CHAPTER II: Cinta Semasa Kecil, Tang Xiao Tian

XMOaS

Shu Yawang mengerucutkan bibirnya sebelum berkata,

“Aku berlaku baik hanya padamu.”

Cuacanya cukup bagus hari ini. Shu Yawang membuka jendela kamarnya yang berada di lantai empat dan melihat pemandangan di luar. Jalanan hari ini masih basah oleh hujan gerimis pagi-pagi tadi, membuat udara terasa sejuk. Yawang menikmati sarapannya sebelum pergi menuju rumah Xia Mu. Ibunya menyuruhnya untuk membawa tugas-tugas sekolahnya selama liburan bersamanya untuk diselesaikan sebelum ia pergi tadi. Yawang hanya mengangguk malas dan memilih beberapa buku secara acak untuk dibawa.

Ketika ia berjalan melewati taman bermain, ia melihat Tang Xiao Tian sedang melakukan push-up. Di bawah tubuh Xiao Tian adalah setumpuk koran yang sudah basah oleh keringatnya. Ia menggertakkan giginya ketika melakukan push-up, ayahnya senantiasa mengawasinya dengan kedua tangan terlipat di dada. Melihat situasinya, Yawang menduga bahwa Xiao Tian pasti sedang dihukum karena membuat suatu masalah. Ketika ia memutuskan untuk melanjutkan langkahnya, ayah Xiao Tian melihatnya dan memanggilnya,

“Yawang!”

Shu Yawang menarik kedua ujung bibirnya ke atas membentuk sebuah senyuman dan berjalan ke arah Tang Xiao Tian dan ayahnya.

“Selamat pagi, Paman Tang.” Ekspresi Paman Tang melembut ketika ia tersenyum hangat pada Yawang.

“Kau datang tepat waktu, duduk di atas Xiao Tian sana.”

“Ayah!” Xiao Tian berdiri dan memohon pada ayahnya.

“Apakah Ayah tidak tahu seberapa beratnya Yawang sekarang?” Paman Tang menendang tulang kering Xiao Tian.

“Tidak peduli seberapa berat dia, kau harus bisa! Bukankah kau seorang yang kuat? Bukankah kau suka berkelahi? Kalau kau tidak bisa membasahi koran-koran itu dengan keringatmu hari ini, jangan pernah coba-coba untuk berhenti. Yawang, duduk di punggungnya.”

“Um, Paman Tang, aku harus pergi.”

“Hah?” Paman Tang menatap Yawang dengan dahi berkerut. Shu Yawang menggosok hidungnya sambil tersenyum paksa dan berjalan menuju Xiao Tian perlahan, lalu duduk di atas punggung Xiao Tian. Tang Xiao Tian menggerutu dan langsung terbaring menelungkup di atas tumpukan koran tersebut. Paman Tang, merasa tidak senang, menendangnya lagi.

“Bangun.” Xiao Tian mengangkat tubuhnya, badannya goyah ketika ia mencoba melakukan push-up dengan Yawang yang duduk di punggungnya. Yawang berusaha membantu dengan meletakkan kedua kakinya di tanah sehingga ia tidak memberatkan Xiao Tian. Tetesan keringat mengaliri wajah Xiao Tian, tertahan di dagunya sebelum akhirnya jatuh ke tumpukan koran di bawah tubuhnya.

“Lepaskan kakimu dari tanah, Yawang.” Paman Tang mendorong kaki Yawang dengan kakinya, membuat Xiao Tian menghela nafas berat karena berat badan Yawang.

“Kurasa kau tidak akan bisa berkelahi lagi sehabis ini.” Paman Tang mengangguk puas, kemudian menoleh ke arah Yawang.

“Yawang, awasi Xiao Tian. Jangan biarkan dia berhenti sebelum koran-koran itu penuh dengan keringatnya.” Yawang tersenyum dan mengangguk.

“Baik.” Paman Tang tersenyum dan mengacak rambut Yawang.

“Anak baik, Paman berangkat kerja dulu.” Yawang melambaikan tangannya ketika Paman Tang pergi. Paman Tang dan ayah Yawang adalah teman baik, dan Yawang beserta Xiao Tian sudah saling mengenal sejak mereka masih sangat kecil. Mereka selalu bermain bersama setiap hari, membuat masalah dan dihukum karenanya. Xiao Tian harus melakukan push-up sebagai hukuman dan karena Paman Tang tidak tega untuk menghukum Yawang, ia akan menyuruh Yawang untuk duduk di atas punggung Xiao Tian selagi Xiao Tian melakukan push-up. Ketika mereka masih kecil, Xiao Tian hampir tidak bisa mengangkat tubuhnya karena Yawang, dan mereka akan sama-sama terjatuh ke tanah. Namun sekarang, Xiao Tian bisa melakukan dua puluh push-up dengan Yawang di punggungnya tanpa perlu bersusah payah.

| Passion Heaven |

“Apakah Ayah sudah pergi?” Yawang memeriksa apakah Paman Tang sudah benar-benar pergi.

“Sudah.” Xiao Tian menggulingkan tubuhnya ke tanah, membuat Yawang terjatuh juga pada saat bersamaan. Xiao Tian mengambil nafas beberapa kali sebelum menoleh ke arah Yawang.

“Kenapa kau tidak langsung pergi saja ketika kau melihat Ayah sedang menghukumku?”

“Aku tidak punya cukup waktu untuk kabur.” Yawang menjawab dengan tawa. Ia melihat ke tumpukan koran di samping Xiao Tian; sebuah genangan keringat besar telah terbentuk di atasnya.

“Berapa kali?” Xiao Tian menyeka keringat di wajahnya.

“Tidak ingat, mungkin sekitar dua ratus.” Xiao Tian bangkit duduk dan menarik Yawang untuk duduk di sampingnya.

“Apa yang kau kerjakan akhir-akhir ini? Aku jarang melihatmu lagi.” Yawang mengumpulkan tumpukan koran itu dan membuangnya ke tempat sampah.

“Aku menjadi guru privat seorang bocah.” Xiao Tian tertawa mendengar jawaban Yawang, menatapnya tak percaya.

“Kau?”

“Ya, aku.”

“Jangan ajari anak kecil yang bukan-bukan.” Yawang memelototi Xiao Tian dan mengangkat tangannya, bersiap memukul.

“Jangan sampai aku memukulmu.” Xiao Tian terkekeh, tidak tersentak sedikitpun. Yawang mengalihkan tangannya ke pundaknya, menepuk-nepuk pundaknya sendiri. Xiao Tian benar-benar kelelahan karena hukumannya ini, ia menyeka keringat di wajahnya dengan kaos yang dipakainya.

“Ck, seperti anak anjing saja.” Yawang mengeluarkan beberapa lembar tisu dari tasnya. Ia mulai menyeka wajah Xiao Tian dengan tisu tersebut. Mungkin karena keringatnya terlalu banyak, tisu-tisu itu menempel di wajah dan rambut Xiao Tian. Yawang dengan perlahan mengambilnya, meletakkannya di telapak tangannya. Xiao Tian memerhatikannya dengan seksama, mata Yawang yang bulat dan bersinar. Xiao Tian mendekatkan dirinya pada Yawang dan berbisik,

“Yawang, kau sangat baik.” Yawang mengerucutkan bibirnya sebelum berkata;

“Aku berlaku baik hanya padamu.” Xiao Tian mengusap hidungnya dan terkekeh, pipinya bersemu merah. Yawang melihat Xiao Tian yang tersipu malu dan mengejeknya.

“Dasar bodoh.”

Jangan menilai seseorang dari penampilannya. Seorang pria tampan dengan tinggi badan 180 cm yang terus-terusan terlibat perkelahian, adalah seorang yang masih sangat polos. Jika seorang perempuan mendekatinya atau menggodanya, dia akan langsung tersipu dan debaran jantungnya dapat terdengar bahkan hingga tiga langkah jauhnya. Mungkin karena itulah, banyak yang menyatakan cintanya pada Xiao Tian. Jika Xiao Tian menolak dengan telinga yang memerah, Yawang benar-benar ingin menendangnya. Baiklah, Yawang memang menendangnya, kira-kira sebanyak dua puluh kali ketika tahun pertama sekolahnya kemarin. Tidak termasuk pernyataan cinta pada Xiao Tian yang tidak terlihat Yawang.

Selanjutnya, Yawang mendengar dari sahabat baik Xiao Tian, Zhang Jing Yu, bahwa muka Xiao Tian memerah selain memang karena pertama kalinya ia mendapat pengakuan cinta seperti itu, Xiao Tian takut akan Yawang. Xiao Tian takut Yawang akan berada di dekatnya untuk menendangnya jika ia menolak pernyataan cinta seseorang sehingga Xiao Tian selalu waspada terhadap sekitarnya. Tapi bagaimanapun juga, Yawang akan tetap berhasil menendang tulang kering Xiao Tian. Ketika Xiao Tian berusaha waspada, ia menjadi gugup, dan ketika ia gugup, wajahnya akan memerah. Yawang tanpa sadar tersenyum ketika mengingat kembali akan hal-hal tersebut.

| Passion Heaven |

“Kenapa tersenyum sendiri?” Yawang berdiri dan membersihkan pakaiannya dari tanah yang menempel.

“Tidak ada.” Xiao Tian ikut berdiri di samping Yawang.

“Kau mau ke mana?”

“Mengajar.”

“Jangan pergi. Di mal baru saja dibuka warnet baru dan kita bisa bermain gratis selama tiga hari. Zhang Jing Yu bisa memesankan tempat untuk kita, ayo pergi.” Yawang sedikit ragu dengan tawaran Xiao Tian; mereka sedang menggilai game online bela diri terbaru bernama “Legend” akhir-akhir ini. Tapi untuk bermain game diperlukan semacam kartu kredit, dan uang saku Yawang hanya tinggal sedikit bulan ini. Jari-jarinya mulai bersemangat ketika memikirkan tentang game.

“Tapi aku harus pergi mengajar.” Yawang teringat dengan tanggung jawabnya.

“Kalau kau tak datang, aku tak akan menjagakan tempatmu.”

“Ah, ayolah.” Yawang menarik lengan Xiao Tian dan tersenyum. “Kau pergi duluan, aku menyusul.”

“Baiklah, kutunggu kau di sana.” Xiao Tian pergi setelahnya.

| Passion Heaven |

Yawang melihat Xia Mu sedang duduk di lantai kamarnya sambil membersihkan senjatanya.

“Xia Mu, ayo keluar hari ini. Tidakkah kau bosan di rumah terus setiap hari?” Dan tentu saja, Xia Mu tidak membalas. Yawang menyeringai dan mulai berjalan ke arah Xia Mu. Xia Mu dengan cepat merakit kembali QSZ-92 miliknya dan memasukkannya ke dalam sakunya, ia menatap Yawang dengan penuh curiga.

“Aku akan membawamu ke warnet, oke? Bukankah kau suka melihat senjata-senjata militer? Kau bisa melihat tipe-tipe baru lainnya di internet.” Xia Mu merenung sejenak, kemudian mengangguk pelan. Yawang tersenyum lebar dan langsung meraih tangan Xia Mu, menuntunnya keluar. Tangan Xia Mu terasa dingin dan ringkih. Xia Mu mencoba melepaskan tangannya dari Yawang, tapi Yawang dengan cepat menggenggamnya lebih erat. Mereka berjalan keluar vila menuju rumah Yawang untuk mengambil sepeda Yawang. Yawang mendorong sepedanya mendekati Xia Mu dan menunjuk kursi belakang. Tapi Xia Mu malah memerhatikan kursi depan, wajahnya menunjukkan bahwa ia sedang berpikir.

“Apa? Kau mau duduk di depan?” Xia Mu menggeleng dan beralih untuk duduk di belakang. Yawang memegang stang sepedanya kuat-kuat ketika ia menaiki sepedanya. Matahari bersinar terik dan musim panas sedang pada puncaknya, sehingga Yawang memilih untuk bersepeda di bawah pohon untuk sekalian berteduh. Xia Mu hanya diam di belakangnya, tetapi ketika Yawang tiba-tiba mengerem, Xia Mu langsung berpegang erat pada Yawang. Mereka sampai di depan mal dalam tiga puluh menit, dan warnet itu benar-benar sudah dipenuhi anak-anak sekolahan. Yawang berhasil menemukan Tang Xiao Tian dan Zhang Jing Yu di deretan belakang dan dia dengan cepat berjalan menuju mereka sambil menggandeng tangan Xia Mu. Yawang menepuk pundak Xiao Tian, tapi karena Xiao Tian sedang berkonsentrasi membunuh seekor babi liar, ia tidak membalas. Jing Yu, sebaliknya, langsung membalas ketika Yawang menepuk pundaknya.

“Akhirnya kau datang juga, aku sudah menunggu lama.” Jing Yu bangkit dari tempat duduknya dan menyuruh Yawang untuk duduk.

“Aku akan kembali pukul tujuh.” Yawang melihat ke arah jam; sekarang pukul 12:30 siang.

“Oke, pulang dan tidurlah.” Zhang Jing Yu dan teman-temannya sudah bermain di warnet ini sejak pertama dibuka. Mereka akan datang bergantian, teman-temannya akan datang pada siang hari dan Jing Yu datang pada malam hari, memanfaatkan masa promosi gratis dari warnet ini dengan sebaik mungkin.

“Pakai kartuku untuk bermain dan bantu aku untuk naik ke level selanjutnya.” Yawang menggeleng.

“Aku tidak bisa mengalahkan pesulapnya.”

“Percuma. Aku pulang, Xiao Tian.” Zhang Jing Yu menguap sebelum pergi, dan Yawang dapat melihat hingga ke dalam rongga mulutnya. Pada akhirnya, Xiao Tian menoleh.

“Siapa anak kecil ini?”

“Bocah yang aku ajar.” Xiao Tian tersenyum lebar pada Xia Mu.

“Hai, aku Tang Xiao Tian.” Xia Mu tidak menjawab, ia hanya memandang layar komputer di depannya. Xiao Tian mengusap hidungnya, merasa sedikit tersinggung.

“Kurasa ia tidak suka denganku.”

“Dia memang begitu, tidak banyak bicara.” Yawang mendudukkan Xia Mu di depan komputer dan mengambil satu kursi lagi untuk dirinya sendiri. Ia menempatkan kursinya di antara Xia Mu dan Tang Xiao Tian.

“Apa kau sudah pernah bermain internet sebelumnya?” Xia Mu menggeleng.

“Baiklah, aku akan mengajarimu, bagaimanapun juga aku gurumu.” Yawang memegang mouse-nya dan mengajari Xia Mu bagaimana mengetikkan kata ke mesin pencari dan membantunya membuat akun untuk bermain game “Legend”. Yawang juga mengajari dasar-dasar bermain game tersebut dan Xia Mu, seorang anak cerdas, dapat dengan cepat mengikutinya. Dengan bantuan Xiao Tian yang sudah berada di level 40, Xia Mu berhasil sampai di level 7 dalam waktu kurang dari dua jam. Karena kartu kredit diperlukan untuk memainkan level selanjutnya, Yawang membiarkan Xia Mu bermain dengan kartu Jing Yu.

Setelah beberapa saat, Xiao Tian berdiri dan membiarkan Yawang bermain dengan kartunya. Yawang bermain sebagai seorang prajurit, dan perannya mudah, hanya perlu membunuh monster. Tetapi Yawang selalu lupa untuk menambah darah setiap kali selesai membunuh satu monster, membuat Xiao Tian terus menerus mengingatkannya dari belakang. Ketika Xia Mu memberikan kartu Jing Yu untuk dimainkan Yawang, permainannya semakin menantang. Tombol yang digunakan adalah F1 sampai dengan F8, tetapi Yawang tidak pernah mengingat fungsi setiap tombol. Setiap kali Yawang dalam bahaya, Xia Mu akan mengulurkan tangan mungilnya untuk menekan tombol, membantu Yawang menambah darah, menggunakan kekuatan karakternya, ataupun menggunakan perisai pelindung.

“Uh, aku lupa lagi.” Yawang akan mengomel sendiri. Xia Mu meliriknya sekilas sebelum kembali menatap layar komputer di depannya.

| Passion Heaven |

Waktu berlalu dengan cepat, mereka rasanya belum terlalu lama bermain, namun langit sudah mulai berubah gelap. Yawang duduk di antara Xiao Tian dan Xia Mu yang bergabung beberapa saat yang lalu untuk mengalahkan monster ketika sebuah tangan menepuk pundak Xiao Tian tiba-tiba.

“Tang Xiao Tian!” Yawang dan Xiao Tian menoleh bersamaan. Mereka tidak langsung mengenali orang yang memanggil tadi karena wajahnya dipenuhi lebam, tetapi Yawang berhasil mengingat bahwa ia adalah seorang kakak kelas, Cheng Wei. Ayah Cheng Wei adalah seorang mandor, dan siapapun yang berani mengganggu Cheng Wei di sekolah akan dipukul habis-habisan oleh para pekerja buruh ayahnya. Di belakang Cheng Wei, berdiri tujuh, delapan orang laki-laki berkulit sawo matang dan kekar.

“Kau membawa pacarmu juga?” Tang Xiao Tian berdiri di depan Yawang, melindunginya.

“Cheng Wei, kenapa tiba-tiba membawa begitu banyak orang ke sini?”

“Kau takut sekarang? Kau tidak ketakutan saat kau berkelahi denganku kemarin.” Cheng Wei menunjuk Yawang dan Xiao Tian sebelum memberi perintah pada orang-orang di belakangnya.

“Bawa mereka keluar.” Beberapa pria kekar itu lalu menarik mereka keluar. Yawang berusaha mundur, menghadang Xia Mu dari pandangan mereka. Xiao Tian menyentak tangan yang berusaha menarik Yawang.

“Cheng Wei, kalau kau mau membalasku, pukul saja aku! Kenapa menarik Yawang juga?”

“Dia adalah bagian dari pembalasanku.” Cheng Wei melihat ke sekeliling warnet itu.

“Siapapun yang berani memanggil polisi tidak akan pulang dengan selamat.” Yawang dan Xiao Tian ditarik keluar secara paksa. Yawang terus memberi isyarat pada Xia Mu agar ia berlari pulang ke rumah. Mereka ditarik ke gang sempit di belakang mal, punggung keduanya menabrak dinding. Yawang bersembunyi di belakang Xiao Tian.

“Cheng Wei, kau bisa melakukan apapun yang kau mau terhadapku, tapi jangan ganggu Yawang.”

“Aku akan mengganggunya. Aku akan mengajarimu suatu pelajaran, Tang Xiao Tian. Bagaimana lagi aku bisa melakukan sesukaku di sekolah?” Xiao Tian meletakkan satu tangannya di belakang punggungnya dan menggenggam tangan Yawang. Ia dapat merasakan tangan Yawang bergetar ketakutan. Xiao Tian mengayunkan tangan Yawang, Yawang mengerti apa yang Xiao Tian suruh; lari ketika ada kesempatan. Xiao Tian kemudian menyergap Cheng Wei dan pada saat itu juga Yawang langsung berlari secepat mungkin. Orang-orang suruhan Cheng Wei langsung membantu Cheng Wei, membuat Yawang berlari lebih cepat lagi. Cheng Wei menyeka darah di sudut bibirnya dan menatap Xiao Tian marah.

“Pukul dia!”

| Passion Heaven |

Shu Yawang menggigit bibirnya, berhenti berlari dan berjalan perlahan. Ia menoleh ke belakang, dan melihat Xiao Tian dilempar ke tanah. Ia menoleh lagi ke depan, kemudian berlari lagi secepat mungkin. Aku harus secepatnya pergi dari sini dan mencari bantuan sebelum Xiao Tian dipukul habis-habisan!

“Kejar dia!” Yawang mendengar teriakan Cheng Wei yang sedang berlari ke arahnya. Yawang berpindah ke kiri dan berhasil menendang pinggang Cheng Wei. Cheng Wei tersandung dan Yawang langsung berlari lagi, tetapi Cheng Wei dengan cepat bangun dan mengejarnya. Cheng Wei berhasil menarik pergelangan tangan Yawang dan memelototinya dengan marah. Yawang dapat mendengar Xiao Tian berteriak dari kejauhan,

“Sialan! Cheng Wei, jika kau berani memukulnya, aku akan membunuhmu!”

“Diam saja kau!” Cheng Wei mengangkat tangannya dan memukul lengan Yawang. Pukulan Cheng Wei terasa menyengat di lengan Yawang.

“Kau berani menahanku?” Cheng Wei menahan kedua lengan Yawang sehingga Yawang tidak bisa menghalanginya. Yawang menutup kedua matanya dan bergumam pada dirinya sendiri. Kacau. Aku akan memperlihatkan lukaku pada Ayah dan menyuruhnya menghancurkan rumah Cheng Wei!

“Berhenti.” Sebuah suara dingin terdengar dari kejauhan. Yawang perlahan membuka matanya dan menoleh. Itu Xia Mu, yang sedang mengacungkan senjata QSZ-92 miliknya ke arah Cheng Wei.

“Lepaskan dia.” Xia Mu berkata pada Cheng Wei.

“Haha, dasar bocah. Kau membawa senjata mainanmu untuk menakutiku? Jangan bodoh.” Cheng Wei tertawa.

“Ini asli.”

“Asli? Kau pikir aku seorang idiot?” Cheng Wei berjongkok menyamai tinggi Xia Mu dan menepuk kepala Xia Mu.

“Sudah larut, pulanglah ke rumah untuk menemui ibumu.” Orang-orang suruhan Cheng Wei tertawa terbahak-bahak seakan-akan mereka mendengar lelucon terlucu yang pernah ada. Yawang menatap Xia Mu tak berdaya. Anak ini, aku menyuruhnya pulang ke rumah, kenapa ia kembali ke sini? Apa dia pikir dia bisa membodohi mereka dengan senjata mainannya? Xia Mu menurunkan senjatanya, berjalan ke samping Cheng Wei, dan meletakkan senjatanya tepat di pelipis Cheng Wei.

“Senjata tangan tipe 92, diproduksi di Tiongkok, dengan kaliber 5,8 mm dan menggunakan peluru jenis DAP sepanjang 5,8 mm. Panjang senjata ini totalnya 188 mm dan bisa menampung sebanyak 20 peluru, membuat senjata ini menjadi senjata tangan paling mematikan di dunia.” Xia Mu memiringkan kepalanya ketika ia menyelesaikan penjelasannya.

“Mau melihat apakah ini benar-benar asli atau bukan?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s