CHAPTER V: Tang Xiao Tian Mengikuti Wajib Militer

XMOaS

Ketika mereka kecil, mereka berjanji di bawah bintang. Yang satu berkata ia bersedia menunggu, dan satunya lagi berkata bahwa ia pasti kembali.

 

Ketika mereka mendekati hari kelulusan mereka, Tang Xiao Tian memberitahu Shu Yawang bahwa ia akan mengikuti wajib militer. Yawang tidak mengerti; dengan nilai-nilainya, Xiao Tian bisa saja langsung mendaftar di sekolah militer, kenapa harus repot-repot mengikuti wajib militer dulu? Paman Tang pernah memberitahu mereka:

“Mereka yang lulus dari sekolah militer disebut sebagai murid dan mereka yang lulus dari wajib militer disebut tentara. Seseorang harus benar-benar dilatih di barak tentara untuk diakui sebagai tentara sejati.” Yawang mengerucutkan bibirnya ketika ia mendengar alasan tersebut. Aku tidak mengerti jalan pikiran Paman Tang. Kenapa dia selalu seperti ini, memperlakukan anak orang lain seperti harta karun, tetapi memperlakukan anaknya sendiri seperti ini?

“Apakah kau mau pergi?” Yawang bertanya pada Xiao Tian. Xiao Tian menatap Yawang dan menganggukkan kepalanya.

“Ya, kebanyakan dari mereka menyesal setelah mengikuti wajib militer setelah dua tahun, tetapi mereka yang tidak mengikuti wajib militer akan menyesal seumur hidup.” Xiao Tian menjawab dengan nada serius. Xiao Tian ingin dilatih di barak tentara sebelum mendaftar ke sekolah militer. Ia ingin menjadi seperti ayahnya, sehingga ia sudah memutuskan hal ini sejak ia masih kecil. Yawang mengagumi bagaimana Xiao Tian selalu punya tujuan masa depan yang jelas.

|PASSION HEAVEN|

Yawang bersungut dalam perjalanan pulangnya di bis, ia menggenggam tali tas sekolahnya erat-erat. Xia Mu duduk di sampingnya, sesekali Xia Mu akan mengangkat kepalanya untuk melihat Yawang ketika lampu jalan mengenai wajah Yawang.

“Hei.” Xia Mu memanggil Yawang.

“Hah?” Yawang menoleh dan menatap Xia Mu. Xia Mu masih terlihat sama seperti dulu walaupun ia sudah berusia tiga belas tahun sekarang, ekspresi dingin di wajahnya yang indah tidak berubah.

“…”

“Hmm?” Xia Mu menoleh.

“Kau tidak banyak berbicara hari ini.” Apakah biasanya aku banyak bicara? Yawang biasanya akan mengajak Xia Mu berbicara dari ketika mereka menaiki bis sampai ketika mereka tiba di tempat tujuan.

“Aku sedang memikirkan sesuatu.” Yawang menyandarkan kepalanya pada tempat duduknya, ia menoleh ke arah Xia Mu, wajahnya terlihat lelah. Xia Mu menoleh untuk melihat Yawang dengan wajah tanpa ekspresinya.

“Xia Mu, apakah kau mau tahu apa yang sedang aku pikirkan?”

“Mmm.” Xia Mu menjawab, menandakan keingintahuannya.

“Kau benar-benar ingin tahu?” Yawang menggodanya sambil mencubit kedua pipi Xia Mu. Yawang suka mencubit pipinya karena itulah cara untuk mendapat tanggapan dari Xia Mu.

“Jangan cubit pipiku.” Xia Mu menghindar.

“Kalau kau mau tahu, biarkan aku memelukmu!” Yawang dengan cepat melingkarkan kedua lengannya pada Xia Mu dan meletakkan dagunya di atas kepala Xia Mu.

“Memeluk Xia Mu terasa menyenangkan dan hangat.”

“Kau… Lepaskan aku.” Xia Mu berusaha melepas diri.

“Baiklah, aku akan melepasmu.” Xia Mu kembali duduk dengan tenang dan memelototi Yawang.

“Biarkan Jiejie memelukmu lagi.” Yawang merengek sambil mengulurkan tangannya. Yawang suka memeluk Xia Mu; wangi Xia Mu menyenangkan dan tubuhnya terasa lembut dan hangat.

“Tidak mau.” Xia Mu menolak dan kemudian berpindah ke tempat lain.

“Kau tidak mau tahu apa yang sedang aku pikirkan?” Yawang tidak langsung berpindah ke tempat Xia Mu; sebaliknya, ia menunduk dan tersenyum. Dari jendela bis terlihat langit yang berwarna gelap dengan lampu jalan yang berbaris rapi. Yawang memandang fokus ke arah jalanan, tidak menyadari seseorang telah duduk di sampingnya. Orang itu menarik lengan baju Yawang dan Yawang mengangkat kepalanya, ia melihat Xia Mu dengan ekspresi acuh tak acuhnya.

“Aku akan membiarkanmu memelukku, tapi jangan acak rambutku.” Mata Yawang membesar dan ia tersenyum lebar. Xia Mu melihat reaksi Yawang dan langsung menghindar, tetapi Yawang terlebih dahulu memeluk Xia Mu. Yawang menyandarkan kepalanya ke bahu kecil Xia Mu dan menutup kedua matanya.

“Xia Mu sangat manis.” Yawang bergumam sambil mengacak rambut Xia Mu pelan. Xia Mu meluruskan punggungnya dan bibirnya mengerucut ketika Yawang tidak melepas pelukannya bahkan setelah beberapa saat. Karena Yawang tidak kunjung memulai pembicaraan, Xia Mu memanggilnya.

“Kau bilang mau memberitahu tentang apa yang sedang kau pikirkan.” Shu Yawang membuka matanya dan tersenyum pada Xia Mu.

“Aku sedang memikirkan tentang tujuan hidupku.”

|PASSION HEAVEN|

“Tujuan hidup?”

“Ya.” Xia Mu tidak menjawab dan Yawang juga tidak berkata apapun setelahnya. Bagi Yawang, ialah yang berinisiatif untuk membuka pembicaraan setiap kali berbicara dengan Xia Mu. Tapi tidak untuk hari ini.

“Dan?” Xia Mu bertanya penasaran.

“Hah?”

“Apa tujuan hidup yang sudah terpikir olehmu?” Yawang menundukkan kepala dan memainkan jari-jarinya.

“Tidak tahu, tidak terpikirkan. Mungkin aku adalah tipe orang yang akan menjalani hidup tanpa tahu apa yang dikerjakan.” Xia Mu menurunkan tatapannya dari Yawang dan terdiam, kemudian ia mengangkat kepalanya.

“Itu bagus.”

“Hah?”

“Orang-orang yang punya tekad kuat adalah orang-orang yang paling egois dan kejam.” Ketika Xia Mu mengatakan itu, rasanya kalimat tersebut tidak mungkin keluar dari mulut seorang anak berusia tiga belas tahun. Shu Yawang tidak mengerti apa yang dimaksud Xia Mu dan bertanya kepadanya. Xia Mu tidak menjawab dan hanya memandang kosong ke depan. Kenapa dia berkata seperti itu? Itu karena ayah Xia Mu adalah tipe orang seperti itu. Karena tekad kuat ayahnya untuk bekerja di salah satu bidang yang paling berbahaya sehingga ibunya khawatir, hidupnya berakhir. Ibu Xia Mu juga sama, walaupun Xia Mu terus memohon dan menangis, ibunya tetap memilih untuk bunuh diri. Huh, orang-orang dengan tekad kuat. Xia Mu memikirkan semua itu dengan tangan terkepal, kukunya tanpa sadar menusuk kulitnya. Sebuah tangan tiba-tiba memegang tangannya, membuatnya tersadar. Ia menoleh dan mendapati tangan Yawang di atas tangannya.

“Xia Mu, kita sudah sampai.” Perlahan ia melepas kepalan tangannya dan melihat vila keluarganya di luar sana.

|PASSION HEAVEN|

Pukul sekitar sembilan malam dan Yawang sedang menggambar di buku gambarnya di dalam kamar ketika telepon berbunyi.

“Yawang, teleponnya!” Ibu Yawang berteriak dari luar.

“Ya!” Yawang meletakkan pensilnya dan berdiri sebelum beranjak mengangkat telepon di luar kamarnya.

“Halo?”

“Yawang, ini aku.” Xiao Tian terkekeh.

“Oh, ada apa?”

“Oh, tidak ada.” Xiao Tian menjawab tergesa setelah terkejut dengan keterusterangan Yawang. Tidak ada yang berbicara setelahnya. Yawang menggigit bibir bawahnya karena canggung.

“Kalau kau tidak ingin berkata apa-apa, aku akan tutup teleponnya.”

“Yawang!” Xiao Tian memanggil Yawang tanpa berpikir apa yang akan dikatakan selanjutnya, ia hanya takut Yawang akan benar-benar menutup teleponnya.

“Yawang, keluarlah. Aku akan menunggumu di taman, kau harus datang.”

“Tidak mau.”

“Kalau kau datang, aku tidak akan pergi.”

“Pembohong, besok pagi kau juga akan pergi.” Besok adalah hari di mana Xiao Tian akan mengikuti wajib militer.

“Yawang, aku pergi ke taman sekarang.” Xiao Tian langsung menutup telepon setelahnya.

“Halo? Halo?” Yawang hanya dapat mendengar nada ‘do-do-do’ di telepon. Beraninya dia menutup telepon duluan? Aku akan memberinya pelajaran! Yawang berbalik untuk mengambil jaket dan sepatunya sebelum pergi ke taman, dan rupanya, dialah yang pertama sampai di sana. Yawang sedang melihat bintang-bintang di langit ketika Xiao Tian berlari ke arahnya. Yawang memerhatikan rambut Xiao Tian yang sudah digunting cepak, menampakkan wajah tampannya. Xiao Tian terengah-engah ketika sampai di depan Yawang. Jarak rumah Xiao Tian dengan taman ini hanyalah lima menit lebih jauh dibanding jarak rumah Yawang dengan taman ini, jadi Yawang menyimpulkan bahwa Xiao Tian berlari mati-matian untuk lebih cepat sampai. Xiao Tian menunjukkan buku-buku latihan yang dibawanya.

“Ini, pelajarilah.”

“Tidak perlu. Aku punya setumpuk buku di rumah yang tidak akan pernah bahkan untuk kulihat sekalipun.” Yawang menolak sambil menggelengkan kepalanya.

“Yawang, bisakah kau tidak marah? Aku akan pergi besok, bisakah kau tidak marah padaku?”

“Aku tidak marah.” Yawang menyanggah.

“Lalu kenapa kau mengabaikanku beberapa hari terakhir?” Yawang menggigit bibir bawahnya dan menunduk.

“Aku tidak marah, hanya saja, aku tidak bisa menerima bahwa kau akan pergi.” Mata Tang Xiao Tian memerah dan ia dapat merasakan jantungnya berdenyut.

“Yawang.” Yawang tidak mengangkat kepalanya, rambut hitamnya menutupi wajahnya, membuat air matanya turun mengaliri pipinya dengan sempurna. Xiao Tian mengulurkan kedua tangannya, hendak memeluk Yawang, namun ia kembali mengurungkan niatnya setelahnya. Tiba-tiba, Xiao Tian berjongkok, meletakkan buku-buku yang dibawanya, dan kemudian berada dalam posisi push-up.

“Yawang, naiklah.”

“Apa yang kau lakukan? Ayahmu tidak sedang menghukummu.” Yawang tertawa dengan tindakan Xiao Tian yang tiba-tiba.

“Aku sedang menghukum diriku sendiri. Aku membuatmu menangis, jadi aku harus dihukum.”

“Sudahlah, tidak apa-apa.”

“Cepatlah naik.” Yawang tertawa kecil dan duduk di atas punggung Xiao Tian.

“Baiklah, dua puluh kali kalau begitu.”

“Baiklah.” Xiao Tian mulai melakukan push-up dan Yawang mengangkat kepalanya untuk melihat bintang. Yawang tersenyum ketika ia mengingat kembali kejadian ini sejak mereka masih kecil. Sudah delapan belas tahun berlalu dan dia tidak percaya bahwa dia tidak akan merasakan hal ini untuk dua tahun ke depan. Yawang tahu dirinya tidak menginginkan Xiao Tian untuk pergi, tetapi…

Tang Xiao Tian belum sampai pada hitungan kedua puluh, tapi Yawang berdiri dan membungkuk untuk membantu Xiao Tian berdiri.

“Pergilah, aku akan menunggumu.” Yawang berkata dengan mata memerah. Xiao Tian menarik Yawang ke dalam pelukannya dan memeluknya erat. Mereka membuat sebuah janji di bawah bintang; yang satu berkata ia bersedia menunggu, dan satunya lagi berkata bahwa ia pasti kembali.

|PASSION HEAVEN|

Xiao Tian pergi dengan bis jam 8 pagi esok harinya, hari Minggu. Yawang menunggunya di bawah tangga, tersenyum ketika ia melihat Xiao Tian dalam balutan seragam dan topi militer serta bunga merah besar yang tersemat di dadanya. Yawang teringat dengan semboyan militer; satu orang menjadi tentara, membawa kebanggaan pada keluarga. Yawang menata rambutnya ketika Xiao Tian mendekatinya.

“Hehe.” Xiao Tian tersenyum sambil merapikan seragamnya. Ini bukanlah pertama kalinya ia memakai seragam militer; ia selalu memakai kepunyaan ayahnya sejak ia masih kecil. Xiao Tian kecil akan berjalan di depan kaca dengan seragam yang kebesaran dan topi yang menutupi hampir setengah wajahnya itu. Sekarang, ia sudah mempunyai seragam sendiri. Xiao Tian menegapkan punggungnya dan memberi hormat pada Yawang. Shu Yawang tertawa dan menepuk pundak Xiao Tian.

“Lumayan, lumayan.” Paman Tang muncul di belakang Xiao Tian dan menendangnya.

“Dasar, berhentilah berpose.”

“Ayah!” Xiao Tian berteriak, mengusap-usap tulang keringnya dengan tangannya. Selalu mempermalukanku. Ayah Xiao Tian memelototinya dan kemudian mengalihkan perhatiannya pada Yawang.

“Paman akan menyiapkan mobilnya, tunggu di sini.”

“Baik.” Yawang tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Xiao Tian berjalan mendekati Yawang dengan bibir mengerucut dan tangan yang menggenggam tangan Yawang.

“Kau tidak harus melihatku pergi.”

“Kenapa?”

“Aku tidak mau melihatmu menangis.” Hati Yawang terasa hangat dan ia tersentuh. Yawang memaksakan sebuah senyum dan berkata,

“Tapi aku mau melihatmu pergi.” Xiao Tian menggenggam tangan Yawang erat, tidak tahu harus menjawab apa. Xiao Tian sudah menyukai Yawang sejak mereka masih kecil, akan ada terlalu banyak hal untuk dikenang, terlalu banyak emosi dalam pikirannya, dan Xiao Tian tidak bisa berkata apa-apa karena ia menyukai Yawang. Jadi apa perasaan ini sebenarnya? Perasaan manis, penuh kebahagiaan yang menghangatkan hati, walaupun dengan sedikit penyesalan. Walaupun Xiao Tian tidak merasa sedih, Xiao Tian tahu bahwa Yawang akan menunggunya. Xiao Tian juga tahu bahwa Yawang berpikir sama sepertinya. Tang Xiao Tian menarik Yawang mendekat dan kedua lengannya memeluk Yawang erat. Yawang melingkarkan kedua tangannya ke punggung Xiao Tian dan menyandarkan kepalanya pada dada Xiao Tian. Xiao Tian dapat mencium wangi manis dari Yawang dan Yawang dapat mendengar detak jantung Xiao Tian.

|PASSION HEAVEN|

Musim panas itu, mereka berumur delapan belas tahun. Musim panas itu, mereka berpisah. Musim panas itu, pelukan mereka sebagai cinta pertama satu sama lain, akan terus muncul dalam mimpi mereka di hari-hari kepergian Xiao Tian. Yawang tidak mengantar Xiao Tian pergi hari itu, karena ia tidak mau melihat Xiao Tian menangis. Yawang berdiri di pintu depan ketika Xiao Tian menaiki mobil tentara Paman Tang. Xiao Tian menurunkan jendela mobil dan melihat Yawang. Yawang tersenyum padanya, matanya mulai berubah kemerahan ketika ia berusaha untuk tidak menangis. Xiao Tian tersenyum balik pada Yawang, matanya juga memerah ketika menahan air matanya. Mesin dinyalakan, dan pada saat itulah mereka sadar mereka akan benar-benar berpisah. Mereka tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, tetapi mereka percaya bahwa mereka akan bertemu lagi suatu hari nanti.

Ketika mobil Paman Tang mulai berjalan pergi, Yawang tanpa sadar mundur dua langkah. Xiao Tian mendorong badannya keluar dari jendela mobil dan melepas bunga yang tersemat di seragamnya sebelum melemparkannya ke Yawang. Bunga berwarna merah terang itu berayun di udara dan tepat menuju ke arah Yawang. Seketika itu juga Yawang menangkap bunga tersebut dan melihat ke arah Xiao Tian.

“Yawang, kau harus menungguku sampai aku kembali! Tunggu aku!” Xiao Tian berteriak seiring dengan kendaraan yang semakin menjauh dan menjauh. Yawang menatap bunga di tangannya dan mulai memainkannya.

“Hanya dua tahun.” Yawang terkekeh. Yawang mengangkat kepalanya dan menatap tepat ke arah kendaraan yang sudah menghilang dari tatapannya.

|PASSION HEAVEN|

Setelah Xiao Tian pergi, Yawang mengikuti ujian masuk jurusan seni rupa di sebuah universitas lokal dan sebuah universitas di provinsi lain dan berhasil dengan nilai yang sempurna. Kelembapan di pertengahan bulan Juni tidak tertahankan; kipas angin di kelas tidak banyak membantu seiring dengan tangan mereka yang sibuk membolak-balik halaman buku pelajaran mereka. Guru Cao memasuki ruang kelas dan memutuskan untuk memberi waktu istirahat untuk murid-muridnya yang terlihat sudah letih secara psikis.

“Istirahatlah sebentar, sudah hampir giliran kita untuk mengambil foto kelulusan. Semuanya berkumpul di luar gedung sekolah.”

“Oh.” Para murid itu bersorak. Tidak ada hal yang bisa menyenangkan mereka saat ini; mereka hanya ingin menyelesaikan ujian terakhir secepat mungkin. Yawang mengalihkan tatapannya dari bukunya dan memikirkan tentang waktu yang berlalu begitu cepat. Rasanya baru kemarin ia melihat kakak kelas mereka mengambil foto kelulusan, dan sekarang, sudah giliran mereka. Yawang berdiri di barisan pertama dengan dua puluh sembilan siswa lainnya berdiri di belakangnya. Yawang tersenyum sambil menatap ke arah kamera, meninggalkan senyum paling berseri untuk dicetak nantinya. Nantinya ketika para siswa membuka buku tahunan mereka di acara reuni sekolah, mereka akan menunjuk Yawang.

“Dia adalah bunga kelas kami dulu, cantik kan?”

Yawang meminta selembar cetakan tambahan untuk dikirimkan pada Xiao Tian. Xiao Tian meletakkan foto tersebut di jurnal kesayangannya begitu sampai, merasa menyesal karena ia pergi sebelum mendapat kesempatan untuk mengambil foto kelulusan bersama teman-teman kelasnya. Sesi terakhir dari ujian masuk perguruan tinggi adalah ilmu alam yang mencakup Fisika, Kimia, dan Biologi. Setelah mereka menyelesaikannya dan berjalan keluar pintu, buku catatan yang selama ini mereka pegang dirobek dan dibuang ke lantai. Mereka akhirnya bisa mengungkapkan kegembiraan mereka menyelesaikan ujian setelah terus-menerus merasa tertekan selama tiga tahun ini.

“Kita bebas!” Murid-murid itu berteriak sambil berlari keluar gedung sekolah. Yawang berjalan menuruni tangga dan merapikan rambutnya sambil menghembuskan nafas dengan lega. Ia mengeluarkan semua buku catatan dari tasnya dan membuangnya ke tempat sampah terdekat.

Aku tidak akan pernah melihatmu lagi. Ketika ia berjalan keluar dari gedung sekolah, kedua orang tuanya menghampirinya dengan sebotol minuman penyegar dan handuk kemudian menyapanya.

“Bagaimana? Kau lelah? Apa kau lapar? Bagaimana ujiannya? Pertanyaannya susah?” Ibu Yawang bertanya. Yawang menggeleng. Bahasa Inggris dan Sastra baik-baik saja, tapi Yawang tidak merasa yakin dengan ilmu alam. Yawang memerhatikan tatapan cemas dari kedua orang tuanya dan mengusap hidungnya.

“Kurasa aku mengerjakannya dengan baik.”

“Bagus, bagus, kau sudah berusaha. Ayo, Ayah akan membelikanmu sesuatu yang enak.” Ayah Yawang melingkarkan lengannya di pundak Yawang dan menepuknya pelan. Yawang akhirnya belajar dengan sungguh-sungguh dua tahun belakangan ini dan itu merupakan sebuah keajaiban bagi ayahnya. Yawang menyandarkan tubuhnya mendekat pada ayahnya dan ibunya membukakan pintu mobil untuk mereka. Yawang melihat Xia Mu yang juga berada di dalam mobil.

“Kau juga datang?”

“Paman yang menyuruhku.”

“Oh.” Yawang meneguk air minumnya. “Jadi kau dipaksa untuk datang.” Xia Mu memelototinya dan Yawang beralih mengusap kepala Xia Mu.

“Aku hanya bercanda. Aku tahu kau khawatir dengan Jiejie, makanya kau datang.” Ibu Yawang menoleh ke belakang dari tempat duduknya.

“Yawang, Ibu membuatkanmu makanan favoritmu; rumput laut dan sup iga, jamur dengan daging babi, dan mentimun dan irisan daging babi.”

“Asyik! Aku kelaparan.”

“Xia Mu, mampirlah dan coba masakan Bibi.” Xia Mu hanya menatap ibu Yawang, tidak mengangguk, tidak juga menggeleng. Ibu Yawang kembali menatap Yawang dan Yawang dengan segera menarik kerah baju Xia Mu perlahan untuk mendapat tanggapan darinya.

“Baiklah.” Ibu Yawang membalikkan badannya dengan senang dan mulai mendiskusikan tentang rencana untuk malam nanti dengan ayah Yawang. Yawang mendekati Xia Mu dan berbisik padanya,

“Xia Mu, ketika orang tua berbicara padamu, kau harus menjawab. Tidak sopan kalau kau mengabaikan mereka, mengerti?” Xia Mu beralih menatap lantai mobil dan memalingkan tatapannya ke samping. Argh, anak ini. Kalau saja dia bisa lebih berterus-terang.

|PASSION HEAVEN|

Ketika mereka sampai di rumah Yawang, Yawang langsung menuju sofa dan menyalakan TV sembari mengambil anggur yang terletak di meja. Orang tuanya menuju dapur untuk mulai menyiapkan makanan. Xia Mu mengikuti Yawang dan duduk di sofa. Yawang menyodorkan sebuah anggur padanya, tapi Xia Mu menggeleng.

“Kau benar tak mau? Ini manis.” Xia Mu mengulurkan tangannya untuk mengambil anggur yang disodorkan Yawang.

“Apakah kau akan pergi ke universitas di kota lain?” Xia Mu tiba-tiba bertanya. Yawang membuang biji anggur yang dimakannya ke tempat sampah. Ia berpikir sebentar sebelum menjawab.

“Tergantung, kalau nilaiku cukup tinggi, aku bisa masuk ke Institut Seni di Kota T.” Xia Mu menundukkan kepalanya.

“Apakah kau merasa nilaimu cukup tinggi?” Yawang menyeringai dan menyuruh Xia Mu untuk mendekat. Xia Mu menurutinya dan Yawang berbisik di telinga Xia Mu,

“Kurasa iya.”

“Oh.” Xia Mu tersenyum dan memakan anggur yang diberikan Yawang tadi. Wah, asamnya! Xia Mu memelototi Yawang yang tertawa terbahak-bahak melihat Xia Mu. “Haha, bodoh. Kau tertipu!” Merasa kesal, Xia Mu memalingkan wajahnya.

“Kau sangat menyebalkan.” Xia Mu mengomel. Ketika Yawang melihat Xia Mu terganggu seperti itu, Yawang berpikir bahwa Xia Mu adalah anak yang manis dan beralih memeluknya.

“Xia Mu, biarkan Jiejie memelukmu.”

“Tidak mau.” Xia Mu dengan cepat berdiri dari sofa sebelum Yawang dapat melingkarkan lengannya pada Xia Mu. Yawang ikut berdiri dan terjadilah kejar-mengejar di dalam rumah itu. Ayah Yawang memerhatikan mereka dan tersenyum. Xia Mu menjadi lebih ceria, Yawang bisa mengatasi anak-anak dengan baik. Haha.

|PASSION HEAVEN|

Sebelum ujian masuk dilaksanakan, Yawang bersumpah akan tidur selama tiga hari setelah menyelesaikan ujiannya. Tetapi, dia tidak terlihat dapat terlelap sedikitpun setelahnya. Ia berbaring di atas tempat tidurnya sambil membandingkan kunci jawaban yang diberikan gurunya dan lembar jawabannya. Yang paling pertama diperiksanya adalah ilmu alam dan ia mendapati bahwa banyak jawabannya yang salah. Yawang menjadi kurang percaya diri dan menggigit ibu jarinya seiring lembaran kunci jawaban yang dibukanya. Setelah beberapa saat, ia bangkit duduk dan membuka laci di samping tempat tidurnya. Di sana terdapat banyak surat dan ia mengeluarkan semuanya itu. Surat-surat itu berasal dari Xiao Tian, dengan total enam puluh delapan surat setelah Yawang menghitungnya. Ia mengambil yang paling baru dan membukanya.

“Yawang, sekarang pukul 9:31 malam dan aku baru saja selesai bermain basket di lapangan. Aku merindukanmu, jadi aku mulai menulis surat ini.” Yawang tersenyum membaca dua baris pertama. Xiao Tian selalu memulai suratnya dengan memberitahu waktu dan tempat di mana dia berada, memberitahu Yawang apa yang dikerjakannya saat itu. Setiap kali Yawang membaca bagian awal surat Xiao Tian, ia bisa membayangkan suasana ketika Xiao Tian menuliskan surat untuknya. Dengan angin yang bertiup pelan dan matahari yang mulai terbenam, seorang pria muda duduk di bangku dan sedang menulis surat di buku hariannya.

“Apakah kau tahu? Tim kami memenangkan pertandingan basket tadi. Da Ge* terlalu kuat; dia mencetak 45 poin sendirinya!” Da Ge, sebuah nama yang selalu muncul di setiap surat Xiao Tian. Da Ge dan Xiao Tian memasuki wajib militer pada saat yang bersamaan, tetapi karena Da Ge adalah yang paling tua dari semuanya, maka ia dipanggil Da Ge. Xiao Tian akan menuliskan tentang seberapa cepat Da Ge berlari, berapa banyak push-up yang bisa dilakukan Da Ge, dan bagaimana Da Ge membela dan menyelematkan mereka yang diganggu. Yawang menghela nafas dalam membaca semua pujian itu; ia merasa Xiao Tian-nya sudah dicuri oleh Da Ge.
*Da Ge itu Bahasa Mandarinnya “Big Brother” .

“Yawang, pasukan khusus akan datang dan memilih kandidat terbaik bulan depan. Hanya akan terpilih sepuluh orang, tapi aku akan berusaha sebaik mungkin. Aku sudah datang sejauh ini untuk menjadi bagian dari pasukan khusus, aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.” Yawang tersenyum melihat semangat dan tekad Xiao Tian yang tertuang dalam suratnya. Pria yang beruntung, bisa melakukan apa yang dia suka.

“Yawang, bagaimana dengan ujianmu? Apakah soalnya susah? Aku mengkhawatirkanmu. Kau tidak tahu seberapa banyak aku ingin mengikuti ujian masuk dan pergi ke universitas bersamamu. Aku merasa runyam, awalnya aku datang ke sini tanpa keraguan sedikitpun, namun setelah terpisah selama tiga bulan darimu, aku mulai menyesali keputusanku. Aku selalu memimpikan saat kau memegang bunga yang kulemparkan dan kau menangis. Apakah kau menangis hari itu, kenapa aku terus bermimpi kau menangis? Yawang, apakah kau merindukanku? Aku sangat merindukanmu.”

Yawang menutup wajahnya dengan surat Xiao Tian dan kembali berbaring di tempat tidurnya. Si bodoh ini, bagaimana bisa dia berkata sejujur ini di surat tapi tidak bisa mengatakannya secara langsung? Bagaimana bisa aku tidak merindukanmu?

|PASSION HEAVEN|

Tiga hari kemudian, Shu Yawang menerima hasil dari ujian masuk perguruan tingginya. Ia mendapat total 438 poin di bidang seni liberal dan 282 poin di bidang seni komprehensif. Nilainya memungkinkannya untuk mendaftar di Universitas T. Guru Cao melihat surat pemberitahuan Yawang dan kemudian menatap Yawang.

“Kau hanya perlu enam poin lagi untuk bisa masuk di Universitas S.” Yawang mengangkat bahunya dan mengambil surat pemberitahuannya kembali.

“Universitas T juga tidak apa-apa. Lebih dekat dengan rumah, jadi tidak perlu mengeluarkan biaya akomodasi.” Guru Cao menganggukkan kepalanya setuju.

“Universitas T bagus, teruslah belajar dengan giat.”

“Guru, akuilah bahwa Anda terlalu memihak. Kami berdua berhasil masuk ke Universitas T, tapi Anda menghukumku dan memuji Yawang!” Zhang Jing Yu mengeluh.

“Lalu? Biasanya kau bisa mendapat 150 poin untuk Matematika, tapi kau hanya mendapat 110 poin untuk ujian kali ini, kalau bukan aku yang menghukummu, siapa lagi?” Guru Matematika yang berdiri di dekat mereka mengangguk setuju dengan Guru Cao.

“Kau mempermalukanku. Apakah kau menyontek saat ujian?”

“Ayolah, soalnya sangat susah. Orang lain hanya mendapat 5 poin!”

“Tidak termasuk aku.” Shu Yawang tersenyum puas. Zhang Jing Yu mengambil surat pemberitahuan miliknya.

“Terserahlah, yang penting aku tidak perlu mengikutinya lagi.”

“Setuju!” Shu Yawang mengulurkan tangannya pada Jing Yu. Jing Yu juga mengulurkan tangannya dan keduanya bersalaman.

“Tolong jaga aku dengan baik, teman sekampusku.” Mereka berjalan keluar dari ruang guru sambil tertawa, menuju ke warnet dan berada di sana sampai malam.

|PASSION HEAVEN|

Malam harinya, Yawang memberitahu Xiao Tian bahwa ia dan Jing Yu diterima di universitas yang sama ketika Xiao Tian meneleponnya.

“Baguslah kalau ada Jing Yu yang menjagamu di sana. Sekarang, aku tidak perlu khawatir lagi.”

“Menjagaku dari apa?”

“Ah… tidak.”

“Baiklah, jadi kau tidak percaya padaku.” Yawang mengomel, memilin-milin kabel telepon dengan jarinya.

“Tidak, bukan begitu.” Xiao Tian menyangkal.

“Huh, aku marah.”

“Yawang…” Xiao Tian mencoba untuk meyakinkan Yawang, tetapi seseorang di belakangnya menghentikannya.

“Hei, yang di depan, waktu lima menitmu sudah habis, tutup teleponnya.” Di sekitar area asrama para tentara baru, ada enam telepon yang tersedia. Mereka hanya dapat menggunakannya pada saat akhir pekan pukul enam sampai sepuluh malam. Supaya adil, mereka setuju untuk tidak menelepon lebih dari lima menit masing-masing.

“Yawang, jangan marah padaku, aku benar-benar tidak—“

“Yang di depan, kau sudah pakai enam menit!”

“Baiklah, aku tutup dulu teleponnya.” Yawang mendengar bunyi ‘do-do-do’ sambil terkekeh dan menggelengkan kepalanya. Kasihan, dia bahkan tidak bisa menelepon dengan bebas. Dia ini tentara atau tahanan? Yawang baru saja akan beranjak kembali ke kamarnya ketika telepon berbunyi lagi.

“Halo?”

“Halo, apa ini Yawang?” Suara di telepon adalah suara seorang laki-laki, dengan suara yang rendah dan merdu di telinga Yawang.

“Siapa ini?”

“Da Ge?”

“Huh.” Laki-laki itu terkekeh. Yawang mengerutkan dahinya. “Aku Da Ge.”

“Ya, Xiao Tian ingin aku meminjamkan satu menit untuknya. Melihat betapa kasihannya dia, aku meminjamkannya.” Setelah laki-laki itu selesai berbicara, Yawang menunggu sebentar sebelum Xiao Tian berbicara.

“Yawang, aku tadi hanya berbicara sembarangan. Bukannya aku tidak percaya padamu, aku hanya ingin Jing Yu untuk menjagamu karena aku tidak bisa—“

“Baiklah, baiklah, aku tidak marah padamu, aku hanya bercanda.”

“Hei, aku tidak takut jika kau marah padaku.” Yawang tersenyum, membayangkan bagaimana raut wajah Xiao Tian saat mengatakannya.

“Dasar bodoh.”

“Hah, aku tutup dulu teleponnya. Da Ge juga ingin memakai teleponnya.”

“Oh, siapa nama asli Da Ge?” Yawang bertanya ingin tahu.

“Namanya Qu Wei Ran.”

“Qu Wei Ran?” Yawang mengulangi nama yang baru saja didengarnya. “Namanya bagus.”

“Ya, lebih bagus dari namaku. Ngomong-ngomong, aku akan tutup teleponnya sekarang. Da Ge sudah menunggu.”

“Oke.” Yawang tertawa sebelum menutup telepon. Xiao Tian mendengar nada ‘do-do-do’, tidak berniat untuk menutup telepon.

“Bagaimana bisa kalian tiba-tiba membicarakan aku?” Qu Wei Ran bertanya. Tang Xiao Tian menoleh dan tersenyum.

“Yawang menanyakan nama aslimu.”

“Oh, lalu?”

“Dia bilang namamu bagus.” Wei Ran tersenyum.

“Namanya juga bagus.”

“Ya, betul.” Mata Xiao Tian bersinar ketika ia menganggukkan kepalanya setuju.

|PASSION HEAVEN|

Musim panas tahun terakhir sekolah Yawang: tanpa PR untuk dikerjakan, tidak ada ulangan, tidak juga terdengar omelan dari kedua orang tuanya, tidak ada apa-apa sama sekali. Ini pasti salah satu musim panas paling bahagia yang pernah dilewatinya, tetapi karena Xia Mu, musim panasnya kali ini menjadi kacau.

Yawang tidak dapat memercayai matanya sendiri ketika ia melihat rapor Xia Mu. Nilai merah bertebaran dan Xia Mu bahkan tidak mendapat lebih dari nilai 50 di setiap mata pelajarannya. Yawang membolak-balik lembaran rapor Xia Mu dan memastikan bahwa itu memang kepunyaan Xia Mu. Yawang mengangkat kepalanya dan menatap anak laki-laki di depannya. Anak tampan, berambut hitam ini, bagaimanapun juga, dia terlihat seperti anak yang cerdas.

“Xia Mu, nilai di rapormu bahkan lebih buruk dari punyaku ketika aku SMP.” Xia Mu menatap Yawang dengan pandangan kosong. Yawang merasa frustasi dan melempar rapor Xia Mu ke meja.

“Apa-apaan ini?! Kenapa nilaimu bisa separah ini?! Wajah tampan bukanlah segalanya, setidaknya kau harus punya sedikit pengetahuan!” Xia Mu memelototinya, dan Yawang melotot balik.

“Aku tidak pernah memerhatikan selama pelajaran berlangsung dan tidak juga membaca buku pelajaran, tetapi nilaiku masih lebih tinggi darimu. Lihat ini, bagaimana bisa kau hanya mendapat 40 untuk Bahasa Mandarin? Perlihatkan kertas ulanganmu supaya aku bisa melihat kenapa kau bisa mendapat nilai serendah ini.” Xia Mu perlahan mengeluarkan kertas ulangannya dari tasnya. Selain bagian pilihan ganda yang diisi, sisanya dibiarkan kosong.

”Apakah kau menyontek saat mengisi bagian pilihan ganda?” Xia Mu menggeleng.

“Lalu bagaimana bisa kau benar semua?” Tidak hanya Bahasa Mandarin, tapi juga mata pelajaran lainnya, Xia Mu hanya menjawab bagian pilihan ganda di kertas ulangannya.

“Aku menebak.”

“Menebak?!” Yawang menatap Xia Mu marah dan melempar kertas-kertas ulangannya ke meja sebelum mendorong Xia Mu untuk duduk di kursi.

“Mulai hari ini, aku akan mengajarimu. Coba saja kalau kau berani tidak mendengarkanku!” Xia Mu menatapnya dan mengerucutkan bibirnya, kemudian mengangguk dalam diam.

Hal ini menandai dimulainya pelajaran tambahan selama dua bulan untuk Xia Mu. Setiap hari di musim panas itu, Yawang akan pergi ke rumah Xia Mu untuk mengajarinya. Mereka makan bersama dan tidur siang bersama. Xia Mu merasa ia semakin dekat dengan Yawang selama musim panas itu; dia kadang-kadang akan menjadi yang pertama memulai percakapan. Kadang ketika Yawang kelelahan, Yawang akan memberikannya tes untuk dikerjakan sedangkan Yawang beristirahat sebentar di tempat tidur Xia Mu. Xia Mu meletakkan kepalanya di atas telapak tangannya, beralih melihat kaca di atas meja belajarnya. Dari kaca tersebut akan terlihat Yawang, rambut hitam panjangnya yang tergerai di seprai putih Xia Mu dan tarikan nafas Yawang yang menenangkannya. Ketika kelopak mata Yawang mulai bergerak, Xia Mu akan cepat-cepat mengalihkan pandangannya pada kertasnya. Yawang berjalan di belakangnya sambil menata kembali rambutnya yang berantakan dan memerhatikan Xia Mu. Ketika Yawang melihat kertas Xia Mu yang masih kosong, kedua mata indahnya menatap Xia Mu marah.

“Kau tidak mengerjakan apapun!” Yawang mengambil sebuah pen merah dari laci dan menggambar enam garis panjang di wajah Xia Mu. Yawang melihat ekspresi bosan Xia Mu dan tersenyum puas.

“Lain kali kalau kau seperti ini lagi, aku akan menggambar kura-kura di wajahmu.”

Ketika Yawang mengajari Xia Mu, dia akan menjadi lebih serius dibanding ketika ia belajar di kelas. Ketika Yawang menjelaskan, ia akan sambil menggambar di buku catatannya kalau-kalau Xia Mu sulit mengerti apa yang diajarinya. Xia Mu kadang akan mengalihkan tatapannya pada Yawang dan hanya terdiam menatap Yawang seperti itu. Ketika Yawang melihat Xia Mu melamun, ia akan mencubit kedua pipi Xia Mu.

“Melamun lagi?! Apa kau mengerti semua yang kukatakan tadi?!” Xia Mu mengangguk.

“Bagus, kerjakan ini kalau begitu.” Yawang dengan cepat menuliskan beberapa pertanyaan Matematika yang sulit untuk Xia Mu, merasa bahwa Xia Mu tidak akan bisa mengerjakannya dan ia bisa menggambar seekor kura-kura di wajahnya. Xia Mu mengangkat pensilnya dan melihat pertanyaan-pertanyaan yang diberikan Yawang, kemudian menunduk untuk menyelesaikannya. Anak ini, dia tidak bodoh sama sekali! Bahkan aku tidak tahu bagaimana menyelesaikan soal-soal ini. Baiklah, aku akui aku tidak pandai Matematika, tapi… Yawang menatap Xia Mu curiga.

“Hei, jangan bilang padaku kalau selama ujian, kau…” Xia Mu mengangkat wajahnya menatap Yawang.

“Terlalu malas untuk menuliskan jawaban di bagian selain pilihan ganda?”

“Mmm.” Mata Xia Mu bergerak kesana kemari, berusaha menyangkal.

“Jangan bohong.”

“Tidak, kau mengajariku dengan baik.”

“Hah?” Yawang terkejut dengan jawaban Xia Mu, kemudian tersenyum lebar. “Kurasa aku punya bakat untuk menjadi guru! Baik, materi berikutnya!” Xia Mu menatap senyum lebar Yawang kemudian menundukkan kepalanya, kedua ujung bibirnya tertarik membentuk sebuah senyum.

|PASSION HEAVEN|

Di akhir musim panas, Xia Mu meningkat drastis. Ia mendapat nilai 100 di setiap tes yang diberikan Yawang dan Yawang menraktirnya setelahnya. Tetapi pada hari pertama sekolah ketika diadakan tes untuk pembagian kelas, Xia Mu lagi-lagi hanya mengisi bagian pilihan ganda dan mengosongkan bagian lainnya. Yawang benar-benar marah ketika melihat hasil tes Xia Mu.

“Kau benar-benar menghabiskan waktuku saja!” Yawang melempar kembali kertas tes tersebut pada Xia Mu dan berbalik untuk pergi. Yawang mungkin tidak menyadarinya karena sedang marah, tetapi wajah Xia Mu berubah murung untuk beberapa saat. Yawang berjalan pulang ke rumahnya dan mulai mengemasi barang-barangnya.

Universitas tempat Yawang melanjutkan kuliahnya nantinya sedang mengadakan masa orientasi mahasiswa, dan tujuan tahun ini adalah Yunnan. Masa orientasi tersebut akan berlangsung selama dua minggu lamanya, tetapi mereka akan menghabiskan satu minggu untuk berjalan-jalan sendiri. Ada empat jurusan di fakultas kesenian, dengan total delapan kelas. Semua mahasiswa maupun mahasiswi baru saling menyapa satu sama lain setelah dua hari. Karena Yawang adalah murid pindahan dari kota lain, dia tidak terlalu dekat dengan yang lainnya. Sudah dua bulan sejak aktivitas kuliahnya dimulai, tetapi Yawang tidak dapat mengingat satu namapun dari teman-teman sekelasnya. Yawang tidak keberatan, dia tidak berencana untuk berteman dengan siapapun di perguruan tinggi. Yawang berpikir bahwa hati itu kecil, hanya bisa untuk beberapa orang saja. Kalau dia berteman dengan teman-teman baru di perguruan tinggi, ia akan mulai melupakan teman-temannya semasa sekolah secara perlahan, dan dia tidak menginginkannya. Yawang ingin seperti sekarang saja, tanpa ada yang berubah.

Yawang duduk di dekat jendela dan membaca novel tipis di tangannya. Ketika mereka sampai di Yunnan, semua langsung berkumpul dengan teman-temannya masing-masing dan Yawang akan berdiri sendiri, menggambar di buku gambarnya. Bulan Desember cukup dingin di Yunnan, angin berhembus tanpa henti, dan buku gambarnya akan terguncang pelan karena angin ketika ia menggambar. Yawang sendiri memakai topi tebal supaya tetap hangat. Masa orientasi selama setengah bulan itu dengan cepat berakhir, dan banyak dari mahasiswa baru yang berpacaran setelahnya. Cinta, untuk beberapa orang, adalah hal yang mudah didapat. Yawang mengabaikan mereka dan melanjutkan gambarnya dengan pen hitam di tangannya.

Pada halaman pertama buku gambarnya, ia memberi judul pada gambarnya, “Membawamu Melihat Pemandangan Bersama-sama –Shu Yawang”. Ia memasukkan gambarnya pada sebuah amplop coklat dan menuliskan alamat Xiao Tian sebelum mengirimnya. Ketika angin berhembus lagi dengan kencang, Yawang mengangkat kerah jaketnya dan melihat ke depan. Angin berhembus meniup rambutnya, membuatnya rambutnya beterbangan seperti menari bersama angin. Yawang tersenyum tipis membayangkan reaksi Xiao Tian ketika menerima suratnya nanti.

Ketika Yawang sampai di rumah, waktu sudah menunjuk pukul sebelas malam. Ibunya membantu membawakan kopernya.

“Bagaimana Yunnan?” Menyenangkan?” Yawang menganggukkan kepalanya.

“Mmm, cukup menyenangkan. Tapi aku sangat lelah.”

“Mandilah terlebih dulu. Ibu akan memanaskan makanan untukmu.”

“Oke.” Yawang berjalan memasuki kamarnya dan mencari pakaian bersih untuk dipakai ketika ibunya berteriak memanggilnya dari luar.

“Teleponlah Xia Mu. Ia sudah mencarimu beberapa hari ini. Ketika Ibu bertanya ada apa, dia tidak menjawab. Dasar aneh.”

“Sudah jam sebelas, dia pasti sudah tertidur. Aku akan meneleponnya besok.” Yawang langsung tidur setelah mandi dan memakan makanan sisa yang dipanaskan ibunya.

|PASSION HEAVEN|

Keesokan paginya, Yawang membuka mata dan samar-samar melihat Xia Mu berdiri di depannya.

“Xia Mu, kantong matamu semakin tebal.” Yawang tersenyum lembut. Xia Mu duduk di sudut tempat tidur Yawang, mencengkeram erat seprai Yawang dengan kedua tangannya.

“Lain kali, aku akan mengerjakan semuanya.” Xia Mu berkata sambil memalingkan wajahnya.

“Mengerjakan apa?” Yawang tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan Xia Mu.

“Ujiannya.”

“Oh.” Kedua mata Yawang melebar ketika menyadari apa yang sedang dibicarakan Xia Mu. Anak ini, datang untuk meminta maaf. Apa dia takut aku akan mengabaikannya? Manis sekali!

“Xia Mu, kau benar-benar sangat manis. Biarkan Jiejie memelukmu.” Xia Mu cepat-cepat bangkit dari tempat tidur Yawang, membuat Yawang memeluk udara kosong.

“Xia Mu, kau sudah tidak melihatku selama setengah bulan, tidakkah kau merindukanku?” Xia Mu mengerucutkan bibirnya, tidak menggeleng, tidak juga mengangguk.

“Kau tidak merindukanku?” Xia Mu memalingkan wajahnya ke arah lain.

“Tidak, kau bahkan tidak meneleponku selama kau pergi.” Dan dia bilang dia tidak merindukanku! Dasar pendendam…

“Haha!” Melihat Xia Mu bersikap seperti ini membuat Yawang senang. Xia Mu memelototi Yawang dan berbalik untuk pergi, tapi Yawang dengan cepat meraihnya.

“Aw, jangan marah! Jiejie yang salah.”

“Kau bukan jiejieku.”

“Lalu aku apamu?” Xia Mu menatap Yawang, dan kemudian menjawab dengan dingin.

“Bibi.”

“Kurang ajar.” Yawang mencubit pipi Xia Mu dan mengancamnya.

“Coba panggil aku bibi lagi.”

“Bibi, Bibi, Bibi.” Xia Mu dengan sengaja mengatakannya. Yawang mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kalau aku tidak memberimu pelajaran hari ini—“ Ibu Yawang yang kebetulan lewat saat itu melihat apa yang dilakukan Yawang.

“Yawang! Jangan ganggu Didi*!” Yawang menoleh ke arah ibunya.
*Didi = adik laki-laki

“Dia bukan didi.” Ibu Yawang menatap kedua orang itu dengan terkejut. Apa mereka bertengkar?

“Dia keponakanku.” Ibu Yawang maupun Xia Mu tidak berkata apapun.

“Apa? Tidak lucu?” Yawang tertawa. Ibu Yawang mengabaikannya dan pergi mengambil uang dari saku jaketnya.

“Ayahmu dan aku akan pergi keluar hari ini, ini uang untuk makan.” Yawang menerima uang tersebut dengan senang.

“Oke, bersenang-senanglah.” Ibu Yawang memakai jaketnya dan beranjak keluar. Yawang menyimpan uang yang diberikan ibunya ke dalam dompetnya dan menghitung jumlah uang yang dipunyainya.

“Keponakan, ayo keluar. Bibi akan membelikanmu permen.” Xia Mu tertawa kecil. Mereka kemudian pergi keluar menjelang siang hari, Yawang memakai sarung tangannya sebelum mengambil sepedanya.

“Keponakan, biar Bibi yang membawamu.” Xia Mu memelototinya dan beralih memegang stang sepeda Yawang, mendorong keluar sepedanya. Yawang tertawa di belakangnya, ia tidak sadar bahwa Xia Mu sudah lebih tinggi darinya sekarang. Anak ini, bertumbuh dengan sangat cepat! Sudah hampir 170 cm tingginya, kalau aku berkelahi dengannya lagi, aku pasti akan kalah.

“Keponakan, karena sekarang kau sudah lebih tinggi dari Bibi, lebih baik kau tidak menggangguku.” Xia Mu duduk di kursi depan dan menatap Yawang.

“Naik cepat.” Xia Mu berkata dingin.

“Baik, terima kasih, Keponakan.” Yawang duduk di kursi belakang, kedua tangannya memegang erat pinggang Xia Mu. Xia Mu mengayuh sepedanya dengan tidak terlalu baik, dan Yawang berteriak kepadanya.

“Lurus, lurus!” Ketika sepeda yang dinaiki akhirnya berjalan stabil, Yawang menghela nafas lega.

“Keponakan, kemampuan bersepedamu tidak terlalu bagus. Biarkan Bibi yang membawamu.”

“Shu Yawang!” Xia Mu berteriak.

“Ada apa, Keponakan?”

“Berhenti memanggilku keponakanmu.”

“Tetapi Keponakan, kau memanggilku bibi, tentu saja kau keponakanku kalau begitu.” Xia Mu menggigit bibir bawahnya.

“Aku tidak akan memanggilmu bibi lagi.”

“Tidak. Sekali bibi, tetap saja bibi. Tidak perlu menyangkalnya, Keponakan.” Xia Mu benar-benar marah hingga ia tidak berkata apa-apa. Ia mengayuh sepedanya secepat mungkin dengan Yawang yang menjulurkan lidah di belakangnya, mengejeknya. Haha, kau ingin mengalahkanku? Tidak akan bisa, bocah.

|PASSION HEAVEN|

Ketika mereka sampai di pusat kota, terlihat orang-orang yang padat memenuhi jalanan. Karena beberapa hari lagi akan Natal, semua toko berhiaskan aksesoris Natal, membuat kota itu lebih ceria dengan warna-warna terang yang menghiasi. Yawang membawa Xia Mu ke KFC, ia mengeluarkan kupon dari dalam tasnya.

“Apa yang kau ingin makan, Keponakan?” Xia Mu memberinya tatapan penuh peringatan.

“Shu Yawang.” Yawang tahu bahwa Xia Mu sudah hampir marah jadi ia tersenyum padanya.

“Pesanlah.” Xia Mu beranjak memesan makanan. Yawang membayar di kasir dan mereka menikmati makan siang mereka ketika makanannya sampai. Tepat di samping KFC adalah pusat perbelanjaan terbesar di Kota S, jadi Yawang memutuskan untuk membawa Xia Mu berkeliling. Yawang akan mengambil beberapa baju untuk dicoba Xia Mu, termasuk topi dan syal. Ia berjalan kesana kemari layaknya boneka Barbie, membuat Xia Mu mencoba semua pakaian bagus yang dilihatnya. Yawang akan bertepuk tangan melihat perubahan Xia Mu, membuat pegawai toko pun menatap kagum pada Xia Mu.

Setelah menghabiskan siang itu dengan berjalan-jalan, Yawang dan Xia Mu duduk di bangku dalam mal untuk beristirahat. Yawang menyandarkan badannya pada Xia Mu sambil memakan es krimnya. Tepat di seberang bangku mereka adalah sebuah toko perhiasan yang memamerkan berbagai macam aksesoris yang indah dan berkilau. Salah satu yang diperhatikan Yawang adalah sebuah kalung dengan dua ikan sebagai liontin. Di antara kedua ikan tersebut ada sebuah batu kristal kecil. Yawang berjalan mendekati toko tersebut untuk melihat lebih dekat. Sebagai seorang berzodiak Pisces, dia menyukai kalung itu, tetapi ia terkejut melihat harga kalung tersebut.

“Kenapa mahal sekali?”

“Apa yang sedang kau lihat?” Xia Mu bertanya, ia berjalan mendekati Yawang.

“Tidak ada.” Yawang menggeleng sambil mengalihkan tatapannya. Cantik sekali kalungnya, entahkah masih ada atau tidak ketika aku menerima angpao nanti. Xia Mu melirik sekilas kalung yang diperhatikan Yawang sebelumnya, kalung itu menangkap perhatiannya. Yawang menghabiskan sendok terakhir es krimnya kemudian menepuk pundak Xia Mu.

“Ayo.” Xia Mu mengangguk dan berjalan di belakang Yawang, menoleh sekali lagi untuk melihat kalung tersebut. Sepanjang perjalanan pulang, Yawang bersandar pada punggung Xia Mu, melingkarkan lengannya pada pinggang Xia Mu dan menutup matanya. Xia Mu tersenyum dan mengayuh semakin pelan dan pelan.

|PASSION HEAVEN|

Yawang mengambil kalender di atas meja di samping tempat tidurnya dan menghitung. 1, 2, 3, masih ada 391 hari lagi. Ah, tidak, 390 hari. Ia mengoreksi dirinya sendiri, lalu menandai tanggal hari ini dengan pen biru di tangannya. Ia meletakkan kembali kalendernya ke atas meja dan berguling di atas tempat tidurnya. Kemudian Yawang mengambil ponselnya dan mulai mengirim pesan.

Hanya 390 hari lagi. Setelah beberapa saat, ponselnya berbunyi dan ia beralih menatapnya.

Sudah mulai menghitung? Yawang tersenyum dan membalas pesan tersebut.

Aku merindukanmu, aku benar-benar ingin bertemu denganmu.

Benarkah? Kau benar-benar ingin bertemu denganku?

Ya! Benar! Yawang menganggukkan kepalanya ketika mengetikkan pesan balasan tersebut.

Baiklah, kalau ada kesempatan, Xiao Tian dan aku akan menemuimu. Senyum Yawang terhenti membaca pesan terakhir. Ia melupakan satu hal bahwa yang sedang dikiriminya pesan adalah nomor Qu Wei Ran.

Tiga bulan yang lalu ketika Tang Xiao Tian dan Qu Wei Ran terpilih untuk masuk ke pasukan khusus, mereka benar-benar diperlakukan secara tegas, membuat para anggota baru itu tahu sedikit, atau bahkan tidak tahu sama sekali tentang dunia luar. Ayah Qu Wei Ran, yang sangat merindukan anaknya, membelikannya sebuah ponsel dan diam-diam mengirimkannya pada Qu Wei Ran lewat teman baiknya yang bekerja di sana. Karena hal tersebut melanggar peraturan, ponsel tersebut akan disembunyikan di dalam laci pada siang hari, dan Qu Wei Ran akan memakainya ketika malam hari setelah semua lampu dimatikan. Karena dia dan Xiao Tian adalah teman dekat, ia mengizinkan Xiao Tian memakai ponselnya untuk menghubungi Yawang. Setiap kali Yawang mengiriminya pesan, Xiao Tian-lah yang akan selalu membalas, jadi Yawang terkejut mengetahui bahwa Wei Ran yang membalasnya kali ini.

Oh, kau rupanya. Haha.

Xiao Tian dipanggil oleh instruktur, jadi aku yang membalaskan pesannya.

“Oh.” Apa yang dia maksud dengan membalaskan pesan Xiao Tian? Dia tidak seharusnya begitu, membuatku salah sasaran saja, memalukan…

Apa kau marah?

Kenapa tidak membalas?

Aku tidak ingin berbicara denganmu. Setelah pesan terakhir Yawang, tidak ada balasan sama sekali. Yawang menggaruk kepalanya, berpikir mungkin saja ia terlalu kasar.

Kenapa kau tidak membalas? Apa kau marah?

Tidak, aku hanya tidak ingin berbicara denganmu. Yawang mengerucutkan sudut bibirnya ketika membaca pesan tersebut. Dasar pelit.

Advertisements