People Magazine: PORTRAIT- KRIS WU Part 1: Kehidupan di Kanada

Jiwa yang muda namun rentan, mencari kebahagiaan di kelam tipuan akan kebebasan berekspresi tanpa batas dan di dalam hari-hari yang sulit, akhirnya meraih rasa memiliki yang telah ditunggu selama ini.

Kehidupan di Kanada

Bocah yang Sunyi

Pada tahun 2007, setelah berangsur-angsur terbiasa untuk hidup di Richmond, Vancouver, ibu Kris Wu merasa nyaman dan puas untuk pertama kalinya. Beliau dapat membayangkan kehidupan selanjutnya; anak laki-lakinya yang berumur 17 tahun akan masuk ke universitas tahun depan, membaur dengan komunitas, dan mengikuti keinginannya untuk ia menjadi dokter, menikah, dan memulai sebuah keluarga, dan tugasnya menjadi seorang ibu akan selesai sudah. Dengan lega ia berkata, “Kita akan bisa memiliki hidup yang nyaman seperti ini.”

Kadang Kris mengitari jalan kecil di sekitar rumahnya. Saat ia merasa tertekan, hal itu menenangkannya. “Ada saat di mana aku menjadi pemberontak, dan meninggalkan rumah.” Kris Wu mengatakan bahwa ia telah ‘pergi dari rumah’ namun ibunya tidak dapat mengingat anak itu melakukannya, dan saat mendengarnya dari <Majalah People> bertahun-tahun kemudian, beliau sedikit terkejut. Menaggaapinya, ia berkata, “Mungkin ia merasa ia meninggalkan rumah, tapi sebenarnya ia hanya berjalan mengitari rumah.”

Saat hari ujian masuk universitas terus mendekat, bingung akan apa yang harus dilakukan, muncul perselisihan di antara Kris Wu dan ibunya.

Kris merasa hubungan antar dirinya dan ibunya mulai runtuh. “Itu bukanlah rumah yang bisa kutempati lagi. Mengenangnya, ia berkata pada <Majalah People>, “Aku merasa aku harus melakukan sesuatu demi keluarga ini, dan aku punya keinginan yang sangat kuat untuk melakukannya, karena aku satu-satunya laki-laki di rumah ini, dan aku harus bergegas.”

Sejak lahir hingga sekarang, sebagian besar waktu Kris Wu adalah bersama ibunya, dibesarkan sendiri olehnya. Saat beliau bercerai di tahun 2000, ibunya yang berumur 30-an memutuskan untuk memberi anaknya nama marganya dan bertekad untuk membesarkannya sendiri.

Berharap ia mendapat pendidikan yang lebih baik, beliau membawanya dari Guangzhou ke Vancouver sendiri, dan mulai berusaha mendapatkan status residen di sana, yang membutuhkan waktu 10 tahun. Selama 3 tahun, beliau bolak-balik Vancouver-Cina, akhirnya menghentikan bisnisnya di sana, dan menjadi ibu rumah tangga tanpa penghasilan. Agar anaknya nyaman di rumah bersamanya, beliau mengharuskan seluruh perhatiannya adalah untuknya, dan sebelum ia berumur 18 tahun, sebelum pergi ke universitas, beliau tidak memperbolehkan ada laki-laki kedua di dalam rumah tangganya. Beliau khawatir, bahwa itu akan mempengaruhi perkembangan anaknya.

Saat wawancara selama 2 jam, Nyonya Wu mengatakan kata ‘stabil’ sebanyak 7 kali. Nyonya Wu yang mengerahkan semuanya untuk membesarkan anaknya, jarang berinteraksi dengan dunia luar, dan tidak ikut aktivitas yang digelar komunitas Cina di Vancouver. Hanya ketua dari kelompok wanita di sana yang membujuknya agar terbuka. Saat Nyonya Wu tiba di Kanada dan ingin membeli rumah, beliau tidak dapat menemukan pengacara. Ketua itulah yang membantunya, dan Nyonya Wu sangat berterimakasih padanya.

Dari waktu beliau mempertaruhkan segalanya higga sekarang, kehidupan dan kekhawatirannya bercampur aduk. Di Kanada, beliau melarang semua hal yang rumit dan kotor masuk ke rumahnya, di mana beliau hidup dengan anaknya. Beliau akan mencatat siapa saja yang berinteraksi dengan anaknya, dan jika beliau merasa ada yang tidak beres, beliau akan mencoba agar mereka tidak lagi bersama anaknya. “Sebenarnya, mungkin tidak akan terjadi masalah besar, tapi mencegah lebih baik daripada mengobati.”

Makin ke sini, beliau makin sering ‘mengomel’, ‘memarahi hanya karena hal-hal kecil’. Kapanpun ada seseorang yang tertimpa musibah, beliau akan menggunakan cerita itu untuk menasihati anaknya, selalu seperti itu.

Beliau percaya, kesulitan dan beban akan membuat anaknya lebih kuat dan bekerja lebih keras. Menurutnya, laki-laki harus memiliki rasa tanggungjawab, dan caranya mengajari anaknya adalah memberitahunya bahwa ia harus independen, terutama setelah menginjak umur 18 tahun. Ini adalah salah satu alasan mengapa beliau tidak mau bergantung dengan orang lain, ingin membesarkan anaknya sendiri. Meski akan lebih sulit baginya, tapi beban akan mempengaruhi anaknya, “pentingnya untuk peduli dengan keluarga (dengan ibunya), dan mengembangkan rasa tanggungjawab di umur yang masih hijau.”

Saat Kris Wu berumur 13 tahun, Nyonya Wu tiba-tiba melihat anaknya sudah lebih tinggi darinya. Saat ada masalah di rumahnya, beliau langsung memberitahu Kris Wu kecil, “Ini seharusnya diurus oleh laki-laki, seperti kamu.” , “Dan tanpa protes, ia langsung mencoba memperbaikinya.” Ketika beliau meenceritakan hal ini, wartawan <Majalah People> dapat melihat ekspresi Nyonya Wu yang terlihat bangga dan puas. “Ia sangat baik,” beliau bilang, meski beliau sebenarnya sedikit khawatir, “Ia baru berumur 13 tahun.”

Ketenangan anak ini memberikan kesan yang dalam pada teman ibunya, Sindy, dan juga membuatnya khawatir. Di isu Desember 2015, Sindy membeberkan cerita tentang temannya (Nyonya Wu) yang memberitahunya tentang anaknya. Sindy ingat beliau selalu mengatakan bahwa anaknya sangat pendiam. “Fanfan jarang bicara.”, kata Sindy.

Insiden yang paling diingat Sindy adalah saat temannya (Nyonya Wu) cerita, suatu hari, anaknya bermain komputer, bukannya istirahat. Tanpa kata-kata, temannya langsung mematikan komputernya. “Itu keterlaluan.”. Sindy ingat mengatakan ini pada temannya itu, “Jika ibuku seperti itu, aku pasti akan marah besar, tidak peduli. Aku lagi senang-senang bermain, dan dia tiba-tiba mematikannya.” Sindy bilang sambil bersandar ke kursinya, mengerutkan alisnya.

Dia pikir jika hal ini terjadi pada anak lain, mereka pasti akan langsung mengamuk, tapi Kris Wu tidak memiliki reaksi yang sama seperti anak-anak sebayanya saat itu. “Aku rasa anak ini sangat berbeda… Ia tidak marah, atau apapun… Ia tidak mau bicara.”

Meski begitu, dia tidak berpikiran terlalu jauh tentang itu, malah memujinya. “Aku rasa dia cenderung independen, cara berpikirnya dan di tindak tanduk kesehariannya.”

Pada tahun 2000, Kris Wu yang baru saja tiba di Kanada, harus mengikuti ujian bahasa Inggris agar dapat bersekolah. Saat mendengar anak-anak lain tidak lulus bahkan setelah 2 atau 3 tahun, Nyonya Wu jadi gelisah, “Aku selalu mengatakan padanya, berulang kali, kamu harus mengingat kata-kata bahasa Inggris, jika tidak, kamu tidak akan lulus, lalu akhirnya akan buruk.. Sebelum tes, aku terus menerus menasihatinya… aku terus menerus memberinya tekanan di tahun itu.”

Berumur 10 tahun, Kris Wu tidak mengucap satu kata pun. Melihat anaknya tidak merasa gelisah seperti dirinya, Nyonya Wu menjadi lebih gelisah bahwa mungkin ia tidak mengerti apapun. “Tanpa mengatakan satu patah katapun, kupikir ia tidak mengerti, sehingga aku gunakan cara lain untuk mengulangnya. Jika dia tidak menjawab, aku akan gunakan cara lain, terus menerus, berulang seperti itu.”

Meskit tidak terlihat bekerja keras seperti yang ibunya inginkan, Kris Wu sebenarnya sudah belajar lebih awal untuk tes Bahasa Inggris itu, dan lulus sekali coba. Namun anak ini tidak mendapat pujian, alasannya adalah ibunya khawatir bahwa dia akan kehilangan kendali dirinya. “Aku tidak bisa memujinya, aku tidak punya pilihan… Karena aku rasa aku harus mendisiplinkannya, aku harus keras padanya, jika tidak ia akan berpikir tidak akan ada konsekuensi. Itu pikirku.”, kata beliau pada <Majalah People>.

Chicken Soup Fan

Di Guangzhou saat tahun 1990-an, anak-anak kelas satu atau kelas dua akan menghabiskan liburan musim panas dengan kelas berenang saat keluarga mereka sibuk. Kris Wu mengenang salah satu peristiwa di mana ia berdiri di pinggir kolam bersama anak-anak yang lain. Saat itu baru turun hujan di kota yang panas dan lembab. Ada banyak daun yang terapung di permukaan kolam dan airnya keruh. Namun saat instruktur menyuruh mereka untuk mencebur ke air, ia adalah satu-satunya anak yang menceburkan diri tanpa ragu. Besoknya ia harus pergi ke rumah sakit karena infeksi telinga.

‘Aku hanya merasa bahwa yang dikatakannya (pelatih renang) itu benar, itu bukan masalah besar. Hanya masalah kalian berani atau tidak lompat tapi aku berani, jadi aku lompat.” Hampir dua puluh tahun kemudian, sekarang, ketika mengingat insiden keberanian itu, Kris Wu berkata; ‘Aku tidak ingin membuat orang lain kecewa, terutama para orang tua.’

Kris Wu tidak ingin menjadi lemah. Ia membuat standar yang tinggi untuk dirinya sendiri, mengatasi masalah imigrasi, dia tidak sekalem yang Ibunya pikirkan, namun, ia malah menghadapi tantangan yang besar untuk menjadi dewasa. Kris Wu menghabiskan masa kecilnya di Baiyin, Gansu; kemudian di Guangzhou lalu di Vancouver, terus berpindah-pindah tinggal dan juga pindah sekolah. Karena ia sering pindah sekolah, setelah akrab dengan teman-teman sekolahnya, ia harus kembali berkenalan dengan teman-teman baru, dan setiap istirahat makan siang adalah waktu-waktu yang sangat canggung untuk Kris Wu yang makan sendirian sementara ia melihat anak-anak yang lain ngobrol dengan gembira. Selama waktu-waktu itu ia “sangat tertutup” ‘Aku bukanlah orang yang mudah bersosialisasi, selama ini aku bukan tipe orrang yang mudah bergaul.’ Katanya. ‘Ketika aku masih muda aku sangat ingin menjadi pusat perhatian, siapa yang tidak ingin?’

Kris Wu tidak mengatakan hal ini kepada Ibunya, ia khawatir jika Ibunya menjadi cemas dan memutuskan untuk menahannya seorang diri.

Hasilnya, sampai hari ini ia mempunyai kebiasaan, kapanpun menghadapi sesuatu yang ia tidak tahu, hal pertama yang dipikirannya adalah tidak bertanya pada orang di sekelilingnya namun mencoba mencari tahu apakah ada cara penyelesaiannya di buku-buku motivasi/pengembangan diri. Ibunya adalah satu-satunya jembatan komunikasi, namun setelah ia sendiri menutup jembatan ini, ia hanya bisa pergi ke toko buku dan membeli buku-buku populer di deretan buku terlaris. ‘Aku punya berbagai macam buku,’ ‘Buku bahasa Inggris atau Mandarin, aku membaca semuanya.’ Kebanyakan dari mereka adalah buku pengembangan diri, bagaimana cara berbicara, bagaimana cara menjadi suatu karakter, bagaimana cara mempelajari orang lain, bahasa tubuh. Dari sana, ia belajar bagaimana caranya agar ia mudah berteman dan mengembangkan kemampuannya berinteraksi dipergaulan. Ketika membaca ia merasa jika; ‘Aku bisa mencoba ini besok.’ ‘Sungguh, buku-buku itu sangat berguna.’ Kata Kris Wu pada reporter Majalah People dengan tersenyum.

Contohnya, ia membaca dari sebuah buku jika tersenyum dan menyapa orang asing itu bisa mengurangi kekakuan. Sampai sekarang Kris Wu selalu tersenyum ketika bertemu siapapun. ‘Aku terbiasa tersenyum ketika bertemu siapapun, aku percaya jika aku memperlakukan orang lain seperti ini, mereka juga akan melakukan hal yang sama untukmu, atau paling tidak mereka tidak akan membencimu. Juga, sebuah senyum bisa memberi efek untuk semua yang di sekelilingmu, aku bisa merasakan jika persahabatan itu adalah pertukaran perasaan.’

Setelah tumbuh dewasa dengan buku-buku pengembangan diri, Kris Wu mendapat julukan “Chicken Soup Fan”.

Masuknya basket ke kehidupannya adalah kali pertama Kris Wu berinteraksi dengan dunia luar. Ketika Kris Wu berusia 15 tahun, karena Ibunya  sedang mengurus bisnisnya di Cina, beliau membawa putranya kembali ke ke Guangzhou selama setahun. Karena sistem pendidikan di Vancouver dan Cina berbeda, Kris Wu kembali ke sekolah olahraga di Cina dan bermain basket. Ia merupakan kapten, dan bermain di posisi poin guard.  Itu adalah posisi kunci dalam strategi permainan dan ada banyak kali di mana ia menyerahkan bolanya pada teman se-tim, untuk kepentingan timnya (tidak membawa bola sendiri untuk mencetak poin). Dia sangat menyukai peran ini. ‘Ketika teman se-tim-mu mencetak angka, kau juga merasakan perasaan gembira.’

Menurut pendapat Kris Wu, menyukai basket telah mengubah hatinya dan itu adalah kali pertama ia tidak perlu merasa malu, ia bisa berteman begitu saja dan secara alami menemukan cara untuk berkomunikasi dengan orang lain. Yang lebih penting lagi, saat itulah ia menemukan sesuatu yang kemudian ia rasakan “sesuatu yang paling penting” di kepribadiannya; “cara berpikir sederhana” dan “ketulusan”.

Tumbuh dewasa sebagai generasi 90-an, komik adalah sesuatu yang peling penting dikehidupan, Naruto, One Piece adalah contoh komik yang dibaca nyaris semua generasi 90-an, namun Kris Wu berkata jika komik yang ia baca hanyalah Slam Dunk karena itu berhubungan dengan basket. ‘Aku adalah seorang yang mempunyai pemikiran sangat sederhana, aku bisa fokus hanya dengan melakukan sesuatu yang aku suka, ketika aku bermain basket aku hanya bermain basket, aku tidak peduli dengan olahraga yang lain.’ Kata Kris Wu.

Kris Wu yang mengalami nikmatnya kebebasan berekspresi melalui basket untuk pertama kali berencana untuk mengejar perasaan ini, karena itu ia memutuskan untuk bergabung dengan NBA yang merupakan impiannya seumur hidup. Namun di mata Ibunya, bermain basket adalah sesuatu yang membuatnya “mudah terluka” dan itu “merupakan karir yang singkat”.

Mama Wu mengenang ada seorang guru dari sekolah olahraga yang memuji putranya sebagai “poin guard terbaik”. ‘Dan ia tidak mencoba untuk mencuri perhatian namun tetap di posisinya dan ia tidak pernah ingin tampil menonjol.’ Katanya. Mengenang kembali masa-masa itu, beliau merasa sangat sulit untuk Kris Wu untuk menemukan tim yang memuji dan membutuhkannya dan ia ingin bermain dengan lebih baik lagi. Meski mereka tidak banyak menghabiskan waktu untuk bermain bersama, setiap tahun Kris Wu kembali ke Guangzhou, dia akan bertemu dengan teman-teman se-timnya dulu.

Akhirnya Mama Wu harus “memaksa” putranya pergi dari Guangzhou. Kris Wu sangat sedih karena mimpinya kandas bahkan sebelum sempat dimulai. ‘Aku sangat sedih ketika harus kembali (ke Vancouver), saat itu adalah kali pertama aku punya mimpi sendiri dan aku sangat enggan untuk melepasnya. Saat itu aku punya gambaran kasar mengenai mimpi dan apa yang kuinginkan namun tidak ada pilihan lain, aku harus kembali dengan Ibuku, tidak ada ruang untuk memilih.’ Kris Wu mengungkapkan ini di sebuah acara yang ditayangkan Maret 2016 lalu. Ia memberi alasan kenapa ia tidak mempunyai pilihan “karena ia masih terlalu muda”.

Mama Wu mengenang bahwa putranya ‘Sangat sedih ketika ia kembali dan tidak keluar rumah untuk beberapa hari.’ Kapanpun, jika ada sesuatu yang terjadi, Mama Wu akan membujuknya untuk cerita. ‘Saat itu, tugasku adalah membantunya untuk melalui itu semua,’ beliau berkata, ‘tapi aku ingat, waktu itu adalah saat-saat yang luar biasa sulit.’

Sebuah keinginan yang luar biasa untuk bertanggung jawab atas kehidupannya sendiri.

Diantara tugas-tugasnya membesarkan Kris Wu, Mama Wu menempatkan ujian masuk universitas menjadi salah satu yang paling penting.  Ketika tanggal ujian masuk semakin dekat, beliau menjadi semakin cemas dan keras, Kris Wu ingat jika Ibunya akan mempermasalahkan hal sekecil apapun. Menghadapi hal semaam ini, ia memilih untuk tidak berkomunikasi dengan beliau karena ia sendiri adalah sesorang yang tidak tahu bagaimana cara menghibur orang lain.

Pada 2015 Oktober adalah kali pertama Kris Wu di wawancara oleh Majalah People, Kris Wu yang masih muda berbiara mengenai topik yang berat mengenai hubungan manusia. ‘Di keluarga dengan orang tua tunggal, sangat mudah hubungan Ibu dan anak laki-laki menjadi sangat ekstrim karena tidak ada pihak ketiga yang membantu berkompromi.’

Di beberapa insiden, ada beberapa kali ia akan meninggalkan rumah dengan perasaan hancur, berjalan di jalan kecil di luar rumah dan selama waktu-waktu itu ia sangat berharap jika ada pihak ketiga. ‘Aku berharap ada orang lain yang akan menghiburnya (Ibunya), hanya menghiburnya dan mengatakan semuanya akan baik-baik saja, tidak perlu mencemaskan aku.’

Ini adalah alasan utama kenapa ia memutuskan untuk pergi ke Korea. ‘Aku tidak berharap untuk terus tinggal dengan Ibuku seperti ini, aku sangat takut jika hubungan kami menjadi buruk, aku sangat khawatir. Setelah dewasa kau akan sadar jika hal yang sangat melelahakan itu menjadi orang yang pemarah, dan akan lebih parah jika orang itu adalah seseorang yang bertipe disiplin dan bukan tipe yang bersedia mendengarkan. Seseorang yang mendisiplinkanmu tidak peduli seberapa lelahnya dirimu. Ibuku telah melalui masa-masa yang sulit dan jika beliau terus menerus seperti ini, ini tidak baik untuk kesehatannya. Karena itu aku memutuskan untuk pergi ke Korea.

Yang membuat dirinya khawatir adalah tahun sebelumnya, karena ia kembali ke Guangzhou, ada penundaan di sekolahnya dan ia khawatir jika itu bisa membuatnya tidak bisa masuk universitas. Ibunya sudah menghabiskan tabungan beliau yang berharga dan berpikir jika biaya universitas akan memerlukan biaya yang besar, ia semakin takut. Ibunya tentu tidak akan bilang kalau perekonomian sedang tidak bagus namun ia merasa bahwa beliau berada di bawah tekanan yang luar biasa di beberapa tahun kemudian dan kondisi stress beliau selalu tergambar di setiap ucapannya; ‘Kau harus melakukan ini, kau harus melakukan itu.’

Kris Wu sebenarnya tidak ingin menyusahkan orang lain dan menjadi beban mereka. Saat itu dia mulai bekerja paruh waktu, mencuci piring di restoran, menjadi pelayan di KTV (karaoke) meski ia dibayar dengan sedikit uang, ketika ia melihat hasil kerja kerasnya memberikan sedikit perubahan, ia merasakan perasaan lega yang jarang ia rasakan,

Kris Wu merasa jika Ibunya telah memberinya banyak hal-hal positif; ‘Namun ini tidak menghentikanku untuk ingin menjadi mandiri di usia 18. Aku merasa itu merupakan suatu keharusan untuk menjadi mandiri dan aku berharap jika aku bisa membalas beliau, menjaga beliau.’

Kris Wu tidak pernah ingin menjadi selebriti. Hari itu hanyalah seperti hari-hari yang biasa di Vancouver, karena permintaan teman sekelasnya untuk menemani audisi di perusahaan Korea SM Entertainment. Ketika ia mendengar kata-kata; “Termasuk makan dan akomodasi”, pikiran untuk menjadi selebriti dan pergi ke Korea tiba-tiba muncul di otaknya. ‘Dari banyak aspek, aku merasa ini berarti aku bisa hidup dengan usahaku sendiri.’ Ia berkata.

Meski kontrak itu termasuk makan dan akomodasi, kontrak ini selama 10 tahun. ‘Ibuku berpikir jika…. setelah kontrak berakhir aku sudah diatas 30 tahun, (kehilangan) masa-masa mudaku.’ Namun Kris Wu tidak khawatir dengan masalah ini dan mengatakan pada Majalah People; ‘Aku punya keinginan yang luar biasa untuk bertanggung jawab terhadap hidupku sendiri.’

Ibu Kris sadar jika pilihan anaknya tidak bisa diubah selama proses penandatanganan kontrak. Hingga saat ini Mama Wu ingat menemani putranya ke bandara dan menandatangani kontrak penentuan. ‘Kami berdua menangis,’ beliau berkata. Beliau ingat putranya berkata, Ibu, kurasa aku benar-benar mengecewakanmu, kau telah membesarkanku hingga sebesar ini dan aku masih membuatmu sedih seperti ini. ‘Setelah ia mengatakan ini aku merasa sangat gembira dan aku berkata, Anakku, tidak apa-apa. Mari kita pulang, mari kita pulang, hanya itu yang kukatakan padanya.’ Beliau berpikir jika putranya telah mengubah keputusan namun kemudian beliau mendengar yang dikatakannya adalah, aku akan menandatangani kontraknya. ‘Ia kemudian menandatangani kontrak, menangis ketika ia melakukannya.’

Terabaikan

7 tahun waktu beliau didedikasikan hanya untuk mengasuh putranya, beliau tidak punya banyak waktu untuk dirinya sendiri. Ketika putranya tiba-tiba meninggalkannya, beliau tiba-tiba merasa kehilangan tujuan hidup dan kehilangan semangat, perasaan yang sangat tidak bersemangat. Setelah periode itu beliau menjual rumah yang ditinggalinya bersama putranya selama 7 tahun dan pindah ke sebuah apartemen di kota. Taman perlu dipotong dan dirapikan dan beliau tahu beliau tidak bisa terus menerus tinggal di rumah yang besar.

Kemudian beliau mengenal Sindy. Keduanya mendaki gunung dan ketika mengemudi Sindy selalu berpikir jika wanita yang “sangat cantik”, “bukan kecantikan tradisional Cina tapi seperti kecantikan barat” ini tidak menikmati gaya hidup bebas seperti dirinya dan baru setelah beberapa waktu Sindy tahu kalau Mama Wu memiliki soeang putra di Korea. Dari situ, teman beliau akan selalu membicarakan putranya disetiap percakapan mereka, mengatakan bahwa beliau sangat merindukan putranya; ‘Dia seorang trainee’, ‘Aku sangat jarang bertanya (pembicaraan mengenai putranya) semua itu selalu dia (Mama Wu) yang mulai berbicara’, kata Sindy dan ketika teman beliau berbicara mengenai putranya, beliau akan tertawa, kadang-kadang terlihat khawatir.

Setelah Kris Wu pergi, Mama Wu sering mengingat-ingat saat-saat susah senang ketika mereka masih tinggal bersama. Hanya setelah Kris Wu pergi, Mama Wu menengok ke belakang dan berpikir jika sejak masih muda, Kris Wu selalu sangat sensitif terhadap kesulitan hidup orang lain.

Beberapa bulan setelah Kris Wu dilahirkan, Kris Wu dibawa kakek dan nenek dari pihak Ibu ke Biying, Gansu. Kris Wu sangat dekat dengan mereka dan sangat berbeda dengan anak-anak yang lain. Ketika Kris Wu dewasa, Kris Wu merasakan hal yang sama (perasaan dekat) dengan semua orang tua yang ia temui. ‘Di mana pun Kris Wu melihat orang tua yang tidak punya rumah dan hidup di jalanan, dia akan sangat sedih…. sebelumnya ia berkata jika melihat orang tua ia akan memikirkan kakek dan neneknya.’ Ketika Kris Wu baru saja tiba di Vancouver, hal ini membuat Mama Wu tidak nyaman. Mama Wu ingat jika hal paling sulit adalah membawa Kris Wu kecil ke pusat kota karena ketika Kris Wu bertemu pengamen yang sudah tua, Kris Wu akan berdiri di sana, tidak bergerak sampai Ibunya memberi uang. Ini membuat Mama Wu kesulitan karena ada terlalu banyak pengamen dan pada setiap pengamen beliau akan memberi satu atau dua dollar dan dengan tanpa sumber penghasilan, beliau terus-menerus dibebani oleh banyak pengeluaran. ‘Jika aku tidak memberi mereka (pengamen) uang dia akan terus berdiri di sana, dia anaknya seperti itu.’

Ketika ditanya bagaimana ia begitu mudah memberi perhatian kepada para orang tua, Kris Wu menjawab jika itu karena perhatian yang luar  biasa dari kakek dan neneknya ketika ia masih muda. Perasaan yang dalam yang Kris Wu rasakan terhadap mereka ada di puncaknya ketika Kris Wu baru mulai masuk SD dan melihat mereka sangat menderita. Saat itu mobil-mobilan dengan empat roda sangat populer di Guangzhou dan Kris Wu ingin memilikinya tapi hal itu sangat sulit ditemukan di kota kecil Gansu di mana kakek dan neneknya tinggal. Kris Wu sangat marah dan bertanya kenapa mereka tidak bisa menemukan hanya sebuah mobil-mobilan sedangkan mereka sudah hidup sangat lama. Kris Wu ingat bahwa kakek dan neneknya menjadi sangat gelisah, mereka ingin melakukan apapun untuk mendapatkan mobil-mobilan itu namun tidak bisa. Kris Wu kemudian merasa sangat menyesal dan perasaan terluka ini terus menghinggapi pikirannya. Ketika mereka akhirnya mendapatkan mobil-mobilan itu untuknya; ‘Aku sangat menghargainya,’ kata Kris Wu.

Di saat Mama Wu bekerja keras, beliau tidak sadar jika Kris Wu terus mengamati dirinya yang bangun jam 6 atau 7 pagi didinginnya udara Vancouver, menyetir mobil dan susah payah mengantarnya ke sekolah setiap hari, tidak tahu kapan itu akan berakhir. Hal ini meninggalkan kesan yang tidak akan terlupakan untuk Kris Wu.

‘Jadi, sehari setelah ulang tahunku, aku mengambil ujian mengemudi untuk mendapatkan SIM,’ kata Kris Wu. Kris Wu baru berusia 16 tahun waktu itu dan usia itu merupakan usia legal mengemudi di Kanada. Diantara teman-teman seusianya Kris Wu adalah yang pertama yang bisa mengemudi. Ketika teman-temannya naik mobilnya mereka akan berkata, wow, kau sudah punya SIM! Ia ingat ia berkata, iya, segera setelah ulang tahunku, aku pergi mencari SIM. Saat sore hari ketika Majalah People mewawancarainya, Kris Wu tersenyum gembira ketika ia menceritakan hal ini. Hal lain yang membuatnya makin gembira adalah ia merasakan kebanggan yang tak terhingga ketika Ibunya menemukan hal ini, makin mengejutkan karena Kris Wu adalah seorang pengemudi yang baik. Dari situ, Kris Wu akan mengantar Ibunya berbelanja dan ia merasa jika ia tidak lagi begitu tidak berguna seperti sebelumnya.

Baca juga

Bagian 2 Kehidupan di Korea

Bagian 3 Kembali ke Cina

Bagian 4 Kevin Shin tentang Kris Wu

chi-eng: wu_yi_fan

eng-bahasa trans: Tara Lee + Syarrah

Advertisements

2 thoughts on “People Magazine: PORTRAIT- KRIS WU Part 1: Kehidupan di Kanada

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s