CHAPTER XI: Yawang, Jangan Menangis

XMOaS

Shu Yawang merosot terduduk ke lantai dengan punggung yang menempel di pintu. Ia menggigit bibir bawahnya dan menutup kedua telinganya, mulutnya terbuka seakan ia sedang berteriak, namun tidak ada satu pun suara yang keluar.

Keesokan harinya, Yawang berjalan keluar dari hotel dengan Qu Wei Ran di belakangnya. Wei Ran kembali memakai jasdan kacamatanya tidak berbingkainya, tidak menghilangkan kesan elegan yang ada padanya kemarin malam. Setelah membiarkan Yawang masuk ke dalam taksi, ia menatap Yawang dengan senyum di wajahnya.

“Kalau kau ingin aku bertanggungjawab, hubungi aku kapan saja. Kalau kau ingin menggugatku, aku akan bersedia menunggu.” Sang supir taksi melirik kedua orang itu secara bergantian.

“Jalan.” Shu Yawang berkata dengan dingin. Selama perjalanan, Yawang hanya duduk diam di tempatnya, matanya menerawang dengan pandangan kosong ke arah pemandangan tepi jalan, ia tenggelam dalam pikirannya sendiri. Yawang tahu bahwa ia pasti akan menggugat Wei Ran, ia tidak akan pernah memaafkan laki-laki itu, ia pasti akan menggugatnya di pengadilan! Tetapi Yawang merasa sangat lelah, seluruh badannya terasa sakit, ia ingin pulang. Rumah terasa sangat jauh, kenapa ia merasa lelah seperti ini? Yawang tidak menyadari bahwa ia sudah sampai ke tempat tujuan hingga supir taksi itu memberitahunya.

Yawang keluar dari taksi dan menatap kamp militer di depannya. Seperti terjebak dalam ruang waktu, Yawang perlahan-lahan melangkahkan kakinya memasuki gerbang masuk kamp. Ketika berjalan melewati jalan setapak, berbagai macam adegan muncul begitu saja di depan Yawang. Ketika Yawang masih kecil, ia akan berlari dengan Xiao Tian yang mengejarnya di belakang. Kedua anak kecil itu akan tertawa dan tersenyum sambil berlari. Ketika mereka berangkat sekolah, mereka akan bersepeda bersama-sama melewati jalan setapak ini. Yawang akan selalu menaruh satu tangannya di bahu Xiao Tian dan memintanya untuk mengayuh lebih cepat. Xiao Tian kemudian akan menunduk dan tertawa, ia lalu membungkukkan tubuhnya dan mengayuh lebih cepat sambil menikmati suara tawa Yawang yang berpegangan lebih erat pada bahunya.

Ketika mereka berpisah, Xiao Tian melemparkan anyelirnya pada Yawang. Bunga anyelir merah itu berputar di udara sebelum akhirnya jatuh ke tangan Yawang. Yawang ingat dengan seruan Xiao Tian padanya saat itu,

“Yawang, kau harus menungguku!” Yawang menggenggam erat anyelir di tangannya dan mencatat kata-kata itu dalam hatinya. Yawang, kau harus menungguku! Yawang tiba-tiba berhenti melangkah dan air matanya mulai turun mengaliri pipinya. Yawang termenung memerhatikan jalan di depannya, ia tidak merasa mampu untuk melangkah bahkan satu langkah lagi. Matahari siang itu bersinar terik mengenai Yawang, tetapi ia tidak dapat merasakan kehangatan apapun darinya.

Yawang berjongkok dan memeluk lututnya sambil menundukkan kepalanya. Berlian di cincinnya bersinar terkena paparan sinar matahari, membuat cahaya dari cincin tersebut memantul ke segala arah. Cahaya itu mengenai mata Yawang, ia dengan cepat menutupi cincin di jari manisnya dan menutup matanya, mencoba menahan rasa sakit yang menyerangnya. Tidak, ini lebih dari sekedar rasa sakit. Rasa ini bercampur dengan penghinaan, cemoohan, dan ketakutan yang memukul Yawang tepat di jantungnya. Yawang tidak bisa bernafas, ia merasa ingin mati saja. Ketika ia memikirkan Xiao Tian, ia merasa ingin mati saja. Bagaimana ini? Xiao Tian, bagaimana bisa aku menemuimu? Kau begitu mencintaiku, kau begitu mengagumiku, tapi sekarang aku…

Yawang mengeratkan pelukan pada lututnya, ia menggigit bibir bawahnya erat-erat, kukunya menusuk ke dalam dagingnya ketika suara ratapan itu keluar dari tenggorokannya. Yawang terdiam pada posisinya, tidak merasa dapat melihat atau mendengar apapun lagi. Yawang merasa ia akan hancur kapan saja…

| Passion Heaven |

Yawang tidak tahu sudah berapa lama ia berlutut seperti itu, bahkan sampai kakinya mati rasa pun ia tidak berniat untuk berdiri. Beberapa saat kemudian, sebuah mobil berhenti di sampingnya. Sepasang sepatu putih muncul di depannya dan seorang pemuda berlutut di depannya, pemuda itu menatapnya dengan raut yang kentara sekali khawatir.

“Apa yang terjadi?” Butuh beberapa saat sebelum Shu Yawang mengangkat kepalanya dan menatap pemuda di depannya. Sinar matahari bersinar terik di punggung pemuda itu, membuatnya tampak seperti seorang malaikat yang indah. Yawang merasa akan menangis lagi, jadi ia cepat-cepat menundukkan kepalanya, tidak ingin Xia Mu melihatnya seperti ini.

“Yawang?” Suara Xia Mu bergetar karena khawatir. “Kau menangis?”

“Tidak, aku tidak menangis.” Yawang menjawab dengan kedua mata yang menatap tanah, ia berusaha menahan air matanya. “Xia Mu, bisa tolong bawa aku pulang? Perutku sakit.” Xia Mu terdiam, ia menatap Yawang sejenak sebelum akhirnya membalikkan badannya.

“Naik ke punggungku.” Yawang menahan nafasnya ketika ia naik ke punggung ringkih Xia Mu. Xia Mu mengangkat Yawang dengan mudah dan mulai berjalan ke rumah Yawang dengan langkah-langkah panjang. Daun-daun di sepanjang jalan bergoyang pelan seiring dengan angin yang menerpa, sinar matahari bersinar terik menerpa tanah melalui celah-celah di antara dedaunan. Yawang menggigit bibir bawahnya dan berpegang erat pada kedua bahu Xia Mu setiap kali ia merasa air matanya akan keluar. Xia Mu sesekali melirik Yawang kemudian mengerucutkan bibirnya.

| Passion Heaven |

Ketika Yawang membuka pintu rumahnya dan baru saja akan meminta Xia Mu untuk pulang, ibunya dengan cepat menghampiri mereka dan mulai memarahi Yawang.

“Anak kurang ajar! Tidak pulang semalaman, kau membuatku khawatir! Apa yang terjadi? Kau bahkan tidak mengangkat teleponmu, ke mana kau?!” Yawang menatap Xia Mu dan menggelengkan kepalanya.

“Tidak…”

“Ke mana kau semalam?!” Ibu Yawang membanting pintu dan memelototi Yawang yang sedang menunduk.

“Apa kau tahu ayahmu bahkan mengirim orang-orang untuk mencarimu?!”

“Aku… Aku baik-baik saja.” Yawang menjawab dengan rambut panjangnya yang menutupi mata kosongnya. Yawang sendiri tidak tahu bagaimana ia bisa menyangkal secepat itu. Xia Mu terus-terusan menatap Yawang dengan khawatir ketika Yawang mengepalkan tangannya erat-erat, kemudian berbalik dan melangkah menuju kamar mandi.

“Aku ke kamar mandi dulu.” Yawang dengan segera menutup pintu kamar mandi dan menguncinya. Ibunya terus-menerus menggedor pintu kamar mandi sambil berteriak.

“Yawang, lihat apa yang akan terjadi kalau kau tidak memberitahuku apa yang terjadi semalam! Kau pikir kau sudah dewasa? Kau ada seorang wanita yang sudah bertunangan, apa yang akan terjadi kalau keluarga Tang tahu tentang hal ini? Xia Mu, pulanglah dulu!” Yawang merosot terduduk ke lantai dengan punggung yang menempel di pintu. Ia menggigit bibir bawahnya dan menutup kedua telinganya, mulutnya terbuka seakan ia sedang berteriak, namun tidak ada satu pun suara yang keluar.

Yawang mengangkat kepalanya dan melihat bak mandi di depannya. Tiba-tiba ia merasa dingin, tubuhnya mulai gemetar. Ketika ia melihat bak mandi, memori malam itu kembali berputar di dalam kepalanya. Yawang mengambil apapun yang dapat diraihnya dan mulai melempar benda-benda itu ke arah bak mandi.

| Passion Heaven |

“Ah! Ah! Ah!!!” Yawang tidak bisa menahannya lagi, ia mulai menjerit dan berteriak sambil melemparkan apapun yang dapat diraihnya ke arah bak mandi. Ibu Yawang dan Xia Mu beralih menatap satu sama lain, seakan-akan pada akhirnya ibu Yawang menyadari apa yang terjadi. Ibu Yawang mulai menggedor pintu kamar mandi sambil berteriak,

“Yawang, kau baik-baik saja? Yawang, buka pintunya!”

“Yawang, biarkan Ibu masuk. Yawang…” Xia Mu menarik ibu Yawang menjauh dan mulai menendang pintu kamar mandi tersebut. Pintu itu terbuka setelah beberapa tendangan dan mereka dapat melihat Yawang yang terus-menerus melempar benda-benda. Kedua mata Yawang menatap tak tentu arah dan tangannya berlumuran darah; ia bahkan tidak tahu bagaimana hal itu bisa terjadi. Ibu Yawang dengan cepat memeluk Yawang erat-erat.

“Yawang, kau tidak apa-apa? Apa seseorang… melakukan sesuatu padamu?” Yawang terdiam setelah mendengar pertanyaan ibunya, air mata mulai mengaliri pipinya ketika ia tidak dapat menahannya lagi. Ibu Yawang menatap wajah putrinya yang dipenuhi air mata, pandangannya mengabur ketika air mata perlahan memenuhi pelupuk matanya. Ibu Yawang mengangkat kepala Yawang dan menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajah Yawang, menampakkan sebuah tanda merah di leher Yawang. Ibunya merasa pusing seketika, dan ia merasa hancur.

“Yawang, Yawang.” Ibu Yawang menangis sambil memeluk Yawang erat, ia menepuk punggung Yawang dan menenangkannya.

“Yawang, anakku, tidak apa-apa. Jangan takut, Ibu di sini. Ibu akan melindungimu.” Yawang memeluk ibunya dan mulai meratap seperti anak kecil.

“Ibu, suruh seseorang untuk menyingkirkan bak mandinya, singkirkan!”

“Ya, Ibu akan meminta orang untuk menyingkirkannya segera.” Xia Mu, yang berdiri di samping mereka sedari tadi dan menyaksikan semuanya, mengepalkan tinjunya dengan tatapannya yang berubah dingin dan tajam ketika ia bertanya pada Yawang,

“Siapa? Siapa?!” Xia Mu berlutut dan menggenggam erat kedua bahu Yawang.

“Siapa yang melakukan semua ini?!” Yawang menggelengkan kepalanya, ia tidak bisa memberitahu Xia Mu.

“Apakah laki-laki itu? Laki-laki yang terus menganggumu itu, Qu Wei Ran?!” Mata Yawang melebar ketika ia menatap Xia Mu dengan ketakutan setelah mendengar nama itu.

“Memang dia.” Xia Mu membenarkan. Yawang mengulurkan tangannya untuk memegang tangan Xia Mu, Xia Mu mundur selangkah.

“Tadi malam, kejadiannya tadi malam.” Sepasang mata Xia Mu dipenuhi kemarahan ketika ia menggertakkan giginya. Kenapa ia tidak membawa ponselnya semalam? Kenapa ia tidak mengangkat telepon Yawang semalam? Kenapa ia tidak bersikeras untuk menjemput Yawang? Kenapa?! Xia Mu dengan cepat membalikkan badannya dan berlari keluar.

| Passion Heaven |

“Xia Mu, apa yang kau lakukan?” Yawang berdiri dan mengejar Xia Mu menuruni tangga. Xia Mu berlari ke rumahnya dan langsung masuk ke kamarnya kemudian membuka laci pribadinya, mengambil sesuatu dari dalam sana. Benda itu membentur meja dan menimbulkan suara yang cukup keras. Xia Mu mengeluarkan sebuah benda berwarna hitam dan memasukkannya ke dalam sakunya. Xia Mu berlari keluar dan langsung menuju ke arah mobil. Paman Zheng, yang sedang beristirahat dalam mobil, menatap Xia Mu dengan penuh curiga.

“Xia Mu, apa yang kau—“ Paman Zheng belum sempat menyelesaikan pertanyaannya ketika Xia Mu membuka pintu mobil dan menariknya keluar, kemudian duduk di kursi pengemudi. Ia mengabaikan teriakan Paman Zheng dan membanting pintu mobil. Xia Mu kemudian menyalakan mobil dan langsung menginjak gas.

“Xia Mu, kau mau ke mana? Mobil itu tidak boleh meninggalkan kamp militer ini!” Paman Zheng berteriak sambil mengejar mobil itu. Ia berhenti setelah beberapa saat dan mulai curiga.

“Anak itu, tidak seharusnya aku mengajarinya cara mengendarai mobil.” Ketika mobil Xia Mu hampir mencapai gerbang masuk kamp, Yawang menyadarinya dan mengejarnya, tangannya membentur mobil itu namun tetap saja tidak menghentikannya. Xia Mu tidak menyadari Yawang yang mengejarnya, pikirannya hanya dipenuhi oleh satu nama yang menjadi targetnya, Qu Wei Ran.

“Xia Mu.” Yawang terus mengejar mobil Xia Mu yang perlahan menghilang dari pandangannya. Ketika mobil itu benar-benar menghilang, ia berhenti dan berusaha mengambil nafas, keringat membanjiri wajahnya. Bagaimana ini? Walaupun Xia Mu tidak pernah menunjukkan ekspresi apapun di wajahnya dan terlihat tenang setiap saat, ketika ia marah, siapa yang tahu hal gila apa yang akan dia lakukan? Terutama pada si brengsek itu, Qu Wei Ran. Kalau mereka berkelahi, Xia Mu pasti terluka. Yawang berlari ke luar kamp militer dan memanggil taksi, meminta sang supir taksi untuk membawanya ke kantor Grup Hyde Industrial. Yawang terus menatap ke depan dengan tangan yang terkepal, badannya gemetar ketakutan. Ia menyesal telah memberitahu alamat Grup Hyde pada Xia Mu. Xia Mu, tolong jaga dirimu!

| Passion Heaven |

Ketika sampai di tempat tujuan, Shu Yawang langsung bergegas keluar dari taksi dan mendorong pintu masuk Grup Hyde kemudian berlari menuju ruangan Qu Wei Ran. Yawang berjarak beberapa meter dari ruangan Wei Ran ketika ia mendengar suara tembakan di belakangnya. Yawang menoleh dengan cepat dan terdiam di tempatnya. Nafasnya terasa berhenti dan karyawan di seluruh lantai itu terdiam.

Bang. Satu tembakan lagi dilepaskan, dan seperti baru tersadar, semua karyawan dalam ruang rapat langsung berlari keluar sambil berteriak. Yawang juga seakan baru tersadar, ia menggigit bibirnya dengan gugup, telapak tangannya tiba-tiba berkeringat dingin. Yawang bersandar pada dinding ketika ia berjalan menuju ke ruang rapat di mana semua orang berhamburan keluar dari sana.

Ketika ia sampai di ruang rapat, yang dapat dilihat Yawang hanyalah seorang pemuda dengan tangannya yang terangkat memegang sebuah pistol. Kedua mata pemuda itu menatap laki-laki di depannya dengan pandangan kosong. Laki-laki di depannya memakai setelan kemeja rapi dengan kacamata berbingkai emas yang bertengger di hidung mancungnya. Laki-laki itu terdiam tak berdaya, kedua matanya tertutup dengan darah yang terus mengalir keluar dari lukanya. Darah itu mengalir turun ke lantai, mengenai sepatu putih yang dikenakan oleh pemuda yang menembaknya. Pikiran Yawang menjadi kosong ketika ia menatap pemandangan di depannya dengan mata terbelalak dan bibir yang gemetar ketakutan.

Ruangan itu dipenuhi darah dan Xia Mu masih terdiam di tempatnya, pipinya terkena cipratan noda darah. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apapun seperti biasanya, namun emosi yang sedang dirasakannya tampak dari tangannya yang samar-samar terlihat gemetar. Yawang berjalan mendekati mereka, ia kemudian membungkuk untuk memerhatikan Qu Wei Ran. Yawang mengangkat telunjuknya dan meletakkannya di bawah hidung Wei Ran, tidak sampai sedetik kemudian ia menarik kembali tangannya dengan cepat. Yawang membekap mulutnya dan hampir saja menangis. Xia Mu benar-benar membunuh seseorang, ia membunuh seseorang karena Yawang! Yawang mengangkat kepalanya dan menatap Xia Mu yang masih terpaku di tempatnya. Yawang mendekatinya dengan gemetar, perlahan ia mengangkat tangannya untuk mengambil pistol yang masih berada dalam genggaman Xia Mu. Yawang kemudian menggenggam tangan Xia Mu dan memanggil namanya.

“Xia Mu…” Suara Yawang menyadarkan Xia Mu dan matanya langsung beralih menatap Yawang. Air mata mulai turun mengaliri wajah Yawang.

“Yawang, jangan menangis.” Xia Mu mengangkat tangannya dan menghapus air mata di pipi Yawang.

“Tidak akan ada seorang pun yang mengganggumu lagi mulai sekarang, tidak akan ada.” Hati Yawang mulai berdenyut dengan tidak nyaman. Yawang kemudian menangis, ia mengulurkan tangannya dan memeluk Xia Mu erat-erat.

“Xia Mu, Xia Mu…”

| Passion Heaven |

Di musim dingin di tahun kedua puluh dua dalam hidupnya, Yawang berdiri di persimpangan antara mobil-mobil polisi dan ambulans-ambulans. Pemuda yang digandengnya erat-erat dibawa pergi dengan kedua tangan yang diborgol. Yawang mengikuti mobil polisi lain, suara tangisannya terdengar lelah. Sejak saat itu, Yawang merasa hidupnya pecah berkeping-keping dan tidak dapat lagi dikembalikan seperti sedia kala.

Yawang duduk di atas tempat tidurnya sambil memeluk dirinya sendiri. Beberapa noda darah menempel di celananya dan ia hanya menatap tangannya dengan kosong. Yawang menggigit jarinya dan badannya terus gemetar ketakutan. Sepuluh hari, sudah sepuluh hari sejak Xia Mu ditahan. Situasinya sepertinya tidak membaik; Qu Wei Ran kehilangan cukup banyak darah dan sekarang sedang berada dalam keadaan koma. Dokter memvonis bahwa kemungkinan besar Wei Ran akan dalam keadaan mati suri.

Ayah Qu Wei Ran tidak ingin lagi kehilangan anaknya, sehingga ia berusaha mati-matian untuk membalas dendam pada Xia Mu yang sedang dipenjara. Ia mempublikasikan rekaman kejadian tersebut, dan berita tentang seorang anak petinggi militer yang menembak seseorang dengan cepatnya menyebar di kalangan komunitas dunia maya. Para netizen yang tidak pernah memikirkan konsekuensi apapun setelah menuliskan komentar menyebarkan slogan “Satu nyawa dibayar dengan satu nyawa!”. Ayah Wei Ran bahkan mengeluarkan biaya untuk menyiarkan berita ini di stasiun-stasiun televisi selama tiga hari, membuat masyarakat yang menonton menyuarakan ketidakpuasan mereka. Kepala Biro Keamanan Publik menanggapi hal ini dengan serius, ia menolak untuk bertemu siapapun yang dikirimkan oleh keluarga Xia, membuat kemungkinan Xia Mu untuk keluar dari penjara semakin kecil.

Semula Komandan Xia meminta ayah Qu Wei Ran untuk menyelesaikan hal ini baik-baik sebelum membawa kasus ini ke pengadilan, tetapi ayah Wei Ran menjawab,

“Komandan Xia, saya rasa Anda mengerti bagaimana rasanya harus kehilangan seorang anak laki-laki di usia yang tidak lagi muda ini. Rasa sakit ini tidak dapat diselesaikan dengan cara apapun.” Jawaban ayah Wei Ran menggambarkan keputusannya dan tekadnya, yaitu jika Qu Wei Ran benar-benar meninggal nantinya, ia akan mempertaruhkan seluruh hidupnya untuk memastikan bahwa Xia Mu membusuk di penjara!

| Passion Heaven |

Semua orang yang berada di vila keluarga Xia senyap, ayah Yawang menunggu di luar ruang tengah ketika Komandan Xia berbicara dengan sang pengacara, raut wajah beliau tampak tidak begitu baik dan tangannya terkatup sepanjang pembicaraan.

“Pengacara Liu, menurut Anda bagaimana pengadilan akan menanggapi kasus ini?” Pengacara Liu menghela nafas dalam-dalam dengan kedua alisnya yang bertaut.

“Dalam kasus ini, jika Qu Wei Ran benar-benar meninggal, sudah pasti Xia Mu akan dituntut sebagai pembunuh. Dalam sistem hukum, anak di bawah umur tidak dapat dijatuhi hukuman mati. Anak di bawah umur yang melakukan pelanggaran hukum akan dijatuhi hukuman sesuai dengan peraturan yang berlaku, hukuman paling berat adalah hukuman penjara seumur hidup dan hukuman paling ringan adalah hukuman penjara selama lima belas tahun. Jika Tuan Qu tidak meninggal, maka Xia Mu akan dituntut dengan kepemilikan senjata secara ilegal dan percobaan pembunuhan. Kedua tuntutan ini akan mengakibatkan Xia Mu dipenjara sekurang-kurangnya enam tahun, tetapi semua kembali lagi pada keputusan hakim.” Komandan Xia terdiam sejenak sebelum kembali menatap Pengacara Liu.

“Seberapa percaya diri Anda dapat meyakinkan para hakim untuk menjatuhkan hukuman paling ringan?” Pengacara Liu menaikkan kacamatanya dengan telunjuknya.

“Tergantung, apakah Tuan Qu meninggal atau tidak. Komandan Xia, Anda juga dapat mengunjungi kejaksaan kota dan menanyakan siapa hakim yang akan bertanggungjawab atas kasus ini. Walaupun memang terdapat bukti yang kuat, adalah hakim yang menentukan seberapa berat hukuman yang akan diterima nantinya.”

“Penggugat tidak akan menutup kasus ini begitu saja, apa mereka bisa meminta hukuman yang lebih berat?” Pengacara Liu menggeleng.

“Korban biasanya hanya menuntut kerugian perdata, tidak ada hubungan sama sekali dengan pertanggungjawaban kriminal. Satu-satunya hal yang dapat mereka minta hanya kompensasi yang lebih tinggi.” Komandan Xia menggangguk mendengar jawaban Pengacara Liu.

“Baiklah, Anda boleh kembali. Saya meminta maaf karena sudah menyulitkan Anda dengan kasus ini.”

“Tidak apa-apa, tidak masalah sama sekali, Komandan Xia.” Pengacara Liu membereskan berkas-berkasnya dan bangkit berdiri, kemudian ia membungkuk untuk undur diri.

“Zheng.”

“Ya, Komandan?” Paman Zheng bergegas menghampiri Komandan Xia.

“Apa yang dikatakan Hakim Wang?”

“Hakim Wang berkata bahwa beliau akan berusaha sebaik mungkin.”

“Apa maksudnya itu?!” Komandan Xia memukulkan tinjunya ke atas meja. “Lihat apa yang akan terjadi kalau dia berani memasukkan Xia Mu ke penjara!”

“Komandan, saya mendengar bahwa Qu Tian Yong* memberikan hadiah pada para jaksa di pengadilan.” Komandan Xia menatap Paman Zheng dengan dingin. “Walaupun tidak seorang pun yang berani menerimanya.”
*Qu Tian Yong = ayah Qu Wei Ran

“Terus cari hakim-hakim lainnya, tunda kasus ini selama mungkin. Jangan sampai kasus ini masuk ke pengadilan, tunggu sampai berita di luar sana mereda.”

“Baik.” Setelah Paman Zheng pergi, ayah Yawang menundukkan kepalanya dengan penuh rasa bersalah.

“Komandan Xia, ini kesalahan saya.” Komandan Xia mengepalkan tinjunya dan memukulkannya ke meja, ia membentak ayah Yawang dengan nada yang kentara sekali marah.

| Passion Heaven |

“Shu Quan*! Aku menyerahkan Xia Mu padamu untuk diajari dengan baik, dan kau mengajarinya untuk menjadi seekor anjing yang setia! Seekor anjing yang akan melompat dan menggigit siapapun yang mengganggu putrimu! Kau sudah mengajarinya dengan baik! Baik sekali!” Setelah melampiaskan kemarahannya, Komandan Xia memukul meja sekali lagi sebelum meninggalkan ruangan tersebut. Ayah Yawang menggertakkan giginya dan menunduk, ia menghela nafas dalam untuk mengontrol emosinya.
*Shu Quan = ayah Shu Yawang

Pada hari kedua puluh sejak Xia Mu ditahan, dokter menyatakan bahwa otak Qu Wei Ran kekurangan banyak darah dan pasokan oksigen, menyebabkannya berada dalam keadaan tidak sadar atau koma, dan menyatakan bahwa Wei Ran akan mati suri.

Pada hari kedua puluh empat, keluarga Qu memanfaatkan seluruh koneksinya untuk memaksa pengadilan supaya segera menyelenggarakan sidang pertama terhadap kasus ini. Mereka benar-benar sudah bertekad untuk memasukkan Xia Mu ke dalam penjara bagaimanapun caranya!

Pada hari kedua puluh enam, Shu Yawang dinyatakan hamil…

| Passion Heaven |

Di dalam sebuah ruang perawatan intensif, seorang laki-laki berbaring dengan tenang di atas tempat tidur dengan alat bantu pernafasan yang terpasang. Pipinya tirus, tetapi ia masih tetap terlihat tampan sekalipun demikian. Shu Yawang memerhatikan pria itu dari balik kaca. Ia menatap Wei Ran dengan kedua mata dinginnya, Yawang tidak berniat untuk beranjak dari tempatnya sampai akhirnya ia mendengar suara langkah kaki di belakangnya.

“Apa yang kau lakukan di sini?!” Sebuah suara serak berteriak di belakangnya. Yawang menoleh dan menatap pria tua di depannya, ia sudah pernah melihat pria ini sebelumnya di acara makan malam hari itu. Malam itu beliau tampak seperti seorang pengusaha yang sukses, namun sekarang beliau terlihat seperti menua dua puluh tahun, rambutnya berwarna putih keseluruhan dengan wajah yang terlihat lelah dan kurang istirahat. Yawang menurunkan tatapannya dan mengulurkan tangannya untuk sekedar berjabat tangan. Ayah Qu Wei Ran menatap Yawang dengan penuh kebencian, ia sudah mendengar bahwa anak laki-lakinya terluka karena wanita ini. Ia tidak percaya bahwa dia, Qu Tian Yong, akan kehilangan kedua anak laki-lakinya pada usianya yang sudah tidak muda lagi ini! Garis keturunan keluarga Qu akan berakhir di sini!

“Keluar!” Qu Tian Yong membentak Yawang. “Anakku tidak ingin melihatmu.” Yawang menunduk menatap lantai dan menggumam,

“Saya hamil.” Ayah Wei Ran terkejut. “Dan ini adalah anak dari anak laki-lakimu.” Tian Yong membelalakkan kedua matanya.

“Kau… kau tidak berbohong?” Yawang mengangguk. Tian Yong menggenggam kedua bahu Yawang erat-erat.

“Apa yang kau inginkan supaya kau bisa melahirkan anak ini? Uang bukan masalah!” Yawang menarik nafas dalam-dalam kemudian berkata,

“Lepaskan Xia Mu.” Tian Yong menatapnya tajam.

“Tidak, jika aku melepaskannya sekarang, bagaimana kalau kau malah menggugurkan anak ini?”

“Kalau Anda tidak melepaskannya, saya benar-benar tidak akan melahirkan anak ini.” Kedua mata Tian Yong bergerak gelisah memikirkan keputusan apa yang harus diambilnya.

“Baik, aku akan menyetujuinya sekarang. Tetapi aku akan membicarakan syarat dan ketentuannya dengan ayahmu.” Yawang tertawa dengan sarkastik.

“Apakah perlu?” Tian Yong tertawa licik.

“Tentu saja, anak muda seperti kalian bisa dengan cepat berubah pikiran, aku tentu akan sangat khawatir.”

“Terserah Anda saja.” Setelahnya, Yawang meninggalkan ruangan tersebut. Ayah Qu Wei Ran menggosok-gosokkan kedua tangannya dengan semangat, ia menatap Qu Wei Ran dari balik kaca.

“Wei Ran, ini benar-benar hebat, kau punya anak. Garis keluarga kita tidak akan berakhir. Wanita yang membuatmu seperti sekarang ini, aku akan menjamin bahwa ia tidak akan hidup dengan baik. Wei Ran, Ayah akan membalaskan dendammu.”

| Passion Heaven |

Tiga hari kemudian, ayah Qu Wei Ran menyampaikan syarat dan ketentuannya pada keluarga Shu:

  • Yawang harus menikahi Qu Wei Ran.
  • Setelah anak yang dilahirkan berumur satu tahun, Yawang dapat mengajukan gugatan cerai. Setelah perceraian, Yawang tidak akan mendapat bagian sedikit pun dari keluarga Qu.
  • Selama masa kehamilan dan menyusui, Yawang harus tinggal di kediaman keluarga Qu.

Ibu Yawang dengan segera berdiri untuk menyampaikan ketidaksetujuannya.

“Tidak! Tidak ada yang setuju dengan semua persyaratan ini! Tidak akan kubiarkan Yawang melahirkan anak dari seorang brengsek seperti dia sekalipun aku mati! Bahkan dalam peti mati pun aku tidak akan membiarkan hal ini terjadi!” Ayah Yawang menghisap rokoknya tanpa berkata sepatah kata pun, asbak di depannya sudah dipenuhi berpuluh-puluh puntung rokok. Ibu Yawang menghampirinya dan mendorongnya pelan.

“Katakan sesuatu! Suamiku, tidak, kau tidak boleh menyetujui ini. Kalau kau menyetujuinya, hidup Yawang akan kacau.” Shu Yawang hanya duduk diam di ujung sofa, matanya menatap kosong ke depan, tangan kanannya tanpa sadar meraih cincin di jari manis tangan kirinya. Ayah Yawang kemudian membuang puntung rokoknya ke dalam asbak.

“Aku tidak mungkin membiarkan Xia Mu dipenjara.” Beliau berkata dengan suara murung. Ibu Yawang memukulnya marah.

“Kau gila?! Yawang adalah putrimu! Kalau kau ingin membalas budi, lakukanlah sendiri, jangan bawa-bawa putriku! Jangan sampai kau berani!” Kedua mata Shu Quan memerah, ia membiarkan ibu Yawang memukulinya tanpa henti. Ibu Yawang terus memukuli ayah Yawang dengan air mata yang mengaliri pipinya. Ia kemudian berjalan menghampiri Yawang dan memeluknya erat.

“Jangan takut, Yawang. Ibu tidak akan membiarkanmu melahirkan anak itu. Ibu akan menemanimu ke dokter untuk menggugurkan anak ini besok! Kita akan membuang benda kotor itu dari dalam perutmu besok! Tidak apa-apa Yawang, jangan takut.” Mata Yawang memerah dan ia mulai menangis.

“Bu, aku akan melahirkan anak ini.” Ibu Yawang mengangkat tangannya dan memukul Yawang.

“Kau gila? Apa kau tahu apa yang sedang kau katakan sekarang? Melahirkan, kau kira itu mudah?” Yawang menutup kedua matanya.

“Bu, aku tidak mungkin mengabaikan Xia Mu, ia melakukan semua ini karena aku…”

“Apa maksudmu! Kau tidak menyuruhnya untuk membunuh orang dengan senjata! Ini bukan salahmu, kenapa malah kau yang menanggung konsekuensinya…” Ibu Yawang terduduk di lantai dan menangis. Yawang memeluk lututnya dan menangis sesegukan. Ibu Yawang kemudian beranjak duduk di samping Yawang dan memegang kedua bahu Yawang.

“Yawang, kau yakin dengan hal ini? Kau tidak menginginkan Xiao Tian? Bukankah kau menyukainya sejak kecil? Bukankah kau selalu ingin menikahinya? Kalau kau melahirkan anak dari laki-laki lain, bagaimana bisa kau menikahi Xiao Tian?” Yawang mengangkat kepalanya dan tersenyum pahit.

“Bu, bagaimana bisa aku menikahinya sekarang? Aku tidak pantas untuknya.” Ibu Yawang memeluk Yawang sambil menangis.

“Hush! Apa maksudmu kau tidak pantas untuknya? Jangan berpikir begitu, kita bisa menyembunyikan hal ini. Keluarga Tang tidak tahu tentang kejadian ini, dan kalaupun mereka tahu, Xiao Tian… dia tidak akan memandangmu rendah.” Benarkah? Yawang menggigit bibir bawahnya dan menatap cincin di jari manisnya, kemudian melepaskan cincin itu dengan paksa. Walaupun Xiao Tian tidak akan memandangku rendah, aku akan memandang rendah diriku sendiri!

“Ibu, aku sudah membulatkan tekadku.” Yawang mengabaikan tangisan ibunya dan berjalan menuju kamar tidurnya, ia kemudian menutup pintu kamarnya, menutup suara tangisan ibunya dan kesunyian ayahnya.

| Passion Heaven |

Malam itu di barak militer, dua bayangan berlari dengan cepat melewati pohon-pohon, terkadang berhenti dan bersembunyi di balik pohon untuk memantau suasana, keduanya kemudian berhenti di depan sebuah bangunan. Salah satu dari kedua bayangan itu berbisik,

“Xiao Tian, apa kita akan benar-benar menyelinap ke dalam?” Tang Xiao Tian memerhatikan sekitarnya kemudian menggangguk.

“Tentu saja, kalau tidak, untuk apa kita keluar tengah malam begini?”

“Tidak, maksudku kalau kita tertangkap, kita pasti akan dihukum. Kita akan lulus sebentar lagi…”

“Kalau kau takut, kembalilah. Aku harus menelepon seseorang malam ini.” Xiao Tian mengenyahkan sebuah ranting dari depan matanya dan mulai memanjat dinding bagian belakang bangunan tersebut.

“Ah Xiao Tian, tunggu aku!” Bayangan di belakang Xiao Tian dengan cepat mengikutinya. Benar-benar sial! Gladi bersih upacara kelulusan sekolah militer mereka benar-benar aneh; para murid akan dikurung di sebuah tempat yang sempit dan ponsel mereka akan disita, mereka dilarang untuk menelepon atau berhubungan dengan dunia luar. Selama sebulan, para calon tentara itu berlatih dan berlatih, dan mereka masih harus menunggu dua minggu lagi.

Ketika Xiao Tian sampai di lantai ketiga gedung tersebut, ia mengeluarkan sebuah pen dari sakunya dan berusaha membuka jendela di depannya.

“Xiao Tian, kalau kau seorang pencuri, kau pasti akan menjadi seorang pencuri yang luar biasa.” Rekannya berkata. Xiao Tian hanya terkekeh dan segera membuka jendela itu, ia kemudian masuk ke dalam ruangan tersebut. Di dalam ruangan tersebut terdapat sebuah meja dengan telepon di atasnya. Xiao Tian dengan segera menelepon ke nomor Yawang, namun panggilan itu langsung menyambungkannya dengan voicemail. Xiao Tian mengerutkan dahinya dan lalu menelepon ke rumah Yawang.

“Halo?” Ibu Yawang menjawab.

“Hai Bibi, ini Xiao Tian. Apakah Yawang di rumah?”

“Ada.” Ibu Yawang menjawab dengan ragu.

“Bibi, bisakah aku berbicara dengannya?”

“Um… Yawang sakit.”

“Yawang sakit? Apakah parah?” Xiao Tian bertanya dengan khawatir. Hening di ujung telepon.

“Bibi, tolong katakan sesuatu. Apakah serius? Yawang sudah tidak menulis surat untukku selama sebulan, apa penyakitnya parah?”

“Tidak, tidak parah. Jangan khawatirkan Yawang dan belajarlah dengan serius. Ketika kau kembali, Yawang pasti sudah sembuh.” Xiao Tian ingin menanyakan beberapa hal lagi, tetapi rekannya memberitahunya untuk segera menutup telepon. Rekannya juga ingin menelepon seseorang, dan jika mereka terlalu lama di sini, pasti akan berbahaya untuk mereka! Xiao Tian kemudian menutup teleponnya dan meminjamkan telepon tersebut pada rekannya, ia memutuskan untuk menelepon lagi setelah rekannya selesai. Tetapi, tidak lama setelah rekannya berbicara di telepon, mereka mendengar sebuah teriakan dari luar bangunan tersebut.

“Siapa di sana?!” Xiao Tian dan rekannya dengan cepat kabur dan berlari kembali ke asrama. Keduanya terengah-engah ketika sampai di asrama.

“Benar-benar tidak beruntung, aku baru saja berbicara beberapa kata dengan kekasihku dan orang-orang itu sudah datang!” Xiao Tian mengernyitkan dahinya dengan raut wajah khawatir.

“Kenapa?”

“Kekasihku sedang sakit, aku ingin meminta izin pulang.”

“Kau gila? Meminta izin pada saat-saat seperti ini? Kau tidak mau lulus?”

“Tetapi Yawang sakit…” Xiao Tian mengepalkan tinjunya dengan raut wajah yang kentara sekali cemas.

“Apa yang dikatakan keluarganya?”

“Ibunya berkata bahwa dia baik-baik saja.” Xiao Tian menjawab dengan alis yang mengkerut.

“Kalau begitu dia akan baik-baik saja. Tunggu sampai gladi upacara kelulusan kita selesai, dia pasti sudah lebih baik. Jangan khawatir.” Xiao Tian menggeleng dan memercepat langkahnya.

“Tidak, kau tidak mengerti. Aku merasa cemas sekarang, sudah sejak beberapa saat aku merasa tidak tenang seperti ini. Aku benar-benar khawatir.” Rekan Xiao Tian menatapnya dengan khawatir.

“Jangan menakuti dirimu sendiri. Kalau memang parah, keluarganya pasti akan memberitahumu. Dan lagi, dia memang tidak begitu sehat ketika kau kembali ke sini setelah liburan, bukan? Dia tidak akan mati tiba-tiba…” Xiao Tian menoleh dan memelototi rekannya. Rekannya hanya balas menepuk-nepuk bahu Xiao Tian untuk menenangkannya.

“Ah, hanya dua minggu lagi. Pasti akan cepat berlalu, tidak apa-apa.” Ini adalah pertama kalinya Tang Xiao Tian membenci dirinya sebagai tentara. Dia membenci ketidakbebasan ini! Xiao Tian memandang langit malam dengan khawatir. Yawang… bagaimana kabarmu? Apa yang terjadi? Kenapa aku merasa khawatir? Kenapa hatiku terasa sakit?

| Passion Heaven |

Shu Yawang perlahan membuka genggaman tangannya dan memerhatikan cincin di atas telapak tangannya. Berlian di cincin itu bersinar terang terkena pantulan sinar bulan. Yawang memerhatikan cincin itu sejenak lebih lama sebelum akhirnya menaruhnya ke dalam sebuah kotak dan menyimpannya dalam lacinya. Cincin itu pernah membuatnya merasakan sesuatu yang tidak dapat diungkapkannya dengan kata-kata, cincin itu pernah membawa kebahagiaan paling besar dalam hidup Yawang, tetapi ia tidak pantas untuk mengenakannya lagi…

Uang membuat segalanya menjadi lebih mudah; walaupun Qu Wei Ran masih dalam keadaan tidak sadar, keluarganya dapat dengan mudahnya mendapatkan surat pernikahan, Yawang hanya perlu menandatangani surat tersebut dan ia akan resmi menjadi istri Qu Wei Ran. Di dalam ruangan rumah sakit, Yawang menatap surat pernikahan di tangannya. Setelah beberapa saat, ia mengambil pen dan menandatangani kertas itu dengan namanya. Yawang kemudian bersandar pada sofa dan kembali menatap kertas yang baru saja ditandatanganinya. Sebelumnya, ia mengira bahwa nama yang akan berada di samping namanya adalah nama seseorang yang lain, tetapi pada kenyataannya, bukan…

Ayah Qu Wei Ran, yang duduk di seberang Yawang, menatapnya dengan sinis.

“Jangan berwajah tidak ikhlas seperti itu. Kalau anakku tidak dalam kondisi seperti ini dan kau tidak mengandung anaknya, aku juga tidak akan mengizinkan kau menikahinya.” Yawang membalas pandangan Qu Tian Yong sama sinisnya. Tian Yong kemudian mengambil surat pernikahan itu dari tangan Yawang.

“Mulai sekarang, kau akan tinggal di sini.” Yawang mengabaikannya seakan-akan memang hanya Yawang sendirilah yang berada di ruangan itu sedari tadi. Sekarang, Yawang akhirnya mengerti apa yang Xia Mu rasakan, ia mengerti kenapa Xia Mu begitu tenang, kenapa Xia Mu tidak ingin berbicara dengan orang lain, kenapa Xia Mu selalu berwajah dingin seperti itu setiap hari.

“Kapan Anda akan melepaskan Xia Mu?” Yawang tiba-tiba bertanya.

“Oh, keluarga Xia sudah membawanya pulang setelah surat itu ditandatangani.” Yawang menghela nafas lega,

“Baguslah, ia sudah kembali ke rumahnya.” Ayah Qu Wei Ran bangkit berdiri dari tempat duduknya.

“Aku sudah melakukan apa yang aku janjikan, lebih baik kau juga memegang kata-katamu. Kalau kau memutuskan untuk melakukan sesuatu di luar perjanjian dan menghancurkan keturunan Qu, jangan salahkan aku untuk ke depannya.” Qu Tian Yong keluar dari ruangan itu dan menutup pintu. Yawang menatap punggung Tian Yong dengan dingin ketika ia pergi. Yawang kemudian melepaskan sepatunya dan duduk di sofa, ia menatap Qu Wei Ran yang terbaring di atas kasur di depannya. Wei Ran berbaring dengan tenang; alat bantu pernafasan terpasang di wajahnya, dan monitor EKG (elektrokardiogram) di sampingnya menunjukkan garis naik-turun. Yawang memiringkan kepalanya, dan seakan sesuatu merasukinya, ia bangkit berdiri dari sofa. Yawang berjalan menuju ke kasur tempat Wei Ran berbaring, ia mengulurkan tangannya, kemudian menekan alat bantu pernafasan yang terpasang di wajah Wei Ran. Sepasang mata suramnya menatap dingin ke arah Wei Ran dengan tangannya yang mencengkeram erat alat pernafasan itu. Yawang baru saja akan menariknya ketika sebuah tangan menghentikannya.

“Apa yang Anda lakukan?” Yawang menoleh dan melihat seorang pria dengan kemeja hitam berdiri di sampingnya. Pria itu dengan paksa menarik tangan Yawang menjauh dan langsung memeriksa apakah alat pernafasan tersebut masih bekerja dengan baik atau tidak, pria itu kemudian menarik Yawang menjauh.

“Nona, apa yang Anda baru saja lakukan bisa dianggap sebagai suatu percobaan pembunuhan.”

“Laporkan saja kalau begitu, tuntut dan silahkan penjarakan saya.” Yawang tidak terlihat seperti seorang tersangka yang tertangkap basah dalam tindak kriminalnya. Pria itu mengernyitkan dahinya melihat kesombongan Yawang.

“Nona, nama saya Lu Pei Gang, dan saya adalah pengasuh Tuan Qu. Mungkin Anda tidak memerhatikan, tetapi saya sudah duduk tepat di belakang tempat Anda berdiri sekarang sedari tadi. Saya akan duduk di sana mulai sekarang, jadi tolong jangan ulangi hal yang Anda lakukan barusan.”

| Passion Heaven |

Yawang mengangkat bahunya, mengabaikan kata-kata Pei Gang begitu saja. Yawang berbalik dan kembali duduk di sofa. Sinar matahari masuk melalui jendela dan Yawang menengadahkan kepalanya untuk merasakan hangatnya sinar tersebut. Yawang menutup kedua matanya dan merasakan sinar matahari yang lemah namun menenangkan itu. Lu Pei Gang memerhatikan sisi wajah Yawang kemudian menggaruk kepalanya. Wanita ini aneh, sejak ia masuk ke ruangan ini, kedua matanya kosong. Selain ketika ia melihat surat pernikahan itu dengan penuh keraguan, wanita ini tidak menunjukkan raut apapun di wajahnya. Bahkan ketika ia mencoba melepaskan alat bantu pernafasan Tuan Qu tadi.

Di dalam ruangan ini, ada seseorang yang terbaring tidak sadar, seseorang yang tidak berbicara, dan seseorang yang tidak tahu harus membicarakan apa. Lu Pei Gang berpikir bahwa pekerjaannya akan membuatnya tertekan.

“Tanggal berapa hari ini?” Yawang tiba-tiba bertanya. Lu Pei Gang terhenyak dengan suara Yawang yang tiba-tiba, ia menggaruk kepalanya ketika ia berpikir sejenak.

“30 April.” Kedua bola mata Yawang bergerak sedikit, kemudian ia menunduk.

“Dia akan segera kembali.” Yawang bergumam.

“Siapa?” Yawang kemudian menenggelamkan wajahnya di antara lututnya.

“Aku berharap dia tidak kembali. Tidak akan kembali.” Lu Pei Gang menjadi lebih curiga dengan wanita di depannya. Kadangkala, wanita ini akan terlihat sombong dan dingin, namun di lain waktu, ia akan terlihat menyedihkan dan penuh belas kasihan. Pei Gang menatap Yawang ketika Yawang terus bergumam pada dirinya sendiri,

“Jangan kembali, aku takut kalau dia kembali. Tolong jangan kembali.” Yawang tidak akan bisa menemui Xiao Tian, jika Xiao Tian tahu akan hal ini, Yawang merasa ingin mati! Shu Yawang menyadari seberapa pengecut dirinya, seorang pengecut yang lemah. Lu Pei Gang kemudian merasa tidak tahan lagi dengan gumaman Yawang.

“Hei wanita hamil, jangan terlalu gelisah.” Yawang mengabaikan Pei Gang dan kembali menunduk. Lu Pei Gang menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan melihat jam; waktunya pemeriksaan rutin untuk Wei Ran. Pei Gang mengambil sebuah buku dan berjalan menuju Wei Ran, ia memeriksa semua peralatan yang terpasang pada tubuh Wei Ran untuk memastikan bahwa semuanya berfungsi dengan baik. Kemudian ia meletakkan kembali buku di tangannya dan duduk di dekat tempat tidur Wei Ran, ia kemudian menarik lengan Qu Wei Ran dengan perlahan. Pei Gang mulai memberikan pijatan-pijatan lembut pada lengan Wei Ran untuk mencegah otot-otot lengannya berkontraksi. Sebagai seorang pengasuh, ia harus melakukan hal yang sama pada seluruh bagian tubuh Wei Ran empat kali sehari.

| Passion Heaven |

Setelah setengah jam berlalu, Lu Pei Gang berhenti ketika merasakan kram pada tangannya. Memijat seorang laki-laki yang kuat tetapi tidak sadar cukup melelahkan. Pei Gang bangkit berdiri dan mengusap keringat di dahinya, ia baru saja akan kembali memijat lengan Wei Ran ketika ia melihat jari Wei Ran bergerak pelan. Lu Pei Gang menahan nafasnya dan menggenggam tangan Qu Wei Ran sambil menunggu dengan sabar. Ia kemudian melihat pergerakan jari Wei Ran untuk kedua kalinya.

“Tangannya bergerak.” Pei Gang berkata dengan semangat. Yawang mengangkat kepalanya dan menatap Pei Gang dengan curiga.

“Benar, tangannya bergerak.” Yawang bangkit berdiri dan mengepalkan tinjunya.

“Apa maksudmu?”

“Tuan Qu akan segera sadar.” Yawang mundur selangkah dan menatap Pei Gang dengan tidak percaya.

“Tidak, kau pasti berbohong…” Lu Pei Gang mengabaikan Yawang dan menekan sebuah tombol di atas tempat tidur Wei Ran. Tiga orang dokter berseragam putih kemudian segera masuk ke ruangan itu setelahnya, mereka mengelilingi tempat tidur Wei Ran dan memeriksa sang pasien. Yawang menggigit jarinya sembari menatap mereka dengan gugup. Tidak, jangan bangun! Yawang benar-benar tidak ingin Wei Ran sadar, setidaknya sampai anaknya lahir. Jangan bangun! Jangan bangun! Jangan bangun! Jangan!

“Ini benar-benar sebuah keajaiban! Pasien sudah mulai sadar. Saya rasa, dalam tiga hari pasien akan pulih!” Yawang melepaskan gigitannya pada jarinya yang ternyata berdarah, ia kemudian terduduk lemas seperti balon yang mengempis. Yawang selama ini adalah seorang yang bahagia: ia punya keluarga yang rukun, seorang lelaki yang disukainya, seorang adik laki-laki yang manis, dan teman-teman yang baik. Dalam dua puluh dua tahun hidupnya, ia mendapatkan apa saja yang diinginkannya. Yawang berpikir, mungkin karena ia sudah menerima terlalu banyak, maka sekarang, ia harus menderita. Lu Pei Gang mengulurkan tangannya dan menyentuh pundak Yawang.

“Apa Anda baik-baik saja?” Yawang perlahan tersadar dan ia kemudian menatap Pei Gang.

“Kalau Wei Ran bangun, apa keluarga Qu tidak akan memedulikan bayinya?”

“Anda khawatir akan hal itu? Tidakkah Anda tahu? Tembakan kedua dari adik laki-laki Anda mengenai daerah vitalnya.”

“Di mana?” Yawang bertanya, ia menatap Pei Gang dengan tatapan aneh.

“Di sana. Tuan Qu akan susah untuk mempunyai keturunan nantinya.” Pei Gang mengusap dagunya sebelum melanjutnya. “Tetapi karena teknologi medis sudah berkembang, pasti akan ada jalan keluar. Tidak perlu khawatir, Tuan Qu adalah seorang yang cerdas, ia tidak akan mengambil resiko. Daripada mengandalkan perkembangan teknologi medis, keluarga Qu akan lebih memilih untuk menunggu Anda melahirkan keturunan mereka.” Yawang menatap Pei Gang dan mengangguk.

“Terima kasih.” Lu Pei Gang menggaruk kepalanya kemudian tersenyum.

| Passion Heaven |

Ada pepatah lama mengatakan bahwa orang baik tidak akan hidup lama dan bencana pasti akan bertahan selama berabad-abad. Pepatah ini cocok dengan Qu Wei Ran. Dua hari kemudian, Qu Wei Ran membuka matanya dan ketika ia melihat Shu Yawang berdiri di depannya, matanya melebar terkejut.

“Kenapa kau di sini?” Yawang menatap Wei Ran dan tertawa dingin.

“Aku istrimu sekarang, tentu saja aku harus berada di sini.” Wei Ran tidak dapat menahan senyumnya ketika ia mendengar jawaban Yawang. Bibir keringnya pecah dan mulai berdarah.

“Aku penasaran dengan apa yang terjadi, tetapi apapun itu, aku senang.” Yawang tertawa sinis pada Wei Ran.

“Apa? Kau tidak tahu? Kau adalah seorang kasim sekarang! Atau haruskah aku menyebutmu mandul?” Wajah Qu Wei Ran berubah dan ia membelalakkan kedua matanya.

“Apa maksudmu?”

“Seperti itulah maksudku.” Qu Wei Ran kemudian berusaha untuk duduk, ia ingin melihat tubuhnya, tetapi ia tidak dapat bergerak. Yang dapat dilakukannya adalah berteriak dan menjerit. Lu Pei Gang segera berlari ke samping Wei Ran dan menahannya. “Tuan Qu! Jangan bergerak!” Ketika Ayah Qu Wei Ran masuk ke ruangan tersebut, ia melihat keributan yang terjadi dan langsung menghampiri Wei Ran.

“Apa yang terjadi?”

“Ayah! Kenapa kau menyelamatku? Aku lebih baik mati kalau begini!”

“Wei Ran, tidak apa-apa. Ayah akan menemukan seseorang untuk menyembuhkanmu! Ayah sudah bertanya dan mereka berkata ada metode pemulihan di Amerika! Jangan khawatir…” Seberapapun Qu Tian Yong menenangkan Wei Ran, Wei Ran terus berteriak. Tian Yong kemudian berbalik dan memelototi Yawang.

“Kau memberitahunya.” Yawang balas tertawa dingin. Tian Yong mengangkat tangannya, bersiap untuk memukul Yawang.

“Pukul saja. Jangan salahkan aku kalau aku keguguran.” Tian Yong menurunkan tangannya, amarahnya membuat dadanya naik turun. Qu Wei Ran akhirnya tenang setelah beberapa saat, dan setelah ia mengetahui apa yang telah terjadi, ia menatap Yawang.

“Aku tidak percaya kau akan melakukan hal ini untuk Xia Mu.” Yawang duduk di atas sofa dan tersenyum dingin.

“Tidak semata-mata untuk Xia Mu.” Yawang mengalihkan tatapannya dan menatap Wei Ran dengan penuh dendam.

“Kau menghancurkanku, jadi aku juga akan menghancurkanmu. Aku akan berada di sampingmu untuk menyiksa dan menghancurkanmu sampai aku membuang semua rasa benci di hatiku.” Qu Wei Ran terdiam sejenak, kemudian ia menatap Yawang dengan tatapan aneh.

“Yawang-ah, balas dendam tidak cocok denganmu. Aku tidak suka dirimu yang seperti ini.”

“Aku tidak pernah memintamu untuk menyukaiku.” Yawang menjawab dengan dingin, kedua tangannya terkepal erat. Qu Wei Ran kembali berbicara seakan-akan ia tidak mendengar perkataan Yawang.

“Tetapi aku menyambutmu untuk menyiksamu! Silahkan!” Yawang memelototi Wei Ran.

“Dasar gila!” Wei Ran kemudian kembali berbaring dengan tenang di atas tempat tidurnya, beberapa saat setelahnya ia mencoba memanggil Yawang dengan suara manja.

“Yawang-ah, aku mau minum.” Yawang melirik Wei Ran dan mengabaikannya. Qu Wei Ran mulai mengajukan protesnya seperti anak kecil ketika ia melihat reaksi Yawang.

“Ah, bagaimana bisa kau sedingin ini? Aku suamimu.” Yawang membuang buku di tangannya dan kemudian berdiri.

“Kau mau minum?” Ia berjalan menuju meja di samping tempat tidur dan menuangkan air panas ke dalam sebuah gelas kaca kemudian meminumkannya pada Wei Ran. Lu Pei Gang dengan segera berlari ke arah Yawang dan menariknya menjauh.

“Hentikan, hentikan! Ya ampun.” Ketika Pei Gang dan Yawang saling merebut gelas kaca tersebut, air panas di dalam gelas tersebut terpercik keluar sebagian dan mengenai tangan Yawang. Yawang segera melepaskan gelas itu dari tangannya, gelas itu jatuh ke lantai dan pecah. Yawang menarik nafas dalam-dalam dan berusaha untuk tidak panik, tetapi sebuah tangan tiba-tiba menarik tangannya. Yawang menoleh dan mendapati Qu Wei Ran yang menatapnya dengan khawatir.

“Yawang-ah, tanganmu melepuh. Sakit?” Yawang dengan cepat menarik tangannya dari cengkeraman Wei Ran.

“Kau gila.” Yawang berbalik dan kembali duduk di atas sofa sambil mengusap tangannya dengan kasar. Lu Pei Gang menghela nafas dan bertanya pada Qu Wei Ran sembari mengganti seprai tempat tidurnya,

“Kenapa Tuan selalu membuatnya marah?” Qu Wei Ran memerhatikan Yawang dan tersenyum.

“Tidakkah kau lihat betapa manisnya dia ketika sedang marah?” Pei Gang menoleh dan menatap Yawang. Marah? Kurasa marah bukanlah kata yang tepat untuk menggambarkan perasaannya sekarang.

“Hei, jangan tatap istriku, aku tidak senang.” Qu Wei Ran memberi peringatan pada Pei Gang. Bukankah Anda yang menyuruh saya untuk melihatnya? Dasar orang sakit. Lu Pei Gang menggelengkan kepalanya dan kembali ke tempat duduknya setelah menyelimuti Qu Wei Ran. Ia memerhatikan dua orang di depannya, yang satu sedang membaca buku dan membalikkan halaman dengan penuh amarah, yang satu lagi sedang tersenyum menatap si pembaca buku.

“Kalau kau terus menatapku, aku akan mencungkil matamu.” Yawang melempar buku yang sedang dipegangnya ke arah Qu Wei Ran, tetapi Wei Ran berhasil menghindar.

“Kau istriku, tentu saja aku bisa melihatmu sepuasku.”

“Qu Wei Ran, kau benar-benar membuatku gila.”

“Tidak apa, kita gila bersama.”

“Kau memang sudah gila dari awal.”

“Itu karenamu.” Yawang memelototi Wei Ran.

“Lalu kenapa kau tidak mati saja untukku?” Wei Ran balik menatap Yawang dengan sebuah senyum di wajahnya.

“Itu karena kau tidak mati. Kalau kau hidup, aku menginginkanmu. Kalau kau mati, aku juga akan mati bersamamu.” Yawang memelototi Wei Ran tanpa berkata sepatah kata pun. Wei Ran balik menatap Yawang dengan raut wajah polos.

“Yawang-ah, bisakah kau tidak jauh-jauh dariku?” Yawang bangkit dan duduk di samping jendela, memunggungi Wei Ran. Ia tidak ingin berbicara dengannya, tidak ingin berurusan dengannya. Yawang takut kalau-kalau ia tidak bisa mengendalikan dirinya dan pada akhirnya malah membunuh Wei Ran dan dirinya sendiri!

Tidak apa-apa kalau Yawang mati, tetapi bagaimana dengan Xia Mu? Xia Mu, apa kabarmu? Yawang menengadahkan kepalanya dan menatap keluar jendela.

Advertisements