Kris Wu Wawancara untuk Majalah Marie Claire Edisi Januari 2016

1601 MC5

See also

Marie Claire English translation

Marie Claire Gallery

Kris Wu yang di depanku adalah seorang anak muda yang tinggi dan punya tatapan lembut di matanya. Penampilan kebangsawanannya bukanlah didapat sejak lahir melainkan dari sedikit demi sedikit untuk mendapatkan aura Kris Wu yang sekarang. Dengan elemen hip hop, sikap cool tapi trendi, sikap seperti keluarga kerajaan, selama kau memberi semua itu padanya, seorang pria dengan kaki jenjang ini akan bisa memberikan kesan yang sangat baik, dia hanya akan memudahkan setiap fashion editor (dalam menulis artikel tentangnya).

Namun, dengan pengalaman hidup di keluarga dengan orang tua tunggal, bersekolah, pindah (rumah) dan pindah sekolah di Cina dan Kanada, pergi ke Korea untuk menjadi trainee dan kemudian kembali ke Cina, masa pertumbuhannya menjadi dewasa penuh dengan goncangan. “Ketika aku masih muda, aku tidak pernah merasa aman, lingkungan tempat aku tumbuh juga tidak terasa aman. Aku punya pengalaman keluar masuk lingkungan baru dengan tiba-tiba tanpa tahu apapun atau berani mencoba apapun. Tapi karena semua pengalaman itu aku menjadi cepat dewasa dan mendorong diriku untuk segera terbiasa dengan tipe kehidupan seperti itu.

Ketika duduk di sofa, dia memberitahuku; “Setiap pengalaman sanggup mengubah seseorang.”

Berpindah dari Cina ke Kanada, ke Korea setelah melalui masa remajanya, penilaiannya mengenai nilai akan sesuatu berubah sangat banyak. “Aku menghabiskan 10 tahun di Cina, 8 tahun di Kanada 7 tahun di Korea dan menjadi aku yang sekarang yang membuatku bisa menerima perbedaan antar manuasia dengan lebih baik.”

Kris Wu sebelumnya berharap bisa menjadi pemain basket professional dan idolanya adalah pemain Lakers, Kobe Bryant. Kris Wu ingat bahwa Kobe Bryant pernah berkata, ia tahu bagaimana rasanya pukul 4 pagi di Los Angeles setiap hari. Namun kemudian, meski dengan tinggi dan kakinya yang panjang, dia tidak bisa tumbuh hingga 1.9 m dan dengan cedera ankle, Kris Wu tidak ada pilihan lain selain menyerah dengan impiannya.

Melihat seorang dengan daya adaptasi dengan lingkungan yang tinggi di depanku menikmati musik dengan santai, aku merasa bahwa Kris Wu dengan gaya hip hop-nya adalah sesuatu yang paling menginspirasi anak-anak yang lahir di era 90-an. Kebandelannya hanya tinggal dihatinya dan tidak terlihat dari luar dan itu sama seperti resiko yang diambil dan tantangan yang dihadapinya.

Di masa lalu, ia meninggalkan rumah dan pergi ke Korea ketika ia belum genap 18 tahun dan menemukan bahwa waktu kebandelannya diperpendek; “Aku hanya bandel sekitar 2 tahun dan kemudian aku masuk sistem training yang sangat ketat dan menjadi dewasa dengan sangat cepat pula, untuk membiasakan diri dengan lingkungan dan industri ini.” Katanya, dari waktu ke waktu lagi dan resiko yang aku ambil, selama ini aku sudah sangat berani. “Mengambil resiko dan tantangan itu terjadi setiap hari.”

Q: Apa kau adalah tipe seorang yang menjadi berani setelah melihat dunia, atau seorang yang berani dengan begitu kau menjelajah untuk melihat dunia?

A: “Campuran keduanya, aku orang yang berani, dengan pengalamanku di masa lalu, aku bertemu dengan orang-orang yng berbeda, situasi yang berbeda-beda, budaya yang berbeda, lingkungan yang berbeda, semua orang telah memperkaya pengalamanku.”

Selama ia tinggal di Korea, Kris Wu menangis. Pengalaman selama 7 tahun memberi perubahan yang signifikan padanya. Dia bukan lagi anak muda yang masih mengharapkan mimpinya sebagai pemain basket, namun telah menjadi seorang yang tahu bagaimana mengatasi kesulitan dan mengejar keinginan pribadinya. “Kesulitan itu ada untuk membuat orang dewasa. Jika kau berkata kau dikalahkan, kau mungkin tidak punya apa-apa lagi, tapi jika kau gigih, kau akan menemukan bahwa kau tak pernah bisa dikalahkan.”
Kris Wu debut bersama EXO dan populer, meninggalkan perusahaan dan kembali ke Cina untuk mengembangkan karir. Setelah beberapa tahun, Kris Wu menjadi popeler bahkan di cara yang ia tidak pernah bayangkan sebelumnya. “Aku tidak bermimpi menjadi selebriti, aku bermimpi menjadi orang yang bekerja berdasarkan kualitas, baik itu di musik ataupun film. Memperoleh fans itu sangat bagus, tapi aku lebih suka untuk waktu yang lama, jadi ini tidak hanya bertumpu menjadi soerang selebriti saja (T/N: Kris Wu ingin mempunyai fans yang bukan fans musiman, saat ia populer saja, tapi fans yang menghargai kerja kerasnya sebagai aktor atau musisi).”

Ketika orang lain berbicara denganku mengenai Kris Wu, ada pancaran kegilaan di mata mereka. Mereka sangat memujanya, menjadikannya bagian terbesar dalam hidup mereka. “Tahukah kamu berapa banyak fans yang ia punya? Tak terhitung.” Semua itu adalah ocehan orang luar, namun Kris Wu yang di depanku tidak punya reaksi yang besar, hanya memberitahuku dengan malu-malu; “Sebenarnya selama ini aku tidak pernah mengira aku punya banyak fans.”

Sampai sekarang Kris Wu masih merasa jika fans-nya adalah ‘kejutan yang menyenangkan’. Fans-nya dinamakan Meigeni (setiap orang dari kalian semua), karena sebelumnya di weibonya ia berkata ‘Aku menyukai kalian, setiap orang dari kalian semua.’ Dan di film-nya yang pertama Somewhere Only We Know, ia menamakan karakter anak perempuannya Nini, seperti nama fans-nya. “Tidak ada tempat yang aku kunjungi tanpa Meigeni di sana, ke mana pun aku pergi, mereka selalu di sana, hatiku sangat hangat.”

Setelah kembali ke Cina, kita dapat melihat Kris Wu berkembang di banyak area untuk menjadi aktor yang lebih baik. Dia tidak menolak adengan ciuman di Somewhere Only We Know, ia tidak takut fans-nya patah hati karena ini, dan ia juga berakting di peran yang sangat berbeda dengan dirinya, pembalap kaya generasi kedua. Sebagai tambahan dia berakting di LORD, Never Gone, dan Journey to the West: Demon Chapter, adalah prosesnya untuk mencoba berbagai peran yang berbeda .

Ketika Mr Six mulai syuting, Kris Wu tidak tahu bagaimana memahami peran sebagai Xiao Fei yang memakai kacamata dan berambut perak. Sutradara Guan Hu memberi tahunya, kau tidak perlu berakting, kau hanya tinggal duduk di sana dan kau sudah menjadi Xiao Fei. Meski kau tidak punya pengalaman, kau harus percaya apa yang kau punya. “Jadi aku mencobanya. Hal yang paling penting adalah aku juga sangat menyukai peran ini, gaya hidup seperti ini sangat cool, contohnya balapan drag (T/N: balapan hanya di trek lurus), jadi sangat maskulin, aku tidak bisa melakukan ini sekarang (di kehidupan nyata) namun di film, aku bisa memenuhi impianku itu.”

Ia tidak berhenti setelah itu. “Karakter utama Cheng Zhen di Never Gone juga sangat mirip denganku, dia sangat kekanak-kanakan, sangat mudah marah, kadang-kadang sangat bersemangat namun ia sangat setia, dia akan menunggu satu orang untuk waktu yang lama.” Stephen Chow berkata, Kris Wu adalah seorang yang secara alami cocok untuk peran komedi, karena itu di Journey to the West: Demon Chapter dia berperan sebagai Biksu Tong. “Aku sungguh ingin mencoba berbagai macam peran, termasuk peran antagonis dan komedi.”

Dia sangat sadar di era internet mendorong perkembangannya dengan sangat kuat dan ia juga tahu di era sekarang, laju repost (jumlah dan kecepatan di mana sebuah berita tersebar) mungkin bisa merugikan dirinya juga. “Ini adalah dua mata pedang. Sebgai publik figure aku selalu mengingatkan diriku, aku harus berada di standar, aku harus menunjukkan kemampuan yang bisa membuktikan diriku sendiri.” Beberapa orang berkata bahwa Kris Wu telah membuang sisi penyanyinya? Bukan itu masalahnya. “Aku mencari kesempurnaan, khususnya jika itu menyangkut hasil karnyaku, itu harus sempurna baru bisa ditunjukkan ke khalayak, tak bisa dikerjakan asal-asalan. Atau itu tidak menghargai orang-orang yang menyukaiku.”

Penampilan luarmu terlihat dingin dan penyendiri, namun kau sebenarnya berhati lembut dan cute, bagaimana kau bisa punya dua kepribadian yang berbeda seperti ini?

Aku memang seperti ini. Aku merasa bahwa setiap orang punya banyak sisi, mungkin kesan pertama yang kuberikan pada orang lain adalah sedikit dingin, tapi setelah mereka mengenalku, mereka akan tahu kalau aku lebih seperti anak kecil yang ‘gila’, dingin di luar dan hangat di dalam.

Seberapa gilanya kau jika benar-benar sedang gila?

Sangat gila, gila yang benar-benar benar bukan imej seorang idola.

Kenapa kau sangat ingin memerankan peran antagonis?

Peran antagonis itu selalu punya cerita mereka sendiri, maksud tersembunyi, banyak hal yang terjadi secara psikologis.

Apa kau seorang yang suka candaan garing atau candaan yang lucu?

Candaan yang garing. Aku tidak mengatakan candaan garing apapun, semua yang kulakukan garing sampai orang berpikir mereka lucu… (T/N: Meigeini semoga tabah dengan gaya bercandanya Kris Wu XD)

Cewek seperti apa yang kau suka?

Seperti malaikat, sangat baik, sangat berbakti.

Bagaimana mengenai penampilannya?

Selama aku merasa penampilannya enak dipandang, itu bagus.

Jika kau sedang PDKT dengan seorang gadis, bagaimana kau mendekatinya?

Aku akan mengirim pesan atau semacamnya. Seperti, apa menurutmu aku oke? Jika kau suka bagaimana kalau kita bersama, sesuatu seperti itu, sebenarnya tidak romantis.

Apa kelak kau akan berkencan di publik?

Tergantung situasinya, jika aku benar-benar punya cewek, aku akan menghargai pendapatnya. Namun secara pribadi, aku pasti ingin memberi tahu semuanya, aku berharap semua akan mendo’akanku.

Bagian mana dari seorang gadis yang paling kau perhatikan pertama kali?

Aku mungkin akan melihat matanya; sisanya seperti yang dikatakan Ibuku. Mengenai kepribadian, aku berharap dia akan penuh perhatian dan mengerti, bisa mengerti pekerjaanku dan pastinya harus berbakti!

Bahasa Trans and Posted  by Tara Lee

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s