People Magazine: PORTRAIT – KRIS WU Part 3: Kembali ke Cina

Kembali ke Cina

Menentukan Nasib di Tangan Sendiri

Di dunia ini ada dua macam orang yang percaya jika nasib mereka berada di tangan mereka sendiri. Yang pertama adalah mereka yang terlahir dengan sendok perak di mulutnya [T/N: idiom untuk orang yang terlahir dengan keluarga kaya] yaitu mereka yang tidak pernah bergulat dengan nasib itu sendiri. Yang kedua adalah mereka yang bertarung dengan nasib dan menjadi pemenang. Kris Wu adalah tipe orang yang kedua.

Tidak peduli itu meninggalkan Ibunya ataupun meninggalkan SM setelah perjuangan berat selama 7 tahun, Kris Wu membuat keputusannya sendiri dengan berani dan berbuat sesuatu untuk itu. Akhirnya keluar menjadi pemenang, hasil yang mengikutinya juga sangat banyak dan dari situ Kris Wu menjadi semakin kuat dan percaya diri.

‘Kau percaya jika nasib itu berada di tanganmu sendiri, dan tidak berada di tangan Tuhan. Suatu hari memberimu ketidak-beruntungan dan memberimu keberuntungan di lain hari. Kau sangat percaya jika nasib itu berada di tanganmu sendiri bukan? Apa kau percaya jika kau akan mendapatkan balasan untuk semua yang telah kau lakukan?’ Editor People Magazine bertanya pada Kris Wu ketika interview.

‘Ya, aku sangat percaya ini, aku merasa jika orang seharusnya mengandalkan kerja keras mereka sendiri dan mengontrol nasib mereka sendiri dan tidak hanya menerima apa yang mereka dapatkan atau mengeluh mereka mendapat ketidak-beruntungan. Aku merasa banyak kali jika kau benar-benar sudah bekerja keras dan belum mendapat balasan apapun itu berarti kau belum cukup bekerja keras. Jika kau mendapat sesuatu tanpa mengerjakan apapun, ini mungkin bisa menjadi sesuatu yang tidak baik dikemudian hari.’ Jawab Kris Wu.

Di Cina, kesalahpahaman yang umum diantara media yang paling banyak dihadapi oleh mantan menajer Kris Wu, Feng Lihua adalah: apakah Kris Wu beruntung dan langsung menjadi popular di waktu yang singkat? Karena banyak bintang muda yang populer dalam semalam karena salah satu film mereka.

Setelah menerima sukses sebagai hasil dari kerja keras selama 7 tahun, Kris Wu sekarang bisa lebih berani mengikuti apa yang paling ia inginkan daripada mengikuti peraturan yang telah ditetapkan.

Kevin ingat jika Kris Wu pernah merasa kecewa untuk waktu yang lama segera setelah ia kembali ke Cina. ‘Ia berkata padaku jika ia tidak tahu siapa yang harus dipercaya, tidak tahu siapa temannya dan dia tidak mau mengulang kesalahan yang sama ia buat ketika ia masih di Korea.’ Kevin mengatakan pada Kris Wu, kau harus percaya sampai kau menemukan seseorang yang benar-benar berharga untuk kau percaya.

Saat itu, yang paling membuat Kris Wu tenang adalah, ia akhirnya bisa memberikan sang Ibu sebuah penjelasan. ‘Jika aku kembali ketika aku masih trainee, tiba-tiba kembali setelah 4 tahun (di mana dia masih belum menghasilkan apa-apa), aku tidak akan punya penjelasan (untuk Ibuku)…. Tanpa mendapat sesen pun, aku tidak akan punya cara lagi untuk keluar (mencari mimpinya).’ Namun setelah debut, Kris Wu merasa sudah cukup bekerja keras dan akhirnya bisa merasa tenang.

‘Satu kalimat yang membuatku jengkel…. Aku berkata, anakku, bagaimana mungkin kau mengatakan ini, kau tahu jika aku tidak pernah berpikir untuk membiarkanmu memilih jalan karir ini, saat kau memutuskan untuk masuk industri hiburan, aku ingin menhentikanmu dengan cara apapun meski aku tidak bisa berdiri di jalanmu.’ Beliau berkata pada Kris Wu.

Saat itu, Mama Wu sendiri yang sibuk untuk putranya. Saat itu Xu Jinglei sudah menemui Kris Wu untuk syuting filmnya, namun Mama Wu tidak tahu kontrak film itu seperti apa dan tidak tahu bagaimana berdiskusi dengan mereka. Kapanpun dan siapapun yang mendekati beliau dengan harapan bisa berkerja dengan Kris Wu, beliau tidak berani berdiskusi dengan mereka; ‘Karena aku tidak tahu apa yang harus di diskusikan dengan mereka.’ Jika itu mengenai iklan, putranya juga punya standar sendiri, ia tidak akan melakukan sesuatu semata-mata untuk keuntungan, kapanpun ia harus membintangi suatu produk, ia hanya akan melakukannya jika ia merasa ia menyukai produk itu.

Apa yang Kris Wu inginkan adalah membangun tim sendiri, seperti keluarga yang bisa tumbuh bersama. Dulu ketika ia masih tinggal di luar negeri, kadang-kadang ia akan kembali ke Guangzhou, dan ia sangat suka dengan perasaan merayakan tahun baru bersama dengan semuanya. Meski mereka bukan anggota keluarga namun kakek dan neneknya bersama beberapa saudara-saudara Ibunya. ‘Aku sangat menyukai perasaan berada di rumah. Ketika aku masih muda, aku sangat ingin mempunyai keluarga besar. Ketika aku melihat orang lain punya keluarga besar aku akan sangat, sangat iri, jadi aku selalu berharap jika aku bisa punya tim yang seperti itu.’

Kevin ingat jika Kris Wu tidak punya perasaan ingin memiliki sampai ia syuting film tahun lalu. Saat itu Kris Wu akhirnya bisa melakukan apa yang ia suka, ia sangat menyukai karakternya, dan bisa mengenal beberapa orang yang pantas untuk dipercaya ketika syuting. Karena itu, ia tidak harus menanggung semua stres seorang diri.

Kris Wu kelihatannya tenang dan ceria namun ketika ia menangis, itu akan meninggalkan kesan yang dalam bagi sutradara Zhou Tuo Ru. Ketika mereka syuting sebuah scene untuk Never Gone, di mana karakter orang kaya baru Kris Wu menangis setelah bertengkar dengan kekasihnya, sutradara Zhou berharap jika Kris Wu akan berakting sesuai instingnya. ‘Aku tidak menyuruhnya menangis dengan gaya tertentu,’ ingat beliau, karena beliau ingin melihat reaksi alami Kris Wu. Zhou berpikir akan ratusan skenario—marah ketika menangis, kesulitan saat menangis…. Namun yang mengejutkan beliau, Kris Wu akhirnya menangis seperti anak kecil. ‘Orang yang tinggi besar dan tampan…. Tidak disangka menangis seperti anak kecil.’ Kata Zhou, beliau ingat setelah meneriakkan “Cut”, seluruh orang di lokasi terdiam untuk waktu yang lama.

Penggemar Akan Terus Berusaha Sekuat Tenaga

“Dari lubuk hatiku yang paling dalam, aku sangat berterimakasih pada mereka, aku sangat tersentuh.” Kris Wu sadar bahwa penggemar telah memberinya banyak kesempatan kala ini. “Tapi aku tidak bertanggungjawab atas kehidupan kalian.”

“Aku selalu memberitahu kalian, bahwa kalian harus berusaha untuk hidup kalian, kalian tidak perlu mengharuskan diri datang ke konserku, tidak apa-apa, aku tidak akan marah, tapi kalian harus bekerja keras, fokus agar hidup kalian juga baik. Aku juga tidak bisa hidup seperti apa yang kalian inginkan. Kuharap seperti itulah hubungan kita.”

Ia juga sadar bahwa kekuatan penggemar itu tidak stabil. “Bukan tidak mungkin untukku memiliki penggemar sebanyak ini selamanya.” Suatu hari, ia akan menikah dan punya anak-anak, dan tidak mungkin lagi untuk meraihnya. Idola baru akan bermunculan, itulah roda siklusnya. “Pada akhirnya, siapapun yang yakin apa yang diinginkannya pasti tahu bahwa dia bertopang pada dirinya sendiri.”

“Jujur, aku siap untuk kalah dari persaingan.”m kata Kris Wu. “Tapi aku bisa menghadapi ini dengan tenang. Ketika aku bekerja sekuat yang aku bisa dan melakukan hal yang aku sukai, kurasa aku akan tenang menghadapinya.”

Di masa ini di mana angka box office sangat signifikan untuk meraih target, statistik yang dibuat penggemar kris Wu menunjukkan ia tidak memliliki pondasi yang kuat di industri entertainment Cina untuk bisa bermain peran di <Mr. Six>.

Sekarang, Kris Wu mendapat rasa percaya diri dari menawarkan diri untuk bekerja keras tanpa memikirkan imbalan, dengan rasa tulus dan tidak untuk mengecewakan orang lain, dan akhirnya bisa menggaet partner bisnis untuk kolaborasi di Cina.

Terima Kasih Telah Kembali Pulang

Sebelum memutuskan untuk menjadi managernya, Tuan Chen telah bekerja di industri ini selama 15 tahun dan tidak berkenan untuk bekerja dengan artis yang tidak memiliki pesona yang khas maupun yang tanpa tantangan. Untuknya, tidak ada hal baru nantinya. Dia tidak tahu banyak tentang EXO dan dia tidak tertarik dengan tipe artis yang dikerubungi fans setapaknya keluar dari gedung. Saat dia melihat Kris Wu, kesan pertamanya adalah Kris itu segar, bersih, sangat sopan, dan baru dia terpikir bahwa ia sangat tampan. “Saat itu, ia tidak terlalu yakin dengan industri entertainment Cina…… jadi ia terlihat seperti anak yang sangat pemalu.”

Yang membuat ia terkesan dengan Kris Wu adalah saat perannya sebagai Biksu Tong di <Journey to the West: Demon Chapter 2>, sutradara Tsui Hark memintanya untuk mencukur habis rambutnya. Untuk bintang Korea, itu adalah perihal besar sebelum wajib militer, dan Kris Wu mencukur rambutnya dianalogikan seperti “Keluarga Wan Sicong bangkrut”, sebut seorang penggemar.

Tuan Chen tidak berani untuk setuju dengan permintaan Tsui Hark. Yang mengejutkan, saat dia bertanya pada Kris Wu tentang hal itu, ia tak ragu menjawab, “Tidak perlu meminta lagi, itu bukan masalah besar.” Hal ini memberi kesan yang dalam baginya. “Hal ini sangat membuat Tsui Hark terkesan.”. “Mereka merasa anak ini tidaklah buruk, ia murni ingin berakting, dan ia bukan tipe idola yang mengharuskan dirinya memiliki gaya yang tampan.”. Saat itulah Tuan Chen memutuskan untuk membantu Kris Wu. Dia mengerti bahwa Kris tidak sekadar bergantung pada kinerja Tuan Chen untuk mencari uang, tapi dia adalah seseorang yang dapat bekerjasama sehingga mereka bisa sama-sama menciptakan karya baru.

Zhou Tuo Ru bekerja dengan Kris Wu untuk <Never Gone> saat Kris baru kembali ke Cina. Sutradara Zhou mengatakan pada <Majalah People> tentang pengalaman-pengalamannya saat dia dulu menjadi aktor. Dia merasa bahwa menjadi aktor adalah pekerjaan yang sangat menuntut. Saat 2-3 kamera fokus padamu, semua orang di set memperhatikanmu, dan cahaya menyinari wajahmu, akan mudah bagi aktor untuk merasa ciut dan tidak nyaman. Tapi Kris Wu tidak takut, sejak awal hingga akhir ia berada di keadaan dirinya sendiri, punya firasat yang tidak seperti dewasa lainnya, kepercayaan seorang anak kecil pada aktor, aktris dan kru. Ia mendengarkan semua acuanmu dan melakukannya sebaik ia bisa. <Majalah People> betanya kemudian, bagaimana rasanya bekerja dengan Kris Wu? Dia menjawab, “Ia pekerja keras dan punya keinginan kuat, itu membuatnya dapat merasakan karismanya, dan membuatnya ingin melindunginya, tidak untuk mengecewakan anak muda ini. Ia percaya padamu sepenuh hati.” kata Zhou.

Apa yang teringat oleh Sutradara Lu Chuan saat pertama kali bertemu Kris Wu adalah; anak ini memiliki 2 tipe cara pembicaraan yang sangat berbeda.

“Ketika kamu bicara hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan, ia akan menjadi pendiam dan pemalu.” Sebaliknya, sekali topiknya adalah tentang hal-hal yang ia sukai, ia langsung berubah dari pendiam jadi bersemangat dan ceria, dan tidak ada masa transisinya.

Lu Chuan mengatakan, yang membuat Kris Wu ceria adalah peran yang memberinya emosi yang ekstrim serta rasa puas, misalnya, karakter orang gila atau karakter antagonis. Hal ini mengejutkan bagi Lu Chuan, karena dari pengalamannya, sulit bagi pria tampan untuk melepas peran karakter yang punya penampilan bagus. “Itulah piring mereka.”, tapi Kris Wu tidak peduli hal seperti itu.

Di tahun 2015, November, menjawab pertanyaan <Majalah People> yaitu; “Aktor mana yang Anda sukai?”, Kris Wu menjawab, “Leonardo diCaprio.”. Alasannya, karena dia menerima peran yang berbeda dari imejnya dan mengambil banyak tantangan; menerima peran-peran yang jauh berbeda.

Kris Wu harus menghubungi pihak-pihak kolaborasi bisnis. “Jadwal.” adalah alasan yang sering digunakan untuk menolak permintaan industri entertainment. Jika ada orang yang menawarkan sesuatu yang tidak kamu mau, cara ini yang diapaki, kata Chen Lizhi. “Mereka akan mengecek apakah kamu masih punya popularitas, dan mereka akan berkata “Oh tidak, karena jadwal tidak memungkinkan, aku tidak bisa menerimanya. Aku ada filming saat itu.” namun setelah dicek ternyata filming yang disebut memang tidak ada. “Namun, yang mengejutkan Chen Lizhi adalah cara Kris Wu adalah langung memberitahu mereka; “Ini tidak cocok untukku.”, atau “Aku tidak menyukainya.”. Chen Lizhi merasa ia melakukan hal yang benar, tapi juga khawatir karenanya. “Jujur, ia sebaiknya frontal hanya di depan orang-orang yang bisa ia percayai dan punya hubungan baik, sebaliknya, ia bisa di-blacklist.” Chen Lizhi akan bertanggungjawab, dan akhirnya berbohong: “Ia punya waktu luang di jadwalnya.”

Kris Wu mengatakan bahwa dia menghargai ketulusan, “Kualitas apa yang kamu paling hargai saat kamu menata tim-mu sendiri?”, “Aku sangat menghargai rasa tulus, aku harap semuanya bisa ekerja dengan tulus.”, jawabnya.

Di tanggal 6 November 2015, Kris Wu sudah bermain di 7 film di 18 bulan setelah kepulangannya ke Cina. Sebelum kembali ke Cina, ia belum pernah berakting sebelumnya, dan sutradara Cina lokal tidak ada yang tahu tentang dirinya. Ia bergantung pada kerja kerasnya dan etik kerjanya untuk menutupi kurang fasihnya ia berakting akibat kurang pengalaman.

Dalam wawancara, Kris Wu mengaku bahwa ia punya ikatan spesial dengan para senior pria yang pernah bekerja dengannya, “Sebenarnya ada sedikit, saat aku kecil, aku sangat ingin punya orang yang bisa menuntunku, dan memberiku rasa aman.”, katanya. Misalnya, pengalaman bekerja dengan Feng Xiaogang meninggalkan rasa kagum padanya. Kris merasa “satu dorongan kuat yang membuat orang lain yakin.” Apa yang membuat Kris begitu ceria adalah saat ia diakui dan diterima oleh orang yang ia kagumi.

Di tahun 2015, saat filming <Journey to the West: Demon Chapter 2> ada satu hari ia pergi ke kamera setelah mengambil scene-nya untuk melihat bagaimana ia berakting.

Tiba-tiba, satu dari penyelia script bilang padanya dengan pelan, “Aktingmu bagus, dan sutradara sangat menyukaimu.”

“Benarkah? Kenapa?”, tanyanya balik.

“Tiap kali kamu mengambil scene, sutradara pasti tersenyum di belakang. Selama itu scene-mu, tiap scene kamu berakting, sutradara akan duduk di belakang monitor sambil tersenyum, dan terlihat senang.”

Kris Wu merasa making tertekan, “Aku akan terus berakting, dan aktingku harus menjadi lebih baik, agar tidak mengecewakan sutradara. Ya, itu yang akan kulakukan.”

Setelah selesai, ia hampir meneteskan air mata, “Kubilang, Sutradara, aku tidak bisa meninggalkanmu.” Kris Wu ingat ia pernah mengatakan itu pada Tsui Hark.

Sekarang aku masih seperti ini, aku masih memberi emosiku pada semua orang.” Kris Wu berkata pada <Majalah People>, bahkan setelah disakiti oleh pengalamannya di SM, “Aku yang pertama memberi emosiku.”

Setidaknya di beberapa aspek, toleransi dan keingingan kuat Kris Wu jauh dari orang biasa. Misalnya, kebanyakan orang setelah mengalami hal pedih akan kehilangan ketulusannya. Untuk masih bisa berbuat baik pada orang lain adalah sesuatu yang patut dikagumi. Kris Wu mengetahuinya di masa kecilnya. Itu juga yang ia katakan pada Kevin sebelum dia meninggalkan SM, “Apapun yang terjadi padamau, jangan pernah rubah siapa dirimu, kamu harus selalu jadi dirimu sendiri.”

Ia bicara tentang hal-hal yang ibunya ajarkan, “Ibu mengajarkanku untuk mempercayai orang lain dengan mudah, jadi aku memang sudah pernah mengambil keputusan yang salah.” Saat ia kecil, ibunya selalu membuat dunia sebagai tempat yang indah. Ketika ia berumur 16-17 tahun, ia ditipu seorang teman dekat. Ia sudah tidak ingat apa yang terjadi, tapi ketika itu ia sangat-sangat kesal. Yang ibunya bilang, “Maaf, anakku. Ibu tidak pernah bilang sisi gelap dunia ini. Tapi kamu harus sadar kalau orang-orang punya sifat yang berbeda. Kita tidak bisa langsung menghakimi orang-orang, dan kamu tidak boleh berniat untuk melukai siapapun.”

Kata-kata kunci yang telah dipegang oleh Kris Wu adalah murni dan tulus. “Orang yang tidak melupakan dari mana asalnya.”, ia bilang. “Banyak orang pikir aku naif, dan mungkin bodoh, tapi aku masih ingin menjadi seperti ini, dan berharap aku bisa tetap seperti ini selama yang aku bisa.”

Setelah wawancara yang berlangsung setengah hari, ia puang untuk mencari potongan kalimat yang ia catat dari buku Chicken Soup for the Soul, lalu mengirimnya ke grup WeChat; “Menjadi sadar akan keadaan dunia dan tidak terpengaruh olehnya adalah derajat tertinggi kedewasaan dan kebaikan hati.”

Bicara tentang penyesalan yang pernah ia rasakan serta pengorbanannya, akan berefek ke kesehatannya. Sebelum pergi dari SM, Kris Wu memang menderita flu terus menerus selama setahun, dan tuntutan yang luar biasa berat memperburuk kondisi tubuhnya, pada akhirnya mulai merasa gejala-gejala. “Aku tidak bisa istirahat dengan baik, ada banyak tuntutan dan tekanan.”, katanya, “Biasanya aku bisa main basket, tapi sekarang staminaku tidak bagus….. seharusnya di umur 25, laki-laki ada di masa puncaknya.”

Namun beberapa hari setelah berbagi cerita tentang kesehatannya dengan <Majalah People>, foto Kris Wu hanya mengenakan kaos di suhu -5 derajat Celcius dinginnya Beijing tampak di berita dan media.

Di pihak keadilan yang ia percayai, jika seseorang menginginkan sesuatu, ia harus bertekad untuk menerima kesulitan apapun untuk meraihnya. “Aku tidak bisa dipaksa.”, kata Kris Wu, “Kadang aku dilema, tapi akhirnya aku merasa saat ini, jika aku tidak melakukan apa yang kuingin, aku takut akan menyesal di kemudian hari.”

Di tengah jadwal yang padat, kris Wu merilis lagu buatannya sendiri <Bad Girl>. Di hari ia berperan sebagai Biksu Tong, ia merangkai lirik lagu saat lighting sedang ditata, membuat kompisisi selagi berganti set, pergi ke studionya untuk merekam dan mengaransemen lagunya pada malam setelah filming. Hanya seperti itu ia membuat lagu, dan menitinya 20 kali lagi. – “Jika aku melakukan hal yang kusuka, bagaimana bisa aku tidak punya waktu untuknya?” Lagu ini dijadwalkan untuk rilis mlam sebelum hari ulangtahunnya, sebagai hadiah untuk para penggemarnya. Akhir Oktober, Kris masih bekerja pada detil lagunya, dan bilang pada tim-nya bahwa lagunya belum memuaskan. “Maafkan aku, aku tidak bisa meninggalkan ini, tolong batalkan semua jadwal.”

Tahun lalu, Kris Wu hanya tidur selama 4-5 jam per hari, selama setahun penuh. Hingga wawancara bulan November, pencapaian Kris Wu selain 7 film adalah 1 lagu kover dan 2 lagu orisinal, 8 endorsement, menjadi kover model untuk 13 majalah, dan menghadiri 70 event.

Setelah premiere <Mr. Six>, <People Magazine> mengirim pujian untuk Kris Wu atas aktingnya di <Mr. Six>. Kris Wu dengan senang membalas: “Terima kasih Jie jie atas dukungannya.” yang lalu dibalas oleh editor: “Terima kasih telah kembali pulang.”. Kris Wu membalasnya dengan emotikon tersenyum.

Aku Tidak Bisa Menahan Diri

Kris Wu mendapat feedback positif dan semangat dari sutradara dan pujian karena kerja kerasnya yang tidak egois. Nyonya Wu selalu menunggunya di rumah dan tak dipungkiri mulai khawatir, jadi sulit tidur di malam-malam itu.

Di awal Desember 2015, <Journey to the West: Demon Chapter 2> memasuki periode shooting akhir, pengambilan gambar terus menerus dilakukan semalaman. Rambutnya dicukur habis, Kris Wu yang hanya bisa memakai jubah tipis dengan satu pak penghangat di dalam, harus mengambil gambar di luar, di tengah dinginnya musim dingin Beijing hingga pagi.

“Apakah kamu kedinginan?” Malam itu, Nyonya Wu tidak bisa menahan dirinya untuk menelepon anaknya itu.

“Cepatlah kembali tidur.” Kegelisahan terdengar di serak suaranya, “Ibu harus segera tidur.”, mintanya.

Kris Wu mengatakan pada <Majalah People> bahwa ia sangat marah malam itu. Ia merasa ibunya menua dan dalam hubungannya, ia sudah mangambil peran sebagai orang yang mengurusnya. “Saat ini aku pun sangat khawatir jika ibu tidak tidur semalaman.”, katanya.

Kris Wu yang mengutamakan kerjanya daripada dirinya sendiri, sejak kecil hingga dewasa, telah mengerti bahwa saat yang paling ia takutkan adalah bertemu dengan kegelisahan dan kekhawatiran ibunya. Sindy merasa Kris juga gelisah dikarenakan kekhawatiran ibunya. Kris Wu tidak pernah memperbolehkan ibunya berada di filming set.

Hari berikutnya, ibunya yang tidak tidur semalam suntuk hanya bisa meluapkan isi hatinya di WeChat Moments. Jam 6 pagi, sebelum matahari terbit, Sindy melihat tulisanya di WeChat Moments:

“Hari ke-6 filming semalam suntuk, scene penting, di luar, hanya memakai jubah tipis dan selapis pakaian hangat, aku tidak tahan dan meneleponnya, tapi malah dimarahi. Pertama: Jangan telepon di waktu kerja. Kedua: Jangan memanjakanku, sutadara dan teman-teman lainnya semua lebih tua daripada aku, dan mereka juga menghabiskan semalaman di luar juga. Saat aku menunggu giliranku, aku pasti masuk nda menghangatkan diri. Ketiga: Kalau ibu malah tidak bisa tidur, aku yang jadi khawatir. Cepatlah pergi tidur!!!”

Banyak orang berpikir Nyonya Wu sedang memuji anaknya, dan kebanyak komentarnya adalah “Anakmu sangat pengertian.”, “Aku tidak tahu Fanfan ternyata sepengertian ini.”, tapi Sindy mengerti bahwa Nyonya Wu sedang bersedih. Nyonya Wu berkata, “Saat aku membicarakannya, ia akan membalas dengan bantahan.”

Sindy membalas dengan: “Fanfan benar, jika kamu tidak menjaga dirimu, kamu malah membuatnya tambah khawatir dan lelah, dan mendistrek dia dari kerjanya. Fanfan tahu pasti apa yang ia inginkan, dan pengertianmu sangat penting. Kerja keras bagi seorang ibu.”

Nyonya Wu membalas: “Aku tidak bisa menahan diriku.”

Studio Kris Wu berdiri tanpa pemimpin yang stabil. Saat Kris baru saja kembali ke Cina bersama ibunya, keduanya tidak punya pilihan selain percaya pada semua orang yang mereka temui. Jurnalis Feng Lihua ingat saat itu, di grup WeChat untuk mendiskusikan hal-hal yang dibutuhkan untuk mengelola industri entertainment di Cina, seseorang bertanya, “Ada yang tahu siapa manager Kris?” Setelahnya, banyak nama bermunculan, “Seseorang mengatakan; “Hubungi saya, saya dekat dengan ibunya.” Akhirnya, jika kris Wu tidak dapat mengelola jadwalnya, tugas ini diberikan ke Nyonya Wu.chen Lizhi merasa bahwa Nyonya Wu punya beban berat, “Memperlakukan orang lain dengan baik, tapi malah dituduh memiliki tujuan yang buruk.”

Di wawancara, Nyonya Wu berkata bahwa ia mengerti situasi tersebut. Beliau menerima (untuk melakukannya) karena beliau hanya punya satu prinsip: Selama itu untuk kebaikan anaknya. Satu setengah tahun setelah kembali ke Cina, setela beliau menata dengan teliti studio untuk anaknya, selain tetap berada di grup WeChat Studio Kris Wu, beliau mulai menjauh dari dunia anaknya. Ada banyak hal yang masih beliau pelajari dan beliau tidak ragu untuk bertanya, misal saat semua menjadi runyam, beliau segera panik dan langsung bertanya pada orang yang bertanggung jawab; “Bagaimana kamu mengurus hal ini?” Saat itu, Kris Wu akan membertitahu ibunya secara langsung untuk tidak bertindak seperti itu, dan beliau akan kembali dan meminta maaf.

Tapi dipikir lagi, semua yang beliau lakukan adalah untuk kebaikan anaknya. Anda bisa melihat Nyonya Wu punya keinginan yang stabil dan terus menerus yang membuat kehendak kuatnya bangkit lagi.

Melakukan wawancara untuk <Majalah People> merupakan kali pertama Nyonya Wu berhadapan dengan media. Selama ini beliau tidak pernah mau untuk menerima wawancara, karena beliau sebenarnya taku, dan <Majalah People> meminta staff studio Kris Wu untuk membujuknya.Beliaulah satu-satunya orang yang melihat pertumbuhan Kris selama 7  tahun berada di Kanada, dan ada cerita-cerita yang beliau ingin katakan.

Mengingat Kris Wu yang melakukan shooting, jurnalis Kris Wu membuat pertemuan di restoran Jepang yang dekat dengan studio. Nyonya Wu merasa tidak ada restoran Jepang yang cukup bagus dan takut staff <Majalah People> tidak berkenan. Saat wartawan <Majalah People> tiba, dia mendapat telepon dari jurnalis, bertanya untuk Nyonya Wu, untuk tidak sungkan jika dia tidak menyukai restorannya, bisa langsung bilang agar bisa mencari restoran lain.

Nyonya Wu tetap merasa khawatir bahkan saat masuk ke ruang makan, memakai jaket hitam tebal, beliau bahkan menanyakan pertanyaan yang sama sebelum duduk. Hanya mendengar balasan, “Tempat ini cukup bagus,” beliau tersenyum, dan melepas jaketnya dengan wajah lega.

“Anda belum menyentuh makanan Anda, hanya ngobrol daritadi.”, komentar wartawan <Majalah People> setelah 2 jam makan siang hampir habis. “Tidak apa-apa, tugasku hari ini adalah untuk bicara.”, balas Nyonya Wu. Karena di benaknya, beliau melakukan ini untuk Fanfan, beliau hanya mau melakukannya untuk kebaikannya.

Nyonya Wu senang mendengar pujian untuk Kris Wu, beliau akan tersenyum dengan ramah, dan matanya bersinar.

Sekarang Kris Wu tinggal bersama ibunya. “Karena aku tahu dari sejak aku lahir, ibu tidak punya hidup untuk dirinya lagi.” Ia berharap ibunya akan kembali menata hidupnya lagi. Namun tiap kali ia berkata, “Ibu, Ibu harus cari pacar.”, Nyonya Wu membalas, “Apa karena kamu tidak mau dengan Ibu lagi?”

Berfokus pada anaknya selama 25 tahun, ada banyak kesulitan yang harus beliau hadapi sendirian. Saat waktu anaknya di SM, ada satu kejadian yang membuatnya tertegun.

Jika saat itu tidak hujan berangin, itu akan menjadi hal biasa-biasa saja. Tapi di venue, angin dan hujan bertiup merobohkan baliho yang sangat besar, yang membuat Nyonya Wu sangat terkejut. Baliho itu sangat besar, dan hanya bisa didirikan sebentar sebelum jatuh tertiup lagi. Orang-orang berusaha mendirikannya lagi. Melihat lebih dekat, Nyonya Wu sadar bahwa beberapa perempuan menahan baliho itu, mereka sudah mendapat tiket dengan susah payah, tapi karena baliho itu, mereka tidak bisa menonton. Mereka melakukannya karena mereka berharap Kris dapat melihat mereka dan agar dia punya lebih banyak rasa percaya diri.

“Mereka berdiri di area yang sangat jauh, beberapa orang memegang baliho itu, menahannya di papan, di tengah hujan angin.”, Nyonya Wu mengingat kembali saat itu, beliau memberi dukungan pada anaknya, perasaan yang beliau kenal, cinta dan pengorbanan yang utuh untuk memberi, tanpa memikirkan balasannya.

Setelah pengalaman itu, beliau meminta tim anaknya untuk tidak memberi harga tiket yang terlalu mahal, dan diskusi apakah seharusnya hadiah untuk para penggemar digratiskan saja. Beliau yang bersikeras tentang apapun yang berkaitan dengan penggemar.

“Sekarang beliau yang bertanggung jawab mengurus penggemar, misalnya urusan tiket konser dan semacamnya, semua diurus oleh Tante (Nyonya Wu).” jelas Feng Lihua sambil tersenyum.

“Karena itu adalah cinta yang sederhana dan murni, dan mereka mendukungmu dan apapun yang kamu lakukan, aku rasa ini sangat-sangat berharga, dan aku tidak mau orang-orang itu terluka.”, tambah Nyonya Wu, sedikit tersipu, “Itu sangat mirip dengan cinta seorang ibu pada anaknya.”

Di hari wawancaranya dengan <Majalah People>, Nyonya Wu mengenakan jaket hitam yang formal, namun saat beliau lepas sepatunya, sepasang kaus kaki pink mencolok terlihat. Itu adalah kaus kaki spesial yang diproduksi SM untuk penggemar saat anaknya masih bergabung di EXO. Ada tulisan “Fanfan” di kaus kaki itu, dan nama itu terlihat tiap kali kamu memakai sepatu. Nama itu menimbulkan perasaan mencintai seseorang, meski dia tidak selalu ada di sampingmu, tapi perasaan itu mengisi hatimu dengan kehangatan bahwa kamu tidak sendirian.

Baca juga

Bagian 1 Kehidupan di Kanada

Bagian 2 Kehidupan di Korea

Bagian 4 Kevin Shin tentang Kris Wu

chi-eng trans: wu_yi_fan

eng-bahasa trans: Tara Lee + Syarrah

Advertisements

5 thoughts on “People Magazine: PORTRAIT – KRIS WU Part 3: Kembali ke Cina

  1. Pingback: People Magazine: PORTRAIT – KRIS WU Part 3: Kembali ke Cina – Irnacho's Story

  2. luar bias.. entahlah… dari chap 1 sampai 3 ini bener2 bikin goe mikir ngalor ngidul… ini artikel buat goe keren, dari sini aku bisa tahu sedikit yifan, seperti apa dia ☺ setidaknya artikan ino bukan sekedar pecitraan semata, karena di bberapa juga di bahasa sisi egois dan pemarah kris, kan…. but, thanks banget sama blog ini, sangat….sangat luar biasa ngebantu goe yang hanya tahu satu bahasa 😭😭😭😭 love yaaaa~

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s