SPESIAL EPISODE III: Penjara

Aku memikirkan seorang gadis setiap pagi dan setiap malam; aku merindukan wajahnya, rindu berbincang dengannya, rindu akan senyum hangatnya. Aku terus memikirnya dan tidak bisa melupakannya hingga semuanya terlihat buram. Kurasa inilah cintaku; sakit, manis, penuh kerinduan, dan penuh kebahagiaan. –Xia Mu.

XMOaS

“Keputusan hakim menyatakan bahwa Xia Mu, laki-laki, delapan belas tahun, menembak penggugat Qu Wei Ran bertempat di ruang 13A kantor Grup Hyde Industrial pada tanggal 2 Juni 2004 yang menyebabkan luka serius. Berdasarkan Hukum Kriminal Republik Rakyat Cina, tersangka dinyatakan bersalah dengan tuduhan pembunuhan berencana. Tersangka akan dihukum enam tahun penjara dan hak-hak politiknya akan dihapuskan untuk seumur hidup!” Diikuti dengan suara ping dari palu sang hakim, Xia Mu mengucapkan selamat tinggal pada kebebasannya. Enam tahun, tidak lama, tetapi tidak bisa dikatakan sebentar juga. Xia Mu menatap ke depan dengan acuh tak acuh, ia sedang menahan diri untuk tidak menoleh ke belakang, di mana keluarganya sedang duduk menatapnya dinyatakan sebagai seorang tersangka, di mana Yawang juga berada di sana. Xia Mu ingin menunjukkan pada Yawang bahwa ia tidak takut, ia tidak peduli dengan semua ini, sehingga mungkin, mereka akan merasa lebih baik.

Dua petugas mendorong Xia Mu dan memborgol kedua tangan Xia Mu. Wajah jengkel, dingin dan tampannya tampak pucat pasi. Xia Mu menundukkan kepalanya ketika ia berjalan melewati Yawang. Ia tidak menoleh untuk menatap Yawang, tidak juga berhenti barang sedetik pun, hanya terus berjalan. Xia Mu mendengar suara tangis Yawang, mendengar Yawang memanggil namanya, tetapi ia tidak boleh berhenti, tidak boleh menoleh. Xia Mu merasa bahwa jika ia menoleh, ia mungkin tidak akan bisa bertahan dan menangis. Sekarang, hatinya terasa sakit, sangat sakit sampai-sampai ia tidak berani menoleh, menatap Yawang yang sedang menangis, mendengar suara lembut Yawang. Ia tidak takut penjara, sungguh. Hanya saja, ia merasa enggan untuk terpisah dari Yawang, Xia Mu merasa berat hati.

Xia Mu perlahan menggigit bibir bawahnya dengan kedua sudut mata yang mulai memerah. Ia berdiri tegap dan menatap lurus ke depan, langkahnya tidak melambat selangkah pun. Xia Mu berpikir bahwa pada akhirnya, bagi Yawang, ia adalah seorang laki-laki yang dibanggakan Yawang. Xia Mu takut bahwa Yawang tidak pernah melihatnya sebagai lawan jenis, takut bahwa bagi Yawang ia hanyalah seorang adik laki-laki yang harus dilindungi. Adik laki-laki… Xia Mu menutup kedua matanya sekedar untuk mengurangi rasa sakit yang dirasakannya; ia benar-benar membenci kata ini sebenarnya. Petugas keamanan mendorong Xia Mu dari belakang untuk memasuki mobil tahanan. Xia Mu duduk terdiam sepanjang perjalanan menuju tempat yang akan didiaminya selama enam tahun ke depan.

| Passion Heaven |

Penjara, bagi Xia Mu, adalah sebuah tempat yang dilihatnya di televisi, tetapi sekarang tempat itu berada tepat di depan matanya. Besi-besi tinggi yang menjulang, memancarkan aura suram. Tiang-tiang besi itu seakan sedang membuka mulutnya dan bersiap untuk melahap Xia Mu. Mobil tahanan perlahan-lahan melaju menuju pusat kepolisian, Xia Mu menoleh dan mendapati gerbang penjara yang perlahan menutup. Sedikit demi sedikit, gerbang itu akan menguncinya di dalam, mengunci kebebasannya, masa mudanya, masa depannya…

Xia Mu mengikuti polisi penjaga dalam diam, para tahanan lainnya berdiri di dekat gerbang sel mereka masing-masing, menatap Xia Mu dengan penuh keingintahuan. Beberapa malah bersiul, beberapa lainnya meneriaki Xia Mu. Xia Mu masih tetap dengan wajah tanpa ekspresinya, matanya yang kosong dan wajah tampannya. Mungkin karena ekspresi wajah Xia Mu yang begitu dingin, beberapa tahanan merasa tidak senang dengan aura sombong yang terpancar dari Xia Mu dan mulai memaki, menyebabkan kekacauan selama beberapa saat. Polisi penjaga mengeluarkan tongkat mereka dan memukul tiang besi serta meminta mereka untuk tidak membuat kekacauan. Tetapi percuma, para tahanan itu semakin menjadi dan memaki semakin keras. Xia Mu hanya berjalan santai seakan-akan bukan dirinyalah yang memulai semua kekacauan ini. Polisi-polisi penjaga itu tidak punya pilihan lain selain menggiring Xia Mu lebih cepat sampai ke sel terdalam, sel 209. Salah seorang polisi membuka pintu gerbang dan mendorong Xia Mu masuk.

Xia Mu mengangkat wajahnya dan menatap sekeliling; ruangan itu tidak besar, terdapat dua buah tempat tidur bertingkat, salah satu tempat tidur di bagian atas sebelah kanan ruangan terlihat kosong. Di dalam sel tersebut terdapat tiga tahanan lainnya, dan ketiga-tiganya meneliti Xia Mu dengan penglihatan mereka: kurus, pucat, muda, tidak terlihat berbahaya.

“Jangan bertengkar! Jangan buat kekacauan!” Polisi penjaga itu memperingati sebelum menutup pintu gerbang dan pergi. Ketika para polisi penjaga sudah tidak terlihat, ketiga tahanan tadi mulai bersemangat, mereka tampak senang sekaligus penasaran, seperti seekor serigala lapar yang melihat seekor domba muncul tepat di depan mata. Dua dari tiga tahanan tersebut berdiri, salah satunya adalah seorang pemuda yang cukup kekar.

“Hei anak baru, siapa namamu?” Pemuda kekar itu bertanya dengan nada sombong. Xia Mu hanya meliriknya sekilas, kemudian berbalik badan untuk menghiraukannya.

“Sial, cukup sombong ternyata.” Pemuda kekar itu meraih kerah Xia Mu dan mengangkat Xia Mu tanpa kesulitan sambil mengancam Xia Mu,

“Apa kau tidak tahu tempat ini? Biar kuberitahu sesuatu, kuberi pelajaran pada boneka sepertimu!” Pemuda kekar itu kemudian mengayunkan tinjunya mengarah pada Xia Mu, tetapi Xia Mu berhasil menghindar ke kanan dan menahan tinju pemuda tersebut dengan tangan kanannya. Xia Mu mengangkat tangan kirinya dan menyerang pemuda kekar tersebut dengan sekuat tenaga. Pemuda itu terhuyung ke belakang dan merasa penglihatannya buram sebelum jatuh terduduk ke lantai. Tahanan lain dalam ruangan tersebut berlari ke arah Xia Mu, tetapi Xia Mu dengan cepat mengangkat kakinya dan menendang tahanan tersebut di bagian paling vital. Tahanan tersebut membungkuk dan berteriak tanpa suara menahan rasa sakit luar biasa yang dirasakan di bagian bawah tubuhnya. Tahanan pertama yang tumbang karena Xia Mu perlahan mengangkat tubuhnya, tetapi ketika ia meletakkan kedua telapak tangannya di atas lantai, ia menyadari bahwa tangan kanannya tidak punya cukup energi untuk menahan berat badannya. Ia merasa limbung dan segera setelahnya, seluruh badannya terasa sakit. Ia menggenggam lengan kanannya dan berusaha meraih gerbang sel, kemudian memukul-mukul tiang-tiang besi tersebut.

“Tolong, tolong, lenganku patah! Bawa aku ke rumah sakit, rumah sakit!” Polisi penjaga yang berada tidak jauh membalikkan badan dan segera kembali ke sel 209, polisi-polisi menatap adegan di depan mereka dan berteriak marah,

“Bukankah sudah kuberitahu untuk tidak membuat kekacauan?! Siapa yang memulai?!”

“Saya.” Xia Mu mengaku dengan tenang.

“Pendatang baru, dengar. Kalau kau mau meninggalkan tempat ini dengan aman, lebih baik jaga sikapmu. Kalau kau berkelahi dengan para tahanan lain di sini, hukumanmu bisa bertambah! Mengerti?” Xia Mu menurunkan tatapannya dan tidak menjawab.

“Dan kalian bertiga, berhenti melakukan hal ini pada setiap pendatang baru. Biar kuberitahu, pendatang baru kali ini, ia seorang pembunuh!”

| Passion Heaven |

Setelah kejadian tersebut, mungkin karena kemampuan berkelahi Xia Mu, atau mungkin karena embel-embel seorang “pembunuh” yang melekat pada Xia Mu, tidak ada seorang pun yang berani berbicara padanya. Tahanan lainnya yang berada satu sel dengan Xia Mu berpikir bahwa anak laki-laki ini terlalu pendiam, hanya selalu duduk di sudut ruangan dan bersandar pada dinding. Xia Mu akan menundukkan kepalanya, wajah tampannya terlihat pucat dan mata indahnya yang kosong menatap sekeliling tanpa tujuan, bahkan hembusan nafasnya terdengar menyeramkan. Walaupun Xia Mu sangat pendiam, kehadirannya masih terasa di dalam ruangan sempit dan gelap tersebut, teman-teman satu selnya tidak punya pilihan lain selain menatapnya. Mereka akan mencoba memancing reaksi Xia Mu. Pemuda kekar, yang lengannya patah karena Xia Mu, meneriaki Xia Mu setelah memerhatikannya selama sehari penuh.

“Hei kau!” Setelah melamun cukup lama, Xia Mu akhirnya tersadar dan menatap pemuda tersebut dengan curiga.

“Sebentar lagi jam kunjungan tiba, apa akan ada yang mengunjungimu?” Xia Mu menurunkan tatapannya dan tidak menjawab.

“Hei, apa kau bisa berbicara? Kalau ya katakan ya, kalau tidak katakan tidak, kenapa kau sangat membosankan?” Pemuda itu terus berbicara pada Xia Mu.

“Melihatmu semembosankan ini, kurasa tidak akan ada yang mengunjungimu. Keluargamu sudah meninggal ya?” Xia Mu mengangkat tatapannya dan melemparkan tatapan sedingin es pada pemuda tersebut.

“Yo, kau bisa memelototiku, kau bisa marah, haha, akhirnya kau bisa juga bereaksi.” Pemuda itu tertawa keras. Akhirnya bisa juga bereaksi? Kenapa terdengar tidak asing? Ah betul, Yawang pernah mengatakan hal itu pada Xia Mu. Saat itu, Xia Mu akan selalu mengabaikan Yawang, Yawang akan selalu memancingnya dengan mengambil mainannya atau membuka luka lamanya. Lalu, ketika Xia Mu marah, ketika Xia Mu menangis, ketika Xia Mu menggigit Yawang, Yawang akan berkata,

“Pft, kau bisa berteriak, kau bisa menangis, kau bisa marah, kau bisa memukul orang, bagus! Akhirnya, kau bukan boneka!”

Ketika Xia Mu teringat akan Yawang dan masa kecilnya, kedua sudut bibirnya terangkat. Ia ingat kalau mereka akan selalu bertengkar setiap harinya. Xia Mu membenci Yawang, dulu, dan ia memberitahu semua orang bahwa Shu Yawang adalah orang yang paling dibencinya. Xia Mu ingat bahwa setiap kali kakeknya ingin mendengar suaranya, beliau akan bertanya,

“Xia Mu, siapa yang paling kau benci?” Apa Xia Mu benar-benar membenci Yawang? Awalnya, ya. Saat itu, Xia Mu tidak ingin mendekat dan didekati siapapun, ia ingin berada di dunia kecilnya sendiri, tetapi Yawang memaksa masuk ke dalam dunianya. Tidak peduli apakah Xia Mu menyetujuinya atau tidak, Yawang menerobos ke dalam dunianya dan memberitahu Xia Mu bahwa ia ingin menjadi temannya. Setiap hari, Yawang akan pergi ke kamar masuk dan menempati tempat tidur Xia Mu serta memainkan mainan Xia Mu, menghancurkan dunia kecil Xia Mu yang tenang. Jadi Xia Mu membenci Yawang, mengabaikan Yawang, dan menolak Yawang.

Ada satu malam ketika Tang Xiao Tian membuat keributan dengan beberapa berandal di warnet. Walaupun Yawang ketakutan saat itu, Yawang masih melindungi Xia Mu. Saat itu, Yawang tidak ragu untuk menyembunyikan Xia Mu di balik punggungnya, tidak membiarkan para berandal itu melihat Xia Mu. Ketika Yawang ditarik keluar oleh para berandal tersebut, ia malah menatap Xia Mu dan menyuruh Xia Mu segera kabur. Tatapan itu, Xia Mu masih mengingatnya sampai hari ini. Tatapan yang penuh ketakutan dan kepanikan, tetapi ketika tatapan itu jatuh pada Xia Mu, tersimpan kekhawatiran, desakan, dan bahkan kelegaan, kelegaan bahwa para berandal itu tidak melihat Xia Mu. Xia Mu merasa bahwa mulai saat itulah ia mulai menerima Yawang, sedikit. Tetapi apa yang membuat Xia Mu benar-benar menerima Yawang adalah kalimat ini:

“Xia Mu, kau jadilah kebanggaanku, ya?” Ketika Yawang mengatakan hal itu di bawah sinar bulan dengan tatapan lembut dan suara yang tak kalah lembut, jantung Xia Mu mulai berdetak sangat cepat. Saat itulah Xia Mu tahu bahwa jantungnya bisa berdetak begitu cepat. Sejak saat itu, Xia Mu mulai menantikan kedatangan Yawang. Walaupun Xia Mu terus mengabaikan Yawang, menolak untuk berbicara pada Yawang, dan terus menunjukkan ketidaksukaan terhadap kehadiran Yawang, Xia Mu menyadari bahwa ia mulai sedikit mengalah ketika mereka berkelahi, ia juga mulai merasa kurang percaya diri ketika ia berkata bahwa ia membenci Yawang. Ketika Xia Mu bersama dengan Yawang, Xia Mu menjadi lebih tidak pelit dengan mainannya, ia rela berbagi. Terkadang, Xia Mu malah akan diam-diam memanjat jendela untuk melihat apakah Yawang sudah datang. Setelah terus tenggelam di dalam kenangan masa kecilnya, ekspresi Xia Mu, tanpa disadari, menjadi lebih hangat, kedua matanya tidak lagi terlihat dingin dan kosong, dan ia menggumam tanpa sadar…

“Hei, apa kau mengatakan sesuatu?” Salah satu tahanan bertanya dengan terkejut. Xia Mu sendiri juga terkejut, apa dia baru saja mengatakan sesuatu? Apa yang dikatakannya?

“Hei Lao* Xu, anak itu baru saja berbicara.” Pemuda yang patah lengan bergegas mendekati temannya untuk bergosip tentang apa yang baru dilihatnya.
*Panggilan “Lao (yang diikuti dengan marga)” adalah sebuah panggilan tidak formal dan (biasanya) ditujukan kepada orang yang berusia lanjut.

“Kalau dia bicara ya dia bicara, dia juga tidak bisu, apa yang kalian ributkan?” Lao Xu menjawab sambil menatap Xia Mu dengan tatapan menghina. Setelah beberapa saat, Lao Xu berdehem dan menanyakan sebuah pertanyaan,

“Hei Lao Zhu, dia bilang apa?”

“Kurasa kau tidak mau tahu?” Lao Zhu berkata dengan raut tidak senang di wajahnya.

“Aku tidak bilang aku tidak ingin tahu, aku hanya bilang kalau anak itu tidak bisu.” Lao Xu menyanggah. “Katakan padaku, apa yang diucapkan anak itu?”

“Aku hanya bertanya siapa yang dibunuhnya sampai dia bisa masuk penjara begini.”

“Siapa?”

“Dia menyebutkan Yawang.”

“Yawang? Siapa itu?”

“Bagaimana aku tahu? Tetapi dari namanya seperti nama perempuan, mungkin seseorang yang ia suka.”

“Dari wajah dinginnya itu, apa dia seseorang yang punya perasaan?” Kedua tahanan tersebut mulai mengobrol dan menduga-duga sendiri. Kehidupan di dalam penjara sangatlah membosankan, jadi sedikit gosip bisa memperpanjang percakapan mereka.

| Passion Heaven |

Jam kunjungan tiba dan semua pintu sel dibuka. Polisi penjaga membuka buku kecil yang berada di tangannya dan mulai membacakan sederetan nama. Para tahanan yang dipanggil berjalan keluar dari sel satu per satu dengan senang hati dan berbaris rapi.

“Sel 209—Xia Mu, Zhu Qiang.” Lao Zhu segera bangkit berdiri mendengar namanya dipanggil.

“Sepertinya anak perempuanku datang mengunjungiku.” Lao Zhu berbalik dan menepuk tempat tidur Xia Mu.

“Hei bocah, berhenti melamun, seseorang datang untuk mengunjungimu.” Seseorang datang? Siapa? Kakek? Paman Zheng? Ayah Yawang? Atau… Yawang sendiri? Memikirkan tentang kemungkinan bahwa Yawang datang mengunjunginya membuat hati Xia Mu terasa nyeri. Sebuah perasaan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata; Xia Mu ingin bertemu dengan Yawang, tetapi ia juga merasa takut. Xia Mu sangat ingin melihat Yawang barang sedetik saja, tetapi jika Yawang melihat dirinya yang sekarang, Yawang pasti akan menangis. Xia Mu tidak ingin melihat Yawang menangis. Setiap kali Xia Mu melihat air mata Yawang, Xia Mu menganggap setiap tetes air mata Yawang adalah cairan asam yang akan mengikis hati Xia Mu perlahan-lahan, menyakitinya sampai-sampai ia merasa ingin menghancurkan apapun yang berada di sekitarnya, menyakitinya sampai ia rasanya mau gila. Tetapi jika Xia Mu tidak menemui Yawang sekarang, Yawang pasti akan bepikir macam-macam. Yawang akan menyalahkan dirinya sendiri dan berpikir bahwa Xia Mu tidak hidup dengan baik, bahwa Xia Mu diganggu… Dengan begitu, bukankah Yawang akan lebih bersedih? Kalau begitu… temui dia! Walaupun Yawang menangis nanti, setidaknya… setidaknya Xia Mu masih bisa melihat Yawang!

Xia Mu mengepalkan tinjunya erat-erat kemudian mengikuti polisi ke ruang kunjungan. Pintu besi kecil terbuka dan ketika Xia Mu melewati celah sempit tersebut, ia melihat para anggota keluarga yang duduk berderet di seberang kaca pembatas. Xia Mu dapat menemukan Yawang di antara kerumunan tersebut, dan ketika Yawang menoleh dan mendapati Xia Mu, ia terdiam untuk beberapa saat, tetapi kemudian memberikan sebuah senyum samar yang lembut. Senyum itu masih sama seperti dalam ingatan Xia Mu, hangat dan indah. Xia Mu tidak melepaskan tatapannya dari Yawang, ia tidak sadar bahwa langkahnya melambat ketika mendekati Yawang dan duduk di seberangnya.

“Yawang.” Xia Mu memanggil lembut, tatapannya tidak lepas dari Yawang. Suara Xia Mu lembut, sangat lembut sampai-sampai seperti jika ia berbicara lebih lantang sedikit saja, ia takut Yawang akan menghilang. Xia Mu menatap Yawang yang berada di seberang kaca, ia menyebutkan satu nama yang sudah dikuburnya dalam-dalam selama ini. Shu Yawang terus membalas tatapan Xia Mu, sudut matanya mulai memerah. Yawang menggigit bibir bawahnya dan dengan lembut menggumamkan sesuatu. Xia Mu tidak berkata apa-apa setelahnya, ia kembali menjadi dirinya yang pendiam. Padahal, Xia Mu punya banyak sekali yang ingin dikatakannya pada Yawang, banyak hal yang dikhawatirkannya. Tetapi… seorang Xia Mu yang memang pendiam tidak tahu harus memulai dari mana. Untungnya, Yawang sudah terbiasa dengan keheningan Xia Mu, dan seperti dulu, Yawang adalah yang pertama memulai percakapan. Mungkin di dunia ini, hanya Shu Yawang yang mampu bertahan dengan keheningan Xia Mu. Xia Mu tidak menjawab, tetapi Yawang dapat membaca kata-kata dan jawaban Xia Mu.

| Passion Heaven |

Yawang menceritakan banyak hal pada Xia Mu; tentang Kakek Xia yang sehat, tentang perasaannya yang baik hari ini, tentang ia yang memutuskan untuk mencari pekerjaan lain dan pindah ke kota lain. Yawang sedang berusaha keras dengan pekerjaannya yang sekarang, bos perusahaannya kali ini sangat menyukai Yawang, begitu juga dengan rekan-rekan kerjanya. Yawang juga memberitahu Xia Mu bahwa teman sekamarnya sekarang adalah guru SMA Xia Mu. Yawang tersenyum samar ketika ia berbicara tentang dirinya sendiri, ia tahu bahwa hal-hal yang berkaitan dengan dirinyalah yang ingin diketahui Xia Mu. Dan Xia Mu, Xia Mu hanya diam mendengarkan Yawang dan terus menatap Yawang, menatap senyumnya, ekspresi wajahnya ketika ia berbicara, setiap gerakannya. Yawang terlihat senang ketika membicarakan kehidupan sehari-harinya, tetapi Xia Mu merasa ada sesuatu yang kurang, jadi ia menginterupsi Yawang.

“Bagaimana dengan Tang Xiao Tian?” Apa yang terjadi dengan Tang Xiao Tian? Laki-laki yang sangat dicintai Yawang itu, laki-laki yang Yawang inginkan untuk menghabiskan waktu bersama sampai akhir hidupnya, kenapa Yawang tidak menyebutnya? Senyum Yawang menjadi kaku, kedua matanya memancarkan kesedihan. Yawang menoleh ke samping dan menghindari tatapan Xia Mu, Xia Mu hanya diam sambil menunggu Yawang untuk menjawab pertanyaannya. Setelah bergumul beberapa saat, Xia Mu mendengar jawaban Yawang,

“Kami putus.” Xia Mu terkejut, ia tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

“Kenapa?” Shu Yawang menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, kemudian berkata,

“Karena… karena…” Yawang menatap Xia Mu, ia tidak ingin melanjutkan pembicaraan ini, tetapi Xia Mu terus menatap Yawang, menuntut sebuah jawaban. Yawang menghembuskan nafas panjang dan tertawa pahit.

“Karena aku… sangat merindukanmu.” Xia Mu menatap Yawang curiga. Yawang menunduk dan kembali bergumam dengan suara kecil, seperti sedang berbicara sendiri.

“Aku sangat merindukanmu. Setiap kali aku makan, aku akan berpikir, apa kau sudah makan? Setiap kali aku berbincang dengan seseorang, aku akan berpikir, sudah berapa lama sejak terakhir kau berbicara dengan orang lain? Setiap kali aku bangun, aku akan berpikir, apa yang akan kau lakukan hari ini? Bekerja? Masuk ke kelas? Xia Mu, aku merindukanmu… Sangat merindukanmu.” Air mata mengaliri pipi Yawang. Ia dengan cepat menundukkan kepalanya dan menghapus air matanya, rambut panjangnya menutupi wajahnya. Hati Xia Mu mulai terasa sakit, ia sangat ingin memeluk Yawang, menghapus air mata Yawang. Sesaat kemudian, Yawang seperti teringat sesuatu.

“Xia Mu, di mana kalung yang aku berikan untukmu?” Xia Mu mengeluarkan kalungnya dan menunjukkannya pada Yawang. Yawang menatap kalung tersebut dengan senyum samar, kemudian kembali menatap Xia Mu.

“Jaga baik-baik. Aku akan menunggu sampai kau dibebaskan.” Menunggu sampai Xia Mu dibebaskan?

“Apa maksudmu?” Wajah Shu Yawang tiba-tiba memerah dan ia menjawab dengan nada manja,

“Hal begini pun kau tidak tahu…” Pada akhirnya, Yawang tetap tidak mengatakan apa maksud kata-katanya. Dari semua hal yang mereka bicarakan, Xia Mu punya banyak spekulasi. Xia Mu tahu bahwa Yawang akan menunggunya sampai ia dibebaskan, Xia Mu tahu bahwa Yawang putus dengan Tang Xiao Tian… Mereka akhirnya putus? Xia Mu selalu berpikir bahwa Yawang dan Xiao Tian tidak akan pernah terpisahkan, mereka akan mencintai satu sama lain untuk selamanya, dan Xia Mu akan berada di sisi mereka, dalam diam memerhatikan mereka.

Awalnya, Xia Mu benar-benar hilang harapan. Di matanya, tidak ada lagi pasangan lain seperti Shu Yawang dan Tang Xiao Tian di dunia ini. Setiap kali Xiao Tian datang, Yawang akan selalu senang dan ceria sampai kau akan merasa gemas dan ingin menjawil hidungnya. Terkadang, Yawang akan tersipu malu, membuat orang-orang tidak bisa mengalihkan pandangan mereka. Semua ekspresi itu hanya ditunjukkan khusus pada satu pria yang mencintai Yawang sepenuhnya. Sebelumnya, ketika Xia Mu melihat mereka berdua, ia akan merasa bahwa merekalah pasangan terbahagia, sangat bahagia sampai Xia Mu tidak punya setitik harapan pun. Tetapi sekarang, harapan itu ada. Sebelum bertemu Tang Xiao Tian, setidaknya begitulah pemikiran Xia Mu. Tetapi sekarang, mungkin Yawang bisa menjadi miliknya? Atau mungkin sejak hari itu, orang yang dinantikan Yawang adalah Xia Mu? Akankah seperti ini? Inikah yang dimaksud Yawang?

| Passion Heaven |

Sejak kunjungan Shu Yawang, Xia Mu lebih jarang melamun. Ia akan mengikuti beberapa kelas dengan para tahanan lainnya dan ikut berpartisipasi dalam kegiatan sosial untuk pelayanan publik. Bahkan para penghuni sel 209 dapat merasakan bahwa hati Xia Mu membaik. Xia Mu yang sekarang berbeda dengan yang dulu, walaupun ia masih saja seorang yang pendiam dan tidak banyak bicara, para penghuni sel 209 merasa bahwa jiwa dalam diri Xia Mu telah kembali. Kadangkala mereka akan bergosip, mereka akan menoleh dan kemudian mendapati bahwa Xia Mu sedang mengamati mereka. Karena Xia Mu tidak mengabaikan mereka sebanyak dulu lagi, para penghuni sel 209 mulai mendekatinya. Lao Zhu akan memancing Xia Mu dan bertanya,

“Apakah pacarmu yang mengunjungimu kemarin?” Setelah yang lain mendengar pertanyaan Lao Zhu, mereka akan tertawa dan ikut memancing Xia Mu.

“Tentu saja, jika tidak, bagaimana bisa ia bertahan hidup?” Xia Mu menggelengkan kepalanya, tidak menjawab, tetapi kedua sudut bibirnya terangkat. Pacar? Tidak ada yang pernah berkata bahwa Yawang adalah pacarnya. Perasaan yang dirasakan Xia Mu dalam hatinya ini, perasaan yang aneh! Manis, tapi terasa menggelitik, tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Xia Mu terus menyimpan perasaan itu sampai kunjungan keduanya.

| Passion Heaven |

Xia Mu berpikir bahwa Yawang datang mengunjunginya lagi, tetapi ketika ia melewati pintu pembatas, ia melihat pria itu. Pria itu berseragam militer dan menatap Xia Mu lekat-lekat. Xia Mu tidak tahu kenapa, mungkin karena tampilan Xiao Tian sekarang, Xia Mu merasa bersalah. Xia Mu berjalan mendekati kaca pembatas perlahan. Pria di seberang kaca juga terdiam sejenak sebelum berbicara.

“Xia Mu, kau…” Tetapi setelah mengatakan tiga kata ini, Xiao Tian tidak dapat melanjutkan. Ia menggigit bibir bawahnya dan mengalihkan tatapannya. Xia Mu mengangkat tatapannya dan menatap Xiao Tian, dengan hanya satu tatapan, ia tahu apa yang ingin dikatakan Xiao Tian. Xiao Tian pasti ingin bertanya,

“Xia Mu, bagaimana kabarmu? Xia Mu, apa ada yang mengganggumu? Xia Mu, aku minta maaf.” Xiao Tian adalah pria seperti itu: jujur, baik, seorang pria yang bertanggung jawab. Xiao Tian sangat mengerti Xia Mu, tetapi karena itulah, Xia Mu membencinya. Karena Tang Xiao Tian yang seperti inilah, Xia Mu tidak bisa mengalahkannya, ia tidak bisa membenci Xiao Tian sepenuhnya. Tang Xiao Tian tidak pernah tahu seberapa besar rasa iri Xia Mu padanya. Sejak kecil, Xia Mu iri pada Paman Tang yang tegas, iri pada ibu Xiao Tian yang hangat, iri pada teman-teman Xiao Tian, iri pada gadis yang dicintai Xiao Tian. Tetapi sekarang, Xia Mu iri pada seragam militer yang dikenakan Xiao Tian. Xia Mu sangat iri, tetapi harga dirinya mengalahkan segalanya! Xia Mu mengalihkan pandangannya dan menghembuskan nafas panjang sebelum menatap Xiao Tian lekat-lekat. Xia Mu juga mengerti Tang Xiao Tian, ia tahu bahwa pria itu tidak ingin melihatnya, sama seperti ia tidak ingin melihat pria itu. Jadi alasan mengapa Tang Xiao Tian datang mengunjunginya, hal yang membuatnya terburu-buru dan ada hubungannya dengan Xia Mu hanya satu.

“Xia Mu, apa kau tahu ke mana Yawang pergi?” Tentu saja, tentu saja karena Yawang. Xia Mu menundukkan kepalanya dan tidak menjawab.

“Satu hari setelah kau divonis, Yawang menghilang. Ia meninggalkan sebuah surat di rumah dan pergi. Orang tuanya sangat mengkhawatirkannya dan semua teman-temannya tidak tahu ke mana ia pergi. Jadi aku berpikir apakah mungkin ia datang menemuimu?” Tang Xiao Tian menatap Xia Mu dengan tatapan penuh harap. Xia Mu, kau pasti tahu di mana Yawang berada, bukan?

“Aku sudah mencari Yawang sekian lama, tetapi aku tidak bisa menemukannya.” Xiao Tian terdengar seperti akan hancur.

“Bisakah kau beritahu aku di mana Yawang berada?” Xia Mu menundukkan kepalanya dan diam. Xia Mu… tidak… dia tidak ingin memberitahu Xiao Tian. Xia Mu takut, takut bahwa jika Xiao Tian menemukan Yawang, sehelai kecil harapannya akan hancur. Yawang sangat, sangat, sangat sangat menyukai Xiao Tian. Xia Mu memejamkan kedua matanya dan menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Tang Xiao Tian melihat reaksi Xia Mu, jadi ia menghela nafas dalam dan berdiri.

“Kalau kau tidak tahu, lupakan saja.” Ketika Xiao Tian berbalik memunggungi Xia Mu, ia mendengar gumaman Xia Mu dari belakang,

“Aku hanya tahu Yawang berada di Kota W.” Tang Xiao Tian tetap berada dalam posisinya dan tidak membalikkan punggungnya untuk menatap Xia Mu ketika ia berkata,

“Terima kasih, Xia Mu.” Setelahnya, Xiao Tian segera berlari keluar. Xia Mu menurunkan tatapannya, ya, Yawang sangat menyukai Xiao Tian, jadi, jadi… inilah kebahagiaan Yawang. Xia Mu selalu memikirkan tentang perasaannya sendiri pada Yawang dan mengorbankan kebahagiaan Yawang. Cinta yang seperti itu hanya akan menjadi beban, seperti sebuah tali yang mengikat Yawang kuat-kuat, membuatnya sesak dan tidak bahagia. Jadi, Xia Mu membiarkan Xiao Tian mencari Yawang! Berhentilah memikirkan Yawang!

| Passion Heaven |

Beberapa hari setelahnya, Xia Mu kacau. Ketika ia bekerja, ia tidak sengaja melepaskan palu di tangannya dan menyebabkan tangan seorang bos (lebih tepatnya seorang tahanan yang dipanggil bos) terluka. Ketika pelajaran dimulai, kedua matanya akan tidak fokus dan ia bahkan tidak menyentuh makanannya ketika jam makan tiba. Sepasang matanya akan berkelana, tenggelam dalam dunianya sendiri. Tidak ada yang tahu apa yang sedang dipikirkan Xia Mu; beberapa orang dilahirkan dengan aura seperti itu, seperti berada di dunianya sendiri. Ketika Xia Mu tidak berbicara, sel 209 terasa sesepi dan sesunyi air mengalir. Para tahanan di sel tersebut merasa bahwa ada sebuah batu besar yang menekan dada mereka, membuat mereka merasa sesak. Tidak ada seorang pun yang mengerti mengapa Xia Mu kembali menjadi dirinya yang lama, dan tidak ada seorang pun yang tahu apa yang disembunyikan Xia Mu di dalam hatinya, walaupun mereka mencoba untuk mengajak Xia Mu berbicara, hanya angin yang menjawab mereka.

Makin hari mereka menjadi semakin takut ketika menatap mata Xia Mu. Mereka takut bahwa jika mereka mengajak Xia Mu berbicara, Xia Mu akan hancur dan mereka akan berada dalam bahaya. Lao Zhu sudah bertanya pada Lao Xu,

“Kira-kira kenapa Xia Mu menjadi seperti ini akhir-akhir ini?” Lao Xu mengangguk-anggukkan kepalanya seperti sedang mempertimbangkan sesuatu.

“Ia dikhianati?” Kemudian kedua orang tua itu menggeleng, dikhianati? Tidak mungkin! Terakhir kali yang mengunjungi Xia Mu adalah seorang pria, jika ia diputuskan, seharusnya seorang perempuan yang mengunjunginya. Kemudian, Lao Zhu terpikir sesuatu dan menatap Lao Xu dengan sepasang mata yang melebar.

“Mungkin itu kekasih baru pacarnya dan pria itu yang meminta Xia Mu memutuskan pacarnya. Kau tahu, perempuan itu sensitif.” Semua orang tahu bahwa ada sesuatu yang salah, tetapi mereka tidak bisa memastikan apa hal tersebut.

Anak ini, Xia Mu, akan bersungut sepanjang hari; ketika ia belajar, bekerja, makan, dan tidur, ia akan melakukan semua itu sesuai jadwal, tetapi sesuatu terasa salah. Anak ini, sepertinya jiwanya sudah meninggalkan tubuhnya. Xia Mu terkadang akan menatap ke luar jendela besi di sel tersebut, mendengarkan setiap langkah kaki yang lewat pada jam-jam tertentu. Awalnya ketika Xia Mu mendengar langkah-langkah kaki tersebut, ia akan terus merasa cemas sampai ia tidak lagi mendengar suara langkah kaki tersebut. Ia tidak datang, Yawang masih belum datang. Sebuah suara di dalam hati Xia Mu akan berteriak,

“Tang Xiao Tian sudah menemukannya! Mereka sudah bersama! Menyerahlah! Menyerah saja! Dari awal, orang yang dicintai perempuan itu memang bukan dirimu!” Setiap kali Xia Mu mendengar suara ini terngiang-ngiang di dalam kepalanya, ia merasa seperti ada kuku yang menancap hatinya, merasa sakit ketika darah mengalir keluar dari luka tersebut dan ketika ia oksigen dan karbon dioksida bertukar melewati luka tersebut. Hatinya terasa sakit, kosong, tetapi kenapa ia masih merindukan sesuatu? Xia Mu akan teringat ketika Yawang mengunjunginya di penjara, ia akan memutar adegan itu berkali-kali di dalam kepalanya. Yawang berkata,

“Aku sangat merindukanmu. Setiap kali aku makan, aku akan berpikir, apa kau sudah makan? Setiap kali aku berbincang dengan seseorang, aku akan berpikir, sudah berapa lama sejak terakhir kau berbicara dengan orang lain? Setiap kali aku bangun, aku akan berpikir, apa yang akan kau lakukan hari ini? Bekerja? Masuk ke kelas? Xia Mu, aku merindukanmu… Sangat merindukanmu.”

Xia Mu tidak pernah tahu bahwa kata-kata yang diucapkan Yawang dengan wajah tersipu akan menjadi sebuah semangat dan harapan yang begitu besar baginya, namun sekarang semua itu menjadi sebuah kesedihan yang mendalam. Setiap kali bunga tidur mengunjunginya setiap malam, ia akan melihat sebuah bayangan yang menunggunya di luar pintu sel, kemudian bayangan lainnya akan berdiri di samping bayangan pertama tadi. Di akhir bunga tidurnya, ia akan memandang keluar dari jendela, memerhatikan dua insan yang terlihat saling memerhatikan satu sama lain dan berjalan menjauh… Ketika ia terbangun dari mimpi itu, ia akan menggenggam kalungnya erat-erat dan duduk terdiam, kemudian mulai memikirkan tentang Yawang lagi…

| Passion Heaven |

Enam tahun, waktu yang tidak lama, tetapi jika dibilang sebentar, kelihatannya tidak berujung; hidup di dalam kegelapan setiap hari, tidak melihat pagi atau malam. Xia Mu dengan sengaja tidak menghitung hari demi hari selama enam tahun ini, dan ia tidak tertarik untuk keluar. Ketika ia mulai melupakan dunia luar, seseorang memberitahunya,

“Xia Mu, kau bebas.” Xia Mu menatap ke luar jendela ketika sekelabat sinar matahari menyinari ruang yang sempit dan gelap tersebut. Ia menatap polisi penjaga di depannya, matanya tidak memancarkan kesenangan ataupun kesedihan. Ia selalu saja seperti ini, tenang, seperti air dan api yang tidak menyatu. Ia menurunkan tatapannya dan mengganti pakaiannya dengan pakaian yang dibawakan oleh polisi penjaga. Xia Mu berjalan keluar selangkah demi selangkah, ia lalu berbalik dan menatap para penghuni sel 209. Kemudian ia menunduk dan pergi tanpa mengatakan apa-apa.

“Apa anak itu baru saja menatap kita?” Lao Zhu bertanya terkejut.

“Sial, sudah enam tahun kita bersama dan ini pertama kalinya ia menatap kita.”

“Apa alasan di balik tatapannya menurutmu?”

“Mana kutahu.”

“Apa itu tanda terima kasih karena kita sudah menjaganya selama ini?”

“Kau berpikir terlalu jauh…”

“Lalu kenapa ia menatap kita?!” Lao Xu kemudian berteriak.

“Hei bocah, pergilah dan jadi anak baik! Jangan kembali lagi ke sini!” Xia Mu yang sudah berjarak cukup jauh tiba-tiba berhenti. Ia membalikkan badannya dan menatap para tahanan sel 209 dengan matanya yang sehitam tinta.

“Jaga diri.” Setelah mengatakan satu kalimat pendek tersebut, Xia Mu berbalik dan pergi. Lao Xu mematung di tempatnya dan tidak merespon apa-apa untuk waktu yang cukup lama.

“Anak itu lebih indah dibandingkan ketika ia baru saja masuk.”

“Sial, sudah sangat lama sejak terakhir kau melihat perempuan.” Lao Zhu berkomentar dengan tatapan menghina, tetapi ia juga mengaku,

“Dia benar-benar anak yang indah.”

| Passion Heaven |

Pintu utama dari gedung tersebut terbuka, menimbulkan suara mendecit yang cukup mengganggu pendengaran. Yawang dengan cepat merapikan rambutnya dan berjalan beberapa langkah ke depan. Yawang memerhatikan dengan seksama ketika sebuah pintu di depan pintu masuk terbuka, sepasang kaki panjang yang melangkah keluar, diikuti dengan perawakan tubuh yang tinggi dan kurus. Xia Mu berjalan dua langkah ke depan, ia berdiri di bawah sinar matahari, Xia Mu mengangkat kepalanya dan menyipitkan matanya untuk menatap langit biru yang cerah siang itu. Shu Yawang memerhatikan Xia Mu dari kejauhan, Xia Mu memakai sebuah jaket berwarna biru tua dan sebuah topi bisbol, wajah indahnya kehilangan jejak-jejak keluguan seorang remaja. Xia Mu kelihatannya mendapati Yawang yang sedang menatapnya ketika ia menoleh. Xia Mu masih sama seperti dulu dengan wajah tanpa ekspresinya. Yawang menatap Xia Mu dengan kedua sudut bibir yang terangkat membentuk senyum, ia tersenyum lembut pada Xia Mu. Ketika Xia Mu melihat senyum Yawang, raut wajahnya melembut dan ia ikut tersenyum. Di bawah sinar matahari yang terik, kedua orang yang berdiri cukup jauh dari satu sama lain, saling menatap satu sama lain, dan saling memberi senyum pada satu sama lain.

Tidak ada yang tahu siapa yang memulai terlebih dahulu, tetapi jarak di antara keduanya semakin terkikis, keduanya berhenti ketika mereka berjarak satu langkah. Shu Yawang mengangkat kepalanya untuk menatap Xia Mu, Xia Mu sekarang lebih tinggi dan lebih tampan, tetapi auranya tetapi tidak berubah dengan wajahnya yang tampan dan kurus, menampakkan wajah tak berekspresinya, kedua matanya masih sama kosong dan dinginnya, dan tentu saja, lingkaran hitam di bawah matanya yang tidak pernah hilang. Yawang menatap Xia Mu dengan seksama, menatap lebih dekat dan lebih hati-hati, bibir Yawang tidak pernah berhenti tersenyum, tetapi kedua mata Yawang memerah dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya dan kemudian turun mengaliri pipinya. Xia Mu mengangkat tangannya untuk menghapus air mata di wajah Yawang, Yawang meraih tangan Xia Mu dan menggenggamnya erat-erat. Yawang kemudian memerhatikan tangan Xia Mu, tangan Xia Mu sekarang keras dan kasar. Yawang mengusap telapak tangan Xia Mu dan tiba-tiba menangis keras, tangannya… sepasang tangan indah yang layaknya karya seni tak tergantikan itu… sekarang dipenuhi dengan luka dan goresan, seperti tangan para buruh kasar. Sebenarnya semenderita apa Xia Mu selama di penjara? Yawang mengusap-usap tangan Xia Mu, seperti berusaha mengembalikan telapak tangan Xia Mu yang lembut seperti dulu.

Xia Mu menghela nafas kasar dan menarik tangannya, ia kemudian beralih memeluk Yawang dengan sangat erat.

“Jangan menangis, kau tahu aku takut melihatmu menangis.” Xia Mu berkata lembut. Yawang balas memeluk Xia Mu dan mengangguk dalam pelukannya.

“Aku tidak menangis, tidak akan menangis.” Yawang menjawab. Ia memeluk Xia Mu masih sambil menangis, dan ketika pada akhirnya ia berhasil menenangkan diri, Yawang mengusap wajahnya, menghapus sisa-sisa air mata di pipinya. Yawang kemudian mengangkat kepalanya dan tersenyum lebar pada Xia Mu.

“Xia Mu, selamat datang kembali.” Xia Mu tersenyum kecil.

“Mmm.”

| Passion Heaven |

Berakhir sudah, enam tahun yang terasa tidak berujung ini akhirnya selesai. Xia Mu sudah hampir melupakan birunya langit, melupakan ramainya jalanan, melupakan tanggal hari ini, tanggal esok hari, tanggal lusa. Terkadang, Xia Mu akan memerhatikan pantulan dirinya di cermin dan mendapati posturnya yang semakin kaku. Ia akan mengangkat tangannya kemudian mengusap cermin tersebut, kedua mata kosongnya terlihat ragu dengan apa yang dilihatnya sendiri. Benarkah ini dia? Benarkah ini Xia Mu? Di pusat tahanan yang sunyi, dengan gerbang-gerbang besi yang tinggi. Enam tahun, tidak semudah yang dipikirkannya. Tetapi kemudian, Xia Mu tidak pernah menyesali semua ini, tidak sekali pun…

Akhirnya seluruh bab Xiamu selesai di terjemahkan. Terima kasih Aya unuk kerja kerasnya 🙂

Untuk filmnya sendiri judulnya berganti Sweet Sixteen and akan dirilis pada 29 April ini, penasaran?