CHAPTER VII: Laki-laki yang Berbahaya

XMOaS

Qu Wei Ran bertanya: “Apa kau benar-benar membenciku?”

Shu Yawang mengangguk: “Ya, aku benar-benar membencimu.”

Qu Wei Ran menatap Yawang dengan wajah yang seakan-akan tertekan: “Lalu aku harus bagaimana? Aku tertarik padamu.”

 

Waktu tanpa terasa cepat berlalu; dalam sekejap mata, Shu Yawang sudah lulus dari universitas, Xia Mu sekarang duduk di bangku SMA, dan Tang Xiao Tian mendaftar di sebuah akademi kemiliteran di Xi’an. Hari-hari mereka kelihatannya berjalan seperti air mengalir tanpa hambatan yang berarti. Walaupun Yawang dan Xiao Tian berhubungan jarak jauh sekarang, mereka masih sangat mencintai satu sama lain. Xiao Tian tidak mendapat banyak waktu libur, sehingga ketika ia mendapatkannya, ia dan Yawang akan menghabiskan setiap detiknya bersama-sama. Shu Yawang sudah memutuskan akan mengikuti Xiao Tian dimanapun ia akan ditempatkan nantinya, Yawang tidak ingin lagi berhubungan dengan jarak yang memisahkan mereka.

Yawang menggelengkan kepalanya, mencoba mengusir pikiran-pikiran tersebut dari benaknya. Sekarang, ia harus berusaha untuk mendapatkan pekerjaan. Melalui teman sekelasnya, ia mendapat tawaran untuk bekerja di sebuah perusahaan desain lanskap. Yawang adalah seorang lulusan desain interior yang tidak mempunyai hubungan sama sekali dengan desain lanskap atau semacamnya, tetapi karena sulit untuk mendapat pekerjaan yang sesuai dengannya, Yawang menerima tawaran ini. Ketika Yawang baru saja bekerja beberapa hari di perusahaan tersebut, perusahaan itu memenangkan tawaran proyek pembangunan Go Green di sebuah jalan raya. Semua karyawan menjadi sangat sibuk karena proyek tersebut, tidak terkecuali Shu Yawang yang merupakan karyawan baru.

| Passion Heaven |

Hari ini, manajer perusahaan meminta Yawang untuk pergi ke area pembangunan untuk mengambil denah tempat dari Grup Hyde Industrial yang akan bekerja sama dengan perusahaan mereka dalam proyek ini. Shu Yawang mengikuti petunjuk yang diberikan oleh sang manajer dan mengetuk pintu salah satu ruangan ketika sampai di kantor Grup Hyde Industrial. Laki-laki yang duduk di belakang meja tampaknya sedang sibuk, kepalanya tertunduk di antara tumpukan-tumpukan kertas di atas mejanya.

“Permisi, saya datang untuk mengambil denah Jalan Rute 3.” Laki-laki tersebut mengacak beberapa tumpukan kertas sebelum mengambil selembar denah dan selembar kertas lainnya kemudian meletakkannya di meja.

“Tanda tangan.” Yawang mengambil denah tersebut dan menandatangani tanda terima di lembaran lainnya. Yawang berterima kasih kepada laki-laki tersebut, kakinya sudah bersiap melangkah keluar dari ruangan tersebut ketika suara laki-laki itu menghentikannya.

“Shu Yawang.” Yawang berbalik dan melihat wajah laki-laki tersebut. Wajahnya tampan, dengan sepasang kacamata yang membuatnya tampak dewasa. Laki-laki tersebut tersenyum kecil padanya.

“Shu Yawang-nya Tang Xiao Tian?”

“Anda siapa?”

“Menurutmu?” Laki-laki itu bertanya dengan sebuah senyum miring yang menghiasi bibirnya. Jarinya beralih pada tanda tangan Shu Yawang sebelum kemudian bangkit dari tempat duduknya. Laki-laki itu sangat tinggi, dan ketika ia berjalan mendekati Yawang, Yawang merasa dirinya terdorong hingga ke sudut ke ruangan. Yawang mengambil satu langkah ke belakang, berusaha menjaga jarak dari laki-laki itu. Jarak mereka tidak lebih dari tiga langkah. Laki-laki itu menundukkan kepalanya, membuat Yawang tidak dapat melihat raut wajahnya, tetapi Yawang dapat merasakan bahwa laki-laki itu sedang bermain-main.

| Passion Heaven |

“Masih tidak bisa menebak siapa aku?” Laki-laki itu mendekat, berusaha memperkecil jarak di antara dirinya dan Yawang. Yawang merasa tidak nyaman; seakan-akan sesuatu membuatnya tidak bisa bernafas. Yawang menatap tajam laki-laki tersebut dan berteriak,

“Bagaimana saya bisa tahu siapa Anda?!”

“Kau tahu.” Laki-laki itu terkekeh, kemudian berjalan mendekati Yawang lagi. Yawang mulai merasa panik, tetapi ia berusaha untuk tidak menunjukkannya.

“Qu Wei Ran?” Laki-laki itu tersenyum, senyumnya memancarkan aura yang misterius. Laki-laki itu mengangkat tangannya dan mulai mengusap rambut Yawang. Helaian rambut Yawang menuruni jari-jari panjang laki-laki tersebut. Laki-laki itu memainkan ujung rambut Yawang dengan jari-jari lentiknya.

“Senang bertemu denganmu, Yawang-ah.” Jantung Shu Yawang berdegup kencang dan wajahnya memerah. Semenjak kepergian Tang Xiao Tian, sangat sedikit laki-laki yang akan mendekati Yawang seperti ini. Apalagi dengan jarak sedekat ini, sulit rasanya untuk sekedar mengangkat kepala. Yawang berjalan mundur satu langkah lagi, ia menarik rambutnya dan merapikannya.

“Senang bertemu denganmu juga, Tuan Qu. Maaf, saya harus membawa denah ini kembali ke kantor, permisi.” Yawang melangkahkan kakinya dan baru saja akan melangkah keluar ketika Wei Ran menghalangi pintu ruangan tersebut. Yawang tidak menyadari hal itu dan membuatnya menabrak Wei Ran. Yawang terkejut dan Wei Ran segera meraih pinggang Yawang agar ia tidak terjatuh. Setelah sadar, Yawang menghempaskan tangan Wei Ran dan memelototinya.

“Apa yang Anda lakukan?” Kedua mata Wei Ran menyipit seiring dengan senyum yang menghiasi bibirnya.

“Aku hanya ingin mengantarmu.” Yawang berjalan mundur beberapa langkah dan mengalihkan tatapannya.

“Tidak perlu, saya bisa naik bis.”

“Kenapa kau menjaga jarak denganku?” Wei Ran bertanya sambil tertawa kecil.

“Tidak.”

“Bisa aku meneleponmu nanti?”

“Saya tidak mempunyai ponsel.”

“Aku tahu nomormu.”

“Anda tidak akan bisa menghubungi saya.” Qu Wei Ran tertawa, tidak keras, tetapi terdengar jelas. Yawang mengangkat kepalanya dan menatap Wei Ran sejenak sebelum melangkah keluar. Kali ini, Wei Ran tidak menghentikannya, tetapi Yawang dapat merasakan tatapan Wei Ran di belakangnya. Yawang tidak berani menoleh ke belakang, ia langsung menghela nafas lega setelah keluar dari bangunan tersebut.

Yawang tidak menyangka akan bertemu Qu Wei Ran di sini, ia ingat bahwa Xiao Tian pernah memberitahunya bahwa sebelum Wei Ran mengikuti wajib militer, Wei Ran adalah seorang mahasiswa baru di sebuah universitas ternama. Wei Ran juga seorang yang terkenal semasa sekolahnya, baik SMP maupun SMA; tidak ada satu perempuan pun yang tidak ia kencani. Setelah merasa bosan dengan gaya hidupnya itu, Wei Ran memutuskan untuk mengikuti wajib militer. Setelah menyelesaikan wajib militernya, Wei Ran kembali ke sekolahnya untuk mendapat gelar diploma dan sekarang membantu bisnis keluarganya.

Wah, dunia benar-benar sempit! Yawang tidak tahu mengapa, tetapi ia tidak menyukai Qu Wei Ran. Yawang tidak menyukai cara Wei Ran tersenyum padanya, cara Wei Ran menatapnya, Yawang hanya berpikir bahwa laki-laki ini berbahaya.

| Passion Heaven |

Di suatu hari yang panas di bulan September, Yawang berusaha menemukan sebuah area pembangunan setelah turun dari bis; ia menemukannya setelah hampir setengah jam berkeliling. Yawang memberikan lembar denah tempat pembangunan di tangannya kepada sang manajer, dan belum sampai lima menit ia sudah diminta untuk meninggalkan ruangan ber-AC tersebut dan segera kembali ke area pembangunan. Yawang mengambil sebuah lakban untuk mengukur jarak dengan tepat di lapangan dan sebuah kapur untuk menggambar garis, membagi lapangan tersebut ke dalam beberapa bagian dan memberi tanda pada setiap jenis pohon.

Hampir tidak ada perempuan yang bekerja di area pembangunan selain Yawang dan seorang bibi yang memasak untuk mereka. Yang satunya lagi adalah Xiao Xue yang bekerja di bagian akuntansi. Para pekerja di lapangan memperlakukan Yawang dengan baik, mereka mengajaknya mengobrol sambil menggali tanah untuk ditanami pohon. Yawang adalah seorang dengan perangai yang baik, ia selalu menjawab setiap pertanyaan yang diajukan dengan senyum. Setelah bekerja seharian, Yawang sudah terlalu lelah untuk sekedar bergerak.

“Yawang, ayo pulang, sudah selesai.” Xiao Xue memanggil Yawang. Yawang menganggukkan kepalanya dan membereskan barang-barangnya, kemudian bertanya pada Xiao Xue sambil mengikutinya.

“Xiao Xue, apa kita masih perlu pergi ke area pembangunan besok?” Xiao Xue dua tahun lebih tua dari Yawang dan sudah bekerja pada perusahaan ini selama setahun lebih.

“Mmm, sampai semuanya selesai kita harus tetap mengunjungi area pembangunan. Ada apa, kau lelah?” Xiao Xue bertanya sambil menoleh menatap Yawang. Yawang tersenyum kecil.

“Sedikit.”

“Pekerjaanmu memang melelahkan. Kebanyakan dari perancang lanskap adalah laki-laki, bukankah tidak menguntungkan bagi perempuan untuk bekerja di bidang ini?”

“Tidak apa-apa, kurasa ini cukup menarik.” Yawang membalas sambil tertawa. Yawang dan Xiao Xue berjalan beriringan menuju perhentian bis ketika ponsel Yawang berbunyi. Nomor tidak dikenal, tetapi Yawang menjawabnya tanpa ragu-ragu.

| Passion Heaven |

“Halo?”

“Hai, Yawang.” Yawang mengenali suara ini, suara Qu Wei Ran. Yawang ingin memutuskan panggilan tersebut, tetapi ia merasa hal itu tidak sopan.

“Apa yang Anda inginkan?”

“Aku hanya ingin mengajakmu makan malam.”

“Maaf, saya baru saja selesai dan benar-benar lelah, saya ingin pulang ke rumah dan berisitirahat.”

“Oh, begitukah?”

“Mmm.”

“Kalau begitu aku akan mengantarmu pulang.” Tepat setelah Wei Ran selesai mengatakannya, sebuah sedan berwarna biru tua berhenti di dekat Yawang. Pengemudi mobil tersebut menurunkan kaca jendela dan Qu Wei Ran menatapnya. Shu Yawang mematikan ponselnya dengan kesal.

“Bagaimana bisa Anda di sinI?”

“Aku hanya kebetulan lewat.” Wei Ran menjawab pelan dengan senyum khasnya.

“Masuklah ke mobil, aku tidak ingin dua wanita cantik ini terbakar matahari.” Xiao Xue menatap Yawang, ia tidak ingin berjalan setengah jam lagi untuk mencapai perhentian bis. Yawang mengerutkan dahinya, ia merasa sangat lelah dan juga tidak mau berjalan kaki, tetapi ia juga benar-benar tidak ingin berurusan dengan Wei Ran. Qu Wei Ran keluar dari mobilnya dan membukakan pintu untuk mereka layaknya seorang gentleman. Xiao Xue berterima kasih padanya sebelum masuk ke dalam mobil. Wei Ran mengalihkan tatapannya pada Yawang, menunggunya untuk masuk ke dalam mobil. Yawang terdiam sejenak, dan kemudian memutuskan untuk masuk. Yawang benar-benar sudah kelelahan. Qu Wei Ran duduk di bagian kemudi dan mulai menyalakan mobilnya, ia memutuskan untuk mengantar Xiao Xue terlebih dahulu.

| Passion Heaven |

Ketika hanya tinggal Yawang dan Wei Ran di dalam mobil, Wei Ran sesekali akan menatap Yawang dari kaca depan. Yawang akan menghindari tatapannya dan Wei Ran akan tersenyum karenanya. Mereka sampai di gerbang masuk kamp militer tempat tinggal Yawang, dan Yawang berterima kasih pada Wei Ran sebelum mengambil tasnya dan keluar dari mobil. Wei Ran mengikuti Yawang dan kemudian menghadangnya.

“Apa lagi yang Anda inginkan?”

“Aku akan mengantarmu sampai ke depan rumahmu.”

“Tidak perlu, Anda tidak bisa sembarangan masuk ke sini.” Yawang menundukkan kepalanya dan mengucapkan salam perpisahan. Wei Ran segera meraih lengan Yawang begitu ia mulai berjalan pergi dan kemudian tertawa.

“Kau benar-benar tidak mau makan malam denganku?” Shu Yawang mencoba untuk menyingkirkan tangan Wei Ran darinya, tetapi Wei Ran semakin mempererat cengkramannya.

“Lepaskan!”

“Jangan terburu-buru, ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu.”

“Ada apa dengan Anda?! Selalu menyentuh orang sembarangan.” Yawang marah, dan ia baru saja akan memanggil petugas keamanan ketika sebuah sepeda melaju tepat menuju ke arah Wei Ran. Wei Ran menyadarinya dan dengan tanggap melepaskan lengan Yawang. Tetapi sepeda itu berhenti secara tiba-tiba di depan Wei Ran, membuat tubuh Wei Ran tertabrak dengan cukup keras.

“Kurang ajar, apa kau bisa bersepeda?” Qu Wei Ran bertanya sambil memelototi seorang remaja yang membuatnya terpisah dari Yawang. Remaja yang memakai seragam musim panas itu bahkan tidak memerdulikan Wei Ran sedikitpun. Pemuda itu beralih menatap Yawang dan berkata,

“Naiklah.” Yawang menatap pemuda itu dan tersenyum.

“Xia Mu.” Xia Mu, seorang remaja yang mempunyai wajah yang bahkan lebih tampan dari artis Korea, mengangkat kedua sudut bibirnya membentuk sebuah senyum. Xia Mu membantu Yawang untuk duduk di belakangnya. Yawang berpegangan pada seragam Xia Mu dan Xia Mu menendang sepatunya ke tanah sebelum menjalankan sepedanya, membuat debu pasir beterbangan di sekitar Wei Ran. Qu Wei Ran tertawa getir. Xia Mu menoleh dan menatap Qu Wei Ran dengan pandangannya yang sedingin es.

“Tatapan yang menakutkan.” Qu Wei Ran berkata seiring dengan Yawang dan Xia Mu yang semakin menjauh. Wei Ran mengusap bibirnya dengan telunjuknya.

“Menarik, benar-benar menarik.”

| Passion Heaven |

“Siapa laki-laki itu?” Xia Mu bertanya. Shu Yawang menguap dan menjawab dengan malas.

“Seorang yang patut dibenci.”

“Dan kau masih membiarkannya mengantarmu pulang?”

“Aku tidak punya pilihan lain. Aku lelah, terlalu malas untuk berjalan.” Yawang mengusap kakinya dan kemudian bergumam,

“Kalau saja di sekitar sini ada bis…”

“Ya, seandainya.” Xia Mu mencibir.

“Ah, benar-benar kehidupan yang pahit.” Yawang menghembuskan nafas panjang.

“Kenapa?”

“Kenapa aku harus bekerja dengan paman-paman buruh itu setelah lulus?” Yawang mengusap matanya.

“Setiap hari aku hanya menatap tanah dan matahari tepat mengenai punggungku, gali lalu tanam, gali lagi dan tanam lagi. Ah! Benar-benar tidak menyenangkan! Hei bocah, kau harus belajar sungguh-sungguh, kalau tidak kau akan menjadi seperti Jiejie.” Xia Mu menghentikan sepedanya ketika mereka sampai di rumah Yawang.

“Kau benar-benar selelah itu?” Yawang melompat turun dari sepeda dan berjalan mendekati Xia Mu.

“Cium ini.” Xia Mu menurunkan tatapannya dan mendekat pada Yawang dengan patuh.

“Kau bisa menciumnya?” Xia Mu menggeleng, Yawang memukul pelan kepala Xia Mu dengan tas di tangannya.

“Bodoh, kau benar-benar tidak bisa mencium bau keringat kotor?” Xia Mu memelototi Yawang.

“Tidak masuk akal.”

Ketika mereka sampai di rumah Yawang, tidak ada seorang pun di sana; mereka tidak tahu ke mana orang tua Yawang pergi. Yawang meletakkan tasnya ke sofa dan menatap Xia Mu.

“Aku akan mandi sebentar baru setelah itu aku akan memasak sesuatu untuk dimakan.”

“Oke.” Xia Mu adalah seorang tamu yang tidak asing di rumah keluarga Shu, ia seperti pulang ke rumahnya sendiri setiap kali mengunjungi rumah Yawang. Xia Mu melepas sepatunya dan menggantinya dengan sandal rumah sebelum duduk di sofa. Yawang sudah terlalu terbiasa dengan Xia Mu di rumahnya. Yawang beranjak ke kamarnya untuk mengambil pakaian gantinya.

“Ada apel di dalam kulkas, kau bisa makan itu dulu.” Ketika Yawang sampai di depan kamar mandi, ia menoleh menatap Xia Mu.

“Cucikan aku juga, satu.”

“Oke.” Xia Mu mengeluarkan dua buah apel dari dalam kulkas dan mencucinya, kemudian kembali ke ruang tengah. Ketika itu, ia mendengar suara air dari kamar mandi, jadi ia meletakkan kedua apel tersebut di meja dan duduk di sofa sambil membaca buku.

| Passion Heaven |

Setelah mandi dengan air panas, Yawang keluar dari kamar mandi dengan mantel yang membalut tubuhnya. Yawang keluar dengan kaki telanjang dan rambut yang basah, ia berjalan menuju ruang tengah. Pada saat itu, Xia Mu sedang belajar dengan kepala yang tertunduk. Yawang beranjak duduk di sebelah Xia Mu, ia menyisir rambut panjangnya ke depan, menyebabkan beberapa tetes air mengenai Xia Mu. Xia Mu menatap tetesan air di tangannya dan mengusapnya. Yawang memerhatikan dua buah apel yang terletak di atas meja.

“Menungguku supaya bisa makan bersama? Hehe.” Yawang membungkuk untuk mengambil kedua apel tersebut, tetapi karena tangannya yang masih basah, salah satu apel terjatuh ke lantai.

“Ah!” Yawang berteriak kecil, membuat Xia Mu menoleh ke arahnya. Tepat saat itu, Yawang sedang mengambil apel yang terjatuh ke lantai. Kedua mata Xia Mu beralih menatap Yawang untuk beberapa saat, kemudian ia dengan cepat mengalihkan pandangannya dengan wajah yang memerah. Yawang memungut apel yang jatuh dan memberikan apel yang tidak jatuh kepada Xia Mu.

“Hei, untukmu.” Xia Mu tidak berani menatap Yawang. Ia mengambil apel yang disodorkan Yawang sambil menunduk, tangannya memegang apel tersebut dengan gugup.

“Ada apa?” Yawang bertanya, merasa bingung dengan tingkah Xia Mu.

“Tidak ada.” Xia Mu menggeleng.

“Tidak ada? Lalu kenapa wajahmu semerah itu?”

“Tidak… Tidak apa-apa.” Xia Mu menggeleng gugup. Yawang mendekatinya karena penasaran.

“Benarkah? Wajahmu semakin memerah.” Yawang memang duduk di samping Xia Mu sedari tadi, tetapi ketika Yawang mendekatinya, Xia Mu dapat mencium wangi yang ringan dan manis dari sabun mandi Yawang. Xia Mu menggigit bibirnya dengan kepala yang masih tertunduk. Yang dapat didengar setelahnya adalah bunyi gigitan apel yang keras dan renyah dari Xia Mu. Yawang memiringkan kepalanya menatap Xia Mu. Ia beralih menatap apel di tangannya dan berpikir, apa memang apelnya seenak itu?

Yawang kemudian memakan apelnya dan mengabaikan Xia Mu. Tangannya beralih mengambil remote di atas meja,

“Kalau kau mau belajar, pergilah ke kamarku. Aku mau menonton TV.”

“Oh, baik.” Xia Mu menjawab dengan pelan. Ia dengan cepat meraih buku-bukunya dan beranjak menuju kamar Yawang. Xia Mu dengan segera menutup pintu ketika ia sampai di kamar Yawang, ia menyandarkan punggungnya di balik pintu dengan kepala yang tertunduk. Ia mengusap bibirnya dengan punggung tangannya; wajahnya memerah seakan-akan ia sedang terkena demam. Setelah beberapa saat, Xia Mu akhirnya mengangkat kepalanya dan menatap ke sekeliling kamar Yawang. Xia Mu sudah berkali-kali memasuki ruangan ini, tapi entah kenapa, kali ini, ruangan ini, wangi tubuh Yawang, membuat jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.

| Passion Heaven |

Shu Yawang membaringkan tubuhnya di sofa, menggonta-ganti saluran TV dengan remote di tangannya. Ia berhenti di salah satu saluran yang menayangkan rumor di kalangan selebriti; siapa yang baru saja putus, film baru mana yang akan segera ditayangkan. Yawang mulai mengantuk ketika siaran berita dimulai, kelopak matanya mulai terasa berat, dan perlahan Yawang memasuki alam mimpi.

Hari ini, Yawang memimpikan Xiao Tian. Di dalam mimpinya, Xiao Tian menciumnya lembut. Bibir Xiao Tian benar-benar terasa lembut, terasa seringan sehelai bulu ketika menyentuh bibir Yawang. Menggelitik, tapi terasa nyaman; Yawang bahkan berpikir bahwa itu bukanlah mimpi.

Ketika kedua orang tua Yawang sampai di rumah, Yawang sudah sedang tertidur di sofa. Selembar selimut tipis menutupi tubuhnya, suara TV sudah dikecilkan, dan suhu AC sudah diatur sedemikian rupa. Ibu Yawang membangunkannya.

“Yawang, tidurlah di kamarmu.” Yawang mengusap kedua matanya dan bangkit duduk di atas sofa.

“Kalian sudah pulang? Jam berapa sekarang?”

“Sembilan. Apa kau sudah makan malam?”

“Belum.”

“Sudah berapa umurmu? Tidak bisa menyiapkan makan malam sendiri?”

“Bukan begitu, aku tadi sudah mau menyiapkan makan malamnya, tapi ketiduran.” Yawang meregangkan tubuhnya sejenak, kemudian ia menyadari bahwa Xia Mu juga belum makan sedari tadi. Yawang beranjak menuju kamarnya.

“Xia Mu?” Yawang membuka pintu, tidak terlihat seorang pun di sana. Yawang menggaruk kepalanya. Kapan dia pergi? Dia pergi tanpa memberitahuku?

| Passion Heaven |

Di tengah keramaian pusat kota, seorang pemuda tampan berseragam khas musim panas berjalan sendirian. Mungkin karena kelembapan di malam musim panas, wajahnya terlihat kemerahan. Di bawah lampu jalan, ia memandang ke keramaian di sekelilingnya. Kemudian, ia teringat akan sesuatu dan langsung beranjak menuju tempat perbelanjaan terdekat. Ia menaiki eskalator, jendela kaca di sisi tubuhnya menampakkan posturnya yang kurus.

Ia berjalan ke bagian perlengkapan mandi dan melihat ratusan botol sabun mandi yang terpajang, semua dengan warna dan aroma yang berbeda. Xia Mu mengambil salah satu botol dan membuka tutupnya, kemudian mencoba mencium aroma dari sabun mandi tersebut. Ia meletakkan kembali botol tersebut dan mengambil yang lainnya. Xia Mu melakukan hal itu dari botol pertama hinggal botol terakhir. Ketika ia mencapai botol paling terakhir, jenis yang sama dengan yang sedang diiklankan di TV, ia tersenyum saat mencium aroma dari botol tersebut.

| Passion Heaven |

Di dalam kamarnya, Yawang sedang menikmati makanannya sambil berbaring di atas tempat tidurnya ketika ponselnya berbunyi. Ia menyipitkan matanya dan melihat nomor yang tertera di layar ponselnya, nomor tak dikenal, tetapi Yawang tetap mengangkatnya.

“Halo?”

“Apa yang sedang kau lakukan?” Yawang membalikkan tubuhnya.

“Tidur.” Laki-laki di seberang telepon terkekeh.

“Benarkah, tidur seawal ini?”

“Kalau tidak ada hal lain, aku akan tutup teleponnya.” Yawang benar-benar tidak suka berbicara dengannya.

“Kenapa kau selalu bersikap dingin padaku?”

“Apa kau seorang pangeran? Kenapa aku harus meladenimu?”

“Yawang-ah.” Suara Qu Wei Ran terdengar merdu; seperti sebuah bisikan rendah yang menenangkan. Yawang selalu terdiam ketika Wei Ran menyebut namanya.

“Apa?”

“Habiskanlah satu malam denganku.“ Wei Ran berkata dengan nada yang menggoda. Pikiran Yawang langsung blank, ia tidak bisa berkata apapun. Yawang tidak memercayai apa yang baru saja didengarnya! Yawang marah, ia bersumpah kalau laki-laki ini mengatakan kalimat itu di depan wajahnya, ia akan menampar Wei Ran dua kali. Menampar senyumnya yang sombong itu!

“Kau… kau… Mati saja kau!” Yawang memakinya, kemudian memutuskan panggilan dan melempar ponselnya begitu saja. Brengsek! Menjijikkan! Dia pikir siapa aku ini? Dasar mesum! Yawang belum pernah bertemu orang semesum ini sebelumnya. Bagaimana bisa Xiao Tian memanggilnya Da Ge? Memujinya? Dan bahkan mendewakannya?! Yawang menggigit kukunya dengan frustasi. Ponselnya berbunyi lagi dan Yawang tahu bahwa itu Qu Wei Ran. Ia mengangkat teleponnya dan langsung berteriak.

“Kau sakit jiwa! Apa kau gila? Kalau kau memang sebegitu menginginkannya, pergilah ke hotel dan carilah seseorang! Aku harap kau bisa mendapatkan yang terbaik!”

“Wah. Aku hanya mengatakan satu kalimat dan kau sudah semarah ini. Benar-benar polos.” Wei Ran terkekeh.

“Qu Wei Ran!”

“Yawang-ah, jangan bilang kalau kau… masih perawan.”

“Apa hubungannya denganmu?”

“Jadi benar, kau masih perawan. Sangat disayangkan kalau kau menunggu Xiao Tian.” Yawang menarik nafas dalam-dalam, mencoba menjaga emosinya.

“Qu Wei Ran, jangan pernah hubungi aku lagi. Xiao Tian masih terhitung sebagai temanmu. Kau menggodaku seperti ini, aku tidak tahu apakah kau memang tidak punya sopan santun atau tidak punya moral. Aku bahkan tidak suka dengan wajahmu, jadi jangan pernah mengajakku bercinta, aku bahkan muak hanya dengan melihatmu. Tolong, menjauhlah.” Yawang memutuskan panggilan dan mematikan ponselnya sebelum Wei Ran sempat berkata apa-apa. Aku tidak akan pernah mengangkat teleponnya lagi! Dasar rendahan!

| Passion Heaven |

Keesokan harinya, ketika Yawang sedang menikmati makan siangnya, Xiao Xue mendekatinya dan bertanya apakah laki-laki tampan kemarin malam adalah Qu Wei Ran. Ketika Yawang mendengar nama itu, ia langsung kehilangan kesabarannya.

“Jangan pernah sebut namanya di depanku, aku membencinya.”

“Benarkah? Kenapa?” Yawang menyumpit kol dari piringnya, kemudian menceritakan tentang kejadian semalam kepada Xiao Xue.

“Dia benar-benar mengatakan hal itu?” Xiao Xue bertanya. Yawang menganggukkan kepalanya.

“Murahan, kan?”

“Murahan!” Xiao Xue mengangguk setuju. Ia menyendokkan sesuap nasi ke mulutnya sebelum memberitahu Yawang,

“Yawang, kau harus menjauhinya. Biar kuberitahu satu rahasia, dia adalah kekasih temanku dulunya.”

“Kekasih?” Xiao Xue mengangguk.

“Ketika aku melihatnya kemarin, aku merasa sudah pernah melihatnya. Ketika aku sampai di rumah, aku baru ingat, dulu aku melihatnya di rumah temanku sekali. Dia akan mengunjungi rumah temanku dua atau tiga kali sebulan, seperti seorang raja yang mengunjungi kamar selirnya.”

“Tidak mungkin, kenapa temanmu seperti itu? Apa tidak ada laki-laki lain di dunia ini?” Yawang bertanya tidak percaya.

“Kenapa dengan temanku? Sebelum bertemu dengan Qu Wei Ran, dia bahkan lebih dingin dari Xiaolongnü*.”
*Xiaolongnü adalah salah satu karakter fiksi di novel karangan Jin Yong (Louis Cha) yang berjudul “The Return of the Condor Heroes”. Jin Yong mendeskripsikan Xiaolongnü sebagai seorang gadis berkulit seputih salju, cantik tanpa tandingan dan seorang yang tidak bisa diremehkan, tetapi ia adalah seorang yang dingin dan acuh tak acuh.

“Lalu bagaimana temanmu itu bisa jatuh hati pada Wei Ran?”

“Wanita-wanita berpengalaman ini punya cara tersendiri. Wei Ran bahkan membutuhkan waktu tiga bulan untuk memenangkan hatinya.”

“Sudah berapa lama mereka berpacaran?” Yawang bertanya sambil melanjutkan makan siangnya.

“Pacaran?” Xiao Xue mengerucutkan bibirnya. “Mereka tidak pernah berpacaran, Wei Ran hanya bermain-main. Pada akhirnya, Wei Ran bahkan tidak ingin menemuinya lagi, tetapi temanku itu masih terus saja menghubunginya.”

“Tidak mungkin.” Yawang terlalu terkejut hingga ia lupa untuk sekedar mengunyah makanannya. Seorang wanita yang terus saja menghubungi seorang laki-laki hanya untuk dijadikan simpanan seperti itu? Bagi Yawang, hal itu adalah sebuah hal yang bodoh. Xiao Xue menyingkirkan bagian lemak daging ke pinggir piringnya.

“Itulah sebabnya aku berkata, ketika seorang laki-laki seperti Wei Ran memenangkan hati dan tubuh seorang wanita, wanita itu akan jatuh ke titik paling bawah dalam hidupnya, tidak ada seorang pun yang bisa mengangkatnya lagi.” Xiao Xue menatap Yawang setelahnya.

“Dia tidak akan membuatku seperti itu, aku jijik padanya.” Yawang menggeleng kuat-kuat.

“Itu yang dikatakan temanku sebelumnya.”

“Aku tidak akan mengangkat teleponnya.”

“Itu juga yang dilakukan temanku.”

“Aku punya pacar.” Xiao Xue mengambil selembar sapu tangan dari dalam sakunya dan membersihkan mulutnya.

“Bagi Wei Ran, seorang wanita yang memiliki kekasih bahkan lebih menantang, membuat keinginannya untuk menguasaimu semakin kuat. Kau tahu kenapa ia mengikuti wajib militer? Itu karena banyak siswa di sekolahnya yang ingin membunuhnya.” Yawang meletakkan sumpitnya dan memuntahkan semua makanannya.

“Hei, kenapa kau harus membuat semua hal terdengar semenakutkan itu?”

“Aku hanya memperingatimu, aku tidak ingin kau menjadi seperti temanku yang itu.”

“Tidak akan pernah.” Yawang tidak tahu mengapa, tetapi ketika ia mengatakannya, hatinya terasa tidak nyaman. Ia benar-benar ingin menghubungi Xiao Tian saat ini, bahkan sebuah pesan singkat akan sangat berarti dibandingkan tanpa kabar apapun.

| Passion Heaven |

Tepat ketika Shu Yawang membulatkan tekad untuk memutuskan kontak dengan Qu Wei Ran, perusahaannya menyadari bahwa mereka telah salah memesan jumlah bibit. Karena proyek kali ini benar-benar sebuah proyek besar yang meliputi taman kota, perusahaan memesan ratusan ribu bibit. Ketika pesanan telah diterima, perusahaan menemukan bahwa jumlah bibit juniper dan bibir photinia telah tercampur; ada sekitar kekurangan 1000 bibit photinia dan kelebihan 3000 bibit juniper.

| Passion Heaven |

Bos Cheng sangat marah dengan kekacauan ini, kalau saja karyawan yang bertanggung jawab dalam pemesanan tidak didapat dari koneksi, ia pasti sudah memarahinya habis-habisan. Toko tempat mereka memesan bibit berkata bahwa mereka memang masih bisa mengembalikan kelebihan bibit yang ada, tetapi biaya pengiriman dan kepengurusan diserahkan sepenuhnya pada pihak perusahaan. Manajer Lin mendengar bahwa Grup Hyde Industrial belum menerima pesanan bibit mereka.

Oleh saran Bos Cheng, perusahaan akan menukarkan kelebihan 3000 bibit juniper dengan 1000 bibit photinia milik Grup Hyde. Bos kedua perusahaan adalah teman lama, sehingga mereka hanya perlu bernegosiasi dengan kepala proyek. Bos Cheng dengan segera memerintahkan Yawang untuk pergi ke kantor Grup Hyde. Yawang tidak mau, tetapi Manajer Lin tidak memberinya waktu untuk berkata tidak dan segera menyuruhnya pergi.

Yawang mengusap keringatnya begitu ia sampai di depan kantor Grup Hyde. Ia menengadah dan melihat ke arah lantai tiga dan berpikir, apa yang perlu kutakutkan? Pria ini, Qu Wei Ran, kenapa harus dia yang mengurus proyek ini? Aku seharusnya memaksa Xiao Xue untuk datang bersamaku tadi. Yawang menggigit jarinya dengan gugup sambil menunduk. Mungkin karena teriknya matahari siang itu, Yawang merasa sedikit pusing, tetapi ia tidak berniat untuk melangkah masuk ke dalam bangunan tersebut. Pada saat itu, ponselnya berbunyi dan tertera nomor yang tidak dikenal di layar. Yawang menjawab panggilan itu dengan frustasi.

“Halo?”

“Sampai kapan kau mau berdiri di sana? Kau tidak takut akan terbakar matahari?” Laki-laki di seberang telepon terkekeh. Yawang langsung memutuskan panggilan dan menarik nafas dalam-dalam sebelum masuk ke dalam bangunan tinggi itu. Ia yakin Wei Ran tidak akan berani berbuat macam-macam dengannya di kantor.

| Passion Heaven |

Yawang mengetuk pintu ruangan Wei Ran sebelum membukanya, ia berusaha menenangkan diri.

“Manajer Qu, saya rasa Anda tahu maksud kedatangan saya bukan?” Yawang bertanya, ia berdiri di pintu. Wei Ran melirik Yawang, kemudian memperbaiki letak kacamata yang bertengger di hidungnya dengan telunjuknya. Wei Ran menatap Yawang dan membalas,

“Aku tidak tahu.” Yawang mengepalkan tinjunya dan menatap Wei Ran, ia menghindari kedua mata Wei Ran yang menatapnya intens, kemudian berbicara dengan nada yang jelas menunjukkan bahwa ia hanya ingin segera menyelesaikan bisnisnya.

“Tentang pertukaran bibit juniper, bosmu sudah menyetujuinya. Tolong tandatangani surat persetujuan pertukarannya.” Qu Wei Ran memutar kursinya ke kiri dan ke kanan.

“Bagaimana bisa aku tidak tahu tentang hal ini?”

“Anda bisa menelepon bos Anda kalau tidak percaya.”

“Tidak perlu. Kalau aku tidak setuju, semuanya sia-sia.”

“Qu Wei Ran!” Yawang menatap Wei Ran marah. Apa yang mau dia lakukan?! Wei Ran memutar kembali kursinya menghadap Yawang.

“Jangan salah paham, aku hanya memikirkan dari sisi bisnisnya. Tidak ada untungnya bagi kami untuk menerima bibit dari kalian.”

“Anda bisa menekan biaya pengiriman.”

“Aku tidak perlu memusingkan hal-hal sepele seperti itu. Terlalu beresiko, bagaimana kalau bibit yang kalian beli bermasalah dan kalian ternyata hanya ingin memberikannya pada kami?”

“Jika Anda berpikir bahwa bibit kami bermasalah, Anda bisa pergi dan memeriksanya sendiri.”

“Apa kau memerintahku?” Wei Ran menatap Yawang dengan tatapan merendahkan. “Sikapmu terhadap orang lain cukup kasar, oh bukan, bukan cukup, tetapi sangat kasar.” Shu Yawang tertawa.

“Saya memerintah Anda? Siapa yang peduli jika Anda tidak mau menandatanganinya?” Yawang membalikkan badan dan berjalan keluar, sepatu hak tingginya mengetuk-ngetuk lantai marbel yang ia lewati. Qu Wei Ran tidak memberhentikannya, ia hanya menatap punggung Yawang yang menjauh sambil mengusap-usap dagunya.

| Passion Heaven |

Shu Yawang beranjak pergi dari kantor Grup Hyde dengan marah, ia menuju ke tempat teduh untuk segera menelepon manajernya.

“Manajer Lin, Qu Wei Ran dari Hyde menolak untuk menandatangani surat persetujuan. Beliau bilang mereka tidak memerlukan bibit dari kita.”

“Apa? Bukankah bos mereka sudah setuju?”

“Manajer Qu bilang, kalau ia sendiri tidak setuju, tidak akan ada gunanya walaupun kepala perusahaan menyetujui.”

“Lalu kalau Manajer Qu menolak, kenapa tidak coba diyakini?”

“Saya sudah mencoba, saya mencoba meyakininya dengan kata-kata yang bahkan bisa memenuhi satu keranjang, tetapi Manajer Qu tetap menolak.” Yawang berkata dengan nada kecewa. Manajer Lin membalas dengan nada bicara yang mengisyaratkan sebuah kalimat ‘kau-tidak-berguna’.

“Kembalilah ke kantor, aku sendiri yang akan pergi ke sana.” Yawang memutuskan panggilan dan berbalik untuk melihat bangunan kantor Grup Hyde. Memohon padamu? Hanya dalam mimpimu! Yawang bahkan tidak akan bersusah-payah untuk memohon pada Wei Ran walaupun ia yang bertanggung jawab pada proyek ini.

Ketika Yawang kembali ke area pembangunan, waktu itu sudah tengah hari, jadi Yawang duduk dan meneguk sebotol air mineral ketika Xiao Xue mendekatinya.

“Ada apa? Dia tidak memanfaatkanmu, kan?” Xiao Xue bertanya dengan ribut.

“Tidak, aku berjarak setidaknya sepuluh langkah darinya.” Yawang menjawab sambil menggelengkan kepalanya.

“Siapa yang memanfaatkanmu?” Xiao Gao, salah satu karyawan baru yang diterima pada saat yang sama dengan Yawang, bertanya.

“Tidak, dia hanya bercanda.” Yawang tidak ingin seisi dunia tahu bahwa ia diusik oleh Qu Wei Ran. Selain itu, hari ini Yawang merasa Wei Ran bersikap dingin padanya, pria itu menatap dan berbicara pada Yawang dengan sikap yang seakan-akan merendahkan Yawang.

| Passion Heaven |

Di akhir hari itu, Manajer Lin memberitahu semua karyawan bahwa Qu Wei Ran menyetujui untuk menandatangani surat persetujuan pertukaran yang ditawarkan. Para karyawan kantor memuji Manajer Lin, berkata bahwa beliau memang dapat dipercaya untuk memperbaiki semuanya! Bahkan Yawang harus mengakui bahwa Manajer Lin memang hebat. Semua pujian itu membuat Manajer Lin senang dan ia memutuskan untuk mengadakan pesta kecil-kecilan. Masing-masing membayar makanan mereka, tidak ada yang menraktir, tetapi tidak ada satu pun dari mereka yang keberatan. Mereka makan di restoran terdekat dan ketujuh orang itu keluar dari kantor dengan bersemangat.

Yawang dan Xiao Xue bertugas memesan makanan, sedangkan para karyawan laki-laki sibuk mengocok dan memainkan kartu. Manajer Lin sepertinya teringat akan sesuatu, ia bangkit berdiri dan keluar dari restoran untuk menelepon seseorang. Kemudian ia kembali dengan senyum sumringah. Makanan yang mereka pesan sampai dan mereka segera menyingkirkan kartu-kartu mereka dari meja. Manajer Lin melihat jam tangannya dan kemudian berkata,

“Tunggulah sebentar, akan ada seseorang yang datang untuk bergabung bersama kita.”

“Siapa?” Xiao Xue bertanya.

“Manajer Qu dari Grup Hyde Industrial.” Yawang memuncratkan air yang sedang diminumnya. Untungnya meja yang mereka tempati adalah meja bundar sehingga jarak satu sama lain cukup jauh. Tetapi hal itu mengakibatkan para karyawan lainnya menatap Yawang dengan penuh curiga. Yawang menutup mulutnya dan berdehem dua kali.

“Saya permisi sekarang.” Tetapi Yawang dihentikan oleh para rekan kerjanya. Ketika Yawang mengangkat kepalanya, Qu Wei Ran sedang berjalan ke arah mereka. Manajer Lin berdiri dan bersalaman dengan Wei Ran.

“Halo Manajer Qu, sebuah kehormatan untuk bisa mengundang Anda bersama kami di sini.”

“Terima kasih Manajer Lin, tentu saja saya akan datang jika Anda yang mengundang.” Keduanya tertawa. Xiao Xue menunduk dan berbisik di telinga Yawang.

“Ia memperhatikanmu tadi.”

“Dia baru saja melihatmu.”

“Wei Ran memerhatikanmu lagi!”

“Diamlah!” Yawang berbisik, ia mencubit tangan Xiao Xue di bawah meja. Xiao Xue mendesis pelan. Manajer Lin dan Manajer Qu melanjutkan pembicaraan mereka tentang proyek kedua perusahaan sambil menikmati makan malam. Xiao Xue menyandarkan kepalanya pada bahu Yawang dan berbisik di telinganya.

“Ya ampun, dia duduk tepat di seberangmu.” Yawang memelototi Xiao Xue. Yawang tidak buta, ia tahu semuanya. Walaupun Qu Wei Ran tidak berkata sepatah kata pun padanya, Yawang dapat merasakannya. Yawang menggigit bibirnya dengan gugup dan beralih merapikan rambutnya.

Semua yang berada di meja makan menikmati makan malam hari itu dengan cukup tenang. Qu Wei Ran tidak berbicara pada Yawang, tidak juga melakukan sesuatu di luar dugaan Yawang. Yawang akhirnya merasa lega ketika makan malam berakhir. Tetapi Manajer Lin masih dalam suasana yang bersenang hati sehingga ia mengajak semuanya untuk pergi karaoke. Yawang menolak, ia beralasan bahwa masih ada pekerjaan lain yang harus diselesaikannya. Tidak ada yang menyetujui penolakan Yawang.

“Hanya ada dua perempuan di sini, kalau kau pergi, bagaimana bisa kami bersenang-senang?”

“Saya benar-benar punya pekerjaan lain.” Yawang tersenyum paksa.

“Apa pekerjaan lainmu? Sekali-kali kau harus ikut bersenang-senang dengan yang lain, ayolah, jangan merusak suasana bahagia ini.” Manajer Lin membujuk Yawang. Yawang dengan enggan menyetujui dan mereka meninggalkan restoran dengan hati yang ceria.

| Passion Heaven |

Ketika Yawang sedang memerhatikan para rekan kerjanya yang sibuk bernyanyi dan minum, ia menyadari bahwa Qu Wei Ran duduk mendekatinya. Tidak ada tempat lagi di sofa. Kapanpun Wei Ran bergerak, Yawang bisa merasakan bahu Wei Ran yang mengenainya. Yawang bangkit berdiri dan berpura-pura memilih sebuah lagu, lalu duduk di tempat yang paling jauh dari Wei Ran.

Setelah bernyanyi sebentar, ponsel Yawang berbunyi. Nomor tidak dikenal, tetapi kode areanya menunjukkan kode daerah Xi’an. Kedua mata Yawang melebar dan ia segera meminta izin untuk menerima panggilan kemudian beranjak ke ruang karaoke yang kosong.

“Halo?”

“Yawang, apakah kau merindukanku hari ini?” Tang Xiao Tian bertanya dengan sebuah tawa. Yawang menundukkan kepalanya dan tersenyum kecil.

“Bagaimana kau bisa tahu?”

“Haha, aku bersin dua kali di kelas tadi.”

“Kau flu?”

“Tidak, aku sangat sehat.”

“Bagaimana bisa kau meneleponku hari ini?”

“Hehe, aku ditugaskan untuk berjaga di luar, jadi aku meminjam ponsel untuk meneleponmu.”

“Lagi?! Hati-hati, jangan sampai tertangkap!” Terakhir kali Xiao Tian menelepon Yawang, ia sedang ditugaskan untuk berjaga di luar dan tidak menyadari bahwa ada yang melihatnya. Ketika Xiao Tian menyadarinya, ia dengan cepat melempar ponsel di tangannya ke semak-semak hutan dan berpura-pura sedang berjaga. Xiao Tian mencari ponselnya setelahnya, dan menemukan ponsel itu di sebuah kubangan lumpur.

“Jangan khawatir, aku memilih posisi yang bagus hari ini. Kalau seseorang datang, aku bisa melihatnya. Sedang apa kau sekarang?”

“Aku sedang di karaoke.”

“Dengan siapa?”

“Kenapa? Kau takut?” Yawang bertanya malu-malu.

“Mmm, aku takut. Jangan bernyanyi dengan pria lain. Jangan coba-coba!”

“Kalau aku mau, aku akan melakukannya. Aku akan bernyanyi dengan sekelompok pria.” Tang Xiao Tian tertawa mendengar balasan Yawang.

“Baiklah, bersenang-senanglah. Pulanglah lebih awal dan jangan minum-minum.”

“Aku tahu, kenapa kau kedengarannya tidak takut? Kau benar-benar tidak berpikir bahwa aku akan kabur dengan pria lain?” Yawang bertanya kecewa. Xiao Tian terdiam sejenak, kemudian ia menjawab.

“Yawang, aku tidak akan khawatir kalau kau pergi ke suatu tempat yang jauh, melihat pemandangan-pemandangan indah, atau bertemu dengan laki-laki yang lebih baik.” Yawang menggenggam ponselnya erat-erat sembari menyandarkan punggungnya ke dinding di belakangnya, ia mendengarkan kata-kata Xiao Tian dengan seksama.

“Karena itu untuk kebahagiaanmu. Kalau aku tahu kau senang, maka aku juga akan senang.” Yawang menundukkan kepalanya, rambutnya menutupi wajahnya sehingga tidak ada yang bisa melihat ekspresinya saat ini.

“Pulanglah, bodoh.”

“Mmm.” Yawang dan Xiao Tian berbicara beberapa menit sebelum akhirnya menutup panggilan. Yawang menampakkan sebuah senyum yang hangat dan lembut setelahnya, ia membuka pintu untuk kembali ke ruangan tadi ketika senyumnya tiba-tiba menghilang.

| Passion Heaven |

Laki-laki yang berdiri di depan pintu menatap Yawang dengan ekspresi datar. Yawang ingin menghindar, tetapi ia tidak bisa menemukan celah untuk pergi, jadi ia didorong paksa untuk kembali ke ruangan kosong itu.

“Permisi, saya harus kembali.” Yawang memelototi laki-laki di depannya.

“Senyummu tadi indah, bisakah kau tersenyum lagi?” Laki-laki itu bertanya, wajahnya mulai mendekati wajah Yawang.

“Aku tidak akan pernah bisa tersenyum ketika melihatmu.”

Qu Wei Ran bertanya: “Apa kau benar-benar membenciku?”

Shu Yawang mengangguk: “Ya, aku benar-benar membencimu.”

Qu Wei Ran menatap Yawang dengan wajah yang seakan-akan tertekan: “Lalu aku harus bagaimana? Aku tertarik padamu.” Wei Ran berjalan mendekati Yawang dan menutup pintu di belakangnya. Yawang berlari ke arah pintu dan mencoba untuk membukanya kembali ketika Wei Ran menghentikannya dengan satu tangan.

“Apa yang kau lakukan?!”

“Membuatmu lebih membenciku lagi.” Wei Ran menarik Yawang ke dalam pelukannya dan mencium Yawang dengan paksa. Tiba-tiba, ia merasakan sakit yang menusuk dari arah bawah dan segera melepas cengkeramannya pada Yawang. Sebelum Wei Ran mengamati sekelilingnya, ia dijungkirbalikkan dan dipukul di pundak sebelum dilemparkan ke tanah. Shu Yawang menatapnya dengan tatapan sedingin es.

“Aku memperingatimu, kalau kau menyentuhku lagi, aku benar-benar tidak akan membiarkanmu.” Yawang membalikkan badan dan segera keluar dari ruangan tersebut. Yawang dibesarkan di daerah militer di mana ia mempelajari tentang pertahanan diri dari Paman Tang. Ketika mereka masih kecil, Tang Xiao Tian tidak akan pernah bisa menang dari Shu Yawang ketika berkelahi. Qu Wei Ran menutupi area yang ditendang Yawang dan terkekeh.

“Yawang, kau benar-benar membuatku marah.”

| Passion Heaven |

Yawang kembali ke ruangan karaoke untuk mengambil tasnya. Ia berbicara sebentar dengan Manajer Lin dan segera meninggalkan ruangan tersebut. Semua rekan kerjanya tidak berani menghentikannya melihat ekspresi Yawang yang tidak menyenangkan. Ketika Yawang berjalan keluar, Qu Wei Ran berjalan dari arah luar masuk ke dalam gedung. Yawang ingin mendorongnya, tetapi Wei Ran dengan cepat menarik lengan Yawang dan berjalan kembali keluar.

“Apa yang kau lakukan?” Yawang berteriak pada Wei Ran.

“Aku ingin berbicara denganmu.” Yawang panik, ia kemudian menarik lengan Wei Ran, menundukkan kepalanya dan menggigit lengan Wei Ran sekuat tenaga. Wei Ran melepaskan Yawang dan Yawang berjalan dengan cepat kembali ke ruang karaoke dan segera duduk di tempat yang ramai. Qu Wei Ran tersenyum kecil. Ia mengusap lengannya yang digigit dan duduk di dekat pintu keluar. Kedua sudut bibirnya perlahan-lahan terangkat, seakan-akan ia sedang menikmati permainan kejar-mengejar kucing dan tikus. Yawang mengalihkan pandangannya, mencoba untuk tidak melihat Wei Ran. Yawang tahu bahwa nanti ketika pesta sudah selesai, Wei Ran akan datang padanya dan mengganggunya lagi. Yawang mengeluarkan ponselnya dan mencari nomor Xia Mu.

[Xia Mu, aku sedang berada di KTV X sekarang. Aku banyak minum hari ini. Bisakah kau meminta Paman Zheng menjemputku?] Beberapa menit kemudian, ponsel Yawang bergetar. [Oke.] Wah, bahkan pesannya benar-benar singkat dan padat, memang khas Xia Mu. Paman Zheng bekerja untuk kakek Xia Mu, dan beliau sering menjaga Xia Mu.

[Terima kasih, aku akan membelikanmu permen ketika aku pulang nanti.] Walaupun ponselnya tidak bergetar setelahnya, Yawang dapat membayangkan ekspresi Xia Mu ketika membaca pesannya. Yawang melirik Qu Wei Ran yang masih duduk di samping pintu keluar. Bodoh, menjaga pintu kalau-kalau aku kabur. Tunggu Paman Zheng datang nanti, lihat apakah dia masih berani menyentuh bahkan sehelai rambutku! Paman Zheng akan memukulnya habis-habisan.

Tetapi, takdir seakan mempermainkan Yawang ketika salah satu staf memberitahu bahwa waktu mereka telah habis dua puluh menit kemudian. Semuanya langsung meletakkan mikrofon di tangan masing-masing dan berjalan keluar, memberi salam pada satu sama lain sebelum pulang. Yawang dengan cepat memberhentikan sebuah taksi ketika ia melihat Qu Wei Ran berbicara dengan Manajer Lin. Ketika Yawang sudah duduk di dalam taksi, Qu Wei Ran masuk dari sisi lain. Wei Ran menatap Yawang sambil tersenyum; kedua mata Wei Ran seakan memberitahu Yawang bahwa ia tidak akan pernah bisa lari. Yawang mengepalkan tinjunya erat dan membuka pintu, tetapi Qu Wei Ran dengan cepat menguncinya. Ruang di dalam taksi sempit, dan Yawang dipaksa untuk tetap berada di tempatnya. Yawang menatap keluar jendela, punggungnya menekan dada Wei Ran.

| Passion Heaven |

“Apa yang kau inginkan?” Yawang bertanya sambil membalikkan tubuhnya untuk mendorong Wei Ran menjauh.

“Aku hanya ingin berbicara denganmu, kenapa kau terus menghindariku?”

“Aku tidak punya urusan denganmu, keluar dari mobil.” Kemudian Yawang berbicara pada supir taksi tersebut.

“Tuan, saya yang pertama duduk di sini, tolong minta dia keluar.” Supir taksi itu melihat ke arah Qu Wei Ran.

“Yawang, jangan marah. Aku yang salah, aku tidak akan mengulanginya lagi.” Wei Ran berkata lembut.

“Menjengkelkan, aku bahkan tidak dekat denganmu.”

“Apakah kalian berdua akan pergi atau tidak?” Supir taksi itu bertanya dengan nada jengkel. Baginya, Yawang dan Wei Ran hanyalah sepasang kekasih yang sedang bertengkar; Wei Ran membuat Yawang marah, Yawang ingin pergi, tetapi Wei Ran tidak membiarkannya.

“Kalau Anda menyuruhnya keluar, aku akan pergi.”

“Yawang, jangan begini.”

“Baiklah, kalian berdua silahkan turun. Jangan mengganggu bisnisku.” Supir taksi itu memaksa mereka untuk keluar.

“Lepaskan tanganmu, aku harus keluar.” Qu Wei Ran dengan senang melepaskan cengkeramannya dan mengikuti Yawang keluar dari taksi tersebut.

| Passion Heaven |

“Biarkan aku mengantarmu pulang.” Shu Yawang membalikkan badan dan menunjuk Wei Ran.

“Berhenti, berhenti di tempatmu.” Qu Wei Ran berjarak lima langkah dari Yawang.

“Katakan apa yang kau mau sekarang, kalau kau berani bergerak satu inci saja, aku akan pergi.” Yawang berkata sambil menurunkan telunjuknya.

“Baiklah.” Wei Ran memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya dan menyandarkan punggungnya di tiang lampu jalan.

“Aku tahu kau membenciku.” Yawang tertawa kecil. Dua gadis remaja yang kebetulan lewat memerhatikan Yawang dan Wei Ran. Qu Wei Ran memberikan sebuah senyum hangat pada mereka. Yawang mengakui bahwa senyum Wei Ran memang menawan, hanya saja ia tidak tertarik.

“Aku sengaja membuatmu membenciku, sehingga kau bisa punya satu kesan yang mendalam terhadapku. Yawang-ah, aku benar-benar menyukaimu.” Wei Ran menunduk dan tertawa.

“Aku sudah lama tidak merasakan perasaan seperti ini, maka dari itu aku berharap kau bisa membalas perasaanku.” Kemudian Wei Ran menatap Yawang dengan sayang.

“Aku tahu kau menyukai Xiao Tian, tetapi ia tidak bersamamu di sini setiap saat. Tidakkah kau merasa kesepian, merasa bosan? Apa kau tidak menginginkan pelukan dari seorang pria?” Sembari berkata, Wei Ran berjalan mendekati Yawang dan berbisik di telinganya.

“Aku bisa menjadi kekasih gelapmu, tidak akan ada yang tahu selain kita. Kalau kau mau berhenti, kita akan putus. Kita harus bersenang-senang selama masih ada waktu, Yawang-ah.” Wei Ran mengangkat dagu Yawang dengan tangannya.

“Aku akan menjadi kekasih yang paling baik, aku akan memanjakanmu dengan kasih sayang, mengajarimu banyak hal-hal menyenangkan.” Yawang menepis tangan Wei Ran dari wajahnya.

“Sudah selesai?” Wei Ran melingkarkan lengannya ke pundak Yawang.

“Aku sudah selesai, tetapi rasanya aku tidak puas.”

“Qu Wei Ran.” Yawang mengangkat satu tangannya untuk menghentikan wajah Wei Ran yang semakin mendekatinya. “Mungkin bagimu, cinta adalah satu hal yang bisa kau permainkan, tetapi untukku, cinta adalah sesuatu yang hanya akan kuberikan pada satu orang seumur hidupku. Aku mencintai Xiao Tian, dan hanya mencintainya. Dia memang tidak berada di sini setiap saat, dan aku memang merasa kesepian. Tapi jika bukan dia, aku tidak akan membiarkan lelaki manapun menyentuhku. Bagiku itu menjijikkan, terutama olehmu.” Yawang menurunkan tangannya dan menatap Wei Ran.

“Carilah perempuan lain yang bersedia memainkan permainan ini denganmu. Aku tidak mau bermain, dan tidak bisa bermain, dan terutama aku tidak ingin bermain denganmu. Jadi tolong, lepaskan aku.” Tidak satupun dari mereka yang bergerak. Lengan Wei Ran masih melingkari bahu Yawang, bibirnya membentuk sebuah senyum.

“Aku tidak mau melepaskanmu. Semakin kau menolakku, semakin aku ingin mengendalikanmu. Kurasa aku sudah berubah menjadi seorang psikopat karena kau.”

“Kau tidak berubah menjadi seorang psikopat, kau memang seorang psikopat.” Yawang membalas, ia meninju rahang bawah Wei Ran. Wei Ran berhasil mengelak, tetapi Yawang dengan cepat mengangkat lututnya untuk menendang bagian bawah tubuh Wei Ran. Wei Ran melepaskan cengkeramannya pada Yawang untuk melindungi dirinya, Yawang mendorong Wei Ran sebelum beranjak menjauh darinya. Yawang berjalan mundur untuk tetap memerhatikan gerak-gerik Wei Ran. Ketika Qu Wei Ran sudah berhasil menyeimbangkan tubuhnya, ia ingin mengatakan sesuatu, tetapi terhenti ketika ia berteriak dengan panik ke arah Yawang.

| Passion Heaven |

“Awas!” Yawang berhenti dan menoleh. Ia melihat sebuah mobil melaju tepat ke arahnya, lampu mobil itu menyala silau mengenai matanya. Yawang hanya terdiam di tempatnya, tidak tahu harus berlari ke mana. Ketika mobil itu hampir menabrak Yawang, ia dapat merasakan seseorang mendorongnya menjauh. Yawang dapat mendengar bunyi rem yang diinjak secara tiba-tiba ketika ia terjatuh ke tanah.

Di bawah mobil terbaring seseorang. Yawang melihat seseorang yang terasa sangat familiar dengan seragam sekolah yang masih utuh melekat di tubuhnya. Yawang mengangkat tangannya untuk menutup mulutnya, badannya gemetar ketakutan, ia tidak berani menyebut nama dari seseorang itu. Qu Wei Ran berlari ke arah Yawang, ia menjulurkan tangannya untuk menyentuh anak laki-laki yang tertabrak, tetapi dengan segera ditepis Yawang.

“Jangan sentuh dia.”