak tahu kapan, tetapi langit tiba-tiba menumpahkan rintik-rintik air, seakan memberitahu bahwa langit juga hendak berduka. Aku membuka payungku dan memayungi Yawang. Pada akhirnya, hanya itukah yang bisa kulakukan untuknya? Yawang mengangkat kepalanya dan menatapku, wajahnya yang lelah membuat hatiku sakit. Aku sangat ingin memeluknya saat itu, seperti yang dulu kulakukan, memeluknya erat. Aku mengulurkan tanganku, tetapi aku hanya menepuk lembut puncak kepalanya.

“Yawang, jaga dirimu baik-baik. Tetap bersemangat.” Yawang mengangguk.

“Kalau begitu… aku pergi dulu.”

“Baiklah.” Kali ini, aku tidak menoleh. Aku terus memberitahu diriku sendiri; jangan menoleh, jangan berhenti, jangan membuatnya tidak nyaman, jangan melukainya lagi. Mungkin suatu hari, Yawang juga akan melupakan rasa sakitnya. Mungkin suatu hari, Yawang akan kembali. Mungkin suatu hari… Tidak akan ada suatu hari itu. Aku tahu, hari itu tidak akan pernah ada. Jadi aku memberitahunya bahwa aku tidak akan menunggunya. Ketika aku memberitahu Yawang hal tersebut, sesuatu jatuh dari sudut mataku. Kenapa, kenapa Yawang tidak bisa mendapatkan kebahagiaannya? Kenapa Xia Mu harus pergi? Kenapa? Xia Mu, kau benar-benar jahat! Kau menang! Kau memenangkan kehidupan ini dan kehidupan selanjutnya! Kau memenangkan Yawang-ku! Kenapa kau tidak bisa memperlakukannya dengan baik? Kau benar-benar anak nakal! Kenapa kau tidak bisa memberikannya kebahagiaan? Sepanjang jalan menuruni bukit, aku perlahan meringkuk dan terduduk di tanah, aku mencengkeram rambutku dalam penderitaan hatiku. Yawang… Yawang… Aku melihat sekeliling, menatap bayangan seseorang yang sedang berlutut di puncak bukit, hatiku terasa akan hancur berkeping-keping.

| Passion Heaven |

Setelah beberapa tahun, aku mulai menjalani kehidupan pribadiku; pergi ke sekolah, pergi bekerja, menghadapi segala macam tekanan karena berada jauh dari rumah. Aku memberitahu diriku sendiri, bahkan cinta yang paling sempurna sekalipun akan lekang oleh waktu, aku akan melupakan Yawang, aku ingin melupakannya. Tetapi sudah sepuluh tahun berlalu… Bayangannya, kenapa muncul dengan jelas sekali dalam mimpiku? Kenapa aku selalu memimpikan Yawang yang menggandeng tangan Xia Mu kecil dan tersenyum padaku sembari ia berjalan menuju ke arahku?

Hari itu, aku pergi ke taman bunga yang dirancang oleh Yawang. Setelah melihat plakat nama yang tertera di gerbang masuk, aku memalingkan wajahku dan tertawa. Aku berjalan ke alun-alun dan menatap merpati-merpati putih yang beterbangan, bulu-bulu mereka yang layaknya sayap malaikat berguguran ke tanah. Tiba-tiba aku teringat akan impian Yawang; ia pernah berkata bahwa ia ingin membangun sebuah taman yang seperti surga. Dan Yawang bilang, bahwa jika aku berada di sana, pasti taman itu adalah surga. Aku menundukkan kepala dan terkekeh, kenapa walaupun berapa banyak tahun sudah berlalu aku pun masih belum bisa melupakan kata-kata dan senyumannya? Di atas kepalaku adalah langit bulan Juni yang cerah dan sinar matahari yang bersinar hangat, aku mendudukkan diriku di salah satu bangku taman sembari membuat taruhan pada diriku sendiri, berapa lama lagi sampai aku bisa melupakan Yawang? Mungkin besok, mungkin lusa, mungkin juga masih lama. Atau mungkin ketika aku meninggalkan dunia ini.

Advertisements